Teene’s Detective #1

Fajar masih menghias langit yang biru kelam di atas sana, namun Dienda masih berbaring di atas atap rumahnya. Hari ini, tanggal 3 Desember 2014, umurnya beranjak sebelas tahun. Sudah sejak jam sebelas malam dia berbaring di atas atap rumahnya, membaca buku, bermain HP atau hanya memandang bintang-bintang di langit yang biru kehitaman.

Srrkk!

Dienda yang sedang asyik membalas WhatsApp salah seorang temannya yang juga begadang itu menjulurkan kepalanya ke bawah. Dia melihat beberapa orang laki-laki memakai baju hitam dan topeng sedang mengendap-endap di halaman rumah sahabatnya, Nabil, yang rumahnya berada di samping rumah Dienda. Gawat! apa mereka itu pencuri? batin Dienda tak senang. dia buru-buru menelepon telepon rumah Nabil. Dengan begitu, ayah Nabil akan bangun.

“Halo? Ada orang di sana?” kata Dienda berbisik, melirik lagi ke arah orang-orang berbaju hitam yang tampaknya begitu mendengar suara telepon berdering, langsung bersembunyi di berbagai tempat.

“Ya, dari Pak Syarif. Eh? Dienda? Malam-malam nyari Nabil, ya?” tanya ayah Nabil di sambungan telepon. Suaranya terdengar mengantuk dan lesu.

“Enggak, deh, Pak. Oya, Bapak tolong hubungi polisi, ya. Tadi saya melihat sekumpulan orang yang sepertinya merupakan maling di halaman rumah Bapak,”

“Ya Allah! Jadi ancaman itu benar?!”

“Lho, ancaman apa, Pak?”

“Belakangan ini, ada telepon tak dikenal menelepon keluarga kami. Katanya, akan datang utusan-utusannya langsung ke rumah saya bila saya tidak menyerahkan perhiasan nenek moyang yang akan diwariskan ke Nabil,”

Dienda tersentak. Dia baru saja melihat seorang lelaki berbaju hitam (komplotan maling) dari halaman samping rumah Nabil memelototinya. Astaga! Dia ketahuan! Buru-buru dia pamit pada Pak Syarif dan langsung meluncur memasuki balkon kamarnya, membuka pintu balkon, masuk, lalu menguncinya rapat-rapat dari dalam. Tak hanya itu, dia memasang pintu berkawat untuk mendobel pintu balkon itu. Fiuuuh! Dienda menghirup napas lega. dia melirik Mara, adik sepupunya yang sedang tidur dengan lelapnya di ranjangnya. Dienda duduk di sampingnya, lalu mengusap poni Mara yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu. Tak lama, dia jatuh tertidur.

 

 

Kriiingg… Kriiinggg…! Suara dering handphone Dienda membangunkan gadis remaja yang sedang terlelap tidur itu. Namun begitu terdengar suara dering itu, dia tersentak dan langsung memencet tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelepon terlebih dahulu.

“Halo? Dien?” terdengar suara Winda, sahabatnya, di telepon.

“Eh, Winda. Apa kabar?”

“Baik. Oya, tadi aku ditelepon Nabil. Katanya, ayahnya bilang kalau kamu berhasil menggagalkan pencurian di rumahnya. Soalnya, waktu Nabil telepon tadi, enggak diangkat.”

“Oh… okay. Oaaahmm..,”

“Eh, Dien, kamu bisa main enggak? Aku juga sudah ngajak Nabil, Putra dan Sylvia. Mereka udah nunggu di lapangan.”

“Bisa. Nanti setelah aku mandi, ya… Bye!”

Tit. Dienda mematikan hubungan teleponnya. Dia mengambil handuk, lalu berlari ke kamar mandi.

 

 

 

 

~Sori, Bersambung~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s