malam (2)

Dari yang telah kuamati selama beberapa waktu terakhir, aku orangnya memang sedikit ganjil.

Iya, aku. Bukan orang lain. Tetapi aku sendiri.

Aku menemukan sebuah fakta bahwa, betapa mudah sekali buatku untuk merubah kebiasaanku dalam jangka waktu yang tidak lama.

Sekian bulan yang lalu, aku lebih suka menulis sesuatu bila diselipkan kata-kata dalam bahasa lain. Terutama bahasa yang tidak mengandalkan alfabet sebagai hurufnya, contohnya seperti Bahasa Korea dan Bahasa Jepang. Di mataku pada saat itu, mereka terlihat sangat unik dan keren, biarpun hanya bermodal Google Translate.

Beberapa bulan setelahnya, aku lebih suka memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Tak tahu malu tak mau mengakui bahwa kemampuannya sesungguhnya masih jauh di bawah rata-rata. Sudah begitu, masih mengakui bahwa ia adalah seorang grammar nazi. Dalam hati mengkritik atas pembahasaan asing orang lain yang menurutnya terlalu di bawah standar biasanya. Padahal sendirinya, grammarnya juga tidak lebih mumpuni.

Caraku menulis sekarang sudah tidak lagi seperti itu. Cenderung baku, lebih banyak menggunakan arti berbahasa Indonesianya daripada menggunakan kata-kata berbahasa Inggris. Semisalkan, mulai sekarang aku hendak terus menuliskanΒ copy pasteΒ sebagai salin tempel.Β Simbol miringΒ italicΒ sudah tidak lagi terlihat menarik.

Standar estetik dari sudut pandangku memang acapkali berubah. Dulu aku mengukur ketampanan seorang pria hanya dari sekadar paras dan penampilan, sekarang aku menganggap seorang pria tampan dari cara tulis dan berkelakuan.

Bila dulu yang aku lihat pertama kali dari seseorang adalah paras dan cara mereka berpenampilan belaka, sekarang aku mencoba untuk lebih memerhatikan manners mereka. Bagaimana mereka bersikap di depan umum, kepada yang lebih tua, sesama, dan yang lebih muda.

Manners yang mereka tunjukkan menggambarkan bagaimana diri mereka. Mungkin bisa saja manners yang ditunjukkan itu gunanya untuk menutupi sifat perilaku mereka, namun paling tidak dia sudah berusaha untuk membuat orang lain nyaman dengan sikapnya.

Aku sangat suka memerhatikan bagaimana cara orang berkelakuan di sekitarku. Untuk kebiasaanku itu, aku lebih suka mendeskripsikannya sebagai ‘menelaah perangai habitualisme sosialisasi manusia terhadap sesama dan lingkungan’. Terdengar lebih ilmiah dan tidak seabnormal sebelumnya.

Orang yang sedang merokok, dengan mata tak lepas dari langit biru berawan. Apa yang kemungkinan sedang dia pikirkan? Anak istri di seberang pulau? Memikirkan ulang kinginannya untuk berhenti merokok yang terkalahkan oleh nafsu?

Ia yang sendirian, tanpa ada siapapun menemani di sekitarnya. Makan dan membaca dengan tenang seperti yang dilakukan orang-orang, namun bila ada seseorang mendekati, matanya akan berkilat seperti induk kucing yang sedang mewaspadai resiko telah datangnya seorang musuh baru. Hal, atau trauma apakah, yang bisa membuatnya terlalu menjaga jarak dari lingkungan seperti itu?

Mereka, yang selalu terlihat ceria dengan senyum di wajahnya. Yang menangis bila tidak ada siapapun di sekitarnya. Yang menutup pintu ruangan, menumpahkan semua kesedihannya dalam kesendirian, sebelum kemudian keluar dengan tampang segar bugar seperti tidak ada sedikit pun masalah dalam hidupnya.

Orang-orang yang berjalan di trotoar, mereka yang dibonceng dan membonceng dengan kebisuan menemani mereka. Mereka yang sedang berbincang berdua, bertiga atau mungkin bersepuluh, beragam ekspresi pada wajah mereka.

Pemilik toko. Ibu yang sedang menyeberang jalan. Mereka yang sedang menunggu jemputan. Dan para hamba-Nya yang seumur hidupnya ia dedikasikan demi ketakwaan terhadap Tuhan-nya. Mereka yang kehidupannya di sosial media berkebalikan seratus delapan puluh derajat di kehidupan nyatanya. Mereka yang bila di luar rumah berbicara tanpa henti, sedangkan begitu sampai di rumah, kembali ke dunianya sendiri.

Sampah-sampah di tepi jalanan. Di tangan siapakah sampah-sampah itu terakhir terpegang? Apakah yang ada di pikiran sang pembuang sampah ketika ia seenaknya membuang sampah ke tepi jalanan, merusak keestetikan yang seharusnya dimiliki setiap jalanan?

Setiap novel, yang bila dibaca, bisa membuat bulu kuduk berdiri. Entahlah, apakah saking menggelikan atau saking mengerikannya plot buku tersebut. Apakah yang dipikirkan sang penulis saat sedang membuatnya? Apa yang mendorongnya untuk menulis buku itu?

