mental illness

Mental illness, belakangan ini, sedang fatal sekali terjadi diantara masyarakat zaman sekarang. Tidak jarang aku melihat orang asing, atau bahkan temanku sendiri terkena penyakit yang berbahaya ini. Satu dari empat orang menderita gangguan mental (ringkasnya, sekitar 450 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit ini).

Mental illness tidak ditularkan melalui sentuhan atau semacamnya. Mental illness tidak ditularkan dari meminum air dari gelas yang sama atau memakan makanan dengan sendok yang sama. Mental illness tidak bisa ditularkan, mental illness disebabkan oleh pengaruh lingkungan atau circle sekitar.

…paling tidak, itu yang kupahami tentang mental illness. I am clearly not an expert in this case, so please feel free to critize on the comment section below if I made some mistakes here.

Dari pengamatanku selama ini, mental illness banyak disebabkan orang terdekat korban, terutama orangtua, keluarga dan teman. Sifat dan karakter orang berbeda-beda, ada yang sangat sensitif sampai bisa terluka karena sebuah bentakan saja dan ada yang sangat keras sampai dipukuli pun tidak mempan. Mental illness juga bisa disebabkan oleh kebiasaan buruk seperti banyak pesimis dan perfeksionis.

Terutama perfeksionis. Aku pernah memiliki sedikit sifat perfeksionis beberapa tahun yang lalu, yang membuatku stres sendiri karena selalu merasa tidak detail dan tidak lengkap dalam menyelesaikan suatu tugas, yang sepele sekalipun. Syukurlah, sifat itu sudah hilang sejak awal tahun ini. Kalau tidak, mungkin resikoku terkena mental illness juga bisa membesar.

Tapi dari yang kuamati, sifat orangtua sangat berpengaruh pada penyebab anak mereka terkena mental illness. Beberapa orang yang kukenal, sifat keras atau ketidakpedulian orang tua merekalah yang menyebabkan sebagian dari mereka menggoreskan pisau melukai bagian nadi mereka (self-injury) untuk melepaskan rasa depresi.

Keluarga elite yang kaya pun tidak semua bisa lepas dari masalah ini. Ada seorang kenalanku yang bisa dibilang sekaya itu sampai bisa beli barang branded impor puluhan hingga ratusan juta, dia juga memiliki gangguan mental illness yang membuatnya juga melakukan self-injury. Apa penyebabnya? Orangtua dan anxiety. Orangtuanya selalu bekerja dan jarang pulang, setiap pulang selalu bertengkar, jarang akur, dan kenalanku ini cenderung dipaksa untuk berusaha agar bisa melanjutkan bisnis keluarganya nantinya.

Orang yang terkena mental illness, tidak seharusnya dihina atau diberi perkataan, “Memang lo doang yang punya banyak masalah? Lihat sekitar, banyak orang yang masalahnya lebih menumpuk dari lo!”

Itu adalah kesalahan fatal untuk mengucapkannya pada seseorang yang mentalnya sedang sensitif, dalam kesalahan sulit. Bila sudah parah, orang tersebut bisa mengakhiri nyawanya sendiri.

Dukung, hiburlah dia jika kamu memiliki teman yang terkena mental illness. Ajak berlibur, menikmati berbagai hiburan untuk menyadarkannya bahwa dunia ini terlalu indah untuk segera ditinggal tanpa mengucapkan kata-kata menusuk kepadanya.

Mulutmu harimaumu, benar? Kita tidak pernah tahu, sebuah perkataan yang kita ucapkan di dunia nyata maupun di dunia nyata, apakah perkataan itu bisa menyelamatkan seseorang dari menghabisi nyawanya sendiri, atau malah menyinggungnya sampai membuatnya bunuh diri.

