KPCI -2-

Jingga sudah bangun dan sedang menonton sebuah channel musik. Aku mengucek mata dan melihat channel tersebut. Suara yang sering kudengar terdengar mengalun di telinga. Mataku langsung terbuka dan aku terjaga. Musik Korea terdengar dari channel itu.

“Ini jam berapa?” tanyaku pada Jingga. “Jam tiga,” jawabnya. Ups, kami mungkin adalah anak yang tertidur paling malam dan terbangun paling pagi di hotel ini.

Bermacam-macam lagu kami dengarkan sampai acara itu habis. Aku mengeluh, seharusnya channel itu dibuka sehari penuh agar kami tidak bosan.

Sebelum matahari terbit, kami sudah siap dengan baju KPCI terpasang rapi di badan masing-masing. Lalu kami bertiga keluar untuk menjalani hari pertama. Aku, Kesya dan

Jingga sama-sama merasa deg-degan dengan lomba yang diadakan pagi ini, tapi juga deg-degan karena kami lapar. Kami pergi ke ruang makan jam empat pagi kalau tidak salah dan bahkan ruang makan belum dibuka.

Langit belum ada cahaya dan kami terpaksa menunggu di bawah tangga bersama Paulina, teman sekamarnya Jingga. Disana kami selfie dan wefie asyik dengan handphone Jingga dan Kesya juga menggunakan kameraku. Mereka berdua dengan teganya berebut mengisi kameraku yang malang dengan foto narsis mereka.

Lalu kami berempat sarapan pagi.

Setelah sarapan, kami berkumpul di depan ballroom selagi menunggu lomba dimulai. Disana bertemu Khansa, Danish, Ghiffari dan anak-anak cowok lainnya. Aku langsung sibuk mengisi biodata, bertanya sana-sini tentang nama dan asal muasal mereka untuk dicatat di buku.

Setelah ballroom dibuka, anak-anak KPCI langsung berombongan ke hall untuk memulai lomba. Awalnya aku duduk berdekatan dengan Kesya, Jingga, Thiya, dan Niswah, tapi karena perpindahan bangku Niswah terpaksa mendapat bangku beberapa baris dari kami berempat.

Kak Rama memberikan satu dua patah kata. Lalu para juri mengenalkan diri mereka. Aku mengenali kak Ichen (Dewi Cendika) dan Kak Ali Muakhir yang merupakan temanku di Facebook. Dan juga salah satu penulis idolaku dikarenakan tulisan beliau berdua yang bagus-bagus.

Lomba dimulai. Peserta bisa memilih dari tiga tema, yaitu:

  1. Anak Indonesia Cinta Damai
  2. Anak Indonesia Anti Korupsi
  3. Anak Indonesia Cinta Sesama

Aku memilih yang kedua, yakni Anak Indonesia Anti Korupsi. Mengapa? Karena aku sering baca koran dan juga berita tentang para pejabat yang menyalahgunakan uang negara untuk kepentingan pribadi dan foya-foya. Jadi aku yakin bisa menulis cerpen tentang itu dengan baik karena punya banyak pengalaman membacanya.

Selagi menulis, aku sesekali mengistirahatkan diri dengan bersenam di samping bangku dan menulis sambil tengkurap bersama Jingga di karpet, sesuai pesan kakak juri untuk menulis sesantai mungkin. Sesekali banyak orang yang memotret kami sibuk menulis di karpet, karena itu adalah rare photos. Pengalaman langka yang pernah kulakukan tahun lalu di tempat itu juga.

Setelah menulis, kami menyempatkan diri mengobrol karena juri juga telah memberikan waktu tambahan sampai jam 12 siang dikarenakan ada seorang peserta yang menangis karena takut tidak bisa mencapai waktu. Berarti total kami menulis pagi itu adalah lima jam kurang lebih. Aku, Jingga, dan Thiya sebagai kpopers asyik mengobrol tentang kpop. Termasuk ngobrolin gangnam. Sewaktu ngobrol gangnam, Niswah yang berada agak jauh dari kami meledek sekaligus memberi peringatan karena kami mengobrol tentang gangnam terlalu keras sampai dia bisa mendengarnya.