Para pengemis di jalanan. Apakah mereka sungguhan miskin? Bila ada kesempatan buat mereka untuk bekerja, maukah mereka untuk bangkit dari duduknya dan memulai sebuah lembaran hidup baru?

Rumah-rumah besar, rumah-rumah kecil. Bercat hijau, hitam, putih, kelabu, retro. Halamannya yang tidak ada dan halamannya yang luas. Terasnya yang berupa tanah dan juga berupa keramik. Rumah berkolam, dan rumah yang tidak.

Terkadang, aku terlalu banyak memikirkan tentang hal-hal seperti itu sampai mereka menyingkirkan hal-hal penting yang seharusnya kupikirkan, seperti rumus matematika dan Fisika, segala pelajaran geografi dan biologi, nama-nama orang, serta fakta bahwa sekarang aku seharusnya belajar untuk mempersiapkan ujian minggu depan.

2019, yang telah terjadi.

[Tulisan ini hanyalah sekadar portofolio untuk menggambarkan apa yang telah terjadi di tahun 2019 ini, dan sebagian besar masih belum tertata rapi. Akan terus disusun rapi dan ditambahkan seiring waktu berjalan. Semua ini diambil dari galeri ponsel, kamera dan tergantung seberapa banyak yang masih ada dalam benak kepala.]

[Masih ada cukup banyak kegiatan yang belum dimasukkan, karena kurangnya informasi yang tersimpan.]

Sebagai peringatan, tulisan ini semakin ke bawah bakalan semakin ngaco. Karena sumbernya kalau nggak dari galeri ponsel, dari group keluarga.

Janjinya sih bakal diupdate juga foto-fotonya sesuai kegiatan, tapi nggak janji. Soalnya kemarin aku janji bakal bikin blog baru juga masih belum ditepati, karena selain malas, kegiatanku sedang banyak banget dan aku masih berminat untuk semakin banyak menambahkannya.

Untuk kali ini saja aku bakal membiarkan jari jemariku menulis dengan berantakan sekali seperti ini. Karena tujuanku dengan mengunggah tulisan ini bukan hanya untuk menyenangkan para pembaca, namun untuk menyenangkan diriku sendiri. Kewajiban untuk menulis semua portofolio ini sudah membebani pundak serta kepalaku selama beberapa bulan terakhir, dan menurutku, pasti akan sangat menyenangkan bila bisa membaca tulisan ini suatu hari nanti sembari mengenang apa yang telah terjadi di setiap kegiatan yang kutulis di bawah ini.

April: Perkemahan di Selorejo bersama anak-anak homechooling Malang (6-7 April).

May: Pembahasan soal kegiatan anak homeschooling di bulan puasa di rumah Farrel (4 May).

Pembahasan soal kegiatan anak homeschooling di bulan puasa di rumah Pak Sandi ( May).

Tarikat di rumah Ustadzah Laila, sekaligus mengikuti seminar Pak Boy dan Pak Hasnan Bachtiar. Sempat (hampir) ketiduran di seminarnya Pak Hasnan, karena kecapaian dan pembicaraannya terlalu berbobot buat aku sewaktu itu…

Evaluasi Tarikat di SMK 2- SMU 3- MA 1 Malang (25 May).

Makan malam keluarga besar FAI, tanpa umi karena pada saat itu beliau sedang tidak enak badan. (28 May).

Perjalanan sekaligus mudik ke Magelang (1-11 June).

Makan malam keluarga di Sengkaling (gelas tanpa sedotan plastik itu punyaku ;)) (14 June).

Menghadiri sekaligus mengisi acara seminar homeschooling di Universitas Ma Chung (mayoritas foto yang kuambil cuma foto Shanum. Gemesin!) (15 June).

Pergi ke Jatim Park 3, Transmart, Sengkaling, dan lain-lain (bersama tamu khusus: mbak Banat!) (23-29 June).

Pergi ke acara Zero Waste Bu Dini bersama mbak Banat (30 June).

Waktu mbak Banat pulang (4 July).

Berjalan-jalan ke Yogyakarta bersama keluarga besar FAI (cerita lengkap menyusul, 5-7 July).

Makan malam lagi di Sengkaling (13 July).

Awal mula kursus di NF (22 July).

Mengantar umi mendaftar kuliah di Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang (29 July).

Pergi ke cafe Seoulscent bersama Alifia dan Tazkia (11 Aug).

Pergi ke Jatim Park 1 bersama anak-anak homeschooling (menjadi pembimbing, menyempatkan diri naik hampir semua roller coaster yang ada dan alat terbang (gatau namanya), one of the best day of my life. Yang nggak bikin happy cuma karena anak-anak laki-laki tingginya sudah melampaui aku.) (14 Aug).

Jalan-jalan untuk kesekian kalinya ke Yogyakarta (lagi) untuk reuni setelah sekian tahun lamanya dengan Fathimah dan Kak Aisyah (cerita lengkap menyusul) (19 Aug).