Seperti yang sudah kubilang di artikel sebelumnya, anxiety yang parah bisa menjurus pada penyakit mental yang serius. Awasi sekitar, apakah menurutmu di sekitarmu ada orang yang terlihat penyendiri, murung dan cenderung sering sekali terkena bully? Datangi dia, ajak ia bermain dan buat ia tersenyum. Percayalah, mungkin setiap kamu melakukannya, hari itu kamu baru saja menyelamatkan satu nyawa dari kemungkinan ia mengakhiri hidupnya.

Aku percaya, berbuat baik pasti ada ganjarannya. Seperti itu contohnya.

TO BE CONTINUED.

Advertisements

menikah… muda?

Sedang viral di dunia maya, seorang remaja perempuan berusia empat belas tahun, yang clearly seumuran denganku, dan seorang anak lelaki berusia sembilan tahun yang berusia tak jauh dari adikku sendiri, resmi menikah beberapa saat yang lalu. Mengaitkan live and soul satu sama lain sebagai satu, sepasang suami istri yang sah, di usia yang notabene tergolong teramat sangat muda dan dibawah umur.

Usia mereka jauh dari batas usia menikah dalam Pasal 7 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yakni perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun. Sepuluh tahun lagi hingga anak laki-laki itu legal untuk memenuhi batas wajar usia menikah pada undang-undang. Sedangkan secara UU Perlindungan anak, batas usia anak-anak adalah 18 tahun, jadi tak satupun dari undang-undang yang kini tengah diperdebatkan itu memenuhi syarat pernikahan mereka.

Yang membuatku geleng-geleng kepala, mereka menikah setelah pertama kali bertemu di waterboom sebuah pemandian. Mendadak cerita-cerita romantis tentang pertemuan berbagai pasangan di tempat yang romantis seperti pertemuan di Eiffel Tower atau Disneyland sudah tidak ada artinya dibandingkan dengan waterboom first met yang satu ini.

Adapun kejadian ini terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, yang ternyata tercatat sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki persentase tertinggi terjadinya kasus pernikahan anak dibawah umur.

Dari hasil penelitian tim penggerak PKK bersama Studi Gender Universitas Hasanuddin Makassar dan Pemerhati Perlindungan Perempuan dan Anak, di Sulsel sudah terdapat 720 kasus pernikahan anak di bawah umur. Hal itu terhitung sejak bulan Januari 2018 hingga bulan September 2018. Nah loh?

Sebenarnya aku tidak begitu mempermasalahkan remaja yang menikah, asalkan mereka sudah baligh dan paling tidak sudah lulus sekolah menengah pertama. Masalahnya, apakah mereka secara mental sudah benar-benar dewasa? Apakah parenting education sudah dikuasai betul oleh mereka?

Menikah umur berapa pun asal cukup umur, cukup materi, cukup mental, dan nggak berpikiran untuk pacaran romantis sehabis menikah itu tuh nggak apa-apa. Sayangnya, bahkan pasangan suami istri yang sudah cukup umur zaman sekarang saja masih banyak yang kekurangan materi dan bermental belum layak untuk menikah.

No offense tapi aku tidak yakin orang-orang di lingkungan daerah mereka mempelajari soal sex dan parenting di saat usia anak-anaknya sebenarnya sudah harus mempelajarinya. Don’t get me wrong, aku sudah membaca buku-buku tentang parenting sejak umurku sepuluh tahun.

Bukan karena aku ngebet mau nikah muda, alasannya sih terlebih karena bukuku sudah habis kubaca semua di rumah dan aku nggak punya stock buku lain buat dibaca…

Lalu, bagaimana solusinya? Apakah memberikan buku tentang sex & educational pada anak sudah cukup untuk memberikan edukasi yang baik? Biarkan aku menuliskan ini: a big NO. Tanpa guide dari orangtua, hal yang seharusnya merupakan pembelajaran malah bisa jadi lubang hitam.

Aku sebenarnya dilarang untuk membaca salah satu buku mengenai parenting milik orangtuaku sebelumnya oleh umiku, yang mewanti-wantiku untuk baru boleh membacanya di usia tiga belas tahun. Tetapi dasar anak keras kepala, aku terus memaksa sampai akhirnya dibolehkan untuk membacanya di usia sebelas.

