Hari yang Indah di Kantor Imigrasi

Kemarin adalah hari ‘terindah’ dalam hidupku.

Saking indahnya, aku sampai nggak mau mengulang saat-saat itu lagi😂

Ya, kemarin aku pergi ke kantor imigrasi untuk kedua kalinya.

Awalnya, aku dan abi berencana pergi jam setengah enam, tetapi karena aku ketiduran, kami agak telat dan berangkat jam enam kurang seperempat. Kami sampai di kantor imigrasi mungkin jam enam atau lebih seperempat menit.

Kukira, masih sepi, tapi saat itu sudah ramai banget asli! Mungkin sudah ada seratus orang mengantri di depan meja petugas yang bahkan belum buka itu.

Aku merasa agak menyesal kenapa tidak berangkat lebih pagi. Aku agak waswas kalau misalnya aku tidak sempat menukar berkas-berkasku sebelum jam sepuluh. Belakangan, abi memberitahuku kalau kantor imigrasi pusat hanya ada di Malang dan Surabaya, jadi banyak orang dari luar kota (di Jawa Timur) pergi pagi-pagi sekali agar bisa sampai di kantor imigrasi Malang tepat pada waktunya.

Abi tadi juga cerita kalau ia mengobrol dengan seseorang dari Probolinggo, dan orang itu berangkat dari rumahnya dari jam tiga pagi. Aku curiga kalau ada orang dari tempat yang lebih jauh malah pergi pagi buta, jam satu atau jam dua pagi. Ck, aku bersyukur aku tinggal di Malang.

“Nanti kalau merasa capek, abi gantiin ya,” kata abi. Aku mengangguk dan melihat punggung abi berjalan menuju salah satu kursi di dekat situ.

Beberapa menit setelah aku berdiri mengantri, ada dua orang remaja mahasiswa yang mengantri di belakangku. Salah satunya sibuk dengan handphonenya dan yang satu beberapa saat kemudian mengajakku mengobrol.

“Mau bikin paspor dek? Mau kemana?”

“Singapura sama Malaysia,” jawabku sambil menyunggingkan senyum. Lalu orang itu bertanya beberapa soal tentang sekolahku, yang aku jawab homeschooling. Berikutnya lalu kujawab beberapa pertanyaannya yang terkait.

“SMA ya dek? Atau SMP?” tanyanya. Aku ketawa dalam hati, aku sependek ini dikira anak SMA? Apa aku kelihatan tinggi? Tinggiku mungkin kurang lebih 155 cm, yah I guess I’m look tall or what?

“Nggak, masih kelas 6 SD,” jawabku dengan geli. Orang itu gasped selama sedetik kemudian menyikut teman yang sedang bermain handphone di sampingnya.

“Kelas 6 sudah pergi keluar negeri, kamu gimana?” katanya setengah menyindir. Temannya itu hanya mengeluarkan chuckle kecil, matanya masih lekat pada handphone.

Tetapi sekitar sejam kemudian, orang yang dengan ramah mengajakku mengobrol itu tidak ada di belakangku lagi. Yang ada hanyalah temannya, yang berpostur tinggi dan wajahnya kearaban sekarang.

Saat pemeriksaan pembuatan paspor sudah dibuka, perlahan antrean menipis. Kalau bisa dibilang menipis adalah berkurangnya empat orang dalam setengah jam dengan total seratus orang di depanku, sih.

Aku berdiri mengantre selama tiga setengah jam, setelah kutotal belakangan. Aku jarang bertukar dengan abi. Aku bertukar dengan abi hanya saat aku pergi ke kamar mandi sejenak dan setengah jam sebelum jam sepuluh, jam sewaktu pemeriksaan pembuatan paspor ditutup.

Sumpah, berdiri selama tiga setengah jam bukan hal yang gampang. Apalagi nanti aku juga perlu mengantre kembali untuk kedua kalinya.

Dalam setengah jam itu, aku mengobrol dengan seorang ibu tiga anak yang masih muda. Kami mengobrol tentang keluarga masing-masing, homeschooling, dan sekolah formal. Ibu tiga anak itu tinggal di Tumpang dan banyak cerita padaku tentang keempat anaknya. Anak pertamanya cewek kalau tidak salah. Ia adalah anak yang kurang pintar dalam pelajaran formal namun dia mandiri dan pandai mengurus ketiga adiknya padahal masih berumur 10 tahun.

Aku dan ibu itu punya pendapat yang hampir sama tentang sekolah formal. Kami setuju kalau sebenarnya pelajaran formal itu tak begitu berguna di dunia nyata, malah seharusnya yang harus ditanam sejak dini pada anak-anak adalah personality-nya, kemandiriannya, dan meningkatkan bakat yang dari awal sudah ada padanya.

