Les Petits Chefs

Kabut putih menyelimuti Perumahan Jingga Biru yang berada di kaki pegunungan pada waktu pagi. Angin dingin berhembus perlahan, membuat setiap orang yang merasakannya menggigil kedinginan. Termasuk seorang gadis yang baru bangun pagi di kamarnya, yang berambut asli lurus namun karena baru bangun tidur rambutnya tampak kribo berantakan.

“Ini hari yang kutunggu-tunggu!” senandungnya.

“Siap?” kepala seseorang nongol dari ambang pintu. Dia adalah sepupu gadis kribo itu.

Sebelum aku terlalu banyak bercerita, sebaiknya aku memperkenalkan diri mereka berdua.

Gadis berambut kribo yang sebetulnya berambut lurus sedikit bergelombang itu bernama Tessa Latifah Husein, sementara sepupunya bernama Nataya Hinata. Mereka berdua tinggal bersebelahan, dan bersekolah di tempat yang sama.

“Aku mengucapkan selamat dengan sangat tulus karena kau terpilih menjadi salah satu diantara sepuluh anak yang dipilihmengikuti lomba memasak itu!” Nata masuk sambil menggerinjingkan semua kaleng yang diikatkannya pada pinggangnya, berupaya agar penampilannya dilihat Tessa hampir sebagai drummer terkenal Vagio Hagancy.

(Um… aku yakin pasti kalian tidak pernah mendengar nama Vagio Hagancy karena ini adalah drummer terkenal ciptaan penulis sendiri.)

Memang, Tessa termasuk diantara sepuluh anak yang dipilih oleh guru memasak di sekolah mereka untuk mengikuti lomba antar sekolah ini. Nilai memasaknya yang paling bagus di kelas, dan nantinya dia akan pergi bersama sembilan anak lain ke SDA Ternat Hijau menaiki bus untuk mengikuti lomba memasak yang diadakan selama tiga hari dua malam tersebut.

“Trims dengan ucapanmu yang tulus itu,” jawab Tessa.

“Sebagai tanda terima kasih, kalau kamu menang berikan sekitar sembilan puluh persen hadiahnya kepadaku, ya. Sebagai penyemangat, aku kan juga harus dapat bagian,” Nata mengibaskan rambut panjangnya –yang sayangnya belum dikeramas sehingga tercium bau tidak sedap.

“Ada maunya aja kamu ini, Nat,” gerutu Tessa sambil menjitak kening Nata –sambil menutup hidung tanda telah tercium bau tidak sedap.

Berbekal ransel berisi celemek dan buku resep andalan bunda, Tessa sudah siap. Dia juga sumringah karena hari ini ada ulangan IPA yang sebetulnya tidak begitu disukainya, namun tentu saja harus dipelajarinya karena itu adalah pelajaran yang berguna suatu saat nanti, dan karenanya dia jadi tidak mengikuti ulangan.

“Kalian sudah siap untuk berangkat? Tess, sudah kaubawa celemekmu?” sebuah kepala melongok dari ambang. Itu kakak Tessa, yang bernama Kak Radith yang berumur delapan belas tahun dan tentu saja sudah memiliki SIM.

“Yap!” jawab Tessa dengan bersemangat. Kak Radith segera menariknya menuju motor scoopy mungil kesayangannya.

 

Bus berjalan pelan meninggalkan SDA Ternat Hijau. Bus berwarna hijau muda itu ditumpangi oleh sepuluh anak dengan beberapa pendamping serta sopir yang akan membimbing mereka dalam acara lomba memasak antar sekolah yang diadakan oleh pemerintah.

Tessa mengambil tempat duduk di salah satu dari empat bangku di bagian terbelakang bus bersama dua orang anak laki-laki yang sibuk bersenda gurau riang dan seorang anak perempuan berkerudung yang sedang memelototi sebuah buku resep seafood yang tampak sangat lezat sehingga perut Tessa berkeriuk.

“Salam kenal, aku Tessa dari kelas 6B. Boleh berkenalan?” tanya Tessa, sedikit ragu, menyorongkan tangannya.

“Ah! Tentu saja. Namaku Alifiatuz Radyla Nandara Latif, hampir semua anak mengenalku karena namaku yang cukup rumit. Dan panggil saja aku Radyl. Aku dari kelas 6C, berarti bersebelahan, bukan? Namun sepertinya aku tidak pernah melihatmu,” kata anak berkerudung, yang rupanya, dibalik penampilannya yang anggun dan salihah, ternyata sangat cerewet dan tomboi itu. Panggilannya saja Radyl, bagaimana bisa tidak tomboy?

“Mungkin karena kita tidak akrab,” jawab Tessa asal.

“Kamu hendak memasak apa di kompetisi nanti, Tess?” tanya Radyl.

Tessa merogoh tote bag rajutnya dan memeriksa buku resep andalannya, yang selalu dibawanya jika pergi ke kelas atau seminar memasak. “Hm, mungkin aku ingin memasak apple pie dengan sentuhan lemon juice, daun mint dan sedikit ceri untuk hiasan, biar imut,” katanya, berpikir-pikir.

        “Kenapa nggak tambahin kacang polong juga? Pasti kan serasi sama kamu, sama-sama kurus, pendek…” 

Tessa berputar dan menaikkan alis.Remarquable

 

 

BERSAMBUNG

PS: Terbit baru setiap hari Jum’at Insyaa Allah 🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s