KPCI -3-

Namun itu tak pernah terjadi.

Karena sudah lewat satu jam 47 menit.

Ya, saat aku bangun, jam menunjukkan angka 4:47 di bagian jamnya. Dan saat aku melihat kearah Jingga dan Kesya, mereka dengan menggelikan sedang tidur sambil berpelukan.

Aku terkikik geli sekaligus kesal melihat mereka berdua. Aku segera membangunkan mereka sebelum setan menyuruhku untuk memotret mereka dan dengan kejam meng-uploadnya di medsos. Kesya segera bangun tetapi Jingga, yang merupakan penumpang gelap di kamar kami, dengan santainya tetap molor di ranjang. Akhirnya aku menyerah dan pergi mandi.

Aku mengenakan baju KPCI yang berwarna abu-abu, name tag, kerudung pashmina pink dan pin KPCI. Tak lupa tas biru juga nangkring di punggung. Aku siap bersamaan dengan Jingga dan Kesya walau mereka bangun molor.

Saat kami keluar kamar bertiga, hari sudah terang. Aku dan Kesya menyalahkan Jingga yang tidur dan mandi kelamaan.

Setelah itu, kami sarapan bersama geng kami seperti biasa. Kami harus sarapan banyak untuk jaga-jaga kalau pingsan gara-gara terlalu sedih tidak menang di Kemendikbud nantinya. Setelah makan, kami berkumpul di ballroom sebelum berangkat menuju Kemendikbud. Kami berangkat berasa artis gegara ada mobil polisi mengawal setiap dua buah bus. Beneran sumpah aku nggak bohong. Ada polisi yang mengawal kami. Bahkan mungkin artis kaya Ayting juga gabakal dikawal kaya begini (siapa sih yang mau ngawal dia?).

 

 

Di Kemendikbud kami disuguhkan sebuah video flashback KPCI 2016 dari hari pertama sampai hari kedua. Sebelumnya, kami terlebih dulu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Jujur, dari dulu, lagu ini adalah lagu pertama yang membuat bulu kudukku merinding. Mungkin karena aku sangat mencintai bangsaku dan bila aku menyanyikan lagu itu mataku seakan hendak mengalirkan air dari Sungai Nil -eh.

Sehabis pengumuman yang bikin baper (bawa perhatian, red), aku dan para sekawan pergi berfoto. Aku, Thiya, Kesya dan Jingga asyik berfoto dengan patung Petruk. Bagi yang sudah melihat foto di postingan KPCI chap 2 kemarin, pasti sudah tahu fotonya seperti apa. Thiya sudah kaya jones banget selingkuh dengan Petruk. Kalau aku kaya orang yang ngebet foto bareng Petruk sampai rangkul-rangkulan gitu. Kalau nggak kalian bisa lihat fotonya di KPCI Photo version.

Di Kemendikbud, kami makan siang dengan nasi kotak. Sebagian teman mengeluh rasanya aneh, namun Jingga langsung ludes dalam sekejap. Aku tidak bisa menghabiskan makananku. Tahun lalu, saat KPCI 2015 dan kami juga sedang makan nasi kotak di Kemendikbud, rasanya bahkan lebih aneh dari tahun ini. Mungkin karena sudah disiapkan sejak pagi dalam nasi kotak, makanya agak lembab dan basi karena disimpan lama.

“Ada yang punya fish eye sama tongsis gak?” saat kami sedang asyik wefie bareng, seseorang bertanya.

“Aku punya, tunggu,” kata Khansa sambil merogoh isi tasnya.

“Kamu mah lengkap banget peralatan selfienya,” komentar Kesya. Khansa mengendikkan bahunya dan menyodorkan fish eye dan tongsis.

Niswah yang punya iPhone segera memasang iPhone-nya dengan fish eye dan tongsis dibantu aku dan Jingga. Detik berikutnya kami sudah asyik selfie dan wefie bareng dengan iPhone dan kameraku serta Jingga. Kemudian seseorang meminta kami untuk memotret sebuah rombongan.

“Kamu aja gih, kamu kan fotografer profesional diantara kita-kita,” sorong Kesya (atau Jingga?)  memberikanku kamera milik rombongan tersebut. Aku memutar bola mata dan mulai memotret.