Aku dan Jingga berseteru tentang siapa yang lebih bagus, EXO atau BTS. Aku mendukung EXO sementara Jingga mendukung BTS. Kami meminta pendapat Thiya yang bukan fans salah satu dari mereka. “Aku lebih suka lagunya EXO, sih.” gadis itu cengengesan. Kakak Thiya, Thiti, adalah fans EXO. Mungkin karena itu dia ‘rajin’ juga mendengar lagu EXO gegara Thiti EXO-L.

Aku meleletkan lidah pada Jingga yang manyun.

“Lagu BTS lebih enak, gampang dihapal. Kaya Blood Sweet and Tears. EXO lagunya creep mulu, ngeri gitu,” katanya merendahkan.

“Biarinlah, yang penting bagusan EXO,” jawabku.

Juri mempersilakan peserta yang sudah selesai untuk keluar ballroom. Aku, Thiya, dan Niswah pergi meninggalkan Jingga yang belum juga selesai karena sibuk gonta-ganti kertas sedari tadi ditemani Kesya. Kami bertiga pergi ke kamar Niswah untuk melihat scrapbook EXO dan lain-lain yang dijanjikan Niswah untuk ditunjukkannya kepadaku tadi pagi. Di kamar Niswah, aku langsung ribut dengan scrapbook dan buku-buku tentang EXO yang dipunyai Niswah. Aku langsung segera meminjam salah satu buku (bukan scrapbook, Niswah melarangku meminjamnya karena terlalu berharga baginya). Jadi aku meminjam biografi EXO dan sifat mereka berdasarkan zodiak. Aku meminjamnya karena aku ingin melihat fakta-fakta EXO yang ada di dalamnya dan foto-foto mereka.

Lalu kami duduk-duduk di hall setelah makan nasi kotak, mengobrol bareng. Aku, Thiya, Niswah, Kesya, Jingga, dan Khansa. Aku dan Niswah sibuk mengobrol tentang betapa gantengnya Chanyeol di foto itu dan betapa Niswah menyadari kalau Chen itu sebenarnya lumayan wajahnya kalau sedang mood. Kami selfie, wefie, juga berfoto di photobooth yang disediakan pihak KPCI.

Lama mengobrol, kami harus berpisah karena kami harus berkumpul dengan kelompok masing-masing untuk berangkat ke Taman Safari menggunakan bus. Kelompokku, Sali, satu bus dengan kelompok sebelah, yakni kelompok Karin. Aku seharusnya bersyukur bisa bersama Kesya, Zaki (adik angkatku dan Kesya yang seimut bayi panda baru lahir namun kenakalannya sebuas singa betina), Lala dan Aura/Azzura alias Auzura, adiknya Badai, seorang peserta KPCI 2015 yang membuat sebuah lagu khusus yang dijadikan lagu resmi KPCI 216.

Aku juga menganggap Auzura adikku, aku sering sekali mencubit pipinya saking imutnya dia. Padahal dia sudah kelas 4 SD. Mungkin karena tubuhnya mungil dan imut. Perjalanan ke Taman Safari hanya sebentar, kira-kira setengah jam. Setelah sampai kami menonton para hewan dari dalam bus seperti biasa.

Setelah puas melihat hewan, bus sampai di icon Taman Safari, yaitu sebuah taman bermain yang besar. Kak Taufan dan Kak Santi membagikan gelang kertas sebagai tiket masuk kami. Setelah memakai punyaku, aku membantu teman-temanku yang tidak bisa memakai gelang kertas itu sendiri karena Kak Taufan dan Kak Santi juga sibuk memasangkan gelang pada teman-teman kami di belakang.

Kami turun dan berkumpul sesuai kelompok, lalu merencanakan bareng Kak Taufan kemana kami akan pergi pertama kali. Aku bosan kalau pergi ke kandang bayi hewan, jadi aku meminta untuk pergi ke rumah hantu saja.

