In Germany

Aku memandang sekelilingku dengan wajah bosan alias tak betah. Terngiang wajah kawan-kawanku yang lama di Indonesia. Namun kini mereka sudah jauh dariku, berada di Indonesia sana, sedang aku  Berlin, Jerman.

Iya sih, aku bisa pergi ke Indo saat liburan, tapi kan cuman setahun beberapa kali. Dan masalah keduanya, teman-temanku enggak punya Twitter atau email… Dan kasihan kalau mereka harus berkali-kali ke warnet atau beli pulsa buat ngebalas sms aku..

“Akita, ayo cepat!” seru bunda yang tampak repot membawa dua buah koper besar, dibantu kedua kakak laki-lakiku yang sukanya njailin aku. Huh!

Oya, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Fatimah Akita Akurdi.

“Iya tuh, lambat amat,” gerutu kakak pertamaku, Adam Akurdi. Sedang kakak keduaku bernama Muhammad Dicky Akurdi.

“Siput aja lebih cepat jalannya,” kata kakak keduaku yang sibuk membereskan snacksnack yang terjatuh dari plastik belanjaan miliknya. Di kejauhan nampak ayah sedang berdiskusi dengan seorang sopir taksi Berlin.

Dengan langkah lambat, aku berjalan menuju taksi itu. Menyusul bunda dan kedua kakakku.

Aku hanya membawa sebuah koper milikku dan satu kantong belanjaan berukuran sedang. Bunda membawa sebuah koper, satu ransel dan tas kain berisi kotak-kotak Tupperware. Kak Adam membawa dua buah koper dan satu backpack besar. Kak Dicky membawa sebuah ransel besar, sebuah ransel kecil dan satu koper berukuran sedang. Ayah yang paling banyak; satu buah kardus berat di atas kepalanya, satu koper, satu ransel, dan keranjang berisi bahan makanan.

Sopir taksi menata barang-barang yang kami bawa dan terpaksa menitipkan sebagian besar pada taksi rekannya yang mengantarku dan bunda. Taksi satunya membawa ayah dan kedua kakak lelakiku. Soalnya, barang-barang yang kami bawa tidak bisa dimuat dalam satu taksi.

 

Sampai di rumah baru di Berlin, aku membantu mengeluarkan barang-barang dari bagasi taksi. Lalu masuk untuk melihat-lihat isinya.

“Hei, Akita! Bantu Kakak membawa koper-koper ini ke dalam, dong!” seru Kak Adam jengkel. “Kebanyakan, kan, punyamu!” katanya.

Aku meleletkan lidah, lalu meraih koper dan ransel milikku. Setelah ayah membuka pintu rumah baru kami, aku melihat rumah itu sudah terisi dengan perabotan. Namun, ini bukan perabotan seperti yang di Indonesia.

“Perabotan di rumah lama dijual, diganti sama yang baru,” kata ayah. Aduh! Aku sangat merindukan stiker-stiker yang tertempel di meja belajarku. Ada tandatangan dari tokoh Indonesia terkenal, aku lupa siapa ia.

“Kamarku dimana, Yah?” tanya Kak Adam, mendorong kopernya dengan susah payah. Ayah hanya menunjuk sebuah pintu kayu tertutup. Aku membantu kakak pertamaku itu membuka pintunya, dan melihat-lihat isinya. Ya, benar-benar khas cowok.

“Kalau kamarku, Yah?” tanya Kak Dicky saat melihat kamar Kak Adam yang begitu cool dan khas cowok.

“Di samping kamarnya Kak Adam,” jawab ayah singkat. “Setelah menaruh barang kalian, bantu bunda berbelanja, ya! Hanya kalian di antara kita yang tahu bahasa Jerman. Ini uangnya,” kata ayah seraya menyodorkan setumpuk uang mark. Kedua kakakku yang jail itu langsung mengeluh.

Aku memilih untuk mencari kamarku sendiri. Akhirnya kutemukan, di samping kamar ayah dan bunda. Aku berdecak kagum melihat style kamarku. Ya, enggak begitu girly, but like this I liked!

 

Okay,

 

-bersambung-

2 thoughts on “In Germany

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s