Review Film Iqro’

Halo.

Tonight I will share to y’all a movie’s review that I watch together with my family last week (?), Iqro.

Jadi, beberapa minggu yang lalu, umi menawariku untuk menonton film Iqro di bioskop. Katanya, kami harus cepat memesan sebelum kehabisan tempat. Aku banyak mendengar tentang bagusnya film Iqro di media social, jadi aku mengiyakan saja walaupun belakangan aku sedang ngebet pengen nonton film Kungfu Yoga.

Kami nonton di Mandala.  Aku pernah sekali pergi ke Mandala, yaitu saat pergi bersama Tazkia menonton Ketika Mas Gagah Pergi mungkin setahun yang lalu.

Setelah sekitar satu jam menaiki mobil, akhirnya kami sampai di Mandala.

Sampai di bioskop, segera aku melihat-lihat isinya. Sekaligus aku mencari poster Kungfu Yoga. Tapi sayangnya belakangan aku menemukan kalau di Mandala Kungfu Yoga sudah tidak tayang lagi, adanya di Sarinah. Tidak tahu kalau sekarang. Mungkin juga sudah tidak tayang lagi.

Tapi yang membuatku heran, poster Iqro tidak ada. Aku bertanya pada umi, dan umi menjawab,

“Jelas nggak tayang resmi, kok. Kita bisa nonton karena kita menyewa bioskopnya,” jawab umi.

Kami menonton bersama rombongan. Sebagian kukenal, ada keluarga homeschooling dan ada teman umi juga. Ada juga ustadzah TQTku, Ustadzah Leyla, bersama keluarganya.

Aku meminta uang dan tiket bioskop pada umi agar aku bisa membeli popcorn saat keluargaku sudah memasuki tempat menonton. Aku memutuskan untuk membeli popcorn rasa asin berukuran paling besar. Sebenarnya aku ingin membeli yang rasa mix, tetapi sayangnya tidak tersedia.

Setelah membeli, aku memasuki studio 3.

Selanjutnya adalah reviewku tentang film Iqro, yah.

Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Aqila yang tidak pandai sekaligus tidak mau mengaji. Dia sangat ingin menjadi seorang astronot dan menjelajahi angkasa. Suatu hari dia berkesempatan pergi ke rumah kakeknya di BB, yang merupakan seorang peneliti di sebuah observatorium disana.

Aqila ingin melihat angkasa menggunakan teropong raksasa di observatorium itu, sayangnya sang kakek tak mengizinkan sebelum dia bisa mengaji. Akhirnya dengan agak terpaksa Aqila pergi mengaji di sebuah masjid yang terletak dekat rumah kakek neneknya.

Di Bosscha Aqila bertemu dengan seorang anak lelaki bernama Fauzi yang sangat nakal dan bandel. Dia sering mengusili Aqila dan Ros, teman barunya, entah saat mereka sedang berjalan-jalan ataupun selesai mengaji.

Sementara itu, sang kakek mempunyai kesulitan.

Sang kakek tidak bisa melanjutkan penelitiannya karena dibangun hotel di dekat situ yang membuat polusi cahaya bertambah dan membuat teropongnya tidak berguna karena dia tidak bisa melihat apa-apa lagi di langit yang tadinya gelap menjadi terang dan menutupi bintang-bintang.

Dan tak hanya itu juga, sang kakek diteror oleh seseorang yang menyalakan semacam mercon di luar rumah dan mengempesi ban belakang mobilnya. Dan pusat observatorium pun juga mengiriminya surat dan mengajaknya rapat, untuk berkata kalau mereka tidak bisa membiayai observatorium Bosscha lagi karena kembangan penelitian Bosscha semakin menurun dari hari ke hari (karena mereka tidak bisa melihat dan meneliti apapun kalau hotel di dekat Bosyar itu tetap dibangun).