 

Perjalanan pulang ke hotel cukup lama. Yang seharusnya sampai jam setengah tiga malah sampai jam tiga lebih. Tetapi kalau tidak ada polisi yang mengawal kami, mungkin

kami baru sampai Magrib. Aku dan Kesya pergi ke kamar disambut mama Kesya. Ini bukan pertama kalinya aku melihat mama Kesya. Beliau hobi berdandan dan suka memakai baju

tanpa lengan di dalam kamar. Beliau juga cukup ramah.

Jam tiga, diadakan acara tukar kado yang diadakan secara tertutup di kamar Thiya dan Khansa yang luas. Total yang mengikutinya kurang lebih 27 orang, sebagian besar

termasuk di groupchat FB dan sebagian kecil mendengarnya dari teman lalu buru-buru menyiapkan kado agar bisa ikut. Semua berjejalan di kamar Thiya dan Khansa. ‘Panitia’nya

tentu saja anak yang mengadakan tukar kado ini pertama kali dan lebih senior karena pernah ikut lebih dari satu kali, yaitu gengku, Kesya, Thiya, Khansa, Niswah, dan

Jingga. Danish dan Ghiffari sebagai cowok tidak mau ikut masuk ke dalam lautan cewek dan memilih untuk duduk di meja makan mengamati perjalanannya waktu #eaaa.

Sebagai panitia, kami langsung sibuk mendata siapa yang datang dan siapa yang sudah membawa kado mereka. Aku sibuk menggulung kertas2 kecil berisi nomor absen sekaligus

nomor kado yang akan diundi.

“Kita perlu gelas kosong. Ghiffari,” aku berjalan tertatih di atas sofa, “tolong ambilkan gelas kosong,” lanjutku. Ghiffari mengambilkannya dan aku memberikan gelas

porselen putih itu ke Thiya.

Gelas putih itu diulurkan sesuai nomor absen. Aku yang punya nomor absen 4 mengambil salah satu kertas di gelas tersebut pada giliran keempat

Tiba-tiba seseorang melongok dari pintu. “Zahra sama Kesya disuruh datang ke kamar 226,” katanya. Aku mendongak. Kamar 226 adalah kamar kami sendiri.

Aku segera memakai sandal rumahanku dan berlari menuju kamar 226. Di luar kamar, mama Kesya sudah menunggu. “Pak Rudi (pendamping dari Jawa Timur sekaligus Malang)

menelepon. Katanya butuh tiket-tiket kamu untuk administrasi. Mana, biar saya yang bawain ke Pak Rudi,” kata mama Kesya. Aku segera mengangguk dan bergegas mencari tiket

-tiket tersebut. Kubongkar semua tas untuk mencarinya sampai ketemu.

Setelah itu, aku dan Kesya kembali ke kamar 318. Disana masih cukup ramai. Aku membuka gulungan kertasku dan mengetahui kalau aku dapat nomor 12. Tapi karena kado nomor 12

tidak ada di atas meja, Thiya menyarankan aku untuk mengambil yang lain saja. Aku mengambil kado nomor tujuh.

Kami bubar.

Aku kembali ke kamar dan menyadari aku lupa membawa kado nomor tujuhku. Kelimpungan, aku pergi ke kamar 318 yang sudah cukup sepi untuk mengambil kado nomor tujuh itu.

Tepat pada saat itu, Thiya sedang merobeknya. Aku langsung mengambilnya dari tangannya dan menjelaskan secepat mungkin perihal yang begini-begitu. Entah Thiya mengerti

atau tidak, tapi sesaat kemudian aku melesat keluar.

Mama Kesya sudah kembali. Membawa berita buruk. Katanya, aku belum mengisi biodata dan menandatanganinya. Aku disuruh pergi ke kamar Pak Rudi saat itu juga. Menggerutu,

aku memakai sepatu dan tanpa memedulikan talinya yang tidak diikat aku berlari menuju kamar Pak Rudi yang berada di samping ballroom. Welah dalah, disana Pak Rudi mengomeliku

sekali lagi gegara aku juga lupa membawa boarding pass. Alhasil, aku kembali lagi ke kamar untuk mengambil boarding pass dan NISM-ku. Jantungku rasanya mau copot setelah

lari tergopoh-gopoh macam emak muda bolak-balik kamar dan kamar-Pak-Rudi-yang-ada-di-samping-ballroom itu.

Sehabis acara-acara seru itu, ada acara lain yang kami tunggu. Yaitu Awarding Ceremony alias pesta perpisahan dan pemberian hadiah pada pemenang nominasi KPCI Awards 2016.

Aku dan Kesya segera mandi bergantian, lalu mengenakan baju adat masing-masing. Sehabis itu kami beranjak pergi menuju kamar Niswah untuk meminjam make upnya.

