Backpackeran di Kampung Coklat -2

Kampung Coklat itu sudah menyenangkan, bahkan kalau dilihat dari luarnya pula. Ada gallery yang menjual berbagai macam makanan di bagian depannya, dan kukira itu yang terlengkap sebelum aku melihat satu gallery lagi di dalam bangunan itu, yang jauh lebih lengkap dan lebih beraroma coklat dibanding gallery di depan.

Di lorong sekitar Kampung Coklat, dindingnya dipenuhi banyak pigura dengan gambar-gambar tentang sejarah coklat dan sebagainya. Aku melihata-lihatnya dengan kagum dan baru tahu kalau sebuah kaum di zaman yang sangat lampau pernah membuat minuman coklat dengan menyampurkannya dengan cabe dan rempah lainnya. Aku membayangkan wajah mereka saat meminumnya. Apa lidah itu begitu tebal sampai tidak memiliki indra perasa pedas?

“Mari kita berdoa sesuai agama masing-masing,” seru Kak Fitria, kakak pendamping yang membina klub Pembelajar Mandiri sesuai yang sudah kami pesan.

Sebelumnya Kak Fitria sudah menyuruh anak-anak untuk membuat pasangan. Aku bersama Nahlah, Keni bersama Aisyah, Ariz bersama Azka, kakakku bersama Dafi, dan sebagainya. Nahlah berkali-kali menarik tanganku agar aku yang lamban segera cepat berjalan, hahaha.

Berjalan menyusuri lorong dan mencium bau buah kakao yang ternyata tidak enak itu, akhirnya kami berhenti di jalan yang sekelilingnya terdapat banyak polybag kecil.

“Sekarang kita akan mencoba belajar menanam buah kakao. Saya akan membagikan biji buah kakao,” kata Kak Fitria, mulai membagikan biji-biji buah kakao.

Darinya aku belajar banyak. Tentang penjemuran, penanaman biji kakao, umur berapakah pohon kakao sampai dia bisa tinggi, dan ada paranet yang dapat mencegah sinar matahari serta air hujan berlebihan.

Yang paling mengesankan dan membuat tenggorokanku basah adalah segelas coklat yang diberikan kepada setiap anggota yang sudah memesan. Aku menjilat bibir meminumnya, dan coklat itu seakan membuatku takkan bias makan siang lagi. Tapi tidak ada buktinya, karena kemudian aku menghabiskan seporsi bakso yang cukup besar, hahaha.

Tidak hanya itu, di samping segelas coklat, Kak Fitria memanggil seseorang untuk membantunya membagikan sesuatu…

“Mbak Ida!” serunya kepada salah satu dari beberapa perempuan berbaju merah di balik konter. “Bantuin bagikan ini, dong!”

Seorang perempuan tergopoh-gopoh membantunya, sambil terus menerus nyengir.

Aku melihat perempuan lain mengambil nampan dari dalam sebuah kulkas. Nampan itu berisi berpuluh-puluh bola-bola coklat yang ditusuk tiga butir dalam setiap tusukan. Bola-bola coklat itu tampak menggiurkan sekali dan membuatku terlena karenanya.

Bola-bola coklat itu berupa roti berlumuran coklat yang ditusuk. Sebenarnya aku ingin dapat lebih dari satu, tetapi tidak mungkin boleh atau mungkin kecuali membayar lebih. Setelah makan dan minum, Kak Fitria mengajak kami semua ke sebuah bangunan mungil dengan palang bertuliskan Cooking Class di pintunya. Dari dindingnya yang berupa kaca, aku bias melihat beberapa meja dengan banyak kursi mengelilinginya. Namun semua itu tidak cukup untuk anggota Klub Pemberi, jadi beberapa orang dewasa terpaksa menyingkir dan berdiri.

“Jadi, cara membuat coklat adalah mencampurkan bubuk coklat, kakao, lemak coklat, vanili…” Kak Fitria dan rekannya mulai mengajari kami sambil menunjukkan beberapa toples berisi bubuk-bubuk.

