Dari Debet Sampai Buku Baru

Selamat pagi, guys, sekarang aku ingin menceritakan pengalamanku di toko buku kemarin Sabtu. Memang sudah #latepost, ya, tapi aku sudah terlanjur berjanji hendak menulis pengalamanku waktu itu pada abi. Soalnya, kalau aku tidak berjanji menulis posting tentang pengalaman itu, abi nggak akan mengantarku ke toko buku juga ATM.

Kemarin Sabtu memang hari yang spesial. Itu adalah hari pertama aku mengambil uang rekeningku melalui ATM juga hari pertama aku membeli komik Miiko yang sudah lama kuidam-idamkan.

Mungkin mengambil uang rekening memang hal biasa, tapi sejujurnya sejak pertama aku membuat rekening (tahun lalu, red), aku memang belum pernah mendebetnya sekalipun kecuali untuk mentransfernya ke rekening lain.

Dan Miiko… baru kemarin aku bisa membelinya. Waktu-waktu lalu pikiranku terlalu penuh dengan ingin membeli buku yang lain.

Aku, abi dan adikku berangkat antara jam sepuluh sampai jam sebelas. Sebelum ke Togamas, kami berhenti di sebuah ATM BNI. Dengan bersemangat aku langsung menyorongkan tangan meminta kartu ATM BNI Taplus Anak-ku kepada abi. Kartu itu memang disimpan abiku, aku masih belum bisa dipercaya untuk menyimpannya T^T

Setelah mengambil uang sebanyak 100.000, kami langsung berangkat kembali ke Togamas dan tanpa basa-basi kembali aku berlari menuju dalam Togamas. Setelah mengambil terlebih dulu dompet dari dalam tas, aku menitipkan tas beserta jaket abi dan adikku di tempat penitipan.

Kini aku berbekal uang 150.000. Sebelumnya aku memang sudah menyimpan uang 50.000 yang diberi simbah beberapa saat sebelum berangkat umroh bersama pakdeku di Bandara Juanda, Surabaya.

Aku mengingat-ingat daftar buku yang hendak kubeli dalam pikiranku, lalu pergi ke salah satu computer untuk mencari ada gerangankah buku-buku itu di toko buku ini atau tidak.

Sayang, hari itu juga hari anti-keberuntunganku. Lagi-lagi tidak ada satupun buku Raditya Dika yang kuidolakan di Togamas. Apa rakyat Malang sebegitu menyukai bukunya sampai acap kali aku pergi ke Togamas aku tidak menemukan satupun?

Lalu aku mencari buku kedua Aurelia Prinisha Madjid. Aku tidak tahu apa judul bukunya, jadi kutuliskan saja nama Aurelia itu. Tapi yang muncul hanyalah judul bukunya yang pertama, dan itupun sudah habis. Lagipula aku juga sudah punya.

Akhirnya aku mulai berkeliling mencari buku. Aku mampir ke rak komik terjemahan Jepang juga dan mulai memilih dari sekian banyak Miiko yang ada. Awalnya aku ingin memilih nomor 27, tapi kemudian aku memutuskan untuk mengambil Miiko nomor 13 saja tanpa ada maksud khusus membelinya. Mungkin karena covernya adalah Miiko dan Tappei berjualan pizza. Kan, lumayan enak kalau saat puasa lihat Miiko bawa kotak pizza yang menggiurkan… #eh

Lalu aku memilih buku untuk adikku. Kuambil buku Fantasteen Junior the Series yang pertama diterbitkan, namun alu lupa judulnya. Lalu aku teringat abiku hendak ulang tahun hari Seninnya, yaitu hari pertama mulai puasa. Aku mencari abiku dan menemukannya sedang melihat-lihat komik-komik buatan Mice, Haryadhi, Lala, vbi djenggoten, dan pokoknya komik-komik yang ada di rak tersebut. Aku kemudian ngeloyor ke rak itu saat abi sudah tidak ada dan mengambil sebuah buku yang menarik perhatianku: Indonesia Banget! karya Mice.

Awalnya aku juga mempunyai pemikiran tentang buku pilihanku sejak dulu, yaitu Catatan Harian si Olin yang kedua karya Ali Muakhir. Aku sudah punya yang pertama, dan menurutku yang ketiga tidak begitu menarik, namun alhasil, Catatan Harian si Olin yang kedua (yang kucari, red) tidak ada dimanapun. Di lantai satu dan lantai dua, yang ada hanyalah Catatan Harian si Olin yang pertama dan ketiga.

Setelah memilih buku-buku, dan mengembalikan yang terlalu mahal, akhirnya aku sudah memilih beberapa buku luar biasa bagus: Fantasteen Junior, Indonesia Banget!, Faith and The City karya pasutri Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, serta buku komik Miiko ep 13.

Seusai memilih buku, aku turun ke bawah dan segera membayar buku-bukunya sendiri. Tapi abi tidak turun-turun juga, jadi aku dengan agak takut kembali ke atas. Bukan takut karena aku Acrophobia (nggak kok aku nggak Acrophobia), tapi karena aku takut di-misunderstanding oleh para pegawainya. Masa setelah beli naik lagi? Bisa-bisa aku dikira menyelundupkan buku gelap.

Jadi, begitulah pengalamanku. Fotonya mungkin akan ku-upload saja di IG dan di FB, karena sejujurnya sampai sekarang aku belum memotret buku-buku itu padahal biasanya aku suka narsis.

 

 

PS: Maaf cerbungnya belum bisa kulanjutkan. Kalau sempat ya :’>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s