Detective Robots

“Hoa!” napas Lae Youn terhenti saat melihat sensei sudah ada di kelas; tapi syukur bukan sensei yang galak itu.

“Hm… ada apa, Lae Youn? Mengapa engkau terlambat? tanya sensei Kaoru yang seperti namanya itu, beliau sangat harum dan berbau parfum mint yang menusuk-nusuk. lebih menusuk dibanding parfum Oba Kasumi…

“E… Heee… membantu ibu saya, Sens…,”

“Sensei suka anak yang disiplin dan tertib, tapi bila terlambat karena membantu ibunya, tak apa. Duduk.” Dan Lae pun duduk di samping Haruko, sahabatnya yang punya nasib sama dengannya: Saisho ni uma reta! Ada saja yang diulahkan adik mereka. Ck.

Lae mengatur napasnya yang terengah, lalu berbisik pada Haruko, “Kemana Sensei Itsuki?” tanyanya.

“Entah. Mungkin pergi ke IntānashonarusukÅ«rumÄ«tingu… yang diadakan di Tokyo…,” Haruko balas berbisik.

“Gakusei.. dengarkan!” seru sensei dengan keras. Seisi kelas langsung hening. “Saya salah satu dari beberapa sensei yang tinggal di sekolah. Sensei Itsuki, Sensei Haruko, Sensei Ido, dan sensei-sensei lainnya mengikuti IntānashonarusukÅ«rumÄ«tingu yang diadakan di Tokyo. Rapat sekolah kali ini adalah dimulainya pelajaran baru: pelajaran robotik dan sebagainya.”

Heee… seisi kelas kasak-kusuk membicarakannya. Lae membelalak. KÅ«ru, pikirnya.

“… But, karena beberapa alasan, pelajaran robotik itu hanya diadakan pada hari Kamis saja, dan pelajaran lain di hari itu dihentikan. Dare mo hantai shinai?” tanya sensei Kaoru.

“SHINAI, SENSEI!” seisi kelas menggema.

Sepulang sekolah, Lae memutuskan menggunakan uang jajannya untuk menaiki subway. Dia sudah berhemat tidak makan apa-apa di kantin, hanya makan sebungkus permen seharga satu yen.

“Hee, Lae Youn, ya?” terdengar suara dari sampingnya dan tepukan di pundaknya. Lae melonjak kaget. Lalu menatap wajah gadis sebayanya yang menyapanya. “Konnichiwa, watashi wa Kei… Lae! Aku temanmu saat berumur 5 tahun… tak ingat, ya?”

“Ehm.. Kei?” Lae berusaha mengingat-ingat, siapa gadis ini sebenarnya.

“Hee, iya, aku…,” kata gadis yang mengaku bernama Kei itu.

“Kei Tadashi?” Lae akhirnya teringat. Nama gadis kecil berambut cokelat yang dikuncir dua, yang terpampang di otaknya. Uu… sahabat.

“He-eh… watashi…,”

Lae memeluk sahabat masa kecilnya itu. “Tapi, bukankah kau sudah pindah ke Tokyo?” tanya Lae. “Lalu kemudian kau mengirimkan email padaku kau pindah ke luar negeri?”

“Hoo, email apa itu. Mungkin email iseng adikku. Dia sudah mengerti baca tulis sekarang. Aku sudah pindah ke sini lagi, di Osaka.” Kei menepuk pundak Lae. “Nanti ajaklah Mama kau ke rumahku. Ini alamatku,” Kei mengambil secarik kertas dan pena dari dalam ranselnya, lalu menuliskan alamatnya.

“Arigato!” kata Lae, lalu mereka berdua saling menatap untuk beberapa saat. Ya, beberapa saat sebelum…,

… tanda busway sampai di tempat yang dituju oleh Lae!

“Hee, cepat sekali sampainya. Daijōbu, sampai sini dulu, ya. Nanti sore akan kuajak Mama ke rumah kau. Ok? Sayonara!” Lae melambai, lalu turun dari busway. Lalu berjalan ke rumah yang tak jauh dari tempat itu.

 

 

~Keizoku suru~/~Bersambung~

4 thoughts on “Detective Robots

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s