Mampir sebentar ke rumah bude. Saat perjalanan ke stasiun, kena tilang karena nggak memerhatikan lampu merah. Dikasih jarum pentul untuk memperbaiki kerudung oleh seorang kakak yang baik hati dari Solo. Kalau nggak salah, kerudungnya warna hijau. Tapi entahlah, aku gampang lupa (20 Aug).

Lomba keluarga homeschooling. Aku tugas fotografi, walau memang dasar pemalas anaknya sampai sekarang fotonya masih belum dipindahkan dari kamera. Walaupun panas, tetap sangat menyenangkan! (24 Aug).

Mendaftar Rumah SuCi (volunteer menemani mengajar anak-anak yang dibuat oleh komunitas KAMMI UM) dan bertemu dengan Kak Zalfa di Masjid Al-Hikmah, UM. Pulangnya naik gojek karena abi mau jemput arun di perpustakaan. Sewaktu gojeknya datang, sempat salah orang karena gojeknya nggak pakai atribut gojek. Saat hendak naik, ponselku jatuh dari tangan, screen protectornya pecah dan belum diganti sampai sekarang karena sayang uang.Β (27 Aug).

Abi ngirim berita berjudul Aktivitas Fisik Seperti Mengepel Rumah Ampuh Hindarkan Kematian Dini di group, umi tiba di wisma di Semarang (28 Aug).

Aku memasak sayur daging kentang (29 Aug).

Ada kajian forsil Muhammadiyah perumahan di rumah, alhamdulillah berjalan dengan sangat lancar. Tentang bakti anak kepada ayah ibundanya. Menu favorit para tamu kajian adalah minuman sirih spesial buatan umi, yang belum sempat aku cicipi. Buat umi, bukannya umi janji bikin? 😦 (31 Aug).

Pertama kalinya ikut kegiatan SuCi di Sukun, dan bertemu anak-anak lucu! Karena abi nggak bisa jemput karena sedang sakit, biaya gojek mahal dan setiap kali aku mencoba pesan selalu loading tanpa ada jawaban, aku jalan kaki sampai Dinoyo. Di pertengahan jalan, ketemu dengan seorang ibu paruh baya yang hendak pergi ke Terminal Arjosari, sempat menyetop ojek yang nggak berhenti karena ojeknya ojek online :(. Aku jelasin soal ojek online dan cara memesan, sempat menawarkan untuk dipesankan tapi kemudian dibatalkan karena budget ojek ibunya hanya 10 ribu, sedangkan ojek online tiga kali lipatnya. Aku menemani ibu itu mengobrol sambil jalan di trotoar sampai ada angkutan umum yang kosong lewat. Dan di depan Mall Dinoyo, aku dijemput umi. (1 Sept).

Mengikuti kelas yang paling menyenangkan yang pernah kuhadiri di NF (nama gurunya lupa, pokoknya inisialnya S.), walaupun aku nggak tahu pelajaran apa itu soalnya nggak dijelaskan (2 Sept).

Mengikuti kegiatan SuCi lagi. Agak shock, soalnya sudah lupa dengan hampir semua pelajaran yang menjadi PR anak-anak. (ceritanya penulis jarang banget belajar pelajaran formal sewaktu SD :() (5 Sept).

Aku masak semur ayam. Enak, tapi kurang berasa. Masalah utamanya satu: ayamnya kurang banyak. (8 Sept).

Mulai kuliah (cerita lengkap menyusul) (9 Sept).

Lanjut kuliah, memulai kelas bahasa Arab. Jadwal mulai padat, dari kuliah langsung pergi ke kelas bahasa Arab (10 Sept).

Sama seperti sebelumnya, perbedaan hari ini bawa persediaan rok dalam ransel buat dipakai ketika kelas bahasa Arab. Sorenya, sebuah duka Nasional terjadi. Bapak Eyang Habibie meninggal dunia. Sebelum aku bisa berbicara barang sedikit saja dengan beliau. Sesedih apapun dan seberat apa penyesalanku dan para warga Indonesia lainnya, aku tahu beliau sudah bahagia. Bersama Ibunda Ainun. (sebenarnya ada kursus sehabis kelas bahasa Arab, namun karena terlalu sibuk mengerjakan tugas kuliah, terpaksa bolos. Sedikit senang, sih, soalnya pada jadwalnya ada pelajaran matematika. 😦 ) (11 Sept).

Awalnya sehabis kuliah dan kelas bahasa Arab harus ke kegiatan KAMMI, tapi karena kecapaian, lagi-lagi bolos (12 Sept).

Kuliah, lalu sorenya pergi ke NF. Saat mendaftar untuk kegiatan Kelas Kayu yang dikirimkan oleh umi di grup keluarga, sempat dikira pria dan ditegur karena telah mendaftar bahkan sebelum brosur disebar dan pendaftaran dibuka. 😦 mana aku tahu kan ya. Malamnya, makan di soto kambing langganan lama di belakang kampus. Beli nasi goreng buat Arun. (13 Sept).

Kuliah, ngobrol dengan umi dan abi, dan memutuskan untuk membuat sebuah portofolio tentang apa yang telah terjadi selama 2019 ini (14 Sept-sekarang).

