Dari Sabang Sampai Merauke

Sekitar dua minggu atau tiga minggu yang lalu, ada yang spesial di pramuka kami.

Soalnya, ada beberapa keluarga Homeschooling yang sedang berjalan-jalan bareng dan mampir di Malang. Mereka adalah keluarganya Bu Ade dan Bu Mella, dengan tour guide dari Surabaya, yaitu Bu Shanty serta keluarganya tapi dikecualikan suami beliau.

Awalnya umi berkata kalau mereka mampir di rumah, tapi tidak jadi. Makanya aku kaget saat melihat mereka ada di Rampal, padahal kukira mereka tak jadi mampir di Malang.

Pertamanya sih kami biasa saja. Pramuka dilakukan seperti biasa bersama Kak Totok untuk Penggalang dan Kak Gatot untuk Siaga. Tentu saja, karena aku sudah remaja, aku masuk tim Penggalang bersama kakakku, Nahlah, Salim, Farrel dan juga Raka. Hari itu sayangnya Mbak Fitri tidak masuk padahal ada tamu special yang datang.

Kak Totok memberi tugas untuk menulis apa saja yang didiktekan beliau. Aku selesai pertama kali. Tak lama, mataku menangkap Aza, putra Bu Ade, dengan adiknya. Mereka tampaknya baru sampai dan Bu Ade sedang menyapa para ibu yang duduk sambil mengobrol di salah satu tenda.

“Ada Aza,” kataku sambil mengerling pada kakakku. Serentak semua anak menoleh.

“Siapa? Temanmu?” tanya Kak Totok. “Ajak bareng aja sini, belajar bareng!”

Sejujurnya aku agak malu dengan sikap Kak Totok yang terlalu terbuka, tapi aku diam saja. Kak Totok melambaikan tangan mengajak Aza dan adiknya bergabung. Mereka tertegun sejenak namun kemudian masuk dalam lingkaran kami di tenda. Kemudian Husayn, putra Bu Mella, menyusul.

Seperti sudah lama kenal, Kak Totok langsung mengajak mereka bertiga mengobrol. Aku melihat saja, sementara anak yang lain (terutama anak laki-laki) masih menyelesaikan tulisan mereka.

15 menit kemudian, pramuka hari itu selesai. Kak Totok memimpin doa dan kemudian kami bubar. Aku, anak-anak pramuka juga tamu-tamu itu langsung akrab. Aku sudah pernah bertemu dengan Aza sebelumnya di Kamtasia. Dia adalah salah satu pencipta badmood-ku pada salah satu malam disana bersama Rio dan Raka. Kalau Husayn, aku cuma tahu namanya. Tapi berkat sifat easygoing Aza yang terbuka kami semua langsung akrab.

Kami mengobrol tentang banyak hal.

Ada soal Rio yang kami anggap pembual, Raka dengan kelima mantannya, pacar Aza, dan sepupu Nadia, putri Bu Shanty. Oya, aku belum bilang kalau Aza dan Husayn bersama keluarganya sekarang menginap di rumah keluarga Bu Shanty yang berada di Surabaya. Mereka di Malang untuk bertemu dengan keluarga homeschooling dari Malang juga jalan-jalan ke Museum Angkut.

Kakakku mengeluarkan sebuah bola tenis dari tasnya kemudian kami bermain lempar bola dengan bola tersebut. Salim menghilang kemudian muncul dengan sepedanya dan meluncur di rerumputan di Lapangan Rampal yang sedang kami tapaki.

Saat itu ada kejadian lucu. Saat kami sedang asyik-asyiknya mengobrol, Zaki, salah satu anak homeschooling dari Malang, mendadak jongkok di tengah jalan. Eee, kemudian air mengucur membasahi celananya. Dengan santainya dia berkata,

“Pipis,” celotehnya.

Serentak anak-anak di dekat situ langsung menjerit dan tertawa-tawa melihatnya. Aku bergegas pergi mencari ibu Zaki di antara ibu-ibu yang sedang meet up di tenda. Ibu Zaki terperanjat dan bergegas membawa Zaki pergi. Namun kemudian karena beliau tidak membawa baju ganti untuk Zaki, Zaki terpaksa kembali. Sontak anak-anak pun menjauh karena tidak ingin terkena najis.

Aku dan Aza sama-sama ‘fotografer’. Dia membawa kamera juga sepertiku. “Lihat kameramu dong,” katanya kemudian kami bertukar kamera. Aku mencoba kamera Aza namun tidak bisa menggunakannya karena aku tidak biasa dengan jenis kamera manual seperti miliknya.

“Suka motret ya?” tanya Husayn. Jelas dia tidak tahu karena kemarin dia tidak ikut Kamtasia. Aku mengangguk.

Anak-anak laki-laki mulai showdown. Mereka memanjat sebuah pohon besar dan bergaya seperti Tarzan disana. Pohon-pohon disana memang besar, begitupula cabang-cabangnya.

Lama bermain, sudah waktunya ‘pramuka yang bukan pramuka alias tetemuan homeschooling’ itu selesai. Para ibu beranjak dan saling berpamitan dengan cara cheek kiss. Aku melambai pada Aza dan Nadia, dan melakukan highfive dengan Husayn.

Hari itu menyenangkan sekali. Saking menyenangkannya kami baru pulang jam satu dan segera buru-buru shalat Dzuhur.

 

PS: Aku mau cerita pengalamanku. Jadi, begini ceritanya.

Kemarin, aku hendak membuat susu putih. Karena nggak tahu susu putihnya disimpan dimana, akhirnya aku terus mencari dan akhirnya menemukan sebuah toples besar dengan bubuk putih di dalamnya. Aku menuang beberapa sendok ke gelas dan mengisinya dengan air. Anehnya, bubuk itu sebagian tidak tercampur rata dan malah menggumpal di permukaan.

Kucicipi sedikit menggunakan sendok. Rasanya pahit dan kental. Completely contrary to who dreamed of white milk.

“Ampuuun, terigu!”

Kenapa aku bisa lupa, ya? Padahal, aku sendiri yang mengisi toples itu dengan terigu.

Akhirnya aku bisa menikmati segelas susu putih setelah Arunia memberitahuku kalau susunya disimpan di kulkas.

3 thoughts on “Dari Sabang Sampai Merauke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s