Tidak, kami tidak membuat coklat. Kak Fitria hanya menunjukkan bahan-bahan untuk membuat coklat, lalu ia dan rekannya mulai membagikan coklat berbentuk hati yang ditusuk di tusukan berwarna putih. Tak lupa, beberapa krim untuk menghias dibagikan ke meja-meja untuk digunakan bergantian.

Aku memblok bagian belakang coklat dengan krim oranye dan putih, lalu menulis dengan krim putih di bagian depan coklat berbentuk hati itu, yakni namaku sendiri, Zahra, dan secaplok bunga mawar hijau yang kubuat dengan meneteskan setetes krim dan mengaduknya dengan jari agar terlihat seperti mawar.

“Wih… Punyamu bagus. Punyaku biar kuganti aja deh!” putus kakakku, lalu menjilat krim di coklatnya agar dia bisa membuat yang baru.

Seperti kakakku, Nahlah yang juga ingin membuat tulisan sepertiku menjilat coklatnya.

“Mau kubuatkan namamu, Nah, di coklatmu?” tawarku.

“Mau! Sebentar, kuhapus dulu,” katanya, lalu segera menjilat krim di coklatnya sebelum kering agar bisa kubuatkan tulisan nama Nahlah di coklat tersebut. Aku membuatnya dengan sedikit terburu-buru, karena cooking class hampir selesai, namun hasilnya lumayan bagus walau nama Nahlah cukup sulit untuk ditulis menggunakan plastic berisi krim yang ujungnya dipotong sedikit seperti itu. Aku lupa nama singkat untuk itu, sori, hihihi.

Setelah itu, sudah bisa ditebak belum? Yap, kalau tidak salah, kami langsung bubar dan pergi ke playground. Aku meminta uang kepada orangtuaku setelah melihat kalau memasuki playground itu harus membayar terlebihdulu, lalu diberi uang sebanyak lima puluh ribu untuk dibuat bermain bersama kakakku dan juga Dafi, teman kakakku sesama anak pesantren itu.

Sebelumnya kami bertiga pergi ke Istana Balon, namun tempat itu benar-benar membosankan sampai aku ikut menyusul kakakku dan Dafi untuk bermain perahu air. Masing-masing anak menyewa perahu seharga sepuluh ribu untuk digunakan selama sepuluh menit. Omong-omong, karena perahunya habis, Dafi terpaksa menunggu ada anak yang time out.

Seru banget, lo, menaiki perahunya! Aku memutar dayung sekuat tenaga dan alat dayung langsung berputar. Perahu pun berjalan. Tak pernah aku segembira ini karena aku ini termasuk anak MKKB sebetulnya, yang merupakan singkatan dari Masa Kecil Kurang Bahagia. Tentu saja, sewaktu kecil aku ini orangnya garang, lho! Banyak yang takut melihat kegaranganku…

Back to the story, yak. Jangan omongin masa laluku aja.

Aku, kakakku dan Nahlah akhirnya bersenang-senang mengayuh perahu. Di waktu akhir, aku sempat membantu Zaky yang belum bisa mengayuh perahunya karena terlalu berat untuk anak balita. Senang juga membantunya, karena bisa menabrak-nabrakkan perahuku ke perahu orang lain…. Hehehe…

 

Sehabis asyik menaiki perahu, om pengawas mengisyaratkan kepadaku kalau waktu yang kugunakan sudah habis. Setengah hati aku mendayung ke tepi kolam dan om itu memegangi perahuku sementara aku naik dan berlari secepat mungkin ke abi dan kakakku yang sedang asyik terapi ikan.

Setelah membayar lima ribu dan mendapat bantal untuk alas duduk terapi ikan, aku duduk di samping kakakku dan memasukkan kakiku ke kolam. Awalnya terasa sakit bercampur geli, namun makin lama gigitan ikan itu terasa enak dan nyaman di kakiku.

 

 

 

~Bersambung~

6 thoughts on “Backpackeran di Kampung Coklat -2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s