Aku dan Kesya terdepan dan kami merangsek masuk ke dalam rumah hantu yang pernah kami kunjungi pula tahun lalu itu. Tak lama, gelang kertas kami sudah dicoret dan kami naik ke atas kereta terbuka bersama Zaki, mama Zaki dan adiknya. Kereta itu berjalan memasuki pintu yang langsung tertutup juga itu.

Belum apa-apa, Kesya langsung berteriak kencang dan mencengkeram lenganku sepanjang perjalanan. Aku biasa saja dan hanya menutup mata sesekali. Dalam hati aku menggerutu karena teriakan Kesya dan orang lain jauh di depan kami yang teriakannya terdengar sampai kereta kami. Tapi sebenarnya aku juga takut, apalagi disaat ada suara kuntilanak tertawa-tawa. Tapi karena sudah pernah kemari aku jadi tidak begitu takut lagi.

Setelah dari rumah hantu, aku dan Kesya berdebat. Kesya takut naik roller coaster dan dia ingin naik kapal berayun yang tepat di samping roller coaster. Sementara aku yang suka hal-hal ekstrim ingin naik roller coaster. Jadi kami berpisah. Aku naik roller coaster, dia naik kapal ayun. Aku mengantri di barisan antrean yang sangat panjang, di belakang Juan dan Auzan yang sepertinya juga ingin naik roller coaster.

Di belakangku ada turis sepasang suami istri dari Turki yang istrinya mengenakan cadar dan membawa sebotol air minum Club. Ada banyak sekali turis Turki disini, sepertinya mereka berombongan. Dan jujur, demi Allah, setahun lalu aku juga bertemu dengan sepasang suami istri bercadar seperti mereka saat naik kapal ayun bersama Sabrina, Shabrina, dan Laesya. Setelah berhasil melewati antrean dan dicatat gelang kertasnya, aku duduk di salah satu gerbong terdepan. Lalu seorang kakak LO datang dan duduk di sampingku.

Saat roller coaster berjalan, aku langsung berteriak sepuas-puasnya dan mengangkat kedua tanganku menikmati penerbangan seperti kakak LO disampingku.

Setelah itu, aku turun dan menemui Kesya yang menungguku bersama Thiya dibawah.

Selepas itu, aku dan Kesya berpisah dari kelompok karena memilih untuk bermain bersama geng kami yang terdiri dari aku, Kesya, Jingga, Thiya, Khansa, Danish, dan Ghiffari. Sebenarnya berpisah dari kelompok itu dilarang, tetapi kami nekat karena kalau bersama kelompok masing-masing pasti kaminya sendiri yang takkan puas nantinya. Dan Niswah tidak bersama kami, by the way.

Awalnya kami bertujuh ingin naik mobil air, tapi wahana itu ditutup selama 15 menit jadi kami memutuskan untuk naik bom bom car saja. Aku duduk di sebuah mobil berwarna ungu dan dengan lincah memutar-mutar roda pengemudinya sesaat setelah mesin dinyalakan oleh petugas yang berjaga. Dengan liar aku menjalankan bom bom car-ku, menabrak sana-sini. Menabrak Khansa, Kesya, Ghiffari, juga Danish. Sementara Thiya hanya diam termangu di mobilnya karena mesin mobilnya yang tak bisa menyala.

Kurang dari lima menit, permainan seru kami habis waktunya. Sambil menggerutu aku keluar wahana. Kami kembali ke wahana mobil air, namun karena masih ditutup, kami terpaksa kembali mencari kelompok masing-masing.

Aku dan Kesya tidak melihat Kak Taufan dan Kak Santi, jadi kami menitipkan tas di salah satu kakak LO dan pergi membeli jajan. Awalnya aku ingin beli pop mi, tapi karena harganya yang lebih mahal dari delapan beng beng aku terpaksa membeli es krim paddlepop walaupun cuacanya tidak meyakinkan untuk makan es krim. Sudah begitu harga es krimnya juga dua kali lipat dari harga es krim di dekat rumahku. Saat mengadu pada kakak LO, kakak LO itu hanya manggut-manggut sambil berkata,

“Tadi Kakak beli beng beng harganya juga 2 ribu, biasanya kan cuma seribu,” katanya.

