KPCI -4-

–>(Wat is mijn schuld???)<–

 

Kesya diam-diam memotret Faiz dengan handphonenya. Dia sesekali juga mengajak ketiga cowok itu berfoto. Aku menggerutu, mengejeknya memotret mereka untuk modus mendapat gambar Faiz. Tapi kalau lama-lama kulihat sebenarnya Faiz itu imut juga, namun aku menganggapnya imut sebagai adik. Seperti aku menganggap Zaki adik.

Aku mengamati Paco bermain game di tablet Samsungnya.

“Kamu tahu Minecraft?” tanyaku.

“Tahu,”

“Pernah main?”

“Tau aja, gak pernah main tapinya,” anak ngeselin itu cengengesan. Dia jujur memang ngeselin banget, walaupun baru kenal orangnya memang agak belok walau masih kelas 4 atau kelas 5.

Acara dimulai. Awalnya kami ditontonkan video flashback KPCI terlebih dahulu, lalu mulai diumumkan pemenang nominasi-nominasi 5 award yang dinominasikan malam itu. Dua orang kelompokku mendapat nominasi, salah satunya adalah seorang teman yang mendapat piala Peserta Terlucu.

Danish tak bisa disangkal lagi. Dia memborong piala Peserta Terdisiplin. Padahal, piala itu tidak cocok untuknya kalau misalnya saja nominasi itu diadakan setelah nanti malamnya saat kami mengadakan malam perpisahan di kamar 318.

Setelah pemenang nominasi satu persatu diumumkan, mendadak layar menjadi muncul sebuah video dengan lagu mellow dan lampu dimatikan.

Salah seorang kakak panitia mengucapkan kata-kata romantis menyedihkan tentang perjalanan kami semua di KPCI 2016. Betapa nantinya kami akan merindukan teman-teman yang sudah melewati suka duka bersama kami. Para panitia naik ke panggung dan menyuruh kami untuk saling berpelukan dan melampiaskan dukacita sebelum berpisah esok hari.

Aku, Kesya, Thiya, Niswah, Jingga, dan Khansa berkumpul. Kami saling berpelukan dan bertangis-tangisan. Awalnya aku tidak bisa menangis, namun saat melihat wajah salah seorang kakak LO, mataku merebak. Aku berkali-kali mendongakkan kepala agar air mataku tidak melunturkan makeup yang terpoles di wajahku.

Jingga adalah salah satu yang tidak menangis. Kesya sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, air matanya mengalir deras di wajahnya. Namun aku dan Niswah masih bisa menjaga air mata kami walau sudah cukup tak tertahankan.

Kami berpelukan erat entah berapa kali. Aku merasa sangat sakit mengingat besok kami tidak akan bisa bertemu lagi kecuali Allah mengizinkan kami berjumpa di ARKI 2017. Mengingat kami berenam (aku, Kesya, Thiya, Niswah, Jingga, Khansa), sudah sama-sama duduk di kelas 6.

Bahkan, kulihat Auzan juga turut menangis. Itu membuat air mataku merebak lagi.

Jujur, aku tidak bisa menjelaskan berapa sedih dan sakitnya hatiku mengingat kami tak bisa bertemu lagi kecuali Allah mengizinkan. Rasanya sesakit kehilangan barangmu yang berharga. Kami tidak bisa tahu apa Allah mengizinkan kami hidup untuk mengikuti ARKI tahun depan. Kami tidak tahu apa kami ditakdirkan untuk bisa reuni sebagai ‘Alumni 318’. Kami tidak tahu. Hanya Allah SWT yang tahu.

Kami banyak sekali berfoto malam itu, namun tidak menggunakan kameraku. Kami berfoto bersama kakak-kakak LO dan panitia, berfoto bersama kakak fotografer, selfie, wefie, foto dengan Kak Mida, selfie dengan kakak LO, berfoto alay. Berfoto juga dengan teman-teman kami, yang sudah melewati suka duka bersama kami. Aku memeluk Zaki erat-erat, dia tampak seperti seleb cilik karena dipeluk dan dicubiti pipinya oleh kakak-kakak perempuannya yang merebak air mata.

I think I will miss you, guys.

“Malam ini jadi, kan, tidur bareng di kamarku?” tanya Thiya. “Yuk, bareng.”

“Sebentar –sebentar!”

Aku dan Kesya mengambil tas kami masing-masing di meja kelompok Sali, lalu berjalan mengikuti rombongan kami keluar ballroom. Banyak anak yang ribut mengambil balon yang sudah boleh dilepas oleh kakak panitia. Kami turut menyertai, aku mendapat dua balon bergambar Karin dan Karima.

Sebelum pergi ke kamar Thiya dan Khansa, aku dan Kesya pergi ke kamar kami untuk mengambil barang-barang yang bakal kami butuhkan di kamar mereka nanti. Aku mengambil laptop dan bantal.

“Aaiih!” aku menghela napas sambil menghempaskan diri di sofa. Kami berlima sudah berkumpul. Aku, Thiya, Niswah, Kesya, Jingga. Khansa sepertinya sedang pergi dengan Ghiffari dan Danish.

“Kita ke Indomared dulu yuk, beli popmi,” ajak seseorang. Aku ingat ada yang pernah bercerita kalau tahun lalu mereka juga pergi ke Indomared.

“Indomarednya dimana? Di luar hotel kan? Aku pasti ga diizinin,” kata Niswah khawatir.  “Lagipula, perempuan ga baik keluar malam-malam.”

“Ajak Danish dan Ghiffari aja, mereka kan cowok,”

Walau begitu Niswah tetap ngeyel dan akhirnya, walau semua orang sudah memaksa-maksanya namun tak berhasil jua, mereka  pergi –tanpa aku dan Niswah. Aku memutuskan untuk tidak jadi ikut dan memilih mengistirahatkan kaki dan tubuhku yang lelah.

Aku dan Niswah langsung asyik nonton Youtube. Mendadak pintu terbuka. Kami berdua menjerit dan langsung heboh karena kami sama-sama tidak pakai kerudung. Bahkan Niswah mengenakan baju pendek. Aku heboh karena melihat bayangan seragam yang dipakai Danish dan Ghiffari di cermin yang ada di samping pintu.

Pintu tertutup. “Siapa?” tanyaku sambil cepat-cepat memakai kerudung.

“Maaf, maaf,” suara samar Khansa terdengar. Aku melongok keluar pintu. “Loh, kalian nggak ikut ke Indomared?” tanyaku heran. Bukannya mereka (Kesya, Jingga, Thiya) pergi bersama anak-anak cowok?

 

kpci37
Our photo. Thiya, Kesya and me. Miss you guys 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s