Super Qool Adventure #1

Ditulis tgl: 10/01/14

Liburan masih beberapa minggu lagi. Anak-anak Sekolah Asageal bermalas-malasan di rumah mereka. Tapi tidak bagi Zosha dan kawan-kawannya.

Di hari Senin, Zosha mencuci baju.

Hari Selasa, Arfio bekerja menjadi kuli membantu ayahnya.

Hari Rabu, Firon mengecat rumah Bapak Arjuna, seorang tetua yang rumahnya roboh, tapi tidak menelan korban jiwa.

Hari Kamis, Lenya berdagang gorengan keliling Desa Asageal yang jaraknya dua puluh lima mil dari kota.

Hari Jumat pagi telah tiba. Rencana kelompok itu, untuk hari Jumat, adalah berjalan-jalan dan piknik di sekitar Kebun Pisang Pak Salman yang terkenal angker. Tapi keempat anak itu tak peduli dengan larangan para warga dan tetua yang sudah lama tinggal disana.

“Hari ini, kita jadi piknik, kan?” tanya Arfio pada Zosha saat mereka sedang sibuk memotong rumput di Lahan Pertanian yang dimiliki Abang Soleh. Upahnya adalah lima ribu setiap ikatnya. Mengisi waktu, hehehe…

“Tentu saja jadi,” jawab Zosha sambil mengikat rumput yang selesai dipotongnya.

“Upah kita untuk minggu ini dikumpulkan, ya. Kita beli makanan menggunakan uang yang dikumpulkan itu.” jelasnya. Arfio manggut-manggut. Dia kembali memotong rumput dan mengikatnya.

“Oya. Jangan lupa, ya, Arfio. Kita harus bawa kantong tidur, soalnya kita kan enggak punya tenda,” Zosha mengingatkan.

“Tapi, bukankah Tetua Shronk mempunyai beberapa tenda?” sergah Arfio. Zosha mendelik.

“Kau tahu, Tetua sangat menyayangi benda itu, dan dia pasti tidak akan mengizinkanmu meminjam tenda-tenda itu. Nah, selesai! Rumputku sudah ada lima ikat, kau berapa?” tanya Zosha, menoleh pada Arfio yang ternyata sudah menyelesaikan mengikat rumput-rumput yang kasar itu. Sebenarnya, jari telunjuk Zosha berdarah, tetapi dia menutupinya dengan selembar kertas yang dikantonginya. Arfio menyeka peluhnya.

“Aku enam,” jawabnya sumringah. “Kita punya sebelas ikat! Lima dikalikan sebelas, dua puluh, ya?” tanyanya.

“Pelupa! Bu Heni sudah mengajarkanmu perkalian, masa lupa? Ya lima puluh lima, dong!” tegur Zosha jengkel sambil mengganti sepatu botnya dengan sandal jepitnya yang polos tanpa gambaran. Begitupula Arfio.

“Lima puluh lima ribu. Banyak banget,” gumam Arfio sambil menenteng enam ikat rumput sekaligus di punggung dan pelukan tangannya, lalu membawanya ke dalam rumah pertanian.

“Dua puluh, tiga puluh, empat puluh… Nah, lima puluh lima. Terima kasih, ya, atas kerja keras kalian, memotong rumput selama enam jam!” ujar Abang Soleh sambil menyerahkan upah atas kerja keras kedua anak itu.

“Terima kasih, Abang,” lonjak Arfio dan bergegas pergi keluar pertanian, tempat Zosha menunggunya dan uang yang dibawanya. Zosha tampak gembira melihat Arfio melambai-lambaikan uang yang dibawanya. Dia buru-buru menghampiri sahabat lelakinya itu dengan bangga saat Arfio menyodorkan uangnya untuk ditaruh di dompet Zosha. Setelah menghitung balik uang itu, ia memasukkannya ke dalam dompet. Pas, lima puluh lima.

“Sekarang, mari kita jemput teman-teman!” serunya riang.

 

 

~To Entry 2~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s