Backpackeran di Kampung Coklat -3

Sehabis asyik menaiki perahu, om pengawas mengisyaratkan kepadaku kalau waktu yang kugunakan sudah habis. Setengah hati aku mendayung ke tepi kolam dan om itu memegangi perahuku sementara aku naik dan berlari secepat mungkin ke abi dan kakakku yang sedang asyik terapi ikan.

Setelah membayar lima ribu dan mendapat bantal untuk alas duduk terapi ikan, aku duduk di samping kakakku dan memasukkan kakiku ke kolam. Awalnya terasa sakit bercampur geli, namun makin lama gigitan ikan itu terasa enak dan nyaman di kakiku.

Sambil berterapi, aku melihat adikku yang kini sedang asyik bermain perahu dayung juga. Sambil tertawa-tawa dia bermain bersama teman-temannya. Nyaris semua anak yang bermain perahu dayung adalah anak-anak Klub Pembelajar Mandiri saja, dan itu membuatku ingin tertawa.

Dafi menyusul setelah dia juga puas bermain perahu dayung. Dia juga mengeluh kesakitan awalnya sepertiku, tetapi kemudian biasa-biasa saja setelah lama dipijiti oleh moncong para ikan tersebut.

“Ini sudah zuhur, salat dulu yuk?” ajak abi, bertanya pada kami bertiga.

“Habis ini deh, ntar dulu ya. Tanggung,” aku memohon.

“Ya udah. Abi duluan ya,” jawab abi yang langsung berangkat terlebih dulu, lalu aku menyusulnya setelah umi menyuruhku untuk salat. Umi menyodorkan tas kain berisi mukena kepadaku setelah aku berwudhu di kamar mandi yang tak jauh dari musala. Aku berterima kasih, lalu menunggu adikku yang sedang salat selesai melaksanakannya, karena sajadah yang tersisa hanya sajadah mini. Padahal musala itu tidak ada karpet yang tergelar. Jadi, aku terpaksa menunggu adikku selesai salat.

Sehabis salat, aku membuntal mukena dan memasukkannya kembali ke tas kain tanpa melipatnya. Untuk ini, jangan ditiru, karena saat itu aku terburu-buru, takut ditinggal oleh orangtuaku.

“Ini mau makan siang apa?” tanya umi kepadaku. Aku mengangkat bahu, dan berkata aku sedang tidak nafsu makan nasi.

“Itu ada konter bakso, aku beli bakso aja ya!” pintaku, menunjuk konter bakso di ruang makan yang terbuka.

“Ya udah, beli bakso aja. Beli tiga, ya!” kata umi, yang sudah mengambil piring dan siap mengambil banyak macam makanan yang terhidang di atas meja. Ruang makanan itu menyajikan makanan secara prasmanan yang dapat diambil secukupnya oleh para pengunjung, lalu membayar sesuai dengan hidangan yang diambil oleh pengunjung.

Menurutku, setiap porsi bakso yang dijual disana teramat besar. Aku dan kakakku bisa menghabiskan porsi sebanyak itu, namun tidak mungkin adikku bisa menghabiskan satu porsinya saja. Kata umi tidak mengapa, kalau tidak habis biar umi sajalah yang makan. Aku sempat bertanya pada penjaga konter bakso, bisa tidak mengurangi isi porsi, namun doi tampak bingung dan tidak menjawab apapun.

Ada kejadian lucu saat aku dan kakakku membeli bakso sebanyak tiga porsi untukku, doi, dan adikku. Penjaga konter bakso sedang menyiapkan bermangkuk-mangkuk bakso, yang begitu selesai, hendak kuambil.

“Jangan, pesan di kasir dulu,” ujarnya.

“Pesan di kasir?” aku bertanya konyol.

“Iya, pesan dulu,” jawab penjaga konter.

Aku memberikan uang yang diberikan umi untuk membayar bakso. “Bukan bayar disini, bayar dan pesan di kasir,” kata penjaga konter bakso itu. Aku bertambah bingung dan akhirnya menghampiri umi. Umi menunjuk konter penjualan di belakangnya. Rupanya, itulah kasir yang dimaksud. Olala… Aku menertawai diriku sendiri, bersikap begitu konyol seperti itu.

“Pesan bakso tiga porsi,” ujarku kepada penjaga konter penjualan. Penjaga yang berkacamata itu sigap menulis sesuatu di sebuah bon penjualan lalu menyerahkan bon itu kepadaku beserta uang kembalian setelah aku mengulurkan uang untuk membayarnya.

Bon itu kuberikan kepada penjaga konter bakso, lalu kami mendapat masing-masing tiga mangkuk bakso. Aku sempat memarahi adikku karena membawa mangkuk yang nyaris penuh dan panas itu. Bisa tumpah kalau begitu. Kubilang,

“Bakso Arun sudah kutaruh di meja, mangkuknya jangan dibawa Arun, kan panas, kalau nggak kuat bisa  jatuh!” omel seorang kakak yang bijak namun sayangnya dapat membuat adiknya menggigil ketakutan.

