Princess Gold Leaf #2

Pelayan-pelayan itu membicarakan daun emas Tuan Putri Valencia yang menghilang. Mereka melihat Alays datang dengan kotak kaca berisi daun emas yang mirip sekali dengan milik tuan putri mereka. Mereka langsung menduga yang tidak-tidak.

“Apa kau mencurinya?!” tanya seorang pelayan bertubuh gemuk dengan kasar.

“Ti…. Tidak. Sa… Say… a menemukan daun ini di pekarangan rumah saya,” kata Alays takut-takut. “Pengawal di gerbang depan menyuruh saya memberikan daun emas ini kepada Yang Mulia Tuan Putri Valencia.”

Para pelayan itu berubah sikap, dari marah menjadi ramah, bahkan menghomati Alays. Seorang pelayan dengan rambut cokelat lebat yang digulung mengantar Alays menuju pemandian untuk membersihkan badan, sebelum bertemu dengan tuan putri yang amat dihormati.

Di pemandian air panas itu, Alays merasa nyaman. Dia diberi sabun herbal dingin dan shampo herbal dingin, serta dipijat dan diurut. Air hangat atau air panas menemaninya setiap waktu berjalan.  Selesai mandi, dia diberi gaun yang sangat mewah dan mahkota mutiara yang biasa dipakai para perempuan pejabat yang kaya raya. Seusai memakai gaun dan mutiara itu, dia merasa sangat malu dan tersanjung.

“Mari, Tuan, kita ke ruang singgasana. Disana terdapat tempat raja dan ratu, juga tuan putri,” kata pengawal yang membimbing Alays.

“Terima kasih, Tuan!” Alays menjawab. Dia merasa tak nyaman, dipanggil ‘Tuan’ dan menjawab ‘Tuan’ juga.

“Anda bisa memanggil saya Haick,” kata pengawal itu. Pipinya memerah.

Haick membukakan pintu ruang singgasana. Alays terperangah melihat kemewahan ruang singgasana yang cukup besar itu. Apalagi, Tuan Putri Valencia yang amatamat cantik, sedang duduk di kursi kebesaran. Wajahnya ramah, baik, dan tidak angkuh.

“Mari Tuan… Alays?” Putri Valencia menyapa. Alays merasa tersipu. Putri Valencia mengajaknya duduk di depannya dan orangtuanya yang duduk di kursi singgasana.

“Yang Mulia Tuan Putri Valencia, saya dengan hormat menyerahkan daun emas milikmu ini,” kata Alays agak tergagap.

Raja bertanya dengan suaranya yang berat, “Apa kau gugup, Alays?”

“Sedikit, Yang Mulia. Bolehkah saya bertanya?”

“Tanya apa?” Raja, Ratu, dan tentu Tuan Putri Valencia bertanya serempak.

“Apa keistimewaan daun emas ini?” tanya Alays takut-takut. Apa Raja dan Ratu ini sekejam cerita-cerita sejarah yang sering dia lihat?. “Maksud hamba, mengapa daun emas ini begitu dicari-cari, sehingga menjadi tumpuan kerajaan? Saya melihat, poster MENCARI DAUN EMAS TUAN PUTRI VALENCIA banyak tersebar di seluruh kerajaan. Di warung, bahkan di dapur kerajaan juga ada posternya.”

Mendengar itu, Tuan Putri Valencia agak gugup menjawab, begitu pula orangtuanya. “Se… Sebenarnya, daun emas itu rahasia kerajaan. Milik kakek buyutnya kakek buyut kami. Saat 1876, daun emas itu menghilang dari tangan kakek buyutnya kakek buyut kami. Pada 1909, daun emas itu ditemukan. Tapi bukan di kerajaan ini! Kakek buyut kami yang menemukannya. Tepatnya… di… Asia.”

“Kerajaan ini di mana? Eropa?” potong Alays.

“Ya,”

“Daun emas itu ditemukan di pekarangan rumah seseorang, di Hindia Belanda. Daun itu dipegang seorang bangsawan kami, dengan peluru menancap di dada… Sudah meninggal.”

Ruang singgasana hening. Sedu sedan tuan putri dan orangtuanya terdengar miris. “Ih… Ihtu siapa?” tanya Alays sedih.

“Kakak sulungku… namanya… Pangeran Foturtun. Dibunuh… oranggg…”

“Orang apa?!”

“Orang…”

“Orang apa, Tuan Putri?”

Bacalah di Perpustakaan Sejarah Hindia. Bantu aku menemukan orang yang membunuh kakak sulungku, lalu carilah tentang teka-teki daun emas. Ajak empat temanmu yang paling setia, pemberani, dan pokoknya mereka terpercaya. Cari daun emas dengan peta yang kautemukan di bawah ranjang kamarmu. Alamat Perpustakaan Sejarah Hindia: Yogyakarta. Cari saat kau libur panjang.

Itu yang dapat didengar Alays merasa pusing, lalu terlelap.

 

~Bersambung~

2 thoughts on “Princess Gold Leaf #2

  1. Mengesankan. Zahra pintar mengarang cerita, ya, teman kakak saja gak tahu bikin cerita. waktu lihat cerita buatan teman kakak, kakak ngerasa itu cerita yang dibuat anak 5 tahun. gak nyambung, tanda bacanya banyak yang kurang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s