Some Announcements.

Hello, pals! Dengan ini aku mau mengabarkan secara ringkas bahwa dalam waktu dekat aku akan membuat sebuah blog berbahasa Inggris untuk melatih kemampuanku berjurnalisasi dalam bahasa Inggris, dan aku akan mencoba untuk menjadi lebih produktif dalam menulis tulisan baik disini dan di blogku yang menjelang dirilis.

Dan anyway, aku baru saja membaca ulang artikelku sampai yang terakhir kali kurilis, dan bisa kuberitahu bahwa tanganku terasa sangat gatal untuk mengedit dan merombak semua tulisan itu, yang sayangnya, tidak kulakukan. Keeping my improvements from all of these years pure, absolutely.

Dan rest assured, akan kuusahakan untuk terus membuat artikel dalam bentuk yang lebih rapi dan yang jauh lebih bisa dinikmati berikutnya.

Thank you for your attention and enjoy!

Birthdays

You know you’ve a grown-ups if you doesn’t really care about birthdays anymore.

Sampai dua tahun yang lalu, aku masih bakalan ribut menyiapkan hadiah beberapa hari sebelum due birthday date seseorang. Membeli barang, serta memaketkannya menggunakan kertas kado dengan jantung yang berdetak kencang membayangkan ekspresi penerima saat mendapatkan kadonya.

Aku orang yang senang memberikan hadiah pada orang yang berulang tahun, dan itu jarang terlewatkan… sampai belakangan.

Dari tahun lalu, aku sudah mulai menganggap hari ulang tahun adalah hal yang biasa, dan mulai memberikan hadiah bila perlu.

Alas, aku jadi teringat saat-saat menyenangkan dimana aku berlari ke toko dan dengan bersemangat memilih dompet yang manakah yang pantas untuk menjadi hadiah ulang tahun umi.

Atau saat aku menggunting kertas warna-warni menjadi kupon hadiah ulang tahun umi: bisa berupa kupon pijat, kupon membersihkan rumah…

Ini membuatku sadar betapa innocentnya aku dulu.

Sekarang, aku lebih memilih untuk menyenangkan hati umi dengan melakukan pekerjaan rumah dengan baik daripada membelikannya sesuatu. Lagipula, acap kali aku bertanya apakah ia menginginkan sesuatu, jawabannya hanyalah ingin ada yang menyetrika pakaian.

You know, there’s nothing makes me happier than seeing her smile. It’s heavenly.

Dulu aku tidak suka menyetrika pakaian, hampir sama dengan ketidaksukaanku mencuci piring. Tetapi paling tidak masih lebih baik, dan yang menyenangkanku, ekspresi umi selalu senang setiap kali aku selesai menyetrika. Aku jadi teringat beberapa tahun yang lalu, ketika aku belum rajin membersihkan rumah setiap harinya, aku membersihkan dapur dan mendapatkan pujian pertamaku dari umi.

Aku tidak bisa bohong dengan berkata aku tidak suka dipuji, tetapi bila harus ada orang yang memujiku, I want that person to be umi.

[ For your information, ditulis tanggal 16 tapi berhenti sebelum selesai karena ngantuk. ]Sebagian besar alasan mengapa aku mulai rutin membersihkan rumah juga untuk beliau anyway, di samping alasan aku memang menyukai kebersihan dan rumah bakal harus dibersihkan setiap harinya.

Umi adalah role modelku.

Umi mempunyai banyak teman, kenalan dan koneksi yang luas. Memiliki hubungan dengan para kolega dan mahasiswa yang harmonis. Pemikirannya terbuka tapi masih dalam batas wajar dan seorang yang cerdas, juga pekerja keras.

Melihat umi bekerja tiap harinya, berhadapan dengan dokumen demi dokumen yang tidak ada habisnya dan laptop yang terus menampilkan dokumen lain, paragraf lain, kalimat lain…

I can’t help but feeling hurt. Bagaimanapun, aku tidak banyak membantu selama umi bekerja. Malah biasanya (baca: lebih seringnya) menambah masalah pada beban beliau dengan pembangkanganku dan kebandelanku sebagai anak kedua berdarah panas yang keras kepala.

Diantara semua anggota keluargaku, aku paling senang memeluk umi. Rasanya nyaman, it feels like you’re back home even though we’re home.

Aku belum bilang, bukan?

