Making Passport

Selamat pagi.

Hai, kita bersua lagi setelah aku menulis resep dan foto pizza yang kubuat beberapa hari lalu.

Belakangan aku sedang berencana untuk mengikuti sebuah edutrip Singapura-Malaysia pada tanggal 25-28 Maret. Rencana itu sudah benar-benar bakal kuikuti, dan belakangan aku sibuk mengurus berkas untuk membuat paspor.

Aku diberi tugas oleh abi untuk membuat sebuah tulisan di blog tentang perjalanan aku membuat paspor ini.

Pada awalnya, setelah mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan, aku dan abi pergi ke rumah Pak RT yang tak jauh dari rumah kami membawa kartu keluarga dan kartu kelahiran untuk dibuatkan surat domisili, sebagai pernyataan kalau aku benar-benar tinggal di kawasannya.

Sampai di rumah beliau, ternyata sedang ada tamu yaitu beberapa orang teman putra Pak RT yang bernama Pak Purwanto tersebut. Mereka sedang menonton Takeshi’s Castle di Youtube dan segera masuk ke dalam saat aku dan abi datang.

Pak Purwanto segera membuatkan sebuah surat domisili, lalu membubuhkan tanda tangan dan stempelnya pada surat tersebut.

Yang kedua, aku dan abi pergi ke rumah Pak RW yang bernama Pak Sarbini. Surat domisili yang dibuatkan Pak Purwanto sebelumnya ikut ditandatangani oleh Pak Sarbini dan distempel.

Dan yang terakhir, tepat setelah pergi ke rumah Pak Sarbini, aku dan abi pergi ke kantor kelurahan. Tapi karena masih pagi, tentu saja kantor kelurahan masih tutup. Jadi aku dan abi pulang dan datang kembali jam Sembilan.

Kami bolak-balik dua kali dari rumah ke kantor kelurahan karena aku dan abi saat awal datang tidak membawa pas fotoku.

Tapi akhirnya surat domisili resmi dari kelurahan sudah dibuat, dengan stempel dan tanda tangan Pak Lurah di sebelah kanan bawah.

IMG-20170214-WA0019.jpg
Di kantor kelurahan

Setelah surat domisili sudah di tangan, aku dan abi pergi ke kantor imigrasi saat pagi. Tidak begitu pagi, mungkin jam Sembilan. Dan itu suatu penyesalan karena sudah ada seratus orang lebih mengantri untuk mengurus pembuatan paspor.

Sambil aku mengantri, abi bertanya-tanya pada seorang petugas.

Kemudian abi mengajakku pulang, karena ada satu lampiran yang belum kami bawa: fotokopi paspor, KTP, dan surat pernyataan dari Bu Dewi, pemilik Griyatalenta, forum edutrip yang aku ikuti ini. Berkas-berkas itu diperlukan karena aku bakal pergi keluar negeri tanpa orangtua, melainkan bersama rombongan yang diketuai oleh Bu Dewi.

Dan abi juga menjelaskan kepadaku kenapa sekarang pembuatan paspor untuk anak dibawah umur menjadi sangat susah.

Tahun 2016 lalu, ada anak dari Bali dengan umur kisaran 12-17 tahun, dan dia masih dibawah umur, iseng pergi keluar negeri sendirian tanpa sepengetahuan orangtuanya. Orangtuanya menggugat kantor imigrasi di pengadilan dan kantor imigrasi kalah. Sejak saat itu, pengaturan pembuatan paspor di kantor imigrasi diperlengkap dan diperketat.

Orangtua harus membuat surat pernyataan dan surat domisili yang sebelumnya harus dibubuhi tanda tangan Pak RT, Pak RW, dan Pak Lurah. Sebenarnya tanda tangan Pak Camat juga diperlukan, tetapi setelah membuat surat domisili resmi di Kelurahan, petugas memberitahu kami kalau kami tak perlu pergi ke Kecamatan karena surat domisili resmi dari kelurahan sudah cukup apa adanya untuk dibawa ke kantor imigrasi.

Insya Allah, besok Senin aku bakal pergi ke kantor untuk kedua kalinya. Aku dan abi berencana berangkat pagi-pagi sekali, sekitar jam setengah tujuh, agar sampai disana pertama kali dan tidak banyak mengantri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s