Geng Empat Bersaudara

Ada empat orang saudara yang tinggal bersama ayah dan ibu mereka di sebuah perumahan mungil yang asri dan hijau. Setiap bolong, jalannya langsung diperbaiki lagi. Tapi… sepertinya tidak nyambung dengan kisah yang akan kuceritakan ini, ya?

Empat bersaudara ini bernama Nikki Cahaya (Nikki), Tamara Bintang (Tora), Arran Langit (Arran) dan Pahlevi Bulan. Pahlevi adalah kakak sulung mereka, sedang Nikki anak kedua, Arran ketiga dan Tora adik bungsu mereka yang sangat mereka sayangi. Namun, dia tidak manja. Suka berpetualang dan baik hati seperti ketiga kakaknya.

Ayah mereka bekerja sebagai seorang jurnalis tetap sebuah perusahaan koran yang cukup terkenal di kotanya. Namanya Wahana Post. Sedang, Ibu mereka seorang ibu rumah tangga yang pintar memasak dan beberes rumah. Sebagian baju keempat bersaudara itu juga dijahitnya sendiri, loh…,

Nah, ini dia hobi2 dan sifat2 Keempat Bersaudara…

Pahlevi adalah seorang anak cowok berusia 14 tahun yang pemberani dan tangguh. Juara nomor satu lomba karate di sekolahnya maupun lomba antar provinsi dan nasional. Hobinya makan dan berenang. Karena kombinasi itulah tubuhnya enggak ke samping… hehehe.

Nikki seorang cewek yang manis namun agak tomboi. ‘Trauma’ memakai rok karena pernah dikejar anjing dan sayangnya, karena sedang memakai rok, dia kecemplung ke sebuah selokan yang superduper bau. Seminggu penuh baunya enggak hilang-hilang. Hobinya memasak, kemah, dan main volley. Umurnya 13 tahun.

Arran cowok yang agak pemarah. Suka main PS 2 dan juga suka main bola. Umurnya sebelas tahun. Hobinya baca komik misteri dan juga makan seperti kakak sulungnya Pahlevi. Makanan favoritnya nasi goreng sosis ala ibunya yang selalu memasak dengan cinta. ❤

Yang terakhir Tora. Kebalikannya dengan Nikki, dia suka sekali memakai rok walau agak tomboi. Suka mbuntuti ketiga kakaknya. Ke sawah, ke langgar bahkan ke tempat pembuangan sampah untuk membuang sampah di rumah. Walau ketiga kakaknya sudah melarangnya, dia tetap ingin ikut. Padahal, dia itu alergi bau busuk. Saat Nikki kecemplung, dia terpaksa diungsikan ke rumah kakeknya sampai bau kakak keduanya itu ngilang. Hihihi…, ~oya, umurnya tujuh jalan delapan tahun.

Pada hari itu…,

Pagi itu baik-baik saja. Hanya ada satu kerusuhan, itu pada waktu Tora 'ketemu' kecoak di gudang dan lari terbirit-birit nabrak tembok karenanya. Jidatnya berdarah, namun Ibu langsung mengobatinya dengan obat merah. Sekeliling jidatnya yang berdarah dililit kain agar lukanya tidak dimasuki kuman dan bernanah.

"Bu! Aku ada latihan drama di sekolah, aku berangkat duluan ya!" seru Nikki sambil meraih tas selempangnya dan mencium kening adiknya yang dililit kain berwarna merah.

"Iya! Hati-hati waktu jalan, ya! Ingat peraturan lalu lintas! Jangan tiru ayahmu!" seru Ibu menyindir Ayah yang sukanya menyerobot lampu kuning waktu terlambat masuk kantor atau karena lapar, pingin cepat-cepat pulang.

"Duh, Bu! Jangan keras-keras, malu didengar tetangga," bisik Ayah sambil melambaikan tangannya. Ibu hanya terkikik, lalu melanjutkan rajutannya. Beliau sedang merajut sweater untuk Arran. Sweater lamanya robek karena tak sengaja tergunting Tora yang sedang membuat tugas membikin prakarya dari sekolah. Itupun juga salah Arran, menaruh sweater-nya sembarangan di lantai. Emang pel?

“Enggak ke sekolah, ta, Kak?” tanya Ibu kepada Pahlevi yang sedang sibuk mempelajari buku tebal di hadapannya.

Pahlevi menggeleng. “Libur, Bu. Guru-gurunya mau istirahat,” jawab Pahlevi nyengir. “Kata Abdur, dia dengar kalau guru-guru sama kepala sekolah mau liburan ke Bali tiga hari.”

“Ealaaah… koq nggak sekalian ngajak Ibu, siiih?” canda Ibu riang.

Mereka semua tertawa. Ayah bangkit dari tempat duduknya, lalu mengambil tas dan jaketnya. Bersiap menuju kantor!

Kalau hari Selasa, Kamis dan Sabtu, Ayah selalu berangkat menggunakan sepeda kayuh. Sedang jika hari Senin, Rabu dan Jum’at, beliau memakai motor. Hari ini hari Jum’at. “Ayo, Ran, berangkat,” ajak Ayah.

Arran dengan sigap mengambil ranselnya dan berlari ke ayahnya. Jam menunjukkan angka enam lewat seperempat. Seperempat menit lagi bel akan berbunyi. Dalam hati dia bersyukur hari ini jadwal Ayah naik motor. Kalau naik sepeda, waduh! Sampainya jam sebelas, kali. Hehehe….,

“Aduh! Olinya habis. Pakai sepeda pancal aja, ya?” tawar Ayah sambil menatap motornya dengan sedih. Arran terperanjat. Memakai sepeda pancal ke sekolah menghabiskan waktu setengah jam. Bisa telaaat!

“Ayah pikun. Bukannya ada botol oli di gudang?” seru Pahlevi dari dalam. Mungkin diam-diam dia juga ikut mendengarkan.

“Eh, iya,” jawab Ayah nyengir. Sedang Arran menghembuskan napas lega, dikiranya dia akan dibonceng ayahnya selama setengah jam ke sekolah. Tidak hanya itu, Bu Santi yang terkenal galak itu pasti juga akan menyuruhnya lari keliling lapangan seratus kali. Gak deng, cuma ditambah PR doang.

Karena kepala berdarah, Tora tidak ikut Ayah mengantarnya ke sekolah. Ibu tidak mengizinkannya pergi sebelum luka di jidatnya sembuh total. Jadi, untuk menghilangkan kebosanan, Pahlevi mengajarinya perkalian dan pembagian.

“Bosen, Kaaaak! Main, yoook!” ajak Tora.

“Ya udah deh. Mau main apa? UNO? Ular tangga? Monopoli?” tanya Pahlevi mengalah.

“Emm… Ular tangga aja. Nanti Kakak yang kalah ya,” katanya polos. Ibu yang sedang merajut langsung terbahak. Hampir saja jarumnya salah masuk lubang.

“Mana gitu mainnya, Ra. Kalah atau menang itu sama saja. Kakak dulu sudah kalah empat kali karate, tapi nggak apa-apa. Apalagi, ular tangga itu cuma permainan.” nasihat Pahlevi.

Tora manggut-manggut, padahal sebenarnya dia nggak begitu ngerti apa yang dikatakan kakaknya itu. Dia mengambil seperangkat peralatan ular tangga dan menyerahkannya pada Pahlevi. The game is started! Begitupula dengan cerita ini. Kisah ini bukan akhir. 😉

3 thoughts on “Geng Empat Bersaudara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s