Hari ini hari kelahiran umi. Dari perhitunganku, untuk umurnya yang ke empat puluh lima.

Pikirku, betapa cepatnya. Kupikir baru tahun lalu aku merayakan ulang tahunnya yang ke empat puluh dua, atau saat aku membuatkannya surat cinta di hari kelahirannya yang lain.

I don’t like the word aging.

Aku lebih senang menganggap bahwa di hari kelahirannya, seorang baru saja melewati sebuah tahap, level berikutnya untuk mencapai level tertinggi. Itu lebih nyaman untuk kubayangkan, mengingat aku tidak menyukai kata menua, biarpun menua adalah sepenuhnya normal.

And that’s all. Lastly, I want to say happy birthday, umi. I hope for a long, healthy and happy life for you.

For my lady, my madam, my queen, my empress, the woman I called mother. The one who bear me for 9 months, the one who feeds me and treats me for years until my height exceeds 150 cm. The one who keeps working hard everyday, the one that I love (wholeheartedly).

Thank you for being alive.

[ For your information, tulisan ini ditulis tanggal 16 dengan emosional tapi berhenti sebelum selesai karena ngantuk dan dilanjutkan keesokan paginya dengan terburu-buru. Hm. Better late than never, kan? ]

[ Bunch of another love for for my brother Azmi and my best friend Tazkia, who had their birthday on April’s 15th and 16th. Mi amor, dorks :* *puked blood* ]

[ Aku sedikit terkejut melihat tanggal publish tulisan ini. Apa karena gap perbedaan waktu? ]

_________((__((__((__((__((
_________ β–Œ__β–Œ__β–Œ__β–Œ__ β–Œ
______β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“
_____ {~*~*~ β˜…β˜…β˜… ~*~*~}
_____ {~*╔╦╗────────*~}
_____ {~*║╩╠═╦═╦═╦╦╗*~}
_____ {~*║╦║╬║╬║╬║║║*~}
_____ {~*β•šβ•©β•©β•©β•£β•”β•£β•”β•¬β•—β•‘*~}
_____ {~*β”€β”€β”€β”€β•šβ•β•šβ•β•šβ•β•*~}
_____ {~*~*~ β˜…β˜…β˜… ~*~*~}
______β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“
______ ≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑
__β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’
__{~*~*~*~* β˜…β˜…β˜… *~*~*~*~}
__{~* ╔═╦╗─╔╗╔╗─╔╗────*~}
__{~* β•‘β•šβ• β•¬β•¦β•£β•šβ•£β•šβ•¦β•β• β•β•¦β•¦β•—*~}
__{~* ║╔║║╔╣╔╣║║╬║╬║║║*~}
__{~* β•šβ•β•©β•©β•β•šβ•β•©β•©β•©β•β•©β•©β•¬β•—β•‘*~}
__{~* β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β•šβ•β•*~}
__{~*~*~*~* β˜…β˜…β˜… *~*~*~*~}
__β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’
__≑≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑‒≑≑‒≑‒≑≑
__β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’β–’
β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“
_ β–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Όβ–Ό_
β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“β–“
β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆ
_______β–€β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–€.oβ€’Β°β˜…Β°β€’o.
___________β–€β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–€β˜… β˜…
_____________ β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆ ☻ ☻
_____________ β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆ
_____________ β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆ
___________β–„β–„β–ˆβ–ˆβ–ˆβ–ˆβ–„β–„

Psikopat.

So, well, I almost had a heart attack while sweeping my house’s terrace just a while ago. I saw someone walking quite swiftly in the darkness, and my heart almost jumped out of my throat, but then I exhaling deeply. While trying to calming my poor fragile heart, I whispered to myself, that’s just a neighbor passing by…

All of this havoc on my mind and soul is caused by a book I just finished reading. Dude, I feel like my body is bobbing in a small ship in a storm that doesn’t stop!

That so-called online book is titled When A Snail Loves, with a quite cute and lovely synopsis that surprisingly deceived me, lures me into a hole full of darkness: death, frightening cases and psychopaths. At first, I thought that certain book is full of pure, lovely romance relationship with some light conflicts inside. Who knows that the conflicts inside is so freaking intense that makes me wanna scream?