“Kita gak jemput Thiya dulu?” saranku pada Kesya. Dia mengangguk setuju dan kami berbalik ke kamar Thiya dan Niswah. Pilihan yang bagus karena disana terdapat Jingga dan Niswah yang tengah sibuk berdandan dengan makeup campuran antara Jingga dan Niswah.  Thiya dan Khansa sedang pergi.

“Halo!” sapa mereka berdua.

“Bagus gak? Aku kaya orang mau kawin lari hehehe,” Jingga garuk-garuk kepala.

Aku dan Kesya langsung ikut berdandan. Tak lama kemudian Jingga mengeluh karena dia tak pintar berdandan, yang langsung disambut semprotan oleh kami bertiga karena makeupnya lebih bagus diantara kami berempat.

“Gimana kalau mamaku yang dandanin? Kebetulan mamaku juga bawa makeup banyak,” celetuk Kesya.

“Kenapa ga dari tadi bilangnya Keessy!” seru Jingga dan Niswah bersamaan.

Akhirnya kami beberes sebentar dan pergi ke kamar Kesya. Tetapi Niswah memintaku untuk menemaninya turun sebentar mengambil beberapa hal yang ketinggalan di kamarnya yang terletak di lantai terbawah.

Setelah itu, aku dan Niswah segera pergi menuju kamarku dan Kesya. Rupanya Kesya juga baru sampai. Kalau Jingga, kata Kesya, dia sedang ada di kamarnya, didandani sendiri oleh mamanya yang rupanya juga ada di kamar Jingga.

“Mam, tolong makeupin dong,” pinta Kesya.

“Buat apa? Emang buat apa sih makeup?” mama Kesya langsung berkomentar nyinyir. Mungkin beliau berpikir kalau anak kecil (kami remaja, btw) tak pantas memakai makeup.

Tapi walau begitu, mama Kesya akhirnya setuju untuk mendandani kami. Awalnya beliau mendandani Kesya terlebih dahulu, lalu Niswah, baru aku. Sebelumnya aku mencopot kerudung yang sudah susah-susah kukenakan dan menghapus bedak di wajahku yang sudah kupakai di kamar Thiya tadi dengan milk cleanser dan tisu serta air.

Sambil menunggu Kesya dan Niswah, aku menyempatkan diri main laptop.

Setelah didandani, kami hendak difoto oleh mama Kesya. Tapi karena keadaan kamar yang temaram dan berantakan, mama Kesya akhirnya memotret kami di luar kamar sambil berpose cantik.

Setelah didandani dan dipotret, kami berempat berjalan bareng ke ruang makan. Di tengah jalan, kami bertemu dengan Khansa yang juga sudah memakai baju adatnya. Simpel dan sederhana.  Awalnya aku malah tidak mengira Khansa memakai baju adat saking sederhananya baju adat itu.

Makan malam itu, aku hanya makan sup. Selera makanku hampir tidak ada karena gugup. Aku dan teman-teman yang lain memang hampir setiap waktu menutupi wajah kami karena malu. Soalnya, nggak banyak anak yang memakai makeup selengkap kami.  Itu juga alasannya mengapa kami duduk di meja makan yang cahayanya gelap dan temaram, agar wajah cabe-cabean kami nggak kelihatan, hehehe.. (nggak gitu juga kali, malah cantik banget kami-kaminya :p)

Oya, setelah makan malam, kami bertemu dengan Thiya yang baru selesai memakai baju adatnya khas Riau. Dia memakai sunting di atas kerudungnya yang membuatnya semakin cakap walaupun tanpa polesan make up sedikitpun.

“Aku dipakaikan sunting ini selama setengah jam,” katanya dengan wajah lelah.

Tetapi  gara-gara itu Thiya jadi nggak pede. Dia malu buat masuk ballroom walaupun setelahnya kami melihat banyak anak yang memakai pakaian adat lebih meriah darinya. Ada yang memakai baju adat dan tatanan rambut pengantin. Lebih mirip pengantin betulan dibanding Jingga (calon pengantin kawin lari), hehehe.

Kata Jingga, kami mirip kakak-kakak LO. Apalagi Jingga yang kelihatan dewasa banget dengan kerudung ungunya. Biasanya, dia memang tidak memakai kerudung dan memilih untuk menampilkan rambut kribonya. Katanya, dia ingin mendapat hidayah dengan memakai kerudung hari ini.