Dan itulah sejumlah omong kosong yang telah kutulis. Semoga kalian (termasuk aku di masa depan, yang akan membaca tulisan ini nantinya) terhibur.

Thank you!

Some Announcements.

Hello, pals! Dengan ini aku mau mengabarkan secara ringkas bahwa dalam waktu dekat aku akan membuat sebuah blog berbahasa Inggris untuk melatih kemampuanku berjurnalisasi dalam bahasa Inggris, dan aku akan mencoba untuk menjadi lebih produktif dalam menulis tulisan baik disini dan di blogku yang menjelang dirilis.

Dan anyway, aku baru saja membaca ulang artikelku sampai yang terakhir kali kurilis, dan bisa kuberitahu bahwa tanganku terasa sangat gatal untuk mengedit dan merombak semua tulisan itu, yang sayangnya, tidak kulakukan. Keeping my improvements from all of these years pure, absolutely.

Dan rest assured, akan kuusahakan untuk terus membuat artikel dalam bentuk yang lebih rapi dan yang jauh lebih bisa dinikmati berikutnya.

Thank you for your attention!

Birthdays

You know you’ve a grown-ups if you doesn’t really care about birthdays anymore.

Sampai dua tahun yang lalu, aku masih bakalan ribut menyiapkan hadiah beberapa hari sebelum due birthday date seseorang. Membeli barang, serta memaketkannya menggunakan kertas kado dengan jantung yang berdetak kencang membayangkan ekspresi penerima saat mendapatkan kadonya.

Aku orang yang senang memberikan hadiah pada orang yang berulang tahun, dan itu jarang terlewatkan… sampai belakangan.

Dari tahun lalu, aku sudah mulai menganggap hari ulang tahun adalah hal yang biasa, dan mulai memberikan hadiah bila perlu.

Alas, aku jadi teringat saat-saat menyenangkan dimana aku berlari ke toko dan dengan bersemangat memilih dompet yang manakah yang pantas untuk menjadi hadiah ulang tahun umi.

Atau saat aku menggunting kertas warna-warni menjadi kupon hadiah ulang tahun umi: bisa berupa kupon pijat, kupon membersihkan rumah…

Ini membuatku sadar betapa innocentnya aku dulu.

Sekarang, aku lebih memilih untuk menyenangkan hati umi dengan melakukan pekerjaan rumah dengan baik daripada membelikannya sesuatu. Lagipula, acap kali aku bertanya apakah ia menginginkan sesuatu, jawabannya hanyalah ingin ada yang menyetrika pakaian.

You know, there’s nothing makes me happier than seeing her smile. It’s heavenly.

Dulu aku tidak suka menyetrika pakaian, hampir sama dengan ketidaksukaanku mencuci piring. Tetapi paling tidak masih lebih baik, dan yang menyenangkanku, ekspresi umi selalu senang setiap kali aku selesai menyetrika. Aku jadi teringat beberapa tahun yang lalu, ketika aku belum rajin membersihkan rumah setiap harinya, aku membersihkan dapur dan mendapatkan pujian pertamaku dari umi.

Aku tidak bisa bohong dengan berkata aku tidak suka dipuji, tetapi bila harus ada orang yang memujiku, I want that person to be umi.

[ For your information, ditulis tanggal 16 tapi berhenti sebelum selesai karena ngantuk. ]Sebagian besar alasan mengapa aku mulai rutin membersihkan rumah juga untuk beliau anyway, di samping alasan aku memang menyukai kebersihan dan rumah bakal harus dibersihkan setiap harinya.

Umi adalah role modelku.

Umi mempunyai banyak teman, kenalan dan koneksi yang luas. Memiliki hubungan dengan para kolega dan mahasiswa yang harmonis. Pemikirannya terbuka tapi masih dalam batas wajar dan seorang yang cerdas, juga pekerja keras.

Melihat umi bekerja tiap harinya, berhadapan dengan dokumen demi dokumen yang tidak ada habisnya dan laptop yang terus menampilkan dokumen lain, paragraf lain, kalimat lain…

I can’t help but feeling hurt. Bagaimanapun, aku tidak banyak membantu selama umi bekerja. Malah biasanya (baca: lebih seringnya) menambah masalah pada beban beliau dengan pembangkanganku dan kebandelanku sebagai anak kedua berdarah panas yang keras kepala.

Diantara semua anggota keluargaku, aku paling senang memeluk umi. Rasanya nyaman, it feels like you’re back home even though we’re home.

Aku belum bilang, bukan?

Hari ini hari kelahiran umi. Dari perhitunganku, untuk umurnya yang ke empat puluh lima.

Pikirku, betapa cepatnya. Kupikir baru tahun lalu aku merayakan ulang tahunnya yang ke empat puluh dua, atau saat aku membuatkannya surat cinta di hari kelahirannya yang lain.

I don’t like the word aging.

Aku lebih senang menganggap bahwa di hari kelahirannya, seorang baru saja melewati sebuah tahap, level berikutnya untuk mencapai level tertinggi. Itu lebih nyaman untuk kubayangkan, mengingat aku tidak menyukai kata menua, biarpun menua adalah sepenuhnya normal.