Aku senang baca buku-buku online, karena kebanyakan dari mereka memiliki drama dan conflict yangΒ intenseΒ dan selalu mengisapku lebih jauh dalam lubang hitam. This is a thing that I mostly didn’t find in any Indonesian published books: hard conflicts. Well, mungkin banyak yang bakal berpikir bahwa aku tidak membaca buku Indonesia sebanyak itu untuk bisa menyimpulkan hal seperti ini.

Tetapi menurutku, kebanyakan buku remaja yang diterbitkan belakangan ini memang tergolong sangat ringan dan kelewatΒ menggelikan. Aku pernah membaca sejumlah buku yang berasal dari Wattpad, mereka teramat sangat populer dan sebagian besar telah difilmkan. Tidak hanya itu, ada sebagian buku yang saat kuintip bagian dalamnya dengan penasaran di perpustakaan juga memiliki masalah yang sama.

Can you believe how much is the cringeness I’ve felt?Β Aku hampir muntah darah. (memutar mata) dan inilah alasan mengapa aku lebih suka membaca, dan atau meminjam buku-buku terjemahan di perpustakaan.

Aku orang yang pemilih, orang yangΒ pickyΒ dalam memilih buku bacaan. Bila dulu aku senang sekali membaca buku yang memiliki paragraf pendek dan tergolong ringan, dan diantara contohnya ada jenis buku-buku yang baru saja kukritik tadi, sekarang aku lebih menyukai buku-buku tebal berparagraf panjang yang menjelaskan situasi dalam dunia buku dengan detail. Buku-buku yang menemui ekspekstasiku seperti ini, belakangan baru ada pada buku-buku terjemahan. Baik terjemahan bahasa Inggris maupun Chinese. Tidak Jepang, emoji dan tanda seru yang digunakan di buku bahasa Jepang terlalu berlebihan untuk kebaikanku.

Buku-buku yang ditulis Dan Brown, serial Percy Jackson, Jostein Gaarder, dan sejumlah buku tertentu seperti Graceling yang ditulis oleh Kristin Cashore maupun serial Tiger Saga yang ditulis oleh Colleen Houck (aku baru baca buku pertama dan keduanya, yah, hanya itu yang ada di perpustakaan. Buku ketiga belum diterjemahkan dan aku sedang menabung untuk membeli ebook berbahasa Inggrisnya.), adalah contoh dari tipe buku yang belakangan senang sekali kubaca. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak memiliki drama maupun conflict yangΒ intense, yang bisa membuatku meremas dan menjambak rambut dengan frustasi dan seolah terombang-ambing di kapal yang terjebak badai besar.

Kuharap, aku bisa menjadi penulis seperti itu juga, walaupun kupikir rasanya tak mungkin dalam waktu dekat karena semakin banyak buku seperti itu yang kubaca, semakin tinggi ekspekstasiku untuk buku yang kutulis. Itu mungkin menjelaskan mengapa progressku dalam menulis bisa dibilang hampir tidak meningkat sama sekali.

…selain karena malas.

Omong-omong, aku belum bilang mengapa jantungku seperti hampir keluar dari tenggorokanku saat melihat bayang-bayang tetanggaku dari kegelapan tadi.

Salah satu conflict yang ada di buku yang kumaksudkan tadi menceritakan tentang kasus psikopat, so-called serial killer yang sudah lama berkeliaran, memperkosa dan membunuh para gadis muda. Yang membuatku menjadi suram, para psikopat ini nggak cuma satu, tapi tiga sekaligus! Salah satu diantaranya adalah tipikal orang yang sangat tidak mungkin kau pikir adalah psikopat. Baik hati, tampan, bijaksana, penuh kasih, tenang dalam segala situasi.

Aku jadi semakin tidak ingin keluar dari kamarku yang nyaman untuk menghadapi hidup yang kejam, karena, aku yakin, diantara sejuta orang, pasti ada satu orang seperti ini. Orang yang terlihat kalem danΒ polos di luarnya, namun memiliki sejuta rahasia yang mengerikan di dalam dirinya.

Sehabis selesai membaca novelnya dan kehilangan kata-kata, aku mencaritahu soal psikopat dan berbagai kasus serial killer dan pembunuhan yang terkenal di internet. Pencarian pertamaku tertuju kepada seorang dengan nama akhir Holmes. Aku membuka artikelnya karena penasaran karena nama marganya mirip dengan sang detektif legendaris Sherlock Holmes.

