KPCI -5-

Pintu tertutup. “Siapa?” tanyaku sambil cepat-cepat memakai kerudung.

“Maaf, maaf,” suara samar Khansa terdengar. Aku melongok keluar pintu. “Loh, kalian nggak ikut ke Indomared?” tanyaku heran. Bukannya mereka (Kesya, Jingga, Thiya) pergi bersama anak-anak cowok?

“Mereka ke Indomared?” ketiga anak bengal itu malah tercengang.

Aku mengernyit kesal.

Akhirnya mereka pergi menyusul tiga anak yang lain ke Indomared dan aku serta Niswah kembali asyik menonton Youtube atau yang bisa kami tonton. Sekitar lima belas menit sampai setengah jam kemudian, Kesya, Jingga dan Thiya kembali. Khansa, Danish dan Ghiffari menyusul.

“Kami tadi modus biar dapat diskon,” mereka bertiga tertawa-tawa. Saat itu mereka memang belum bercerita, tapi karena sebuah status yang Kesya posting di Facebook aku jadi tahu modus apa yang dimaksud.

Check this out:

 

Meja depan teve yang sudah penuh menjadi semakin penuh lagi dengan popmi, Chit*to, dan sebagainya. Sementara saat Khansa, Danish dan Ghiffari kembali meja makan penuh dengan bungkus mi gelas pilihan Danish dan Ghiffari.

Danish datang membawa sebuah alat perebus air. “Kenapa bawa lagi? Disini sudah ada,” aku berkata heran.

“Buat tambahanlah,” jawabnya. Aku hanya manggut-manggut sambil mengisi kedua perebus air dengan air dalam botol air mineral yang dikumpulkan dari kamar-kamar berjumlah kurang lebih sepuluh botol. Lalu kunyalakan saklarnya.

Selagi menunggu, aku kembali duduk di sofa dan menonton. Setelah itu aku mengambil segelas popmi dan mengisinya dengan air dan bumbu pelengkap. Sementara itu Danish dan Ghiffari asyik membuat mi gelas dalam dua gelas kosong yang tersedia di atas meja makan.

Saat sedang asyik bermain laptop, mendadak laptopku memberi kode keras. Baterenya habis. Aku dan Niswah langsung serempak mengeluh. “Ya udah deh, aku ke kamar aja dulu ambil charger,” putusku.

“Bukannya udah tidur mamaku?” tanya Kesya.

Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu mama Kesya tidur, tapi mau gimana lagi. Tanpa menunggu jawaban Kesya aku segera melesat keluar kamar menuju kamar 226 yang ada di lantai bawah.

Ternyata mama Kesya juga belum tidur. Beliau sedang ber’karaoke’ alias berduet dengan seorang saudaranya, bernyanyi bareng lewat smartphone. Saat aku mengetuk pintu beliau langsung keluar dengan earphone terpasang di telinga. Beliau tampak heran melihatku namun tetap menyilakanku masuk. Aku segera masuk dan mengambil charger.

“Maaf Tante, ganggu. Lupa bawa charger,” kataku.

“Nggak papa. Pastiin jangan ada yang lupa lagi, ya,” tegur mama Kesya sambil tersenyum, lalu menutup pintu lagi sementara aku sudah berlari kencang dengan sandal hotel ke kamar 318 tempat delapan anak berkumpul.

Setelah kembali, aku langsung membawa laptopku ke ruang tidur dan menge-cash-nya.

Malam itu, jujur, menyenangkan sekali. Bisa melewati hari terakhir bersama tujuh orang sohib rasanya bahagia nggak ketulungan.  Setelah ‘perang’ suara dari laptopku dan teve, kami mulai semakin  ramai dan bersemangat untuk mengacak-acak kamar 318 menjadi kapal pecah. Aku tidak yakin apa ada kamar yang bisa seberantakan kamar kami.

Aku, Jingga dan Danish keluar untuk menghirup udara segar di lorong luar jendela yang curam dan berbahaya karena licin dan gampang membuat orang jatuh.

Saat aku, Niswah dan Jingga sedang menonton mv EXO di laptop, Danish ikut melongok.

“Ooh, EXO.”

“Kamu tahu? Suka nggak? Suka siapa?” tanyaku bersemangat.

“Suka, tapi suka lagunya doing. Nggak ada bias,” jawabnya.

Malam itu aku tidur sekitar jam 2-3-an.  Aku terlelap bersama Kesya dan Thiya yang sudah ambruk duluan. Esoknya aku diceritakan oleh mereka kalau Danish dan Ghiffari sempat keluar namun oleh Niswah dan Jingga mereka dikunci diluar dan walau mereka berdua menggedor-gedor pintu minta masuk tak ada yang menggubris. Aku cekikikan dengarnya, memang sudah seharusnya begitu. Waktunya tidur bo.

Paginya, aku bangun (lupa jam berapa) bersama Kesya ke kamar. Kami segera mandi, beberes, bersiap untuk pulang. Aku masih belum siap untuk pulang, aku ingin banget bersama geng 318 seminggu lagi disini.

Kemudian hape Kesya hilang. Mamanya langsung memarahi dia dan aku memandang iba Kesya yang kembali ke kamar 318. Kakiku agak sakit dan aku juga agak mengantuk. Aku membuka laptop dan melihat notif dari Niswah sejam yang lalu.

Kamu dimanaa? Aku sendirian hikss.

Zahraaa.

“Aku di kamar, kamu dimana?”

Sekarang aku di ruang makan bareng Thiya.

“Otw ya.”

Kesya kembali. Katanya tidak ada orang di kamar 318. Aku bilang, Thiya sedang ada di ruang makan. Kesya langsung melesat ke ruang makan. Beberapa menit kemudian, aku turut pergi ke ruang makan membawa tas hitamku.

Sarapan pagi itu benar-benar enak. Ada semeja penuh pastry dan juga sebotol raksasa susu segar. Aku mengambil piring dan menaruh sepotong pancake waffle, dua potong pancake, brownies cokelat kemudian melumuri piringku dengan sirup maple. Tak lupa kuambil segelas penuh susu segar. Rasanya seperti di dunia kahyangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s