Princesses Gold Leaf #1

Alays berjalan menuju kebun sambil menggenggam selang yang terlipat di tangannya. Hari ini, adiknya membuat kekonyolan; menaruh pasir di mangkuk sayur sop milik Ayah. Tetapi, Ayah menganggap Alays yang berulah, padahal dia sudah berulang kali membantah dan mengatakan itu salah adiknya, Farhan. Ayah memberi hukuman untuk menyiram sekeliling kebun yang luasnya tujuh puluh lima meter persegi. Alays terpaksa melakukanya.

“Gara-gara Farhan, nih,” gumamnya sambil memasang ujung selang ke keran. Lalu dia menyalakan keran itu dan air mengucur dari ujung selang yang lain. Dia mulai menyirami tumbuhan jagung yang masih kecil, lalu tomat, cabe, brokoli, kol, tanaman hias, kacang panjang, kacang tanah, rumput-rumput yang biasa dijual untuk makanan ternak, dan lain-lain.

Saat menyiram bunga mawar milik Bunda yang paling disayanginya, Alays melihat sesuatu yang berkilauan di duri mawar putih itu.

“Daun?!” pekik Alays tertahan. Tubuhnya bergetar saat mengambil daun berwarna emas itu. Tetapi, tiba-tiba saja, daun itu tertarik ke udara dan melayang-layang. Karena penasaran, Alays pun meninggalkan selangnya yang masih mengucur dan mengikuti kemana arah daun itu.

“Ngeeengg… Ngeeengg…!” Farhan yang sedang bermain mobil-mobilan di teras belakang rumah terkejut melihat selang masih mengucur dan membuat tanah menjadi becek di sekeliling tanaman hias Bunda. Dia melihat sekeliling.

“Mana, ya, Kak Alays? Ah, mungkin aja ke kamar mandi dan lupa mematikan keran. Padahal, kan, boros,” gumam Farhan sambil beranjak, meninggalkan mobilnya yang tergeletak di teras dan bergegas memutar keran. Air yang mengucur langsung berhenti.

 

Alays akhirnya kecapekan mengikuti daun yang melayang itu. Dia sudah menyeberang jalan raya, jembatan, memanjat pagar listrik perbatasan kota yang berbahaya, dan bahkan menjadi penumpang gelap di kapal ferry! Jangan ditiru ya.

“Aduh, aku dimana, sih?” gumamnya saat menyadari dirinya sekarang terduduk di padang rumput yang luas. “Jauh banget. ADUH, aku habis naik kapal, ya?” serunya setengah tak sadar. Dia memukul tinjunya ke tanah. Dia kesal, mengapa dia tidak ingat akan rumahnya, dan pekerjaannya menyirami kebun? Ah.

Daun emasnya sekarang melayang lagi, dan terjatuh di tanah yang lembap, tepat di depan sebuah gerbang kota yang sangaaaat besar, yang dijaga oleh enam pengawal membawa tembak dan pedang di pinggang mereka. Setengah terseret, Alays membungkuk dan mengambil daun emasnya. Daun itu dimasukkan kedalam saku celana panjangnya yang berwarna kelabu.

“Berhenti!” seru salah seorang pengawal sambil mengacungkan tombaknya ke arah Alays. Tubuh Alays langsung kaku seperti diterpa angin beku di kutub utara. “Siapa kau dan mau apa kau kesini?!” teriak pengawal yang lain dengan suara yang menggelegar.

“Saya mengikuti daun ini,” Alays buru-buru mengeluarkan daunnya. Serentak, wajah para pengawal itu menjadi riang.

“Terima kasih telah mengembalikan daun kesayangan Tuan Putri Valencia yang berharga,” kata pengawal bertubuh jangkung sambil mengambil daun itu dan menaruhnya di kotak kaca yang disimpan di sakunya.

Seorang pengawal lain, bertubuh gemuk dan berpipi merah gembung segera membukakan gerbang untuk Alays. Alays begitu kaget dia diperlakukan sangat baik.

“Saya antarkan Anda menuju Istana Gyromenchy, Nona,” kata pengawal yang tadi mengambil daun emas Alays, lalu menggamit tangan Alays perlahan. Alays berusaha menahan tawanya. Istana Gyromenchy? Nama yang lucu! Dia sampai terbungkuk-bungkuk menahan tawa. Pengawal itu terheran-heran melihat kelakuannya, tetapi pengawal itu berusaha menjaga kesopanannya.

 

Istana yang berdiri megah di depan Alays sangat menarik perhatiannya. Alays mendongak dan terpana. Dia belum pernah melihat istana semegah, seindah dan sebesar ini. Pengawal menyodorkan kotak kaca yang berisi daun emas itu padanya.

“Serahkan kotak kaca ini pada Tuan Putri Valencia nanti. Jika pengawal yang menjaga istana bertanya siapa kamu, acungkan saja kotak kaca berisi daun emas ini pada mereka. Pasti mereka akan membungkuk dan membukakan pintu istana,”

Pesan pengawal bertubuh jangkung yang bergegas pergi itu membuat Alays sedikit takut, gugup dan malu untuk menghadapi pengawal-pengawal kekar yang akan dihadapinya nanti.

Angin sepoi-sepoi berhembus, menemani Alays yang sedikit takut itu. Namun, dengan posisi tegap berani, dia pun melangkah menuju para pengawal di gerbang istana. Tapi, dia tidak menduga, pengawal-pengawal itu langsung membukakan pintu sambil mengucapkan salam ramah padanya.ย Pasti sudah ada informasi dari pengawal di gerbang kota,ย batin Alays sambil berlari menghampiri sekelompok dayang bercelemek putih yang sedang mengobrol di suatu tempat.

~Bersambung~

7 thoughts on “Princesses Gold Leaf #1

  1. Hai kak zahra ๐Ÿ™‚ Kak Zahra apa kenal mbak Fafa (kak Zahra bisa manggil dia Fafa, aku manggil mbak soalnya dia lebih tua dari aku) ? Mbak Fafa itu sepupuku lho. Dia juga punya blog, kalau mau tahu, kak Zahra cari aja di tulisanku di blog. Maaf aku gak sebutin tulisan yang mana, soalnya aku lupa aku menulis webnya mbak Fafa di mana. Gitu aja kak Zahra, daaa… ๐Ÿ˜‰

    1. Tahu. Aku juga pernah membaca liburanmu bareng Mbak… eh, Fafa di blogmu. Oya, dia kelas berapa? Aku kan baru kelas lima. #ssst, aku sudah baca semua tulisan blogmu, loh. Tulisan pertama yang kamu tulis juga udah. ๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s