Henry Howard Holmes, yang bernama asli Herman Webster Mudgett, salah seorang pembunuh berantai paling terkenal di dunia yang memiliki jiwa psikopat dibalik penampilannya yang tidak pernah menarik kecurigaan orang sekitar. Ia adalah seorang kaya yang membangun sebuah hotel, sebuah mansion yang tidak dinyana ternyata adalah tempat dimana puluhan atau mungkin ratusan orang meninggal di tangannya sendiri.Β  Bangunan terkutuk itu didesain secara khusus sebagai tempat untuk menjebak dan menghabisi korbannya, yang dilakukannya dengan mengatur agar arsitek dan pekerja yang membangunnya selalu diganti secara bertahap.

Sejak muda, perilakunya sebenarnya memang sudah aneh. Bisa dibilang ia adalah anak pintar; yang kepintarannya membawanya membedahi hewan-hewan dan dianggap bertanggung jawab atas kematian seorang temannya.

Padahal ia lahir dari keluarga berkecukupan. Pikirku, dasar bandit tak bersyukur. (aku sebenarnya ingin menggunakan kata umpatan yang lebih kasar, tapi kemudian pikirku tidak pantas karena aku menjaga artikel blogku selalu child approppriate. Hehe.)

Para wanitanya; yang mungkin bisa kubilang kekasih atauΒ mistressnya, sebagian dari mereka berasal dari keluarga kaya. Dan sebagian orang tidak pernah melihat keluarga kaya itu lagi. Hal yang tertulis di salah satu artikel teratas dalam pencarianku terhadap Holmes ini agak membuatku bingung, siapa yang tidak pernah melihat keluarga kaya itu lagi? Yang menghilang itu wanitanya atau keluarganya? AgakΒ complicated, memang.

Aku pernah membaca sebuah komentar dalam suatu online blog yang pernah kukunjungi. Ia menyebutkan bahwa suatu kali, guru keponakannya yang duduk di kelas satu, pernah meminta para muridnya untuk menggambar binatang paling mengerikan yang mereka tahu setelah sebuah kunjungan ke kebun binatang. Keponakannya,Β yang masih duduk di kelas satu, menggambar seorang pria sementara anak lainnya menggambar serigala, harimau dan ular.

Dan aku tahu, sesungguhnya, ia benar. Manusia adalah binatang yang paling kejam dan berbahaya. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga bisa sangat mengerikan. Terlepas dari gender mereka, siapa yang bisa tahu apa isi pemikiran mereka selain diri mereka sendiri, juga Tuhan, dibalik topeng wajah mereka yang penuh perasaan rendah diri?

Ketertarikanku mencari kasus pembunuhan berantai ini membawaku ke sebuah kasus yang belum pernah kudengar sebelumnya: pembunuhan Ade Sara, terjadi di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Aku menemukannya saat sedang membaca artikel tentang psikopat, kalau tidak salah.

Kalau boleh jujur, para pembunuh dalam kasus pembunuhan Ade Sara ini benar-benar konyol, menggelikan, bodoh, tak masuk akal, tak berotak. Berawal dari cinta segitiga.Β Cinta segitiga. Karena kecemburuan.Β Buat orang yang tidak pernah merasa setertarik itu dengan anak cowok sepertiku, hal ini seratus persen konyol.

I mean, that damned guy isn’t even that handsome

Kalau misalnya kegantengan laki-laki yang mereka perebutkan itu paling nggak 0.1% kegantengan Tom Cruise atau Leonardo DiCaprio saat muda, mungkin aku masih bisa mengerti. Tapi, lelaki yang mereka perebutkan ini tidak tampan, tidak tinggi, keseluruhannya nggak sespektakuler itu.

Ditambah dengan kebodohannya membunuh mantan kekasihnya sendiri bersama kekasihnya yang baru, aku nggak mengerti hal baik apa yang pantas diperebutkan dari dirinya.

Dan mereka juga masih berani saling menyalahkan satu sama lain di pengadilan. Yang lelaki menumpahkan pertanggungjawaban pada si perempuan, si perempuannya sambil menangis tersedu-sedu ia bilang ia dipaksa lelakinya… benar-benar pasangan yang sangat pantas, dari segi luar dalam.

Sejujurnya, aku menyesal kenapa mereka tidak dijatuhi hukuman mati saja. Hukuman 20 tahun penjara, yang kabarnya ditambah menjadi penjara seumur hidup, nggak cukup bagi iblis seperti mereka.

