Perjalanan Panjang

Pikipiki! Apa kabar, agus-agus semua? Kalau aku, sih, lumayan. Gabungan dari kecapekan dan Ramayana, hehehe. Enggak deng, Ramayana itukan nama supermarket di Malang. Kali di kota-kota lain ada juga, ya?

Tadi aku bikin doughnuts, lho. Lezat banget! Oh ya, ini cuplikan ceritaku yang nggak sempat kutulis di blog kemarin. Langsung saja yaa…

‘Halo, Teman2! Tadi aku hiking di Desa Kemiri, Dusun Tegalrejo (jam setengah enam berangkat). Seri sekali! Kami kesana untuk belajar tentang lingkungan dan perhutani kepada Pak Hassan, suaminya Bu Desi, teman facebook-nya umi. Sama–sama tinggal di Malang, lho!

Ada lebih dari sepuluh orang yang ikut belajar. Termasuk anak-anak dan ‘remaja’ sebayaku, bahkan lebih tua.

Pak Hassan itu bule dari Pakistan atau Turki. Hampir semua orang di kampung bawah gunung mengenalnya, bahkan waktu hanya mengucapkan ‘pak hassan bule’. Beliau dengan kedua istri dan ketujuh orang anaknya (4 cewek- 3 cowok) tinggal di puncak gunung yang terletak di Desa Kemiri. Jauuuh dari perkampungan dan untuk mencapainya, harus melewati jalan menanjak yang superduper melelahkan.

Kata Kak Zakaria (atau Kak Yusuf, aku nggak tahu), salah satu anak Pak Hassan yang menjemput rombongan kami di bawah gunung, di rumahnya terdapat domba, anjing (aku sangat terkejut mendengar ini), angsa, ayam, kalkun, dan entah ada apa lagi. Oya, aku ini tipe anak takut anjing. Karena, air liurnya, kan, HARAM. Makanya, aku bingung mengapa keluarga Pak Hassan yang muslim memelihara anjing.

Kak Zakaria dan Kak Yusuf, adiknya, nyaris mirip sehingga aku tidak bisa membedakan mereka satu sama lain. Oya, tadi kami berhenti sebentar di pasar Pakis untuk menunggu anggota lain yang belum datang. Oh ya, aku dan keluargaku meminjam mobil Unmuh yang dipakai bersama teman umi. 4 orang, satu keluarga.

Aku mampir sebentar di sebuah toko yang menjual jajanan dan burung dalam sangkar. Melihat burung-burung itu dimandikan oleh penjualnya dengan sebuah semprotan berisi air. Mereka juga diberi makan. Ada yang diberi makan jangkrik (awalnya kukira kecoak), makanan burung, dan air (of course kalau yang ini).

Setelah selesai, ibu-ibu penjual itu mengambil sebuah perangkap tikus yang berisi seekor tikus atau celurut. Aku tak tahu pasti karena hanya melihat sekilas.

Ibu itu membawa si perangkap ke sebuah tong yang sisinya bolong dan terisi penuh oleh air. Tahukah kamu apa yang akan dilakukan si ibu? Beliau menenggelamkannya. Kata umi saat itu kuceritakan di mobil, itu namanya menyiksa. Kalau langsung dibunuh sih nggak apa-apa, tapi kalau ditenggelamin saat tikus itu masih dikurung dalam perangkap… Sadis banget.

Aku berkenalan dengan anak-anak Pak Hassan dan beberapa anak dari rombongan yang sama sekali tak kukenal awalnya. Dari keluarga Pak Hassan, aku tahu kalau istri keduanya bernama Bu Fina. Anak-anak perempuannya cantik dan manis-manis. Ada yang namanya Zahra juga, lho! Hihihi. Mereka agak terkejut saat aku menjawab pertanyaan mereka, siapa namamu? Mereka ngomongnya pakai Inggris, lho. Tapi kalau sama rombongan, mereka ngomong pakai Indonesia, kecuali Pak Hassan.

Agak puter-puter, ya? Membingungkan.

Selain Zahra, aku juga kenal Yasmin, Hasna, Ani, Kak Zakaria, Kak Yusuf, dan Adam. Adam dan Ani masih bayi. Oh ya, aku sangat gemas saat Hasna bilang ‘i’m beautiful‘ sambil memangku dagunya dengan dua tangan kepadaku. Imuuut!

Sudahan ya, itu saja

(Kubuat malam kemarin, dengan banyak editan).’

Huah… over done bukan? Cerita tentang doughnuts-nya kuceritakan besok. Tanganku sudah pegel-pegel mau istirahat. Lagipula, udah Maghrib. Bibay!

3 thoughts on “Perjalanan Panjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s