Tiga Saudara Perempuan Ternakal

Efyra, Hanna, dan Fay adalah tiga saudara kandung yang ternakal di seluruh pelosok kompleks. Ada saja yang mereka lakukan. Seperti mengambil buah-buah apel Pak Ari tanpa izin, berlari-lari di kebun yang baru dibuat Bu Siska, dan masih banyak lagi. Kakak-kakak mereka juga tidak ambil pusing karena kelakuan dan tingkah mereka yang berlebihan. Tak jarang guru mereka di sekolah menghukum mereka karena berbuat ulah.

“Aduuuhh! Ceri-ceriku yang akan panen!” jerit Bu Usya saat melihat ketiga saudara itu memanjat pohon ceri yang paling dibanggakannya. Sambil tergelak, ketiga anak itu berlari menjauh.

“Cerinya Bu Usya enak sekali,” kata Fay sambil mengecup jarinya yang belepotan isi ceri. “Oya, kalian lihat, kan, saat Bu Usya teriak-teriak?” dia tertawa lagi, terpingkal-pingkal.

“Aduuuhh! Ceri-ceriku yang akan panen!” sahut Efyra menirukan jeritan Bu Usya. Kembali, ketiga saudara itu tergelak tak habis-habisnya.

Benar-benar nakal. Hanna yang masih tertawa tak sengaja melihat beberapa baju milik Bu Raras yang tersebar di jalanan. Rupanya, baju-baju itu terjatuh dari tiang jemuran. Selintas ide nakal melewati otak jahilnya. “Efyra, Fay, kebetulan ada lap yang baru dijemur Bu Raras disebar untuk pemulung. Ambil satu, yuk. Kan, Bu Raras membuat baju itu menjadi lap.” Hanna memukul pelan pundak saudaranya.

“Eh, ada lap! Betul juga kamu, Han. Apalagi, pagar rumah Bu Raras, kan, juga mau dicuci. Kotor banget, tuh. Kita berbaik hati saja mencuci pagar rumahnya,” Efyra bertepuk tangan puas. Sambil mengendap-endap, ketiga saudara perempuan paling nakal itu berjalan, mengambil beberapa baju yang tersebar di jalanan, lalu sambil bersiul-siul mereka mencuci pagar rumah Bu Raras yang memang, sangat kotor dan berlumpur. Mereka menggunakan sisa busa sabun yang ada di sebuah ember dekat rumah Pak Andika, tetangga Bu Raras. Tentunya, istri Pak Andika baru mencuci baju.

“Lalalala… Kalau begini, pasti Bu Raras akan berterima kasih. Ya, kan, Hanna? Efyra?” tanya Fay meminta persetujuan. Hanna dan Efyra mengangguk menyetujui. Fay sengaja mengatakannya dengan suara yang cukup keras, agar terdengar oleh Bu Raras. Benar saja. Seorang wanita, tentunya Bu Raras, membuka pintu.

“Aduhai baju-baju anggunku… Baju-baju jas suamiku… Baju-baju lucu bayikuuuu! Apa yang kalian lakukan, mengelap dan mencuci pagarku tanpa izinku yang sah?” serobot wanita bertubuh gempal itu.

Ketiga anak itu berusaha agar terlihat heran dan bingung. “Lho, Bu Raras apa enggak senang? Tadi kami melihat, pagar rumah Ibu kotor sekali. Jadi, kami mencucinya.”

“Dengan baju-bajuku?!” suara Bu Raras meninggi.

“Itu lap, Bu. Ibu enggak lihat, baju-baju ini tersebar di tanah? Sebenarnya, pasti Ibu sedang mencuci lap-lap yang dimiliki Ibu… Lalu menjemurnya! Dan kami lewat disini, ngeri melihat pagar rumah Ibu yang kotor ini. Lalu kami melihat lap-lap ini tersebar di tanah. Kami pun berbaik hati mencuci pagar rumah Ibu menggunakan lap dan busa sabun sisa mencuci baju…” tutur Hanna jahil. Muka Bu Raras memerah karena marah.