Kembali pada topik menikah di usia dini, sebetulnya apa boleh menikah di bawah umur?

Buatku, tidak. Menikah di usia dini hanya memperbesar persentase resiko pasangan tersebut untuk berpisah di saat yang dini juga.

Menikah bukan masalah yang bisa dipikirkan segampang memikirkan perayaan ulang tahun seseorang.

Sebagai tambahan. Dan benar-benar, I cringed at the first time I saw this pictures… Kalian nikah atau ulang tahun? 😔

penipuan

Awalnya aku sama sekali nggak niat buat menulis artikel baru, berhubung aku sedang dalam proses menyelesaikan tugas membuat daily menu buat keluargaku yang juga akan kupost di blogku nantinya, tapi baru saja ada kasus penipuan di Twitter yang membuat ubun-ubunku mendidih.

See? Betapa bisa seseorang bisa sangat tega untuk menipu orang dengan embel-embel giveaway seperti itu? Dan ini bukan yang pertama. Masih ada banyak lagi kasus penipuan berembel giveaway, dan itu tidak hanya terjadi di Twitter.

Jelas kalian pasti pernah dapat SMS atau telepon memenangkan lomba yang bahkan kita tidak tahu pernah mengikutinya, dan biasanya berasal dari perusahaan-perusahaan besar seperti Telkomsel, Gojek atau Grab?

Penipu sekarang sudah jauh lebih pandai dan heartless. Coba search saja di kolom pencarian Twitter, dengan kata kunci: thread penipuan. Entah berapa jumlah thread yang muncul saat dicari kata kunci tersebut. Sudah tak terhitung lagi, mungkin. Belum lagi kalau ditambah dengan yang ditemukan di Google dan Instagram.

Terkadang aku suka bingung. Apakah orang yang biasa melakukan penipuan itu nyenyak tidurnya? Apa mereka nggak punya rasa malu sudah mengutil uang orang, merampas rezeki orang lain?

Ini ada thread lain yang tak kalah serunya, tentang drama berbelit seorang anak SMA yang menipu banyak orang dengan apa-yang-disebutnya-usaha-miliknya.

Kabarnya, anak ini sudah sering menipu dan sekolahnya bahkan sudah tahu. Teman-temannya juga sudah tahu bahwa dia belum refund banyak ke sebagian besar orang yang ditipunya. Tapi kayanya, urat malunya sudah putus sampai masih bisa mengangkat dagu di depan teman-temannya sendiri.

Tahu apa yang dilakukannya dengan hasil uang yang dicurinya? Dibuat sosialita. Nyalon. Traktir teman. Bayarin gojek teman. Nonton bioskop. Demi bisa terlihat keren dan seperti anak gaul, dia berani berlaku seperti ini.

I wonder how her parents currently feeling right now… Apa mereka marah, sedih dengan kelakuan anaknya? Atau malah cenderung biasa saja dan tidak menanggapi kabar tersebut?

Aku heran kenapa sih orang bisa nipu… Aku hutang ke umi buat bayar shopee di harbolnas kemarin dan November lalu saja masih kepikiran belum kebayar sampai sekarang. 😦

Gilanya lagi, penipu zaman sekarang biasanya suka membuat-buat kabar palsu tentang orang terdekatnya, terutama orangtuanya. Hwangable, salah satu penipu yang paling terkenal di Twitter beberapa bulan yang lalu, sempat menipu banyak orang dari pelajar sampai orang dewasa hingga beratus juta, sempat mengatakan pada para customernya yang tertipu bahwa ibunya baru saja meninggal. Semua orang mendoakan, turut bersedih akan hilangnya ibunya. Tetapi saat ada korban yang sengaja pergi menengok (re: melabrak) hwangable di rumahnya? Ibunya masih hidup, men… Sehat walafiat dan sama sekali tidak percaya bahwa anaknya melakukan penipuan sebanyak itu.