Setelah makan malam dan memoles bibir kembali dengan lipstik yang dibawa Jingga,  kami pergi ke ballroom. Meja-mejanya sudah diubah menjadi banyak meja bulat dan kursi.  Kata kakak LO, sekarang kami dibagi menjadi beberapa kategori sesuai lomba. Aku dan teman-temanku yang kategori penulis duduk di salah satu meja. Kami girang karena tidak perlu duduk sesuai kelompok.

Tetapi Danish yang terkenal tertib melanggar peraturan dan duduk satu meja dengan kami bersama Arya walau dia anak Cerpen Pemula. Kalau Ghiffari, dia bukan termasuk di kategori Cerpen Penulis maupun Pemula.

Sehabis duduk rapi, muncul seorang kakak LO membawa setumpuk amplop yang langsung diletakkannya di meja samping kami.

“Ayo, Kelompok Penulis kemari buat tanda tangan dan ambil administrasinya!” serunya keras-keras.

Aku tergopoh-gopoh datang dan duduk mengantri dengan sabar.

“Nama?” tanya kakak LO.

“Sayyidah Fatimah Azzahra,”

Kakak LO berjilbab pashmina hitam itu mencari amplop bertuliskan namaku di antara tumpukan amplopnya. Tetapi tidak ketemu jua. “Oh! Tadi yang nyetor administrasi terakhir, ya? Pantas saja. Tunggu dulu ya, nanti dianterin ko,” lanjutnya. Aku cengengesan.

“Kalo nunggu disana, boleh  kan kak?” aku menunjuk meja kami yang berada tepat di  samping meja tempat kakak LO itu mengabsen para anggota kelompok cerpen penulis.

“Oh, disana, boleh boleh,”

Aku kembali duduk.

Waktu berjalan cepat. Ada waktu kami harus berpisah karena kakak panitia mengharuskan kami duduk sesuai kelompok lagi. Alhasil, aku dengan Kesya berpindah ke meja kelompok Sali, semeja dengan dua orang anak perempuan dan tiga orang anak laki-laki, termasuk Arya yang tadi bersama Danish di meja kami.

“Eh, dia ganteng ya,” bisik Kesya padaku sambil menuding diam-diam salah seorang anak laki-laki di meja kami. Aku menoleh ke anak yang ditudingnya dan mengernyitkan kening. Anak itu seperti baru duduk di kelas tiga atau empat SD.

“Dia masih kecil, tahu,” tegurku.

“Tapi imuut,” rengek Kesya.

Aku, Kesya dan tiga anak laki-laki itu mengobrol. Ada anak di sampingku, namanya Paco. Dia salah satu pemenang lomba dongeng kemarin. Lalu di sampingnya lagi, Arya. Dan yang digebet oleh Kesya ternyata bernama Faiz, atau ‘panggilannya’, Ucok. Panggilan Arya adalah Gatot. Sedang panggilan Paco aku sudah lupa -,-

Satu dua kali aku  pindah dengan kesal. Soalnya, Kesya terlalu terpesona dengan aura yang dibawa oleh ‘Ucok’ dan sepertinya dia melupakanku. Jadi aku pindah ke kelompok Karin ke tempat kosong di samping Azzura dan Lala. Aku langsung sibuk mencubiti pipi Azzura yang imut. Dia balas mencoba mencubitku. Sumpah, dia itu imut banget, padahal sudah kelas empat.

“Jangan pergi, doong,” seru Kesya saat aku hendak pergi lagi menyadari aku menjadi nyamuk diantara Kesya dan gebetannya yang masih kelas empat SD itu.

“Gamau,” gerutuku.

Aku dan Kesya kemudian asyik mengambil foto selfie. Kemudian Kesya memasrahkan hapenya kepadaku dan aku langsung asyik berfoto dengan efek kucing dan hamster disitu. Nasib seorang yang masih belum bisa dan belum punya handphone.

“Cie, langsung suka selpih,” goda Kesya. Dia mengambil handphonenya kembali dariku dan langsung melakukan sesuatu yang selalu dilakukan seseorang bila bertemu gebetannya. Yaitu memotretnya.

Kesya diam-diam memotret Faiz dengan handphonenya. Dia sesekali juga mengajak ketiga cowok itu berfoto. Aku menggerutu, mengejeknya memotret mereka untuk modus mendapat gambar Faiz. Tapi kalau lama-lama kulihat sebenarnya Faiz itu imut juga, namun aku menganggapnya imut sebagai adik. Seperti aku menganggap Zaki adik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s