Kami dan Kakak LO itu duduk di samping sebuah wahana ‘putar-putar’ yang tampaknya asyik. Aku mengajak Kesya ikut, dan dia setuju. Dia langsung menghabiskan es krimnya dan berlari kesana. Aku menyusulnya dengan es krim masih kukulum, belum juga habis walau aku sudah menggigit ujungnya pelan-pelan agar cepat habis.

Alhasil aku akhirnya menaiki wahana tersebut dengan es krim di mulut. Pilihan yang tepat karena permainan putar-putar itu tidak secepat yang kukira, malah membuatku mengantuk dan ingin tidur.

Wahana itu selesai. Aku melihat jam dan mengetahui kalau sudah jam empat kurang. Kata Kak Santi, jam empat kami harus sudah ada di bus.

“Nggak kok, kita pulang kira-kira jam setengah lima,” kata salah satu kakak LO saat kutanyakan.

Akhirnya selagi menunggu jam setengah lima, kami berputar-putar dan sampai di satu titik: pertunjukan gajah Sumatra yang akan dibuka. Namun karena bosan aku mengajak Kesya untuk pergi mencari bus kami. Dia setuju dan kami akhirnya duduk bersama Zaki, mamanya dan adiknya di halte bus khusus yang akan membawa kami ke tempat parkir bus. Setelah naik, kami berlari menuju bus dan menjadi orang pertama yang sampai di dalam bus nomor 3 dan diantara bus-bus yang lain.

Perjalanan pulang cukup lancar.

Sampai di Royal Safari Garden, hari sudah cukup gelap. Aku dan Kesya kembali ke kamar kami di Komodo 226 dengan kaki dan tubuh penat namun dengan hati gembira walau kurang puas dengan wahana yang sudah kami masuki. Aku masih ingin disana lebih lama lagi.

Malam itu cukup melelahkan pula. Ada pemilihan ketua KPCI 2016 yang hanya bisa diikuti oleh anak maksimal kelas 5 SD. Kandidat-kandidat diantaranya ada Auzan, Ayasha, Tania, dan Audi. Karena aku kurang puas dengan keempat-empatnya, setelah berpikir masak-masak aku menulis golput di kertas pemilihanku dan memasukkannya ke kotak. Aku dengan was-was menunggu pemilihanku diumumkan.

Ketua KPCI 2016, dari hasil voting, terpilihlah Tania. Sebelumnya pilihan golputku sudah diumumkan dan saat seorang anak bertanya di dekat kami siapa yang menulis golput itu, diam-diam Kesya menendang kakiku di bawah meja. Alhasil, aku balas menendangnya.

Sebelum tidur juga mengasyikkan. Kami mampir di kamar Thiya dan Khansa yang luas untuk minum soda bareng. Aku yang pernah ke kamar mereka sekali sebelumnya biasa saat memasukinya, namun Kesya dan Jingga yang belum pernah langsung berseru kagum melihat kamar mereka yang jauh lebih luas dibanding kamar kami, para rakjel yang malang.

Bila kalian bertanya, mengapa aku dan Kesya harus capek-capek minum soda di kamar Thiya dan Khansa sedang kami bisa minum di kamar masing-masing? Itu karena di kamar mereka terdapat kulkas yang bisa membuat soda kami lebih dingin. Kulkas itu rare di kamar hotel kami, Thiya dan Khansa beruntung mendapat kamar itu.

Tetapi pilihan kamar itu juga berdasarkan takdir, kamar mana yang kaudapat kamu harus ikhlas menerimanya.

Setelah puas mengobrol, kami kembali ke kamar. Jingga kembali tidur di kamarku dan Kesya karena Paulina teman sekamarnya menghilang beserta barang-barang dan kopernya.

Saat dilaporkan ke Kak Taufan, ia berkata kalau Paulina sakit. Karena diliputi rasa takut akhirnya Jingga tidur sekali lagi di kamar kami. Aku berpesan padanya untuk membangunkanku jam tiga agar bisa menonton channel musik seperti kemarin malam. Bisa jadi aku beruntung.

Namun itu tak pernah terjadi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s