And that’s all. Lastly, I want to say happy birthday, umi. I hope for a long, healthy and happy life for you.

For my lady, my madam, my queen, my empress, the woman I called mother. The one who bear me for 9 months, the one who feeds me and treats me for years until my height exceeds 150 cm. The one who keeps working hard everyday, the one that I love (wholeheartedly).

Thank you for being alive.

[ For your information, tulisan ini ditulis tanggal 16 dengan emosional tapi berhenti sebelum selesai karena ngantuk dan dilanjutkan keesokan paginya dengan terburu-buru. Hm. Better late than never, kan? ]

[ Bunch of another love for for my brother Azmi and my best friend Tazkia, who had their birthday on April’s 15th and 16th. Mi amor, dorks :* *puked blood* ]

[ Aku sedikit terkejut melihat tanggal publish tulisan ini. Apa karena gap perbedaan waktu? ]

_________((__((__((__((__((
_________ β–Œ__β–Œ__β–Œ__β–Œ__ β–Œ
______β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“
_____ {~*~*~ β˜…β˜…β˜… ~*~*~}
_____ {~*╔╦╗────────*~}
_____ {~*║╩╠═╦═╦═╦╦╗*~}
_____ {~*║╦║╬║╬║╬║║║*~}
_____ {~*β•šβ•©β•©β•©β•£β•”β•£β•”β•¬β•—β•‘*~}
_____ {~*β”€β”€β”€β”€β•šβ•β•šβ•β•šβ•β•*~}
_____ {~*~*~ β˜…β˜…β˜… ~*~*~}
______β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“
______ ≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑
__β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’
__{~*~*~*~* β˜…β˜…β˜… *~*~*~*~}
__{~* ╔═╦╗─╔╗╔╗─╔╗────*~}
__{~* β•‘β•šβ• β•¬β•¦β•£β•šβ•£β•šβ•¦β•β• β•β•¦β•¦β•—*~}
__{~* ║╔║║╔╣╔╣║║╬║╬║║║*~}
__{~* β•šβ•β•©β•©β•β•šβ•β•©β•©β•©β•β•©β•©β•¬β•—β•‘*~}
__{~* β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β•šβ•β•*~}
__{~*~*~*~* β˜…β˜…β˜… *~*~*~*~}
__β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’
__≑≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑≑‒≑‒≑≑
__β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’
β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“
_ β–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Ό_
β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“
β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆ
_______β–€β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–€.oβ€’Β°β˜…Β°β€’o.
___________β–€β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–€β˜… β˜…
_____________ β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆ ☻ ☻
_____________ β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆ
_____________ β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆ
___________β–„β–„β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–„β–„

Psikopat.

So, well, I almost had a heart attack while sweeping my house’s terrace just a while ago. I saw someone walking quite swiftly in the darkness, and my heart almost jumped out of my throat, but then I exhaling deeply. While trying to calming my poor fragile heart, I whispered to myself, that’s just a neighbor passing by…

All of this havoc on my mind and soul is caused by a book I just finished reading. Dude, I feel like my body is bobbing in a small ship in a storm that doesn’t stop!

That so-called online book is titled When A Snail Loves, with a quite cute and lovely synopsis that surprisingly deceived me, lures me into a hole full of darkness: death, frightening cases and psychopaths. At first, I thought that certain book is full of pure, lovely romance relationship with some light conflicts inside. Who knows that the conflicts inside is so freaking intense that makes me wanna scream?

Aku senang baca buku-buku online, karena kebanyakan dari mereka memiliki drama dan conflict yangΒ intenseΒ dan selalu mengisapku lebih jauh dalam lubang hitam. This is a thing that I mostly didn’t find in any Indonesian published books: hard conflicts. Well, mungkin banyak yang bakal berpikir bahwa aku tidak membaca buku Indonesia sebanyak itu untuk bisa menyimpulkan hal seperti ini.

Tetapi menurutku, kebanyakan buku remaja yang diterbitkan belakangan ini memang tergolong sangat ringan dan kelewatΒ menggelikan. Aku pernah membaca sejumlah buku yang berasal dari Wattpad, mereka teramat sangat populer dan sebagian besar telah difilmkan. Tidak hanya itu, ada sebagian buku yang saat kuintip bagian dalamnya dengan penasaran di perpustakaan juga memiliki masalah yang sama.

Can you believe how much is the cringeness I’ve felt?Β Aku hampir muntah darah. (memutar mata) dan inilah alasan mengapa aku lebih suka membaca, dan atau meminjam buku-buku terjemahan di perpustakaan.

Aku orang yang pemilih, orang yangΒ pickyΒ dalam memilih buku bacaan. Bila dulu aku senang sekali membaca buku yang memiliki paragraf pendek dan tergolong ringan, dan diantara contohnya ada jenis buku-buku yang baru saja kukritik tadi, sekarang aku lebih menyukai buku-buku tebal berparagraf panjang yang menjelaskan situasi dalam dunia buku dengan detail. Buku-buku yang menemui ekspekstasiku seperti ini, belakangan baru ada pada buku-buku terjemahan. Baik terjemahan bahasa Inggris maupun Chinese. Tidak Jepang, emoji dan tanda seru yang digunakan di buku bahasa Jepang terlalu berlebihan untuk kebaikanku.

