Princess Gold Leaf #3

“Nah, sekarang kita harus segera bersiap. Bel akan berbunyi lima menit lagi,” kata Ms. Li sambi melirik arloji hitam yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Alays buru-buru memasukkan buku cetak matematikanya ke dalam tas, lalu melirik Shasha, sahabatnya, yang sekaligus teman sebangkunya.

“Main, yuk! Kita, kan, libur panjang,” ajak Alays. “Maksudku, libur panjang sejak besok.”

“Oke-oke! Tapi tunggu, ya! Aku harus membeli pesanan mama di toko langganannya, lalu ke tempat fotokopian, lalu ke kuburan. Aku mau mendoakan sepupuku yang meninggal minggu lalu,” ucap Shasha.

Alays bergidik. “Kau tidak ngeri?”. Sesaat, dia teringat mimpinya semalam. Apakah itu benar? Dan Shasha, adalah seorang sahabatnya yang pemberani. Pramuka lalu, dia mengajak anak-anak pramuka menuju kuburan. Hiiiyyy…!

“Tentu tidak. Papa telah mengajarkanku untuk menjadi gadis riang yang pemberani,” jawab Shasha cuek.

Hm. Ini mungkin yang kucari, dan seorang lagi. Mungkin Fatih. Bukan, bukan! Sepertinya, Raya lebih pemberani. Ah, Gordon juga, kok! Yani?  Silva? Oreyes? Lila? Huh. Siapa lagi, ya? batinnya. “Menurutmu, siapa anak yang paling pemberani di kelas ini?” tanyanya.

“Fatih,” jawab Shasha sambil meneguk susu di botolnya.

“Apakah kau mau ikut aku pada liburan nanti?” tanya Alays hati-hati.

“Kemana?”

“… mm… Yogyakarta.”

Shasha tampak seperti tersambar petir. “KEBETULAN! Rabu esok, aku dan kakakku akan berlibur kesana. Sekalian melihat candi Borobudur yang letaknya di antara Yogya dan Magelang itu, loh. Ajak Fatih, yuk!” kata Shasha. “Menurutku, dia pemberani, giat, lincah, dan tentunya… humoris!”

Tepat, batin Alays. Kata-kata Shasha tadi memang nyaris persis seperti yang ada di otaknya.

“Ada apa, nih, ngomongin liburan dan aku? Minta pe-er, ya?” seru seseorang dari belakang Shasha dan Alays. Fatih. Dia nyengir dengan sikap ge-er.

“Enggak juga, sih, Juara Kelas,” balas Shasha. “Kau mau ikut kami, enggak, ke Yogya? Liburan, gituuh,”

“Hmh. Gimana, ya, pergi sama cewek-cewek centil kayak kalian,” ledek Fatih sambil meleletkan lidahnya. “Tapi, mau ah, kalau Kak Ron ikut.”

Seep! Tentu, Kak Ron, kakak Shasha, pasti ikut. Dan, yang dipermasalahkan sekarang, siapa seorang anak pemberani yang ikut? Kan, sudah ada tiga. Hantu pocong, kuntilanak, dan tuyul. Hehehe… enggak, kok. Kak Ron, Shasha, dan Fatih tentunya. Alays memandang Shasha.

“Kenape?” tanya Shasha dengan logat Betawi yang dibuat-buat.

“Ga de pe-pe. Cuman aku mau tanya, siapa ya cewek di kelas kita yang pemberani, pintar dan enggak penakut kayak aku?” tanya Alays ge-er.

“Mm… ku tahu!”

Penasaran, siapa yang disarankan Shasha? SAKSIKAN bab selanjutnya di Princess Gold Leaf selanjutnya.

 

~Bersambung~

6 thoughts on “Princess Gold Leaf #3

  1. aisyah says:

    Zah, buruaan buat lanjutannya… eh kakak punya usul, gimana klu msh byk lg km post 1 mgg sekali, kaya majalah gt…

      1. aisyah says:

        Okeh, kakak suka cerita misteri, horor, rahasia. tp yg horornya, jangan terlalu horor ya, nanti pembacanya takut & jangan2 yg nulis cerita jg takut! hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s