Hari Senin

Kata anak-anak sekolah formal, hari Senin itu membosankan sekali. Entah mengapa, hari ini aku seolah sama seperti mereka. Padahal, hari ini masih hari libur sekolah, dan kebanyakan sahabatku bisa diajak main. Tetapi terkadang mereka berlibur bersama keluarga mereka, dan aku tidak bisa menyalahkannya.

Mendadak saja aku merasa rindu dengan teman-temanku di pondok pesantren. Rindu dengan bawelan dan ocehan mereka yang membuatku ngakak habis-habisan, dan saat-saat kami ditegur karena bercanda terlalu keterlaluan.

Tapi masih sekitar dua atau tiga minggu lagi sampai kami masuk pesantren. Kalau tidak salah, tanggal 16-17 Januari menurut perhitunganku.

Aku  agak bingung tema apa yang mau kuceritakan di blog ini. Mungkin, jadwal Homeschooling pada saat Januari saja, ya?

Pada bulan Januari, jadwalku bersama Klub Pemberi (Pembelajar Mandiri) cukup banyak. Diantaranya, ada mendengarkan dongeng bersama Ustadz Bagus dari GT Bercerita, lalu jalan-jalan bersama naik kereta ke Blitar, dan masih banyak lagi. Di Blitar, salah satu tempat wisata yang akan dikunjungi adalah Kampung Coklat, yang kalau tidak salah pernah dikunjungi Ayunda Damai dari blog ayundadamai.com, teman sesama Suara Anak di Surabaya setahun yang lalu.

Omong-omong, aku jadi teringat Supercamp yang kuikuti beberapa hari yang lalu. Sangat menyenangkan dan menguras tenaga namun membuat minggu lalu menjadi penuh warna. Karena dengan itu aku bisa menambah banyak teman, walau ujung-ujungnya sepatuku tertinggal di gazebo di area kemah saat itu.

Tahu, kan, Farah, gazebo itu? Aku meninggalkan sepatuku di hari terakhir, tepat sebelum acara penutupan dimulai. Betapa pikunnya aku bisa melupakan sepatu yang kubeli dengan uangku sendiri. Kalau sepatu itu benar-benar hilang, tiga ratus ribu terbuang sia-sia. Padahal, sepatu itu sepatu kesayanganku, tahu.

Aku jadi rindu para sahabatku di Supercamp. Mereka satu kelompok denganku dan kami hanya memilih anak yang sudah besar dan remaja di kelompok kami, dikecualikan Sasya, yang kata kami, sangat imut dan menggemaskan.

Ada Ghaniyyah yang bertubuh besar dan sangat lucu. Ada Mbak Naura, satu-satunya anak SMP di kelompok kami, yakni kelompok Ummu Kultsum. Lalu ada Aufa, yang humoris, bawel nan lucu. Lalu ada Dara, yang humoris tapi pendiam dan anggun. Jangan lupa dengan Dina, gadis tembam yang lucu dan pada hari terakhir nyaris kehilangan suara karena batuknya yang sangat parah. Yang terakhir ialah Sasya, gadis cilik yang menurut kami, apalagi Ghaniyya, Aufa dan Dina, lucu dan membuatmu ingin mencubit pipinya selalu.

Sudah, ya. Kapan-kapan aku akan menulis pengalamanku di SC 2015, yang terletak di Applesun  Leaning Centre.

Siap?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s