Kemudian, ada sebuah lomba mengaji. Aqila mengikutinya untuk bertanding dengan Fauzi. Dan walaupun akhirnya Aqila kalah, dia tetap member selamat untuk Fauzi. Dan Fauzi bercerita kalau sedari awal dia sebenarnya mengikuti lomba mengaji itu bukan untuk bertanding dengan Aqila, tapi untuk menghargai kakak Pembina mereka, (lupa namanya) yang telah mengajarinya mengaji seindah itu setahun terakhir ini.

Kemudian happy ending. Pemilik hotel yang juga seorang pengusaha terkenal itu ditangkap karena telah membangun hotel dengan izin tak resmi.

Ratingku untuk film ini adalah 7/10. Aku agak kecewa, karena filmnya sangat menggantung. Drama dan konfliknya sangat kurang dan aktingnya sayangnya tak terlalu bagus tapi lumayan bagus untuk aktor baru. Dan endingnya terpaksa kuberi rating 6/10 karena aku sama sekali tidak puas dengan endingnya. Karena apa pemilik hotel itu bisa ketahuan dan tertangkap? Kukira, Aqila bakal tahu apa yang terjadi dengan kakeknya, lalu membantu untuk membuat pengusaha jahat itu tertangkap #efekmenontonPetualanganSherina. Kalau itu terjadi, bakal kuberi 9/10. Tapi sayangnya selera orang berbeda-beda.

Dan kenapa mood Aqila berubah secara cepat dari tidak suka mengaji menjadi suka? Aku merasa itu terlalu cepat.

Walaupun ceritanya bagus, seperti yang sudah kubilang, konflik dan dramanya kurang. Kurang humor yang tertanam. Tapi aku tidak menyesal menontonnya, film ini pantas dicocok semua umur terutama anak-anak kecil untuk menanamkan kepribadian yang bagus untuk mereka, terutama agar mereka suka mengaji.

Oya, aku mau cerita sedikit.

Di pertengahan, aku kaget setengah mati.

Ada dialog yang menyebutkan seorang pendongeng bernama Kak Andi. Dan pikiranku langsung mengarah ke Kak Andi Asfandiyar, seorang pendongeng yang kukenal baik sejak KPCI 2014. Kami cukup akrab karena aku dan Kak Andi sama-sama arek Malang.

Dan tebak, apa yang terjadi. Pendongeng itu benar Kak Andi! Mendongeng sambil menggambar di papan tulis seperti yang dilakukannya di KPCI 2014 dan membawa boneka kucing Mio. Aku langsung menjambak baju abi yang duduk di sampingku sambil menjerit-jerit tertahan.

Aku buru-buru memfotonya, tapi karena seseorang sebelumku menyalakan blitz, aku terkaget saat blitz keluar dan langsung menyembunyikan handphone itu di pangkuanku. Alhasil, aku tidak sempat memotret sama sekali dan hanya mendapatkan gambar putih terang menyilaukan di galeri handphone milik abi tersebut.

Itu pengalaman yang sangat menyenangkan. Film Iqro ini recommended, aku menyarankan bagi semua orangtua yang punya anak berumur dini untuk menontonnya.

Aku membuat review ini sesuai perspektifku sendiri. Aku sudah banyak menonton film, dan sudah bisa memperkirakan mana acting yang bagus dan mana kualitas film yang bagus.

Sampai sini saja, okay. Aku sudah menulis lebih dari 865 kata sekarang dan sudah jam 9:22 PM. Aku perlu makan lalu tidur. Jadi, goodbye. Sampai jumpa lain kali.

PS: ini adalah post yang paling ditunggu abi dan umi. Look, aku menepati janjiku bukanㅋㅋ

2 thoughts on “Review Film Iqro’

  1. kakakdina says:

    Review yg keren mbak Zahra 😉😆
    Dan apa yg tante rasakan sama. Kurang konflik. Tau-tau selesai. Hehehe..

    *menunggu tulisan-tulisan mbak Zahra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s