Geng Empat Bersaudara: Kabar yang Menakjubkan

“Horeeee!!!”

Di sebuah pagi Minggu yang cerah, terdengar teriakan Arran dari ruang tengah. Nikki yang sedang membaca, Pahlevi yang sedang mengutak-atik remote control-nya, Tora yang sedang meracik sandwich, Ayah yang sedang membaca koran, dan Ibu yang sedang memasak, semuanya pergi ke ruang tengah untuk melihat apa yang terjadi. Arran gemetaran meletakkan gagang teleponnya.

“Ayah, Ibu, coba tebak! Apa yang diucapkan kepala sekolah di telepon pagi ini?” tanyanya dengan nada bangga.

“Entah. Apa, ya?” Ayah menghendikkan bahu.

“Nilaimu bagus? Kau memenangkan penghargaan? Pokoknya, pasti itu bagus sekali, sampai kau membuat udang Ibu gosong, Arran.” Ibu tersenyum, menunjukkan sepiring udang yang salah satu sisinya berwarna kehitaman.

Arran nyengir. “Itu kan bukan salah Arran, kan, Bu. Ibu aja yang ninggalin kompor.” Ibu hanya tersenyum. Lalu menaruh piring udangnya di meja makan.

“La, terus kenapa Kakak njerit-njerit nggak karuan, Kak?” tanya Tora seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tadi kepala sekolahnya Kakak menelepon. Katanya, Kakak lulus seleksi lomba pramuka dan akan dikirim bersama 11 anggota yang dipilih lainnya ke Bandung untuk ikut lomba tingkat nasional. Hebat, kan?” terang Arran bangga.

“Wah, selamat, ya, Ran. Kapan kamu ke Bandung? Kakak boleh ikut, gak?” tanya Nikki sambil membuat lipatan di bukunya dan duduk di samping ayah. “Kalau boleh, sekarang Kakak kemas-kemas. Lagipula, Kakak sudah kepengen ketemu teman Kakak yang sekarang sudah punya mini cafe di Bandung.”

Yang ditanya garuk-garuk kepala. “Kata kepala sekolah, pendampingnya dua orang. Berangkatnya lusa. PP dan sebagainya dikasih guru besok pagi waktu sekolah. Bu, boleh nggak aku pergi bareng Kak Nikki dan Kak Pahlevi? Tora kan masih kecil, jadi enggak boleh. Lagian, Ayah enggak bisa cuti kerja, kan?” tebak Arran.

“Eh, kok tahu aja, sih, Ran?” Ayah menyeringai kuda. Jatah cuti Ayah untuk bulan ini sudah habis karena minggu lalu Ayah mengambil cuti selama seminggu untuk menghadiri pernikahan anaknya Bude Wiwiet, kakak kandungnya.

“Siapa mau makan?” seru Ibu memotong perkataan Ayah. “Ada udang, sayur bening… eh, jangan lari-lari!”

Yup. Lari ke ruang makan, menikmati udang goreng Ibu, sayur bening, kue lapis, cokelat panas, kopi (yang ini khusus untuk Ayah), dan yang paling spesial adalah ayam kremes yang kriuknya bisa terdengar sampai 100 km… hehehe… *promosi

“Ayam kremes! Udang goreng! Makasiii, Ibuuu!” teriak Tora. Seiring dengan perkataannya, dia meraih piring, sendok, dan mulai mengambil banyak-banyak makanan di atas meja.

“Sama-sama,” jawab Ibu pendek.

Dalam sekejap, piring-piring dan mangkuk-mangkuk di meja makan kosong melompong. Udang dan ayam goreng buatan Ibu selalu sedap; Ibu tak perlu menggunakan bumbu untuk membuat ayamnya begitu krispi. Menggunakan resep rahasia dari Nenek -ibunya Ibu-, jadinya slurp…. suedap!

“Bu, tadi Ibu belum njawab pertanyaanku. Aku boleh berangkat bareng Kak Nikki dan Kak Pahlevi?” tanya Arran harap mengharap.