“Sekarang pergi! Biarkan saja pagar rumahku kotor, kena kayu, lumpur, darah, daging kambing sapi pun!” jerit Bu Raras sambil mengambil sebuah batang kayu yang ada di dekatnya, lalu mengayun-ayunkannya.

Sambil tertawa-tawa, ketiga saudara kandung itu berlari dengan kencangnya. Mereka puas karena bisa mengerjai Bu Raras yang tampaknya sudah pasrah, ia kembali duduk dan mencuci baju-bajunya yang kotor, menggerutu, sambil menatap pagar rumahnya yang cling cling bersih lagi. Ternyata, di balik kesusahan juga ada keberuntungan! Syukur saja anak-anak jahil plus nakal itu juga mencuci seluruh pagarku. pikir Bu Raras puas.

Hanna, Fay, dan Efyra berlari sampai di bawah sebatang pohon beringin yang cukup besar, lalu dengan terengah-engah mereka duduk di tanah; masih tetap tertawa. 

“Bu Raras ambil kayu, pukul-pukul anak nakal itu, lalu balik mencuci baju, sambil menatap pagar rumah yang cling cling baruuu!” Fay menyahutkan sebuah pantun yang membuat kedua saudarinya tergelak lagi. Mereka sungguh geli dengan tingkah Bu Raras yang galak.

“Lucuu… hekhekhaahaaaa…..!”

Saat asyik-asyiknya tertawa itu, tiba-tiba sebuah suara berat dan kasar terdengar. Asalnya dari pohon beringin yang ada di belakang mereka. “Hoi, tidurku jadi terganggu, nih! Nganggu saja, anak-anak cerewet, rewel, nanti dipukul, lho, sama ranting galakku!”

“Eh, kamu ya yang ngomong?” Fay menunjuk Efyra heran. “Emangnya kamu punya ranting? Lucu juga selera humormu.”

“Itu bukan aku!” elak Efyra, “tadi kudengar asalnya dari belakang kita. Tapi waktu kulihat, wah, enggak ada orang.”

“Jangan-jangan pohon beringin. Tapi aku enggak takut, kok. Kita gangguin aja, yuk, pohon besar yang akarnya jelek-jelek ini,” kata Hanna menyombong, sambil menendang-nendang batang pohon yang besar itu. Benar saja, sebuah ranting yang cukup besar memukul kakinya. Efyra dan Fay menjerit. Rupanya, salah satu ranting memukul pantat mereka.

“Aku akan berhenti memukul kalian bila kalian dapat menghentikan kekonyolan yang kalian buat selama ini!” kata si pohon dengan dingin dan suara yang berat. Ketiga saudara perempuan itu berpandangan.

“Kekonyolan! Semua ini Hanna yang menyuruh,” tuduh Fay sambil menunjuk Hanna.

Hanna tergagap.

“No! Fay juga,” kilahnya sambil mengusap-usap pantatnya yang baru saja dipukul sang pohon beringin lagi. 

“Huuu!”

“Blah!”

Kedua anak perempuan itu saling adu mulut, membuat Efyra tak tahan lagi untuk melerai saudara-saudara kandungnya yang bertengkar itu. Rumit. “Hush, hush, hush! Lebih baik kita lari daripada bertengkar gara-gara pohon beringin yang jahat ini,”

“Kalian yang jahat!” gumaman pohon itu terdengar berat.  “Bisakah kalian menghentikan kenakalan kalian selama ini? Kalau tidak, aku akan tetap memukuli kalian dengan rantingku yang tajam, lho!”

Sambil berkata itu, pantat dan punggung ketiga saudara perempuan itu langsung dipukul dengan rantingnya. Sontak mereka menjerit, sambil meminta ampun dan akhirnya ranting pohon beringin itu melepaskan cengkeramannya saat mendengar ketiga anak itu takkan berulah lagi. Ketiga saudara kandung itu langsung lari terbirit-birit.

Tak lama setelah gadis-gadis nakal itu lari, terdengar suara cekikikan. Seorang pria berjalan keluar dari belakang pohon, tertawa dan menatap bayangan anak-anaknya. Anak-anak? Ya, dia ayah Fay, Hanna, dan Efyra!

9 thoughts on “Tiga Saudara Perempuan Ternakal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s