Buku-buku yang ditulis Dan Brown, serial Percy Jackson, Jostein Gaarder, dan sejumlah buku tertentu seperti Graceling yang ditulis oleh Kristin Cashore maupun serial Tiger Saga yang ditulis oleh Colleen Houck (aku baru baca buku pertama dan keduanya, yah, hanya itu yang ada di perpustakaan. Buku ketiga belum diterjemahkan dan aku sedang menabung untuk membeli ebook berbahasa Inggrisnya.), adalah contoh dari tipe buku yang belakangan senang sekali kubaca. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak memiliki drama maupun conflict yangΒ intense, yang bisa membuatku meremas dan menjambak rambut dengan frustasi dan seolah terombang-ambing di kapal yang terjebak badai besar.

Kuharap, aku bisa menjadi penulis seperti itu juga, walaupun kupikir rasanya tak mungkin dalam waktu dekat karena semakin banyak buku seperti itu yang kubaca, semakin tinggi ekspekstasiku untuk buku yang kutulis. Itu mungkin menjelaskan mengapa progressku dalam menulis bisa dibilang hampir tidak meningkat sama sekali.

…selain karena malas.

Omong-omong, aku belum bilang mengapa jantungku seperti hampir keluar dari tenggorokanku saat melihat bayang-bayang tetanggaku dari kegelapan tadi.

Salah satu conflict yang ada di buku yang kumaksudkan tadi menceritakan tentang kasus psikopat, so-called serial killer yang sudah lama berkeliaran, memperkosa dan membunuh para gadis muda. Yang membuatku menjadi suram, para psikopat ini nggak cuma satu, tapi tiga sekaligus! Salah satu diantaranya adalah tipikal orang yang sangat tidak mungkin kau pikir adalah psikopat. Baik hati, tampan, bijaksana, penuh kasih, tenang dalam segala situasi.

Aku jadi semakin tidak ingin keluar dari kamarku yang nyaman untuk menghadapi hidup yang kejam, karena, aku yakin, diantara sejuta orang, pasti ada satu orang seperti ini. Orang yang terlihat kalem danΒ polos di luarnya, namun memiliki sejuta rahasia yang mengerikan di dalam dirinya.

Sehabis selesai membaca novelnya dan kehilangan kata-kata, aku mencaritahu soal psikopat dan berbagai kasus serial killer dan pembunuhan yang terkenal di internet. Pencarian pertamaku tertuju kepada seorang dengan nama akhir Holmes. Aku membuka artikelnya karena penasaran karena nama marganya mirip dengan sang detektif legendaris Sherlock Holmes.

Henry Howard Holmes, yang bernama asli Herman Webster Mudgett, salah seorang pembunuh berantai paling terkenal di dunia yang memiliki jiwa psikopat dibalik penampilannya yang tidak pernah menarik kecurigaan orang sekitar. Ia adalah seorang kaya yang membangun sebuah hotel, sebuah mansion yang tidak dinyana ternyata adalah tempat dimana puluhan atau mungkin ratusan orang meninggal di tangannya sendiri.Β  Bangunan terkutuk itu didesain secara khusus sebagai tempat untuk menjebak dan menghabisi korbannya, yang dilakukannya dengan mengatur agar arsitek dan pekerja yang membangunnya selalu diganti secara bertahap.

Sejak muda, perilakunya sebenarnya memang sudah aneh. Bisa dibilang ia adalah anak pintar; yang kepintarannya membawanya membedahi hewan-hewan dan dianggap bertanggung jawab atas kematian seorang temannya.

Padahal ia lahir dari keluarga berkecukupan. Pikirku, dasar bandit tak bersyukur. (aku sebenarnya ingin menggunakan kata umpatan yang lebih kasar, tapi kemudian pikirku tidak pantas karena aku menjaga artikel blogku selalu child approppriate. Hehe.)

Para wanitanya; yang mungkin bisa kubilang kekasih atauΒ mistressnya, sebagian dari mereka berasal dari keluarga kaya. Dan sebagian orang tidak pernah melihat keluarga kaya itu lagi. Hal yang tertulis di salah satu artikel teratas dalam pencarianku terhadap Holmes ini agak membuatku bingung, siapa yang tidak pernah melihat keluarga kaya itu lagi? Yang menghilang itu wanitanya atau keluarganya? AgakΒ complicated, memang.

Aku pernah membaca sebuah komentar dalam suatu online blog yang pernah kukunjungi. Ia menyebutkan bahwa suatu kali, guru keponakannya yang duduk di kelas satu, pernah meminta para muridnya untuk menggambar binatang paling mengerikan yang mereka tahu setelah sebuah kunjungan ke kebun binatang. Keponakannya,Β yang masih duduk di kelas satu, menggambar seorang pria sementara anak lainnya menggambar serigala, harimau dan ular.

