KPCI -1-

Mulai aku mengetik tulisan ini adalah jam 5:28. Aku baru selesai makan dan kini sedang bermain laptop. Aku masih menunggu waktu lebih dekat untuk berangkat ke bandara nanti. Paling tidak jam enam atau jam setengah tujuh aku berangkat agar tidak telat check-in disana.

Aku berangkat sendirian, in the case if you ask me that. Aku ingin mencoba mandiri (mandi sendiri) dan mencoba bergantung pada kemampuanku sendiri di bandara nanti.

Aku juga ingin menguji keberanianku di sekian banyak orang asing yang tidak kukenal. Apalagi nanti aku akan turun di Bandara Soekarno Hatta tempat 300.000 orang naik turun disana. Katanya, Bandara Soekarno Hatta juga merupakan bandara ke-8 tersibuk di dunia. Bisa dibayangkan, bukan, aku berdiri termangu dengan koper dan ranselku selagi orang lalu lalang di sampingku dan cekikikan melihatku yang merasa aneh di sekian banyak orang seperti ini.

Sebenarnya aku tidak ingin menulis, hanya saja aku sedang menunggu download dan akhirnya aku harus pasrah membunuh rasa bosanku dengan menulis walau aku hanya menulis coretan-coretan tak berguna.

Aku sudah tak sabar sekali. Bertemu dengan teman-teman sebayaku disana, terutama Niswah. Kami punya banyak kesamaan semenjak kami ngobrol bareng di FB. Kami sama-sama punya hobi yang sama dan punya idola yang sama.

Mungkin tulisanku terdengar datar, tetapi gaya tulisanku memang seperti ini. Datar dan dingin. Sebetulnya aku sudah tak sabar to death buat ikut KPCI 2016 ini. Walaupun aku ngerasa agak khawatir dan dag-dig-dug juga buat lomba menulisnya nanti. Aku memang belum latihan sama sekali walau dari kemarin orangtuaku sudah mengingatkanku terus untuk berlatih agar tangan tidak capek di KPCI nanti. Tapi ya, aku malas banget buat latihan. Namanya juga aku.

Hari ini adalah hari Rabu jam 11:24 PM, tepat pada saat aku mengetik tulisan ini kembali.

Aku ingin menceritakan pengalamanku dari awal sampai sekarang aku mengetik.

Jadi, aku berangkat menuju bandara Abdurrahman Saleh sekeluarga menggunakan mobil. Setengah jam kemudian kami sampai di bandara dan segera menurunkan barang-barangku sesegera mungkin. Koper, tas ransel dan sebuah kardus oleh-oleh besar. Sebelumnya dalam perjalanan menuju bandara, umi telah membeli sekotak Malang Strudel untuk melengkapi oleh-oleh.

Waktu check-in pesawat yang hendak kutumpangi telah dibuka. Aku berpamitan pada seluruh keluargaku dan segera memasuki bandara. Dengan gugup aku berjalan menyeret koperku dan mengangkatnya masuk ke dalam mesin sensor. Kemudian aku berjalan pula melewati mesin sensor. Jujur saja, ini pertama kalinya aku naik pesawat dan sendirian, lagi. Aku menghampiri stand Sriwijaya Air yang antriannya cukup panjang dan aku segera bergabung dengan mereka dalam antrian itu.

“Kartu pelajar? Atau KTP? Tanda pengenal?” tanya petugas sambil mendongak menatapku dan tiketku di tangannya.

Aku menggelengkan kepala.

Petugas perempuan itu saling berpandangan dengan petugas di sampingnya yang hanya mengangkat bahunya dengan bingung. Kemudian aku teringat sesuatu dan meminta petugasitu menunggu sejenak. Aku merogoh tas transparanku dan mengeluarkan kartu pelajar buatan abiku. Untuk kesekian kalinya dalam hidupnya aku merasa sangat bahagia mempunyai seorang abi yang cerdas seperti abiku. Awalnya aku memang menentang saran abiku untuk membuat kartu pelajar karena buatku kartu pelajar harus dibuat oleh diknas resmi. Namun abi tetap memaksaku membawa kartu pelajar itu yang ternyata memang berguna pada akhirnya.

Mereka menimbang bagasiku berikut kardus oleh-oleh. Setelah menerima boarding pass, aku segera pergi menaiki eskalator yang mengarah menuju ruang tunggu.