Aku membaca threadnya sebal sendiri, buset… Bisa ada ya orang seperti itu? Ngescam orang, diantaranya membawa-bawa kabar palsu tentang orangtua meninggal.

Ada kutemukan thread scamming lain yang membawa-bawa penyakit orangtua. Faktanya: obat tetes matanya sebenarnya berharga hanya tiga puluh ribu rupiah saja.

Literally me reading all of this scamming threads on Twitter: tired and burning of anger. Aku juga pernah masuk dalam drama penipuan dua ratus ribu rupiah, yang sampai sekarang aku juga masih belum tahu apakah aku benar-benar ditipu atau orang yang menipuku atau tidak itu memang benar-benar innocent. Aku tidak pernah mendapatkan uang itu kembali, tapi nggak apa-apalah. Kalau dia benar-benar menipu, semoga uangnya berkah, hitung-hitung aku sedekah. Kalau dia nggak menipu, sudahlah… aku udah ikhlas.

Untuk per butir manusia yang membaca artikelku hari ini: tolong, jangan pernah sekali-kali menipu orang. Kita nggak tahu orang yang menipu itu akan menggunakan uangnya untuk apa, mungkin untuk membeli obat untuk orangtuanya yang sakit, atau apakah dia pelajar yang mati-matian menabung selama beberapa bulan untuk mendapatkan barang yang ia inginkan.

Buat para penipu yang sampai sekarang masih berkeliaran dan masih belum juga kapok mengulang perbuatan mereka: Enak nggak, makan uang haram?

malam

Terkadang, aku suka berpikir gila kalau malam. Bahasa ilmiahnya, deep-thinking. Berpikir dalam, dari yang masuk akal sampai topik yang hanya sekadar omong kosong. Menurutku, saat malam, biasanya otak kita memang bekerja lebih giat dari biasanya, memompa pemikiran dalam celah otak untuk muncul lebih terbuka. Malam ini, aku lebih banyak berpikir tentang banyak topik aneh yang mendadak muncul di kepalaku sehabis menonton sebuah film drama Chinese tentang persahabatan lebih dari dua puluh tahun yang lalu.

Seperti,

Apakah kecoa, selain menjadi binatang yang notabene banyak dibenci manusia karena dianggap kotor memiliki alasan lain untuk hidup di bumi? Apakah sebenarnya dibalik gunung-gunung tinggi nun jauh disana masih ada alam yang belum jua terkuak pada masyarakat luas, dan kehidupan zaman Purba sebenarnya masih ada jejaknya? Apakah didalam tanah, dibawah ranjang tempatku berbaring sekarang, dibalik keramik lantai tersebut, tenggelam harta karun dari Masa Majapahit yang bersejarah? Atau mungkin seorang pahlawan terkubur di dalamnya? Atau mungkin masih ada binatang dari zaman Es yang hidup di balik bebatuan jauh di bawah tanah, sedang menggali mencari cara agar bisa kembali ke permukaan tanah?

Gila… kurasa aku harus kembali menyelesaikan drama itu sebelum pergi tidur. Sebelum pemikiran-pemikiran konyol ini mulai menghantui kepalaku dan membuatku berpikir lagi apakah kayu pohon yang digunakan untuk pintu kamarku sebenarnya diambil dari perkebunan yang sama dengan perkebunan yang menghasilkan kayu pintu orang penting: contohnya presiden.

bagaimana cara bahagia?

Bahagia…

Bahagia sebenarnya apa sih?

Kata Google, kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan menentukan sumbernya.

Buatku, bahagia itu prinsip. A choice. A state of being happy. 

Katanya, bahagia bisa didapatkan dengan uang. Katanya juga, bahagia nggak bisa didapatkan sembarangan juga dengan sekadar uang.

