Liburan Misterius #2

28/04/14

“Alyssa!” terdengar teriakan yang sudah tak asing lagi di telinga Alyssa. Ya, suara Farrsa, sahabat sekaligus teman sebangkunya. Rumah Farrsa juga tak jauh dari rumah Alyssa. Farrsa masih mengenakan seragam sekolah, rupanya orangtuanya juga mengurus surat izin perkemahan sekolah.

“Kau ikut perkemahan?” tanya Alyssa sambil membuka pintu mobil Hyundai papanya.

“Mungkin. Tapi, karena liburan nanti papa mamaku sibuk, jadi aku ‘dikirim’ ke perkemahan sekolah. Mengisi liburan yang membosankan! Kamu ikut, ya, Lyss. Aku kesepian tanpamu,” pinta Farrsa mengiba.

Alyssa tertawa kecil. “Mengapa aku? Kan, masih ada Billy, Shasa, dan Faron, si anak mami itu,” candanya.

“Huh! Si anak mami, emang gue suka!” Farrsa berpura-pura menjadi remaja gaul yang suka ge-er.

“Aku tanya mama dulu, ya. Semoga aku bisa ikut,” jawab Alyssa sambil menggamit tangan sahabatnya, lalu bersama-sama mereka menuju ruang guru. Disana, mereka menghampiri orangtua Alyssa dan kakaknya yang sedang bercengkrama dengan Miss Ann, wali kelas Alyssa, dan Miss Fayn, wali kelas kakak Alyssa, yakni Kak Afzhir.

Mama menoleh mendengar suara putrinya. “Ma, aku ikut perkemahan, enggak? Ikut, ya. Kalau Kak Afzhir enggak mau ikut, ya enggak papa. Dia, kan, penakut, Ma,” ledek Alyssa.

“Hoooiii, siapa yang ngatain aku penakut?!” terdengar suara marah kakaknya, yang disusul tawa guru dan papanya.

“Aku, Kak. Emangnya kenape?”

“Beneran mau ikut?” tanya mama pada putrinya, memotong adu mulut kedua anaknya yang suka bercanda dan bertengkar itu.

“Iya, Ma. Nanti, Lyssa mau bilang ke Miss Ann, kami setenda bareng.” kata Alyssa dengan wajah manis. Dalam hati dia berdoa, semoga mama dan papanya mau menandatangani surat perizinan perkemahan sekolah, yang dinamai FPS (Festival Perkemahan Sekolah). Mamanya berpikir-pikir sebentar, lalu berbisik pada suaminya. Alyssa mencoba menguping, tapi bisikan mamanya sungguh pelan. Papanya mengangguk sebentar.

Farrsa menyikutnya. Alyssa menoleh. Sahabat selamanya itu menuding ke arah ambang pintu ruang guru. Faron, si anak mami, berdiri di sana dengan mata sembap, bersama papa maminya yang mencoba menenangkannya. “Sayang, kau tahu kami sibuk, dan para kerabat tidak dapat menjagamu karena mereka juga sibuk. Ikut saja, ya, please?”

Faron mendelik pada Alyssa dan Farrsa. Mereka buru-buru berpaling, pura-pura tak  tahu. Tak lama, terdengar suara Faron, “tapi Mami harus janji, belikan aku sepeda dengan gas yang sedang trend itu, loh. Oke, ya, Mi?”

“Tapi janji, Faron enggak boleh nangis dan nakal di sana, ya.”

“Alyssa!” suara papa mengagetkan Alyssa dan Farrsa yang sedang mencoba menguping percakapan Faron dengan papi dan maminya.

“Apa, Pa?” tanya Alyssa geregetan. “Papa membolehkan, kan, kan? Setenda bareng Farrsa, ya!”

“Papa dan Mama setuju, tapi…,” papanya menggantung kata-katanya. “Tapi… Bawa obat masamnya, ya, yang bermerk Natural itu, ya…,”

Alyssa hampir muntah mengingat botol berisi cairan obat yang sangat masam! Bila dia pergi ke acara sekolah tanpa orangtuanya, dia diharuskan membawa botol itu. Terkadang, mama menelepon, menagih janji meminum obat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s