Setelah melewati mesin sensor sekali lagi, aku berjalan mengedarkan pandangan sekeliling ruang tunggu dan mengambil tempat duduk di depan gate 2 seperti yang tertulis di boarding pass-ku.

Lama sekali aku menunggu hingga jam di ruang tunggu itu menunjukkan angka setengah delapan. Sepuluh menit kemudian dua orang petugas datang dan membuka pintu gate.

Segerombolan orang langsung berdiri dan berjalan mengerumuni pintu gate itu, berbaris tak teratur di depan pintu gate sementara satu persatu masuk setelah diperiksa sedikit oleh petugas.

Pertama kalinya aku melihat pesawat dari dekat. Tak sebesar yang kukira, dan itu wajar. Aku berjalan menaiki tangga pesawat dan mencari kursi 31A. Aku menemukan sebaris kursi dengan nomor 31 yang bagian tengah (B) sudah ditempati oleh seorang pria tua yang sedang membaca majalah. Aku mengucapkan permisi dan menanyakan keberadaan kursi 31A. Pria tua itu menunjuk bagian di samping jendela dan menyilakanku melewatinya untuk duduk.

“Biar saya masukkan tasnya ke bagasi,” tawar pria tua itu ramah. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum dan meletakkan sendiri tas ranselku di bagasi.

Aku duduk dan menunggu pesawat lepas landas. Tak lama, terdengar suara pengumuman kalau sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Pesawat berjalan sedikit namun kemudian berhenti cukup lama. Kemudian pesawat berjalan lagi dan berhenti. Itu terjadi beberapa kali. Sampai berhenti cukup lama dan tak berjalan lagi. Tak tahunya, pesawat delay. Selama lebih dari satu jam.

Saat pesawat terbang, aku langsung menikmati pemandangan yang ada di luar jendela. Langit tampak sangat luas dan awan-awan putih berbentuk layaknya kapas.

Kukeluarkan kamera andalanku yang langsung kubuat untuk memotret pemandangan.

Dua orang pramugari pesawat datang membawa troli berisi tumpukan kantong kertas. Aku memandang kantong kertas itu dengan wajah lapar. Tahu saja mereka kalau aku sedang berada di ambang pintu kelaparan kali itu.

Setelah mendapat jatahku, aku segera melahap roti dan air minumku dengan perlahan. Rotinya sangat enak, kucubit sedikit-sedikit dan kumakan pelan agar tidak cepat habis. Aku mengutuk diriku sendiri kenapa tadi lupa membeli makanan di bandara. Aku melanjutkan waktuku setelah itu dengan membaca majalah yang ada di masing-masing bangku sampai pesawat sampai di Bandara Soekarno Hata.

Bandara itu sangat besar, aku berdecak kagum melihatnya. Jauh sekali dengan bandara Abdurrahman Halim yang ada di Malang. Setelah pesawat berhenti, kami menunggu sampai pintu pesawat dibuka. Setelah dibuka, segerombolan orang keluar dari pesawat membawa barang2 masing2, termasuk aku yang menggotong ransel beratku di punggung.

Aku bergegas pergi menuju pengambilan bagasi. Menunggu koper dan kardus oleh-oleh yang kubawa rasanya memakan setengah jam. Mana Pakde Limi dan Mbak Nisa kabarnya sudah menunggu di depan pintu gate, sementara aku kelimpungan mengingat apa warna kardus oleh-oleh yang kubawa tadi. Soalnya, setelah mengambil koper merahku, aku lupa apa warna kardus oleh-oleh titipan umi tadi. Alhasil aku harus menelepon umi terlebih dulu untuk mengetahui warna kardus oleh-oleh tersebut.

Di depan pintu gate, Pakde Limi muncul bersama Mbak Nisa. Aku merasa bersalah karena mereka pasti sudah menunggu teramat sangat lama. Pesawat delay ditambah pengambilan bagasi. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala sambil mengucapkan maaf kepada Pakde Limi dan Mbak Nisa.

Kami naik mobil ke Royal Safari Garden. Sepanjang perjalanan aku tertidur, bahkan saat Pakde Limi dan Mbak Nisa mengajakku makan di warung. Aku menolak karena aku ingin tidur. Di pesawat aku tidak bisa tidur karena terlalu greget dengan perbedaan gravitasi yang membuat telingaku sakit luar biasa. Pantas abi bilang ia tidak suka naik pesawat. Kalau bagiku, memang tidak enak dengan telinga, tapi perjalanannya cukup menyenangkan. Aku harus ingat lain kali untuk membeli permen karet untuk mengatasi sakit telinga itu, seperti yang kubaca di buku-buku traveling di rumah.

