Rahasia Dibalik Rumah Hantu ((Pondok Mangroove))

05/01/14

 

“Dhiiin… Dhiiinaaa..!” panggil teman-teman Dhina, yakni Fora, Shira, Zaky, dan Rifqi. Pagi itu, mereka memang sudah berjanji untuk saling menjemput. Karena hari ini adalah acara berkemah untuk mengikat erat persahabatan mereka.

Dhina yang baru saja keluar dari kamar mandi, bergegas memakai bajunya yang diberi Rifqi untuk hari ulang tahunnya yang kesepuluh. Tahun ini, dia akan berumur sebelas di bulan Februari nanti. Setelah memakai baju, dia segera mengambil tas ranselnya yang berisi berbagai barang dan makanan, seperti empat Kopikap, empat roti isi selai, sebotol air Aqua, buku, pensil, penghapus, tepak (tempat pensil), dan sebagainya. Ada juga baju-baju dan sebuah tenda yang dilipat. Wajibnya, Dhina sudah berjanji pada teman-temannya untuk membawa delapan butir permen yang dijual di toko permen Blubbie. Permen-permen itu sangat lezat.

“Ibu, Dhina berangkat dulu, ya!” pamit Dhina sambil menghampiri ibunya yang sedang membaca koran pagi di ruang keluarga yang multifungsi, bisa digunakan sebagai ruang makan sekaligus ruang tamu. Ibu hanya mendongak, lalu mengangguk.

“Hati-hati di jalan, ya, Nak,” hanya itu saja yang diucapkan ibunya. Oya, ayah Dhina sedang bekerja di luar kota, sebagai pekerja kantor yang sibuk.

Fora, Shira, Zaky dan Rifqi sedang mengobrol di bawah naungan pohon apel di depan rumah Dhina. Dhina membuka pintu pagarnya. “Hai, Teman-Teman! Maaf nunggu lama. Tapi aku bawa, kok, permen yang kujanjikan,” ujar Dhina sambil menggoncang ranselnya yang tak terlalu besar. Ketiga temannya juga membawa tas.

“Aku bawa permen karet,” sahut Rifqi.

“Aku kue bolu mini,” kata Fora sambil melambaikan rambutnya yang panjang.

I am have a delicious noodleyummy!” ucap Shira tak mau kalah. Dia pernah bersekolah di Australia selama tiga tahun karena ayahnya bekerja disitu. Jadi, kemampuannya berbicara bahasa Inggris melaju pesat.

“Aku membawa sup sarang burung walet!” seru Zaky girang sambil membuka tupperware yang ia pegang. Tampak sesuatu menyembul-nyembul dari kuah yang berwarna keoranye-an itu. Shira menggeleng jijik.

Zaky menutup tupperware berisi sup sarang burung walet itu kembali. Dia memandang teman-temannya yang sekarang melongo keheranan. Zaky, anak lelaki penyuka bubur bayi itu, juga suka sup sarang burung walet? Oh, itu sebabnya kalau pamannya sering membawa sesuatu jika berlibur kesana. Ternyata, seluruh keluarga besarnya menyukai sup sarang burung walet, kecuali Dodi, adik Zaky!

Rifqi mendeham. “Ehm,” dehamnya. “Mungkin ini saatnya untuk kita pergi. Zaky, cepatlah memasukkan tupperware itu ke dalam ranselmu.”

“Kita akan sampai di Pondok Mangroove sekitar jam satu siang,” kata Fora sambil memerhatikan jam sakunya. “Sekarang masih jam sepuluh. Kita akan berjalan kaki selama tiga jam. Satu jam menaiki angkot desa, yah,”

“Kamu pintar sekali, Fora,” puji Dhina yang sedang sibuk mengikat rambutnya. Fora tersipu malu.

Angkot desa Brahawan membawa para penumpangnya menuju Kampung Mangroove. Rencana kelima anak itu, mereka akan pergi ke Pondok Mangroove tempat orang-orang beristirahat, dan mereka akan makan siang disana. Lalu, mereka pergi ke Hutan Sogyff. Disana, mereka akan mendirikan tenda dan memasang api unggun yang bagus.

“Turun, Bang!” seru Rifqi ketika angkot sudah mendekati Kampung Mangroove. Dia dan para sahabatnya bergegas turun dan menyerahkan uang. Mereka berlima mengamati keindahan Kampung Mangroove yang subur.

“Nah, kita masuk ke gerbang itu,” sahut Shira sambil mengamati peta yang dibentangkannya di atas rerumputan. Di dalam Kampung Mangroove, ada jalan yang jalurnya menuju Hutan Sogyff.

Dhina menunjuk sebuah pondok kayu yang terawat yang letaknya di dekat jalur Hutan Sogyff. Ada plang bertuliskan PONDOK MANGROOVE yang ditulis dengan cat biru tebal-tebal. “Itu Pondok Manggaroo…. eh, Mangroove!” serunya riang. Fora mendongak.

“Benar,” katanya serius. “Pondok Mangroove. Shira, Rifqi, Zaky, kurasa kita harus beristirahat di sana sampai jam tiga-an. Tadi pagi, aku enggak sengaja membaca koran pagi. Ada buronan yang bersembunyi disana. Polisi sedang berusaha mencarinya. Kurasa, sepuluh buronan. Sebenarnya ada dua belas, tapi dua sudah ditangkap. Nah, kalau kita kesana jam dua, mungkin kita akan kena peluru nyasar.” jelasnya sambil memperbaiki ranselnya yang miring.

 

-Bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s