Dan aku tahu, sesungguhnya, ia benar. Manusia adalah binatang yang paling kejam dan berbahaya. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga bisa sangat mengerikan. Terlepas dari gender mereka, siapa yang bisa tahu apa isi pemikiran mereka selain diri mereka sendiri, juga Tuhan, dibalik topeng wajah mereka yang penuh perasaan rendah diri?

Ketertarikanku mencari kasus pembunuhan berantai ini membawaku ke sebuah kasus yang belum pernah kudengar sebelumnya: pembunuhan Ade Sara, terjadi di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Aku menemukannya saat sedang membaca artikel tentang psikopat, kalau tidak salah.

Kalau boleh jujur, para pembunuh dalam kasus pembunuhan Ade Sara ini benar-benar konyol, menggelikan, bodoh, tak masuk akal, tak berotak. Berawal dari cinta segitiga.Β Cinta segitiga. Karena kecemburuan.Β Buat orang yang tidak pernah merasa setertarik itu dengan anak cowok sepertiku, hal ini seratus persen konyol.

I mean, that damned guy isn’t even that handsome

Kalau misalnya kegantengan laki-laki yang mereka perebutkan itu paling nggak 0.1% kegantengan Tom Cruise atau Leonardo DiCaprio saat muda, mungkin aku masih bisa mengerti. Tapi, lelaki yang mereka perebutkan ini tidak tampan, tidak tinggi, keseluruhannya nggak sespektakuler itu.

Ditambah dengan kebodohannya membunuh mantan kekasihnya sendiri bersama kekasihnya yang baru, aku nggak mengerti hal baik apa yang pantas diperebutkan dari dirinya.

Dan mereka juga masih berani saling menyalahkan satu sama lain di pengadilan. Yang lelaki menumpahkan pertanggungjawaban pada si perempuan, si perempuannya sambil menangis tersedu-sedu ia bilang ia dipaksa lelakinya… benar-benar pasangan yang sangat pantas, dari segi luar dalam.

Sejujurnya, aku menyesal kenapa mereka tidak dijatuhi hukuman mati saja. Hukuman 20 tahun penjara, yang kabarnya ditambah menjadi penjara seumur hidup, nggak cukup bagi iblis seperti mereka.

Iblis yang kumaksud juga termasuk para iblis yang sekarang masih berkeliaran di dunia, mencari korban demi korban untuk disantap. Terutama para pembunuh berantai itu, para psikopat itu, yang membuatku ingin sekali menguliti kulitnya satu persatu.

Bagaimanapun, psikopat yang asli, tidak akan bersikap laiknya seorang psikopat. MerekaΒ mungkinΒ bakalan bersikap lebih normal dari manusia biasa. Dan itulah yang mengapa aku nggak ingin keluar dari dunia remajaku, dunia kasur dan bantalku yang nyaman.

Untuk apa aku harus turun dari awan untuk jatuh ke lubang buaya? Orang-orang jadi makin aneh seiring waktu berjalan.

 

An Overdue New Year Post

Well, the first thing I need to say in this post probably “Happy Belated New Year!” [blinking eyes happily]

How shameful of me to forget that I haven’t make any posts in this early 2019. I thought I’ve made one, but when my curiosity dragged me into scrolling on my latest posts on my blog, I realize that there’s no happy new year greeting post uploaded. [is that necessary, anyway?]

I watched a YouTube video a few days ago, about a boy that has been died in the inside [his soul dies] because of no affections and love from his family, friends, school, neighborhood. He’s lonely, alone, and depressed even though he doesn’t really looks depressed. His mom cursed on him everyday, his teacher yells on him everyday, telling him to not to learn on her class again. They’re both comparing him to his brothers, who are both already smart and successful. Yet afterwards I saw a comment said that he’s actually already dying inside.

He walks, he breathe, he eats, he drinks, he talks like we all do. But his soul is nowhere to be seen [I know we can’t see souls but you know what I mean, right?].
This really hits me hard on my heart. I got some writing inspirations from the video and decided to start a fresh-newly made project with a similar plot included. [please do help me pray I won’t leave this project behind after a few pages.

Anyway! I’ve been reading English web-novels this days, and one of them is a book about pastries and cakes. The brief explanation about the way the chef making the cakes is really detailed and delicate; Makes me feel like I’ve been drowning in a world full of cakes this days. This book makes my big mood for cooking reappear, alhamdulillah! Sadly I can’t do a recook of them since all of this cakes recipes needs an oven to bake it. We ever have an oven back then, which after being used to bake some fish, cannot be used anymore because of the stinging remaining smell on the inside of the oven. And yet because of our ignorance, we even washed the oven and the poor oven end up being damaged and can’t be used again thankfully for the same reason. [cries] actually it can be repaired, but my dad said the repairing fee costs the same as a new oven. [le me: is sad]

This morning, my mood is not that good because this is my second day of period, but after reading some another web-novels and crying, I got them mood back again.
Oh, and have I mentioned that I’ve been taking a hiatus for social medias [still excluding YouTube and Gmail, sadly] this days? I don’t play Twitter 24/7 anymore! I just mayhaps checked it for five minutes a day, in case probably some friends or ghosts misses me but whatever. The point is I have getting rid of my addiction to Twitter, but still can’t ignore YouTube and Spotify. Sighs.