Banyak film yang kutonton, atau buku yang kubaca, menggambarkan tentang kisah hidup seorang miskin yang walaupun kekurangan, hidupnya bahagia. Lain lagi, ada yang menggambarkan tentang struggling seorang kaya yang tidak merasa bahagia diantara timbunan uangnya yang menumpuk, sampai ternyata ceritanya berakhir sedih dengan ia mengakhiri hidupnya sendiri. Dan ada juga yang berkisah sebaliknya. Sadly, tidak sedikit orang-orang yang seperti ini di dunia nyata.

Apa artinya? Miskin atau tidak, tidak semua orang bisa merasa bahagia.

Uang juga tidak menjamin manusia bisa bahagia. Setelah sedikit pencarian, aku menemukan website ini, dan memilih sebagian ceritanya untuk dirangkum sedikit kisah hidupnya disini.

Casey Johnson adalah yang pertama. Siapa yang tidak tahu merk brand ternama Johnson & Johnson? Casey ini adalah cucu pertama dari Woody Johnson, pendiri Johnson & Johnson, sekaligus pewaris perusahaan tersebut.

Cerita yang menyedihkannya, disaat anak-anak berumur sepuluh tahun seumurannya asyik berbicara mengenai Barbie, kartun dan semacamnya, dia sudah mengoleksi tas branded dan bergelimang kemewahan. Seingatku, bahkan Bill Gates yang notabene merupakan salah satu orang terkaya di seluruh dunia saja membatasi penggunaan ponsel pintar putra-putrinya.

Biarpun ia bisa dibilang telah dilimpahi oleh segalanya dalam hidupnya, rupanya Casey juga masih mengonsumsi kokain dan alkohol berlebihan. Delapan tahun yang lalu, ia ditemukan tidak bernyawa di apartemennya dengan diagnosis penyebab kematian komplikasi penyakit diabetes yang dideritanya sejak umur delapan tahun.

Namun saat aku membaca kisah hidupnya, aku hanya bisa meringis miris. Karena disana disebutkan bahwa all she wanted is just her dad’s approval dan juga perhatian dari ayahnya. Namun Woody bukan tipe ayah yang penyayang, dia tidak mengerti bagaimana cara mengatur Casey yang mungkin baginya terlalu bermasalah tersebut dan memutus kontak dengannya pada tahun 2006.

Kedua, Leigh Horowitz. Putri dari Joel Horowitz, ex-CEO sekaligus co-founder Tommy Hilfiger Fashion, sebuah perusahaan sekaligus brand ternama fashion yang banyak kukenal dengan tas dan sepatunya. Gadis ini ternyata memiliki kehidupan yang lebih bermasalah dari Casey; ia sudah menghisap ganja sejak berumur delapan tahun. Walaupun kehidupannya juga sudah penuh bergelimang harta, bersekolah di sekolah elite dan banyak pergi liburan mewah. Disamping itu, Leigh juga berparas cantik dan berotak cerdas.

Namun kesibukan ayahnya membuat apa yang dilakukan Leigh tidak terkontrol, ganja dan narkoba, kokain sudah menjadi teman baiknya sejak umur delapan. Selain itu, ia juga suka mabuk-mabukan dan membuat masalah di sekolahnya.

Akhirnya ia dikirim ke tempat rehabilitasi untuk anak-anak bermasalah di sebuah pendakian di padang gurun. Saat itu, ayahnya baru mengetahui bahwa Leigh ternyata pernah dilecehkan saat ia masih dibawah umur oleh seorang anak remaja dan saat ia duduk di bangku SMA oleh anak lelaki yang menyukainya. Orangtua Leigh tidak tahu; gadis malang itu tidak berani memberitahukan mereka.

Terapi itu menghabiskan biaya ratusan ribu dolar, tetapi untungnya, semua dolar itu berguna setiap satu sennya. Setelah mengikuti banyak kursus dan workshop terapi, Leigh berubah menjadi seorang gadis yang benar-benar berbeda. Sekarang dia sudah lulus kuliah, dan kemungkinan bekerja sebagai ahli seni.

