Satu Hari di Karangploso

Hari H!!! Kalian tahu artinya? Kemarin, tepatnya hari Minggu, aku pentas di Karangploso, tepatnya di samping Masjid KH Ahmad Dahlan. Kalau aja kalian tinggal di Malang, pasti sudah melihat wajah merah grogiku… Hehehe…,

Sayangnya, dari hari Sabtu, adikku sakit. Entah sakit apa, pokoknya tubuhnya panas dan kepalanya pusing. Sampai kemarin, dia belum sembuh, jadi umi abi terpaksa enggak ikut nonton aku di Karangploso. Huaaa!

Sekitar jam enam atau setengah tujuh pagi, aku dan teman-temanku -Fia, Aulia, Silvi, Putri- didandani ibunya Aulia dan ibunya Isma, teman adik Fia yang bernama Fara. Koq jadinya mutar-muter, ya? Entah *garuk garuk kepala

Aku sebelumnya lari kalang kabut dulu nyari jilbab Paris hitam dan ninja hitam. Aku mendapatkan ninjanya di Bu Yuyun, yang kupinjam, dan umi meminjam jilbab Paris, entah dari siapa. Mungkin dari Tazkia. Aku nggak tanya soalnya.

Didandaninya nggak begitu menor, sih. Putri yang kulitnya cokelat masih tampak cokelat setelah didandani. Aulia yang kulitnya putih malah semakin putih lagi, hehehe… Sedang aku biasa-biasa aja. Tergantung dengan mood-ku. Kalau lagi jelek ya jelek… kalau lagi bagus ya bagus…,

Setelah itu, kami berangkat diantar ayah Aulia menggunakan mobilnya Kiki, teman mengajiku dan Fia yang juga mengisi acara dengan membaca Asy-Syams sebagai pembuka. Waktu melewati rumah Zahro, temanku, kami berteriak-teriak sambil melambaikan tangan kepadanya. Malu-maluin, ya?

Sabtu lalu, aku gladi resik di sana. Kursinya buanyak! Ada 1500 orang katanya Bu Nuning. Itu termasuk para pejabat dan Bapak Bupati Rendra Kresna. Wah!

Setelah Kiki membaca Asy-Syams, aku dan teman-temanku menarikan Candik Ayu di atas panggung. Tapi karena kesalahan meng-copy fileuntuk musik menarinya, tarian kami luar biasa jeleknya. Lebih bagus saat kami latihan kemarin-kemarin. Hhhh…

Saat anak-anak kecil menarikan Shalawat Badar, aku cemas soalnya tarian mereka lebih tepat dan anggun. Dan lalu… aku yang juga mengisi puisi lupa membawa buku tulis tempatku menulis bait-bait puisinya! Hoh… Hoh…

Puisiku malah lebih buruk dari tarianku. Aku berharap, dengan opera, aku dapat melupakan segala kekacauan ini. Memang, di akhir acara aku dan teman-temanku menayangkan opera berjudul Tukang Bubur yang Jujur. Kayaknya sudah tiga kali judul opera ini kutulis dalam post-ku, tapi tak apalah.

Dan Alhamdulillah… Allah mengabulkan permintaanku. Berduka-duka di awal, bersuka-suka di akhir. Aku begitu gembira, aku dapat menyelesaikan operaku dengan mudah. Dengan menganggap orang-orang yang menonton hanya sebagai permen… hihihi.

Bagi yang mau melihat hasil opera kami, silakan lihat Youtube dan coba cari kata ‘Tukang Bubur yang Jujur’ di kolom pencariannya. Soalnya, Pak Joko ayahnya Fia sudah merekam kami di atas panggung dan mengirimkannya ke Youtube.

Setelah capek memainkan opera yang kurang lebih hanya sepuluh menit, kami makan siang. Sedihnya, Pak Rendra baru datang saat kami selesai bermain opera. Itu berarti beliau tidak bisa menonton opera kami yang sudah kami pelajari mati-matian.

Eh, udahan ya! Sudah kemaleman. Oya, tadi aku habis ke rumah Bu Farida sekalian ikut kakakku yang les komputer bareng Om Heru. Sekalian juga minta abi belikan DCC (Dark Cooking Chocolate/Dark Chocolate Compound) buat bikin roti goreng isi cokelat. Sapa mau? Tapi tepung terigunya habis, siapa ya yang mau berbaik hati beliin di malam-malam hitam legam begini?

Bye bye… *belikan tepung terigu satu kilo ya! Please! >< πŸ˜›

See you tomorrow! Mungkin aku akan kasih kabar lebih lanjut tentang roti gorengnya *ala wartawan profesional XD

5 thoughts on “Satu Hari di Karangploso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s