Percuma saja kalau pintar, tetapi bakatnya tidak dipompa menjadi lebih baik lagi.

Karena ibu itu, waktuku jadi dengan mudah berjalan cepat. Aku bersyukur sekali karena ibu itu sangat baik dan ramah, mau mengajakku mengobrol.

Setengah jam berlalu dan ibu itu pamit pergi karena suaminya sudah mendapat giliran memeriksakan pembuatan paspornya.

Aku mau cerita.

Aku dan abi sangat beruntung, karena abi mendapat giliran pada menit-menit terakhir sebelum jam sepuluh. Aku sudah deg-degan dan waswas kalau saja kami tidak mendapat giliran, tapi Alhamdulillah giliran kami sampai juga.

Setelah mendapat sebuah berkas seusai memeriksakan berkas-berkas yang abi bawa (ternyata surat domisili tidak dibutuhkan), aku dan abi memeriksa isi berkas itu. Isinya adalah surat pernyataan orang tua (ternyata kami tidak perlu membuatnya sendiri di rumah) dan sebuah formulir yang perlu diisi dengan tinta hitam dan huruf cetak pada kolom kotak seperti di kertas UN. Mati aku, mana yang harus diisi banyak dan takutnya kami malah menulis salah.

Karena hanya bawa bolpoin biru, bukan hitam, aku dan abi pergi ke Alfamart. Tentu saja setelah mengambil nomor antrian, dan kami lagi-lagi masih harus menunggu lebih dari seratus orang yang mengantre untuk masuk ke ruang foto dan wawancara.

Oya, aku belum cerita, kalau hari itu, hari saat aku pergi ke kantor imigrasi di hari yang panas dan terik, aku berpuasa. Ya, I’m fasting, guys. Fasting. Ketika aku berdiri mengantre selama dua jam di tempat yang agak panas.

Setelah membeli bolpoin dan materei, kami balik ke kantor imigrasi dan mengisi formulir. Setelah itu kami masuk ke dalam dan menunggu di kursi tunggu.

Tebak, berapa lama kami menunggu di dalam ruang besar yang dingin dan penuh orang ini.

Freaking six hours.  So in total, we here for 9,5 hours. Just imagined it, guys. No WiFi, no food, no drinks… I’m so exhausted, I swear.

Sambil menunggu nomor antrean kami disebut, aku sibuk menistakan orang-orang di Koran yang abi beli paginya. Aku menggambari wajah dan tubuh mereka. Seperti berita tentang Paris Hilton; fotonya tidak mengenakan baju tertutup dan aku dengan baik hati mencoreti bolpoinku menutupi bagian-bagian tubuhnya yang terekspos. Dan berita tentang tersangka-tersangka yang tertangkap berkomplot membunuh Kim Jong Nam, adik Kim Jong Un; aku menggambari wajah mereka dengan senang hati dan menggambari bibir mereka menjadi lebih tebal dan ‘bagus’.

Setelah menunggu selama enam setengah jam, nomor antrean aku dan abi, yaitu 134, akhirnya dipanggil juga. Tapi itu belum semua. Kami menunggu lagi di dalam selama seperempat menit kurang lebih gegara ada orang sebelum kami yang berkas yang dibawanya kurang. Mengesalkan, sih, tapi apa boleh buat.

Setelah itu, aku akhirnya diwawancara dan difoto juga.

I cant believe that I will fly to Malaysia-Singapore next month. I’M SO FREAKING HAPPY~~~ (BGM: Happy; Pharrel Williams)

img_20170220_105156
Abaikan orang di belakang; sengaja captionnya gitu soalnya abaikan muka gw sudah terlalu mainstream
img_20170220_062834
noh
img_20170220_062015
nolagi

 

(A/N)Btw, bahkan tugas yang diberikan oleh Bu Dewi pasca trip juga belom kuselesaiin, mwehehehehe.

(A/N2) Pulang-pulang dari kelaparan dan mengantre selama sepuluh jam (dibulatkan), tebak apa yang langsung kulakukan?

Ya. Beberes dan menyapu. Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang kalau rumah masih berantakan.

Btw, bye guys. Doain aku ya, biar bisa landed dengan tenang dan bahagia (?/) disana 😂

Akhirnya, selesai juga postingan yang sangat indah ini. Penat gw. Ntar bakal nulis satu post lagi tentang review film Iqro’, stay tuned guys.

 

2 thoughts on “Hari yang Indah di Kantor Imigrasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s