Iblis yang kumaksud juga termasuk para iblis yang sekarang masih berkeliaran di dunia, mencari korban demi korban untuk disantap. Terutama para pembunuh berantai itu, para psikopat itu, yang membuatku ingin sekali menguliti kulitnya satu persatu.

Bagaimanapun, psikopat yang asli, tidak akan bersikap laiknya seorang psikopat. MerekaΒ mungkinΒ bakalan bersikap lebih normal dari manusia biasa. Dan itulah yang mengapa aku nggak ingin keluar dari dunia remajaku, dunia kasur dan bantalku yang nyaman.

Untuk apa aku harus turun dari awan untuk jatuh ke lubang buaya? Orang-orang jadi makin aneh seiring waktu berjalan.

 

An Overdue New Year Post

Well, the first thing I need to say in this post probably “Happy Belated New Year!” [blinking eyes happily]

How shameful of me to forget that I haven’t make any posts in this early 2019. I thought I’ve made one, but when my curiosity dragged me into scrolling on my latest posts on my blog, I realize that there’s no happy new year greeting post uploaded. [is that necessary, anyway?]

I watched a YouTube video a few days ago, about a boy that has been died in the inside [his soul dies] because of no affections and love from his family, friends, school, neighborhood. He’s lonely, alone, and depressed even though he doesn’t really looks depressed. His mom cursed on him everyday, his teacher yells on him everyday, telling him to not to learn on her class again. They’re both comparing him to his brothers, who are both already smart and successful. Yet afterwards I saw a comment said that he’s actually already dying inside.

He walks, he breathe, he eats, he drinks, he talks like we all do. But his soul is nowhere to be seen [I know we can’t see souls but you know what I mean, right?].
This really hits me hard on my heart. I got some writing inspirations from the video and decided to start a fresh-newly made project with a similar plot included. [please do help me pray I won’t leave this project behind after a few pages.

Anyway! I’ve been reading English web-novels this days, and one of them is a book about pastries and cakes. The brief explanation about the way the chef making the cakes is really detailed and delicate; Makes me feel like I’ve been drowning in a world full of cakes this days. This book makes my big mood for cooking reappear, alhamdulillah! Sadly I can’t do a recook of them since all of this cakes recipes needs an oven to bake it. We ever have an oven back then, which after being used to bake some fish, cannot be used anymore because of the stinging remaining smell on the inside of the oven. And yet because of our ignorance, we even washed the oven and the poor oven end up being damaged and can’t be used again thankfully for the same reason. [cries] actually it can be repaired, but my dad said the repairing fee costs the same as a new oven. [le me: is sad]

This morning, my mood is not that good because this is my second day of period, but after reading some another web-novels and crying, I got them mood back again.
Oh, and have I mentioned that I’ve been taking a hiatus for social medias [still excluding YouTube and Gmail, sadly] this days? I don’t play Twitter 24/7 anymore! I just mayhaps checked it for five minutes a day, in case probably some friends or ghosts misses me but whatever. The point is I have getting rid of my addiction to Twitter, but still can’t ignore YouTube and Spotify. Sighs.

And to mention another thing: I started to learn Mandarin. Quite [I swear, it’s really hard!] hard and I still can’t read any Pinyin words until now since I have a free-learning-schedule-which-is-not-too-good-for-someone-who-wants-to-be-productive, but I hope I can at least remembering the Pinyins at the end of the year. I don’t have any high expectations, since I still sucks learning Hangul and Kanji, Katakana and such.

Don’t you think wrote a post using Chinese here seems cool? [dabs]
Yet, I’m not that fluent in English so probably I need to sharpen it well before learning another languages.

Hence, see you later, then! I want to eat another bread. Please forgive me if I do some grammar errors here since I wrote this on my phone. [yah what an excuse, you’re usually being a grammar nazi brat and now you have a problem with your grammars?!]

mental illness

Mental illness, belakangan ini, sedang fatal sekali terjadi diantara masyarakat zaman sekarang. Tidak jarang aku melihat orang asing, atau bahkan temanku sendiri terkena penyakit yang berbahaya ini. Satu dari empat orang menderita gangguan mental (ringkasnya, sekitar 450 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit ini).