Sampai di Royal Safari Garden, kami menurunkan koper dan ransel di ballroom. Setelah itu kami berpisah, karena aku yakin aku tidak mungkin tersesat di tempat yang pernah kukunjungi dua kali. Apalagi bersama teman-temanku yang sudah kukenali. Aku segera mengecek kelompokku (Kelompok Sali) dan meletakkan koper di rombongan kelompok kak Taufan, kakak LO-ku. Aku bertanya pada seorang kakak LO terdekat tentang apa yang harus kulakukan sehabis itu. Belakangan aku tahu kalau kakak LO yang kutanyai dua kali itu adalah kakak LO kelompokku sendiri, hanya saja aku waktu itu masih kudet dan sok kenal jadi nggak tahu kalau itu Kak Taufan.

Aku pergi ke hall untuk registrasi. Kakak LO kelompok sebelah, kelompok Saliha, yang menerimaku soalnya kak Taufan sedang berjaga di ballroom depan.

Sehabis registrasi dan menerima tas selempang berisi fasilitas KPCI 2016, aku pergi mengantri untuk memeriksa kesehatan. Disana aku bertemu Niswah.

“Niswah!” sapaku.

“Haai, Zahra!” sapa Niswah balik.

“Udah lihat kelompok?” tanyanya. “Sayang ya kita ga sekelompok.”

“Iya, sayang banget. Tapi aku sekelompok sama Kesya,”

Aku sangat gembira bisa bertemu dia pertama kali. Aku sudah menunggu-nunggu untuk bertemu dengannya sesama maniak KPOP yang syar’i namun kurang ajar.

Setelah mengobrol banyak dan bertemu dengan banyak teman lain, aku pergi untuk makan siang. Padahal aku belum memeriksa kesehatan saking panjangnya anak yang ingin memeriksa kesehatan mereka untuk dicatat. Tapi karena kakak LO yang membimbing kami untuk makan siang lama berangkat, jadinya aku kembali saja dan kembali mengantri (apa ada yang mengerti aku sedang bicara apa?)

Di hall aku kembali mengobrol dengan sesama anggota groupchat KPCI 2016. Sehabis itu kami duduk sesuai kelompok (aku ternyata sekelompok dengan Kesya. Dan belakangan aku tahu kalau aku juga sekamar dengannya. Mungkin sudah takdir). Malam itu, setelah pembukaan resmi yang dilakukan oleh orang kementerian, kami makan malam bareng dengan total anak aku, Kesya, Thiya, Khansa, Zaki dan Yoga. Entahlah anak yang lain kemana saja.

Setelah itu aku serta Kesya yang sekamar pergi dengan buru-buru ke depan Tiger Ballroom agar tidak ketinggalan ‘odong-odong’. Odong-odong yang kumaksud adalah semacam kereta kelinci yang membawa peserta dari ballroom menuju kamar. Untuk informasi, aku ingin memberi tahu kalau gedung Komodo (tempat kamar-kamar kami) dan Tiger Ballroom jaraknya teramat sangat jauh.

Tidak direkomendasikan untuk bolak-balik dari kamar ke Ballroom karena bisa membuat kakimu sakit dan dadamu juga sakit (bukan sakit hati, karena hati ada di perut).

Malam itu sangat menyenangkan. Jingga main ke kamarku dan Kesya selagi kamar kami berdekatan. Awalnya kami berencana untuk berlatih menulis bareng untuk besok pagi, namun tidak jelas kenapa kami tidak melakukannya. Diantara gegara sibuk mengobrol, otak belok dan jadi bingung mau menulis dengan tema apa. Akhirnya kami bertiga mengobrol dan bermain sampai jam dua belas hingga aku terlelap. Jam tiga aku terbangun dan melihat teve menyala.

Jingga sudah bangun dan sedang menonton sebuah channel musik. Aku mengucek mata dan melihat channel tersebut. Suara yang sering kudengar terdengar mengalun di telinga. Mataku langsung terbuka dan aku terjaga. Musik terdengar dari channel itu.

 

 

selpih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s