And to mention another thing: I started to learn Mandarin. Quite [I swear, it’s really hard!] hard and I still can’t read any Pinyin words until now since I have a free-learning-schedule-which-is-not-too-good-for-someone-who-wants-to-be-productive, but I hope I can at least remembering the Pinyins at the end of the year. I don’t have any high expectations, since I still sucks learning Hangul and Kanji, Katakana and such.

Don’t you think wrote a post using Chinese here seems cool? [dabs]
Yet, I’m not that fluent in English so probably I need to sharpen it well before learning another languages.

Hence, see you later, then! I want to eat another bread. Please forgive me if I do some grammar errors here since I wrote this on my phone. [yah what an excuse, you’re usually being a grammar nazi brat and now you have a problem with your grammars?!]

mental illness

Mental illness, belakangan ini, sedang fatal sekali terjadi diantara masyarakat zaman sekarang. Tidak jarang aku melihat orang asing, atau bahkan temanku sendiri terkena penyakit yang berbahaya ini. Satu dari empat orang menderita gangguan mental (ringkasnya, sekitar 450 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit ini).

Mental illness tidak ditularkan melalui sentuhan atau semacamnya. Mental illness tidak ditularkan dari meminum air dari gelas yang sama atau memakan makanan dengan sendok yang sama. Mental illness tidak bisa ditularkan, mental illness disebabkan oleh pengaruh lingkungan atau circle sekitar.

…paling tidak, itu yang kupahami tentang mental illness. I am clearly not an expert in this case, so please feel free to critize on the comment section below if I made some mistakes here.

Dari pengamatanku selama ini, mental illness banyak disebabkan orang terdekat korban, terutama orangtua, keluarga dan teman. Sifat dan karakter orang berbeda-beda, ada yang sangat sensitif sampai bisa terluka karena sebuah bentakan saja dan ada yang sangat keras sampai dipukuli pun tidak mempan. Mental illness juga bisa disebabkan oleh kebiasaan buruk seperti banyak pesimis dan perfeksionis.

Terutama perfeksionis. Aku pernah memiliki sedikit sifat perfeksionis beberapa tahun yang lalu, yang membuatku stres sendiri karena selalu merasa tidak detail dan tidak lengkap dalam menyelesaikan suatu tugas, yang sepele sekalipun. Syukurlah, sifat itu sudah hilang sejak awal tahun ini. Kalau tidak, mungkin resikoku terkena mental illness juga bisa membesar.

Tapi dari yang kuamati, sifat orangtua sangat berpengaruh pada penyebab anak mereka terkena mental illness. Beberapa orang yang kukenal, sifat keras atau ketidakpedulian orang tua merekalah yang menyebabkan sebagian dari mereka menggoreskan pisau melukai bagian nadi mereka (self-injury) untuk melepaskan rasa depresi.

Keluarga elite yang kaya pun tidak semua bisa lepas dari masalah ini. Ada seorang kenalanku yang bisa dibilang sekaya itu sampai bisa beli barang branded impor puluhan hingga ratusan juta, dia juga memiliki gangguan mental illness yang membuatnya juga melakukan self-injury. Apa penyebabnya? Orangtua dan anxiety. Orangtuanya selalu bekerja dan jarang pulang, setiap pulang selalu bertengkar, jarang akur, dan kenalanku ini cenderung dipaksa untuk berusaha agar bisa melanjutkan bisnis keluarganya nantinya.

Orang yang terkena mental illness, tidak seharusnya dihina atau diberi perkataan, “Memang lo doang yang punya banyak masalah? Lihat sekitar, banyak orang yang masalahnya lebih menumpuk dari lo!”

Itu adalah kesalahan fatal untuk mengucapkannya pada seseorang yang mentalnya sedang sensitif, dalam kesalahan sulit. Bila sudah parah, orang tersebut bisa mengakhiri nyawanya sendiri.

Dukung, hiburlah dia jika kamu memiliki teman yang terkena mental illness. Ajak berlibur, menikmati berbagai hiburan untuk menyadarkannya bahwa dunia ini terlalu indah untuk segera ditinggal tanpa mengucapkan kata-kata menusuk kepadanya.

Mulutmu harimaumu, benar? Kita tidak pernah tahu, sebuah perkataan yang kita ucapkan di dunia nyata maupun di dunia nyata, apakah perkataan itu bisa menyelamatkan seseorang dari menghabisi nyawanya sendiri, atau malah menyinggungnya sampai membuatnya bunuh diri.

Seperti yang sudah kubilang di artikel sebelumnya, anxiety yang parah bisa menjurus pada penyakit mental yang serius. Awasi sekitar, apakah menurutmu di sekitarmu ada orang yang terlihat penyendiri, murung dan cenderung sering sekali terkena bully? Datangi dia, ajak ia bermain dan buat ia tersenyum. Percayalah, mungkin setiap kamu melakukannya, hari itu kamu baru saja menyelamatkan satu nyawa dari kemungkinan ia mengakhiri hidupnya.

Aku percaya, berbuat baik pasti ada ganjarannya. Seperti itu contohnya.