Mental illness tidak ditularkan melalui sentuhan atau semacamnya. Mental illness tidak ditularkan dari meminum air dari gelas yang sama atau memakan makanan dengan sendok yang sama. Mental illness tidak bisa ditularkan, mental illness disebabkan oleh pengaruh lingkungan atau circle sekitar.

…paling tidak, itu yang kupahami tentang mental illness. I am clearly not an expert in this case, so please feel free to critize on the comment section below if I made some mistakes here.

Dari pengamatanku selama ini, mental illness banyak disebabkan orang terdekat korban, terutama orangtua, keluarga dan teman. Sifat dan karakter orang berbeda-beda, ada yang sangat sensitif sampai bisa terluka karena sebuah bentakan saja dan ada yang sangat keras sampai dipukuli pun tidak mempan. Mental illness juga bisa disebabkan oleh kebiasaan buruk seperti banyak pesimis dan perfeksionis.

Terutama perfeksionis. Aku pernah memiliki sedikit sifat perfeksionis beberapa tahun yang lalu, yang membuatku stres sendiri karena selalu merasa tidak detail dan tidak lengkap dalam menyelesaikan suatu tugas, yang sepele sekalipun. Syukurlah, sifat itu sudah hilang sejak awal tahun ini. Kalau tidak, mungkin resikoku terkena mental illness juga bisa membesar.

Tapi dari yang kuamati, sifat orangtua sangat berpengaruh pada penyebab anak mereka terkena mental illness. Beberapa orang yang kukenal, sifat keras atau ketidakpedulian orang tua merekalah yang menyebabkan sebagian dari mereka menggoreskan pisau melukai bagian nadi mereka (self-injury) untuk melepaskan rasa depresi.

Keluarga elite yang kaya pun tidak semua bisa lepas dari masalah ini. Ada seorang kenalanku yang bisa dibilang sekaya itu sampai bisa beli barang branded impor puluhan hingga ratusan juta, dia juga memiliki gangguan mental illness yang membuatnya juga melakukan self-injury. Apa penyebabnya? Orangtua dan anxiety. Orangtuanya selalu bekerja dan jarang pulang, setiap pulang selalu bertengkar, jarang akur, dan kenalanku ini cenderung dipaksa untuk berusaha agar bisa melanjutkan bisnis keluarganya nantinya.

Orang yang terkena mental illness, tidak seharusnya dihina atau diberi perkataan, “Memang lo doang yang punya banyak masalah? Lihat sekitar, banyak orang yang masalahnya lebih menumpuk dari lo!”

Itu adalah kesalahan fatal untuk mengucapkannya pada seseorang yang mentalnya sedang sensitif, dalam kesalahan sulit. Bila sudah parah, orang tersebut bisa mengakhiri nyawanya sendiri.

Dukung, hiburlah dia jika kamu memiliki teman yang terkena mental illness. Ajak berlibur, menikmati berbagai hiburan untuk menyadarkannya bahwa dunia ini terlalu indah untuk segera ditinggal tanpa mengucapkan kata-kata menusuk kepadanya.

Mulutmu harimaumu, benar? Kita tidak pernah tahu, sebuah perkataan yang kita ucapkan di dunia nyata maupun di dunia nyata, apakah perkataan itu bisa menyelamatkan seseorang dari menghabisi nyawanya sendiri, atau malah menyinggungnya sampai membuatnya bunuh diri.

Seperti yang sudah kubilang di artikel sebelumnya, anxiety yang parah bisa menjurus pada penyakit mental yang serius. Awasi sekitar, apakah menurutmu di sekitarmu ada orang yang terlihat penyendiri, murung dan cenderung sering sekali terkena bully? Datangi dia, ajak ia bermain dan buat ia tersenyum. Percayalah, mungkin setiap kamu melakukannya, hari itu kamu baru saja menyelamatkan satu nyawa dari kemungkinan ia mengakhiri hidupnya.

Aku percaya, berbuat baik pasti ada ganjarannya. Seperti itu contohnya.

menikah… muda?

Sedang viral di dunia maya, seorang remaja perempuan berusia empat belas tahun, yang clearly seumuran denganku, dan seorang anak lelaki berusia sembilan tahun yang berusia tak jauh dari adikku sendiri, resmi menikah beberapa saat yang lalu. Mengaitkan live and soul satu sama lain sebagai satu, sepasang suami istri yang sah, di usia yang notabene tergolong teramat sangat muda dan dibawah umur.

