Backpackeran di Kampung Coklat

Sampai sekarang, aku masih teringat dengan perjalanan backpacker-anku ke Kampung Coklat, Blitar, bersama anak-anak homeschooling lainnya dengan menaiki kereta. Betapa seru dan mengasyikkannya! Aroma aneh buah kokoanya masih terngiang di hidungku.

Bersama anak-anak homeschooling lainnya, aku pergi Kampung Coklat yang terkenal di Blitar. Terletak di Plosorejo, Kademangan, Blitar, tempat itu dipenuhi dengan coklat yang menggiurkan.

Aku sudah bangun pagi sejak subuh, lalu mandi pagi buta dan berangkat jam tujuh. Sampai di stasiun, setelah menunggu semua anggota klub Pembelajar Mandiri Malang berkumpul semuanya, akhirnya kami pun berangkat juga menaiki kereta. Aku bertemu Nahlah yang berangkat tanpa orangtuanya karena orangtuanya mengkhawatirkan dua adiknya yang masih balita.

“Hai, Nahlah!” sapaku.

“Hai!” jawabnya riang.

Lalu aku duduk di samping abiku yang sedang mengobrol dengan Pak Slamet, ayah Ariz, anak homeschooling yang cerdasnya kukira bahkan melebihi Einstein. Daya ingatnya sangat tinggi dan dia hapal semua isi buku Why yang pernah dia baca. Bahkan, pengetahuanku tidak menyamai pengetahuan anak yang saking cerdasnya membuatku depresi itu.

Bagaimana tidak, walau cerdas, dia sangat hiperaktif dan selalu bertanya tebak-tebakan dengan modal pengetahuannya itu kepada setiap orang.

Setelah lama menunggu, akhirnya kami berangkat juga. Setelah menjalani pemeriksaan tiket kereta pada petugas, kami memasuki jalur dua dan menunggu. Tak sampai lima menit, kereta yang ditunggu pun datang dan dengan berbondong-bondong para penumpang menaikinya. Di dalam kereta saat berangkat, menurutku cukup membosankan, berbeda dengan saat pulang yang lebih mengasyikkan.

Kakakku, bersikap seperti biasanya, yang membuatku geli dan sebal melihatnya. Kami mendapat tempat duduk bersebelahan, dan sebenarnya aku ingin duduk bersama umi atau abi karena seperti biasanya dia menggangguku.

Sikapnya juga seperti anak cowok kekinian, sok gaya dan selalu main Clash of Clans melulu. Aku geleng-geleng kepala melihatnya sibuk bercanda dengan adik-adik HS sementara dianya sedang main game.

Semua menjerit riang gila-gilaan saat melewati dua terowongan saat menuju Blitar, begitupula aku. Ha ha ha.

Sampai di Blitar, di luar stasiun sudah menunggu dua buah angkutan umum yang sudah dipesankan oleh seorang anggota Pembelajar Mandiri yang sekarang pindah ke Blitar, yaitu Bu Kharir, seorang yang sangat pintar merajut. Disaat pelajaran sains yang selalu diadakan pada hari Jum’at di rumah Bu Ninik yang merupakan mertua Bu Kharir, aku pernah melihatnya sedang merajut sebuah tas selempang yang benar-benar bagus.

Aku menaiki sebuah angkutan umum yang sudah berisi kakakku, Dafi, yang merupakan teman kakakku, dan Bu Ninik.

“Lagi ngapain, Mbak Zahra?” tanya Bu Ninik, menunjuk drawing board yang kupegang. Aku menggunakannya sebagai alas gambar.

Belakangan ini, aku meng-upload gambarku yang menunjukkan Nadia, temanku sesama alumnus KPCI 2014 dan 2015, untuk ikut merayakan hari ulang tahunnya waktu itu. Teman-temanku menyambutnya dengan ada dua orang yang mengaguminya dan meminta untuk dibuatkan juga.

Tahun lalu aku sempat diminta untuk membuatnya juga. Tidak hanya dua orang, namun sangat banyak sampai aku kewalahan. Namun syukurlah tahun ini yang memintanya tidak begitu banyak.

“Lagi menggambar, buat pesanan temen-temen di dunia maya,” jawabku, nyengir, lalu kembali memfokuskan diri ke gambarku mumpung angkutan belum dipenuhi penumpang.

“Ajarin Mbak Alvy menggambar, dong! Mbak Alvy dari dulu nyari orang yang bisa ngegambar buat ngajarin,” cetus Mbak Alvy, putri Bu Ninik, yang duduk di kursi depan.

Aku terkekeh, namun tidak menjawab karena Mbak Alvy sudah mengalihkan pandangan.

Saat angkut mulai penuh, aku memutuskan untuk meletakkan drawing board-ku di sampingku karena nanti gambarku bisa rusak jika berdempet-dempet dalam angkut yang terlalu penuh tersebut.

“Kita main tebak-tebakan yuk!” ajak Bu Ninik pada seisi angkutan umum pertama yang kami naiki saat angkutan umum sudah berjalan. Tentu saja Bu Ninik tidak mengajak angkutan umum yang satunya.

“Yuk!” kecuali aku dan beberapa orang lain yang cuek, semuanya menjawab.

“Ayo kita lihat sekeliling. Coba sebutkan benda apa yang terlihat di luar angkot, dengan berawalan huruf S!”

Banyak yang berebut menjawab, namun aku sibuk memikirkan yang lain. Terkadang aku memang menyeletuk, dan lucunya, saat aku sedang asyik melamun dan hanya mendengarkan, aku mendengar Bu Ninik bertanya barang apa yang berawalan huruf P. Ariz menjawab,

“Ph, tingkat keasaman!” serunya. Aku terkaget-kaget dalam hati mendengarnya, bahkan aku tidak terpikir sampai sana.

Terkadang, Ariz itu memang suka mengatakan sesuatu yang membuat orang kaget. Entah ini saat berangkat atau saat pulang, namun aku ingat waktu aku sedang menggoda Azka, putra Bu Ina yang juga suka merajut seperti Bu Kharir, aku menggodanya dengan menjadi seorang petugas pemeriksa tiket,

“Mana tiketnya? Kalau tidak punya tiket akan saya usir atau saya hukum!” kataku tegas.

“Heeh… Hehehe,” Azka hanya menyengir malu, “sudah dirobek!”

“Apa?! Sudah dirobek? Saya akan hukum kamu!” kataku berpura-pura marah.

“Sekarang kau harus bunuh diri, Azka!” seru Ariz menyeletuk, membuatku kaget karena tidak biasanya anak berumur sekitar tujuh tahun seperti dirinya berkata seperti itu. Dengan cepat aku melarangnya lagi untuk berkata seperti itu lagi.

Lama di angkot, dan bahkan aku sampai nyaris tertidur, akhirnya sampai juga. Semua anak bergandengan dua-dua, dan Nahlah menarikku ke barisan terdepan.

-Bersambung-

4 thoughts on “Backpackeran di Kampung Coklat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s