“Ya deh. Pahlevi, nanti kau telepon gurumu. Bilang izin dua… eh, berapa hari kau di sana, Arran?” Ibu berhenti menyuap nasi di sendoknya ke dalam mulutnya.

“Eh… Dua minggu, Bu!”

“… selama dua minggu di Bandung. Nikki, kau juga.”

Dua anak itu serentak mengangguk patuh. Nikki cepat-cepat menghabiskan makanannya. Dia harus segera menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke Bandung. “Terus aku sama siapa, Ibu? Bosan kalau nggak ada kakak di rumah,” mulut Tora monyong 2 cm.

“Sama Ibu dan Ayah. Sekali-sekali kita jalan-jalan, deh. Gimana kalau besok Kamis?” tawar Ayah.

“Oh, ya! Jalan-jalan ke mana, Ayah? Taman safari? Restoran? Perpustakaan?” pekik Tora gembira.

Nikki tak menggubris pekikan Tora yang superkenceng. Dia segera menghabiskan makanannya dan berlari tunggang langgang ke kamar. Mengambil koper merah berdebu dari atas lemarinya dan mengisinya dengan berbagai macam barang. Tumpukan baju, buku-buku, sebutir dompet, beberapa barang yang mungkin akan bermanfaat digunakan di sana, dan bola volley kesayangannya. Hampir setiap kali dia selalu membawa bola itu. Kemana saja!

Pahlevi juga sama seperti adik keduanya itu. Dia mengambil koper hitam, mengisinya dengan baju dan kaus, buku-buku, komik, raket dan dompet buat jaga-jaga. Pengisian koper itu dibutuhkan waktu sejam untuk Nikki dan setengah jam buat dirinya (Pahlevi, red).

Arran tak hanya baju, komik, dan dompet. Dia membawa serta peralatan pramukanya dan buku saku pramuka. Tak lupa, buku-buku pelajaran pun dibawanya. Siapa tahu buku itu akan berguna.

Dua hari kemudian. Ayah, Ibu, dan Tora mengantar dengan mobil pinjaman kantor ke bandara. Nikki agak gemetaran; hari masih fajar dan dia terpaksa menggunakan berpasang-pasang jaket dan sweater. Kalau Pahlevi santai. Dia hanya memakai selembar kaus dibungkus jaket tipis, dan celana jeans panjang berwarna biru tua. Arran memakai baju lengan panjang dengan jaket tebal serta celana yang juga tebal.

“Dadah, Kak Nik! Oleh-oleh, ya!” kata Tora polos. Dia amat menyayangi Nikki karena kakaknya itu tidak pernah marah padanya walau tembok kamarnya sudah penuh akan coret-coretan spidol permanen Tora.

“Iya, Sayang. Baik-baik di rumah, nurut sama Ayah Ibu,” kata Nikki, mengecup kedua belah pipinya sebelum memeluk Ibu.

“Kamu jangan nakal, ya,” ucap Pahlevi sambil memakaikan kupluk di sakunya ke kepala Tora. Kupluk berwarna ungu muda-putih itu baru dibelinya kemarin di toko yang baru resmi dibangun dekat kompleks perumahannya.

Tora hanya mengangguk. Kemudian dia asyik kembali dengan Teddy Bear miliknya dan memasangkan kupluk yang dipakainya ke beruang lucu itu. Nikki mengecup hidung boneka yang imut nan menawan itu, lalu dengan gagah berdiri. Kabut tebal menyelubungi ruang tunggu bandara.

Tak lama kemudian terdengar suara petugas yang memeringatkan pesawat nomor 177 tujuan Bandung hampir sampai. Untuk terakhir kalinya Nikki memeluk adiknya hangat. Dia melambai kepada keluarganya, lalu menyusul kakak dan adiknya yang berjalan kaku ke area pesawat.

“Arran! Dimana engkau? Huh, pagi-pagi buta seperti ini aku harus bangun. Arran! Apa itu kau?”

Penasaran? Tunggu episode selanjutnya, ya… 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s