Princess Gold Leaf #4

“Cewek yang pemberani itu… Fani!” kata Shasha semangat.

Teeet teeet. Teng teng. Fani? Kening Alays mengerut. Apa yang bagus dan maksud pemberani dari Shasha? Dia juara pramuka ketiga, sih, tapi anaknya enggak suka beres-beres. Tapi dia kompak dan senang membantu. Tapi… aku pernah kunjung ke rumahnya, kamarnya kotor banget.

“Iya, Fani! Minggu lalu aku ke rumahnya, dan Fani sedang menyapu. Dia ternyata senang membantu. Jadi, yah… maukah kau mengajaknya? Please.”

“Anaknya ember, nanti rahasia mimpiku dia sebarkan pada orang-orang,” kata Alays sambil melet.

“Alaaah… anaknya memang ember, tapi aku yakin, kalau kau bilang begini, ‘kalau kau enggak ember, enggak kuberi cokelat gratis di Yogya, loh. Mamaku baru pulang dari Singapur, dan beli lima belas paket cokelat yang enak sekali. Oke?”

Alays akhirnya mau. Dia menghampiri Fani yang tengah ‘sibuk’ mewarnai gambar Frozen di kertasnya dengan pensil warna dan glitter untuk pakaian dan kekuatan saljunya Elsa. Akhir-akhir ini, dia memang senang (ngefans) ama film yang dibintangi Kristen Bell itu.

“Hai, guys. Weeww, ada apa neh, rame-rame datang ke bangkuku? Mau minta cokelat, ya? Ogah, nee.” Fani meleletkan lidah. Dia menyembunyikan sebatang cokelat di sakunya. Ck ck ck, pantas anaknya rada gemuk. Kebanyakan makan cokelat! Tapi kenapa giginya enggak bolong, ya? Malah si penyuka sayur itu, Dodo, giginya bolong semua!

“Katanya siapa? Malah si Shasha mau ngasih kamu cokelat Singapura. Mau, enggak?” tanya Alays sambil mengangkat bahu.

“Waaaw, aku pernah, loh, nyicip. Rasanya enak sekali! Dan sejarahnya itu begini… oh, begitu… dan blablabla…,” Fani yang cerewet itu mulai menceritakan asal-usul cokelat Singapura. Ngapain juga susah-susah ngapalin sejarah Singapur. Ini, kan, negeri Indonesia!  gumam Alays dalam hati.

“Stop… stop,” seru Shasha. “Kami mau kasih kamu cokelat kalau kamu janji enggak membocorkan rahasia kami.”

Dengan malas, Fani mengangguk. “Boleh. Tadi aku enggak sengaja nguping pembicaraan kalian. Aku mau, kok, ikut ke Yogya, tapi dua batang cokelat, ya! Tambah sebatang lagi untuk upah enggak ember.”

Waduh! Shasha merogoh jajan cokelatnya yang tinggal dua. Sebenarnya ia ingin membagi cokelat itu untuknya dan Alays, tapi tak apalah. Wong dia masih punya jatah tujuh. Kakaknya tak menyukai cokelat, jadi jatah kakaknya dia makan saja.

“Nih, Neng. Janji, ya, jangan bocorin rahasia yang mau diceritakan sama si Alays ini. Tapi kalo ketahuan kamu bocorin, hmm… gimana, ya?” gumam Shasha usil.

“Oke, oke… Demi Allah… aku ga akan bocorin… Tapi jangan laporin ke mamaku… dia bisa marah guede…!”

“Oke, ceritanya begini…”

 

Ceritanya sudah kalian dengar, bukan?

 

 

-Bersambung-

 

11 thoughts on “Princess Gold Leaf #4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s