Usia mereka jauh dari batas usia menikah dalam Pasal 7 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yakni perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun. Sepuluh tahun lagi hingga anak laki-laki itu legal untuk memenuhi batas wajar usia menikah pada undang-undang. Sedangkan secara UU Perlindungan anak, batas usia anak-anak adalah 18 tahun, jadi tak satupun dari undang-undang yang kini tengah diperdebatkan itu memenuhi syarat pernikahan mereka.

Yang membuatku geleng-geleng kepala, mereka menikah setelah pertama kali bertemu di waterboom sebuah pemandian. Mendadak cerita-cerita romantis tentang pertemuan berbagai pasangan di tempat yang romantis seperti pertemuan di Eiffel Tower atau Disneyland sudah tidak ada artinya dibandingkan dengan waterboom first met yang satu ini.

Adapun kejadian ini terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, yang ternyata tercatat sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki persentase tertinggi terjadinya kasus pernikahan anak dibawah umur.

Dari hasil penelitian tim penggerak PKK bersama Studi Gender Universitas Hasanuddin Makassar dan Pemerhati Perlindungan Perempuan dan Anak, di Sulsel sudah terdapat 720 kasus pernikahan anak di bawah umur. Hal itu terhitung sejak bulan Januari 2018 hingga bulan September 2018. Nah loh?

Sebenarnya aku tidak begitu mempermasalahkan remaja yang menikah, asalkan mereka sudah baligh dan paling tidak sudah lulus sekolah menengah pertama. Masalahnya, apakah mereka secara mental sudah benar-benar dewasa? Apakah parenting education sudah dikuasai betul oleh mereka?

Menikah umur berapa pun asal cukup umur, cukup materi, cukup mental, dan nggak berpikiran untuk pacaran romantis sehabis menikah itu tuh nggak apa-apa. Sayangnya, bahkan pasangan suami istri yang sudah cukup umur zaman sekarang saja masih banyak yang kekurangan materi dan bermental belum layak untuk menikah.

No offense tapi aku tidak yakin orang-orang di lingkungan daerah mereka mempelajari soal sex dan parenting di saat usia anak-anaknya sebenarnya sudah harus mempelajarinya. Don’t get me wrong, aku sudah membaca buku-buku tentang parenting sejak umurku sepuluh tahun.

Bukan karena aku ngebet mau nikah muda, alasannya sih terlebih karena bukuku sudah habis kubaca semua di rumah dan aku nggak punya stock buku lain buat dibaca…

Lalu, bagaimana solusinya? Apakah memberikan buku tentang sex & educational pada anak sudah cukup untuk memberikan edukasi yang baik? Biarkan aku menuliskan ini: a big NO. Tanpa guide dari orangtua, hal yang seharusnya merupakan pembelajaran malah bisa jadi lubang hitam.

Aku sebenarnya dilarang untuk membaca salah satu buku mengenai parenting milik orangtuaku sebelumnya oleh umiku, yang mewanti-wantiku untuk baru boleh membacanya di usia tiga belas tahun. Tetapi dasar anak keras kepala, aku terus memaksa sampai akhirnya dibolehkan untuk membacanya di usia sebelas.

Kembali pada topik menikah di usia dini, sebetulnya apa boleh menikah di bawah umur?

Buatku, tidak. Menikah di usia dini hanya memperbesar persentase resiko pasangan tersebut untuk berpisah di saat yang dini juga.

Menikah bukan masalah yang bisa dipikirkan segampang memikirkan perayaan ulang tahun seseorang.

Sebagai tambahan. Dan benar-benar, I cringed at the first time I saw this pictures… Kalian nikah atau ulang tahun? πŸ˜”

penipuan

Awalnya aku sama sekali nggak niat buat menulis artikel baru, berhubung aku sedang dalam proses menyelesaikan tugas membuat daily menu buat keluargaku yang juga akan kupost di blogku nantinya, tapi baru saja ada kasus penipuan di Twitter yang membuat ubun-ubunku mendidih.

See? Betapa bisa seseorang bisa sangat tega untuk menipu orang dengan embel-embel giveaway seperti itu? Dan ini bukan yang pertama. Masih ada banyak lagi kasus penipuan berembel giveaway, dan itu tidak hanya terjadi di Twitter.