Aku melahap baksoku dengan penuh semangat, sambil mengobrol dengan keluargaku yang menyenangkan. Abiku pernah melontarkan lelucon konyol yang membuat beberapa siswi SMP yang mungkin sedang study tour dan sedang duduk di meja belakang kami terkikik mendengar leluconnya. Lalu aku meminjam Lenovo umi dan berselfie dengannya, dengan beralasan foto-foto yang kubuat itu untuk dokumentasi. Padahal, sebelumnya umi sebenarnya melarangku meminjam Lenovonya saat aku berkata aku ingin selfie. Hehehe…

Aku melihat makanan yang diambil keluargaku. Abi mengambil nasi, lauk pauk sekedarnya dan botok lamtoro yang katanya benar-benar enak. Aku menelan ludah melihat botok yang menurutku tidak enak itu. Kalau umi, makanan yang diambilnya nyaris sama dengan abi. Kalau makanan kakak dan adikku, kalian sudah bisa menebak, bukan?

Sambil makan, aku melihat-lihat suasana sekitar. Ada rombongan study tour siswa-siswi SMP. Melihat rombongan mereka, aku menyeletuk, kenapa siswa perempuan lebih banyak dibandingkan siswa laki-laki. Bahkan, dari hasil pengamatanku, siswa laki-laki yang lewat tidak kurang dari lima.

Setelah makananku habis, dan makanan umi serta abi belum sepenuhnya habis, aku beranjak.

“Umi, aku ambil foto-foto di tulisan Kampung Coklat dulu, ya!” rengekku, “buat dokumentasi. Trus mau ke gallery sebentar buat beli oleh-oleh…”

“Nanti aja barengan. Umi juga mau foto-foto sama ke gallery, kok,” kata umi menolak. Kalau umi memang betul-betul buat dokumentasi perjalanan homeschooling kami, bukan hanya sekedar pamer sepertiku. Hehehe…

Setelah semua makanan habis, kami pergi untuk foto. Aku dan kakakku berebut selfie di depan tulisan Kampung Coklat. Setelah kami puas selfie, wefie, dan memotret, yang separuhnya umi meminta seseorang untuk memotret kami, aku bergegas berkata pada umi,

“Aku duluan ke gallery, ya, Umi!” pintaku. Umi mengangguk singkat.

Menggotong tasku yang superberat, aku berlari menuju gallery dalam yang dipenuhi pengunjung. Aroma coklat menghambur mengenaiku saat aku berjalan memasukinya. Aku merasa sangat bahagia berada disini, dan juga, hendak membeli oleh-oleh untuk ketiga sahabatku dengan uangku sendiri.

Biasanya, aku tipe pemilih dalam memilih barang yang ingin kubeli. Namun kali ini aku tidak begitu lama memilih. Dua kotak coklat (kali ini aku melupakan salah satu sahabatku, dan kemudian aku berlari terbirit-birit kembali ke gallery ini lagi untuk membeli satu kotak coklat lagi. Namun sayangnya aku salah membeli dan malah membeli coklat yang berbeda namun berharga sama. Tetapi, tidak apalah) dan empat gantungan kunci siap di tanganku. Saking sibuknya memilih coklat untuk para sahabatku, aku sampai melupakan diriku sendiri. Betapa sedihnya saat aku pulang, karena tidak punya cadangan coklat yang bisa kumakan diam-diam. Tidak, tidak, tentu saja aku tidak akan melupakan adikku. Kalau kakakku, mungkin tidak. Hehehe…

Setelah membayar dengan bangga karena membayar dengan uangku sendiri, kami pergi menuju halaman Kampung Coklat, duduk bersantai disana sambil menunggu para keluarga yang lain datang sebelum tibanya waktu kami untuk segera pergi ke stasiun.

“Itu pohon kakao?” kudengar abi bertanya pada salah satu ayah.

“Iya.”

“Berapa?”

“Satu, dua ribu. Umurnya lima bulan.”

“Beli pohon kakao, yuk!” ajak abi kepadaku dan adikku. Aku yang sekali itu tumben sedang pemurah, berbaik hati menghadiahkan uangku sebanyak sepuluh ribu untuk membeli lima buah pohon kakao. Terburu-buru karena sebentar lagi menjelang jam tiga, kami berjalan cepat menuju area pohon kakao dijual dalam banyak sekali polybag.

Aku pergi ke kasir setelah mendapat informasi dari seorang petugas, lalu membayar dan mendapat bon. Bon itu kuberikan kepada seorang petugas yang langsung memasukkan lima buah polybag pohon kakao ke dalam sebuah plastik berlogo Kampung Coklat.

 

 

-Bersambung-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Backpackeran di Kampung Coklat -3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s