Dia tidak pernah menyalahkan orangtuanya atas kelalaian mereka dalam menjaga dirinya, melainkan berterima kasih pada orangtuanya telah mengirimkannya ke tempat rehabilitasi dan sudah bekerja demi mereka.

“You have to be open and honest with your kids early enough to where they want to talk to you about things.” Parents must “be willing to put a lot of effort” into a therapeutic program, “and not just think you’re going to put a lot of money in,” Leigh says.

“Orangtua, harus menjadi terbuka dan jujur dengan anak-anaknya cukup cepat dimana sudah tiba saat mereka ingin berbicara denganmu tentang banyak hal.” katanya. “Orangtua harus mau untuk menumpahkan banyak kerja keras pada program terapi anaknya, dan bukan hanya berpikir kamu hanya akan memberikan uang saja pada program tersebut.”

Dan masih banyak lagi, sebenarnya, orang kaya berlimpah harta yang memiliki masalah dalam hidupnya, sampai pada extent mereka mengambil nyawa mereka sendiri. Contohnya? Telusuri saja, tidak sedikit artis Western dan berbagai negara lainnya yang bunuh diri. Alhamdulilah, sampai sekarang aku belum menemukan record ada artis asal Indonesia yang benar-benar ditemukan bunuh diri.

Apakah itu berarti kebanyakan masyarakat negara kita bahagia? Bisa jadi, tapi belum tentu.

Untuk kalian yang membaca, semoga malam ini tidur lelap dan bisa melupakan semua energi, perasaan negatif yang kalian rasakan hari ini. Besok pagi, bangunlah dengan suasana hati yang lebih hidup dan bahagia. Ciao, have a good night!

A Tree Grows in Brooklyn; sebuah review

91n3sOVJ23LBuku ini adalah salah satu buku tertebal pertama yang kumiliki, sebuah buku yang jelas akan kurekomendasikan pada teman-temanku biarpun sebagian dari mereka sudah mundur dua langkah melihat ketebalan bukunya yang bisa bikin puyeng setelah baca buku pelajaran di sekolah.

Berksah tentang keluarga miskin di pinggiran Brooklyn, sang ayah pemabuk berat, ibunya tukang bersih-bersih, keduanya berupaya keras untuk kedua anaknya, memberi mereka pendidikan yang bagus agar mereka bisa keluar dari jerat kemiskinan.

Aku paling suka buku terjemahan, soalnya kebanyakan dari buku terjemahan tulisannya bergaya aku banget. Terutama buku ini; cara penulisnya menggambarkan keseharian mereka sebagai penduduk miskin yang sehari-hari hanya bisa makan seadanya, dari wortel lemas, lobak bau sampai roti basi sisa dari toko roti, and how they can surpass it, benar-benar menginspirasiku.

Ibunya adalah seorang yang kreatif, bisa menyulap roti dan kue basi jadi makanan yang layak makan buat keluarga mereka. Putri pertama sekaligus tokoh utama, Francie, adalah salah satu tokoh favoritku diantara buku-buku lain yang pernah kubaca. Seorang gadis yang tegar, percaya diri, mandiri dan pemberani. Nggak sekali dua kali dia dibully karena berasal dari pemukiman anak miskin, pinggiran Brooklyn yang kotor, dan dia hampir nggak punya teman sama sekali.

Dan dia masih bisa menghadapi hal itu. Bacanya bikin aku malu sama diri sendiri, because she’s really a strong person. What about meCan’t be compared la ke anak seperti dia.

Seperti banyak buku lainnya yang kubaca, buku ini sangat underrated. Banyak hal bisa kalian temukan disini: diskriminasi ras dan kasta seseorang, kasus pelecehan dan pembunuhan, kisah dan seluk beluk jaring kemiskinan yang tinggi dan bagaimana orang harus mengais tempat sampah untuk mendapatkan sekedar keping satu dua sen atau makanan basi agar bisa makan.