Jelas kalian pasti pernah dapat SMS atau telepon memenangkan lomba yang bahkan kita tidak tahu pernah mengikutinya, dan biasanya berasal dari perusahaan-perusahaan besar seperti Telkomsel, Gojek atau Grab?

Penipu sekarang sudah jauh lebih pandai dan heartless. Coba search saja di kolom pencarian Twitter, dengan kata kunci: thread penipuan. Entah berapa jumlah thread yang muncul saat dicari kata kunci tersebut. Sudah tak terhitung lagi, mungkin. Belum lagi kalau ditambah dengan yang ditemukan di Google dan Instagram.

Terkadang aku suka bingung. Apakah orang yang biasa melakukan penipuan itu nyenyak tidurnya? Apa mereka nggak punya rasa malu sudah mengutil uang orang, merampas rezeki orang lain?

Ini ada thread lain yang tak kalah serunya, tentang drama berbelit seorang anak SMA yang menipu banyak orang dengan apa-yang-disebutnya-usaha-miliknya.

Kabarnya, anak ini sudah sering menipu dan sekolahnya bahkan sudah tahu. Teman-temannya juga sudah tahu bahwa dia belum refund banyak ke sebagian besar orang yang ditipunya. Tapi kayanya, urat malunya sudah putus sampai masih bisa mengangkat dagu di depan teman-temannya sendiri.

Tahu apa yang dilakukannya dengan hasil uang yang dicurinya? Dibuat sosialita. Nyalon. Traktir teman. Bayarin gojek teman. Nonton bioskop. Demi bisa terlihat keren dan seperti anak gaul, dia berani berlaku seperti ini.

I wonder how her parents currently feeling right now… Apa mereka marah, sedih dengan kelakuan anaknya? Atau malah cenderung biasa saja dan tidak menanggapi kabar tersebut?

Aku heran kenapa sih orang bisa nipu… Aku hutang ke umi buat bayar shopee di harbolnas kemarin dan November lalu saja masih kepikiran belum kebayar sampai sekarang. 😦

Gilanya lagi, penipu zaman sekarang biasanya suka membuat-buat kabar palsu tentang orang terdekatnya, terutama orangtuanya. Hwangable, salah satu penipu yang paling terkenal di Twitter beberapa bulan yang lalu, sempat menipu banyak orang dari pelajar sampai orang dewasa hingga beratus juta, sempat mengatakan pada para customernya yang tertipu bahwa ibunya baru saja meninggal. Semua orang mendoakan, turut bersedih akan hilangnya ibunya. Tetapi saat ada korban yang sengaja pergi menengok (re: melabrak) hwangable di rumahnya? Ibunya masih hidup, men… Sehat walafiat dan sama sekali tidak percaya bahwa anaknya melakukan penipuan sebanyak itu.

Aku membaca threadnya sebal sendiri, buset… Bisa ada ya orang seperti itu? Ngescam orang, diantaranya membawa-bawa kabar palsu tentang orangtua meninggal.

Ada kutemukan thread scamming lain yang membawa-bawa penyakit orangtua. Faktanya: obat tetes matanya sebenarnya berharga hanya tiga puluh ribu rupiah saja.

Literally me reading all of this scamming threads on Twitter: tired and burning of anger. Aku juga pernah masuk dalam drama penipuan dua ratus ribu rupiah, yang sampai sekarang aku juga masih belum tahu apakah aku benar-benar ditipu atau orang yang menipuku atau tidak itu memang benar-benar innocent. Aku tidak pernah mendapatkan uang itu kembali, tapi nggak apa-apalah. Kalau dia benar-benar menipu, semoga uangnya berkah, hitung-hitung aku sedekah. Kalau dia nggak menipu, sudahlah… aku udah ikhlas.

Untuk per butir manusia yang membaca artikelku hari ini: tolong, jangan pernah sekali-kali menipu orang. Kita nggak tahu orang yang menipu itu akan menggunakan uangnya untuk apa, mungkin untuk membeli obat untuk orangtuanya yang sakit, atau apakah dia pelajar yang mati-matian menabung selama beberapa bulan untuk mendapatkan barang yang ia inginkan.

Buat para penipu yang sampai sekarang masih berkeliaran dan masih belum juga kapok mengulang perbuatan mereka: Enak nggak, makan uang haram?