Cerita ini merangkum kehidupan Francie dan keluarganya sejak dia masih remaja hingga dewasa, bertemu dengan cinta pertamanya dan mengalami patah hati pertamanya, berhasil melewati era kemiskinan keluarganya menuju ke waktu yang lebih baik.

Dan berkat aku menuliskan review hari ini dan membuka Google untuk mencari foto bukunya, aku menemukan bahwa buku ini ternyata sudah difilmkan kurang lebih delapan puluh tahun yang lalu, tepatnya di tahun kemerdekaan Indonesia, 1945. Tentu saja langsung masuk ke daftar wishlist film yang akan kutonton dengan sekejap. Bingo!

Rating: 10/10. Sebuah recommend untuk kalian yang suka membaca buku bergenre slice of lifeThumbs up for Betty Smith!

Nostalgia and Another Story about Insecurities

Omong-omong soal insecurity di artikel kemarin, aku mau bercerita.

Entah kenapa setelah berpikir lama belakangan, aku menyadari bahwa media sosial sangat berpengaruh pada gaya berpikirku dan banyak merubah hal yang sudah terpatok di kepalaku. Mengapa?

Aku lahir sebagai seorang anak kedua berbobot tiga kilogram yang hiperaktif. Sewaktu TK, aku tumbuh menjadi anak yang kelewat percaya diri dan pemberani. Pernahkah aku bercerita aku pernah dibully gerombolan anak laki-laki sewaktu duduk di kelas satu sekolah dasar sampai menangis di tengah pelajaran agama?

Mungkin tidak, mungkin iya, dalam penjelasan yang tidak begitu detail.

Setahun dua tahun sebelumnya, aku adalah anak yang sama sekali berbeda. Kakakku adalah anak yang pemalu pada saat itu dan mudah sekali dibuat menangis oleh teman-temannya yang bandel.

Kata umi, suatu kali saat mas dibuat menangis lagi oleh salah seorang temannya, aku langsung berjalan gagah menggertak oknumnya yang langsung mengkerut karenanya. Setelah mendengar cerita itu, aku tidak bisa melihat teman mas, yang merupakan teman baiknya sekarang ini dengan cara yang sama lagi. Ya gimana… cewek kok barbar.

Sekolah TK tempatku bersekolah saat itu, bagiku, adalah sebuah keajaiban bagiku. Mukjizat. Mungkin jika aku bersekolah di TK yang lain pada saat itu, mungkin sekarang aku sedang berkutat mengerjakan pekerjaan soal Fisika dan mencoba merapal bacaan Biologi, alih-alih memikirkan ide baru apa yang harus kutulis untuk blogku hari ini.

Semua berubah setelah aku lulus di usia lima tahun dan masuk ke sebuah sekolah swasta.

Kehidupan kelas satu SDku cukup berat, sampai di sekolah harus jam tujuh pagi dan pulang jam empat sore diantar ojek. Belum lagi pekerjaan rumah yang menumpuk. Setiap kali aku melihat seseorang mengeluh tentang full day schoolnya yang bikin pening kepala, aku ikut tertawa miris mengingat aku bahkan sudah masuk pukul tujuh dan pulang jam empat sore di usia kurang lebih enam tahun. Hiperaktifku mulai hilang dan aku jadi sering sakit-sakitan. Sampai sekarang, aku masih ingat saat aku pulang sekolah dalam keadaan cuaca hujan deras. Aku sampai dengan menggigil, dan langsung disuguhi cokelat panas di rumah.

Tapi aku sebenarnya nggak seintrovert itu juga sewaktu kelas satu. Bahkan, masih ada jejak pesan wali kelasku dalam rapor semester ganjilku yang memberi pesan agar aku tidak banyak mengobrol dalam kelas sewaktu pelajaran.

I befriend everyone, I talk with anyone, hanya saja, mungkin karena aku adalah anak dengan tubuh termungil di kelas, ada saja yang mau jadi tukang bullyku. Aku sudah nggak begitu ingat dengan alasan apa mereka bully aku, tetapi aku masih ingat sebagian dari mereka. Mereka nggak jahat kok, cuma bandel.

Ada steorotip dimana orang banyak mengira, anak yang sering dibully di kelas adalah anak yang penyendiri dan tidak punya teman. Aku cukup sering dibully, tetapi aku juga masih mengobrol dan bermain dengan teman sekelasku. Aku suka bertukar binder dengan teman-teman perempuanku.

Saat aku memutuskan untuk homeschooling, nggak ada acara perpisahan menangis atau semacamnya. Begitu aku memutuskan untuk tidak sekolah lagi, aku tidak pergi ke sekolah. Aku hanya membuat sebuah surat untuk wali kelasku, yang entah apakah masih disimpan oleh mereka atau tidak.

Let’s get to the point, sebelum aku mulai banyak bernostalgia tentang masa lalu (yang literally baru sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, man). Aku adalah anak yang pantang menangis dan semacamnya saat TK dan termasuk golongan anak barbar. Begitu lulus dan bersekolah di sekolah dasar, aku jadi banyak menangis. Aku nggak sepercaya diri itu lagi untuk menghadapi anak laki-laki.

Menjadi homeschooling, aku kembali sebagai seorang anak hiperaktif, yang kali ini ditambah dengan hobi menulis dan membaca buku sambil tiduran di lantai atau karpet, yang jelas bukan pagar. Ditambah pula dengan hobi baru menguntit mas dan teman-temannya keluyuran kesana kemari, sampai membangkang pada Bu Ju, asisten rumah tangga kami dulu dan membuat abi mengamuk karenanya.

Tahun demi tahun, aku mulai mengenal sisi internet yang lebih dalam. Dari sanalah insecurityku mulai muncul menghantuiku. Dari sanalah sisi sempurna internet yang dapat menciptakan sosok bernama insecure dalam diri seseorang tampak terang dalam kehidupanku.

Sejak kecil, aku memiliki dua bekas cacar di kedua pipiku yang sampai sekarang masih belum bisa hilang dan sepertinya satu-satunya cara menghilangkannya hanya dengan dilaser di klinik kecantikan khusus.

Saat aku berumur delapan atau sembilan tahun, aku sudah sesadar itu dengan keberadaan bekas cacar di kedua pipiku sampai diam-diam mengambil sebuah wadah krim kecantikan milik umiku di atas meja dan membalurkannya di bekas cacarku.

Damn insecurities… kalian memang tidak mengenal umur.

Tapi entah kenapa, belakangan aku merasa lebih bahagia dan menyayangi diriku sendiri daripada sebelumnya. Aku tidak begitu memperhatikan tentang berantakan pakaian yang kukenakan saat aku keluar dari rumah, tentang ketidakcocokan sandal yang kupakai dengan bajuku dan aku juga mencintai kulitku yang tidak semulus selebriti sedang naik daun.

The answer to the question about how to cure insecuritieslove yourselfDon’t listen to what people said, sesungguhnya hanya kita saja yang tahu apakah yang terbaik untuk diri kita sendiri. Ada yang bilang kamu tidak cocok pakai baju kuning, terlihat jelek memakainya? Manjust use it proudly in front of it eyes! Atau ada yang bilang kulitmu terlalu gelap untuk orang Indonesia pada umumnya? Kenakan baju terbaikmu dan berjalanlah dengan bangga di depan orang tersebut. Who cares? Ini tubuh kita, diri kita. Jangan tergantung kepada orang lain, teruslah menjadi seorang yang percaya diri.

Lawanlah insecurity, tendang anxiety, junjung kepercayaan diri!

 

…kayaknya ini edisi sok bijak Hari Belanja Nasional sehabis aku checkout sejumlah produk yang harganya mungkin bisa bikin aku puasa dua minggu… *otw mengganti nama menjadi Zahra Teguh*