Kantor Imigrasi Lagi

Jum’at lalu adalah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan.

-Btw, sepertinya aku  berjodoh dengan kantor Imigrasi. Aku selalu menunggu sangat lama di sana-

Saat pagi, aku membuat sekaligus meng-upload sebuah video fanartku ke channel Youtube. Itu adalah video fanart pertama yang kuupload ke Youtube, namun terasa tidak satisfying karena kupikir editanku terlalu biasa. Apa aku harus mendownload aplikasi mengedit video yang lain?

Lalu, sehabis Dzuhur, abi berkata,

“Mbak, kita ke kantor imigrasinya sekarang aja, yuk, jangan Senin. Biar cepet,” katanya.

Aku sebenarnya agak malas, tetapi kuturuti dan aku segera pergi shalat dan bersiap-siap sebelum berangkat menuju kantor imigrasi.

Disana, kami mengambil nomor antrian dari mesin nomor antri otomatis. Aku gasped waktu mengetahui gap yang ada di nomor antrian kami dengan nomor antrian yang sekarang sedang dilayani. Bedanya lebih dari 70 orang, bo! Inilah kenapa kami harus datang jam enam pagi juga untuk urusan mengambil paspor ini.

Ya, kami datang ke kantor imigrasi untuk mengambil paspor yang sudah jadi.

Aku awalnya ngambek dan marah, tetapi kemudian aku meminta izin pada abi untuk keluar mencari snack yang bisa kumakan selagi menunggu. Setelah memutar selama tiga kali, dengan kesal aku kembali dan meminjam handphone pada abi. Setelah itu, aku pergi ke kantin di lantai atas, membeli sebotol susu cokelat segar dan duduk di salah satu meja dan memainkan handphone.

Ternyata ide itu bagus juga. Aku dapat melewati jam-jam yang membosankan dengan browsing menghabiskan data abi di browser handphone milik abi.

Aku sempat kembali ke bawah untuk melihat nomor antrian apabila sudah bertambah, dan mencoba browsing kembali disana, tetapi jaringan internet di bawah sama sekali tidak meyakinkan. Aku terkejut mengetahui perbedaan jaringan internet di lantai satu dan lantai dua. Di lantai satu, aku bahkan tidak bisa searching sesuatu di Google dalam jangka waktu kurang dari lima menit.

Giliranku dan abi belum sampai ketika adzan berkumandang. Tetapi giliran kami tinggal sebentar lagi, jadi abi memutuskan untuk tidak ikut shalat berjamaah dan menunggu giliran kami tiba saja dulu.

Tetapi akhirnya setelah waktu yang cukup lama, nomor 157 tersebut juga. Abi langsung melompat dari kursinya dan aku berjalan lebar-lebar mengikutinya.

Kami duduk di kursi di depan meja pengambilan paspor. Aku mengamati orang bertubuh besar yang melayani dan ruangan itu. Ada ratusan bahkan mungkin bisa sampai ribuan map kuning bertumpukan di meja dan kardus-kardus.

Pasporku tidak langsung diserahkan pada kami. Petugas itu agak kesulitan mencari mapku dan akhirnya pergi sebentar sebelum kembali membawa beberapa map, yang salah satunya adalah map berisi paspor baruku.

Aku tersenyum senang melihat paspor itu. Kini aku menjadi orang kedua di keluargaku, setelah umiku, yang mempunyai paspor dan bakal menginjakkan kaki di luar Indonesia.

Kami pulang dengan air hujan turun dengan cukup deras di jalan raya, namun sekitar perumahan kami tampak kosong tanpa air hujan sama sekali.

Dan itu semua belum semua (?).

Sore itu aku dan kakakku harus pergi ke TQT untuk mengaji. Aku tidak bisa membolos lagi, karena hari Senin sebelumnya aku sudah membolos disebabkan oleh pergi ke kantor imigrasi selama lebih dari sembilan jam. Kini aku tidak dapat membolos lagi.

Aku dengan terburu-buru pergi mandi, berganti baju dan shalat Ashar. Aku menatap meja dengan terpukul. Aku sebenarnya berencana untuk menyetrika sepulang dari kantor imigrasi, bahkan sudah merapikan meja untuk itu, tetapi aku tidak mengira bakal menunggu selama lebih dari tiga jam disana. Dan rumah masih berantakan, belum kusapu sama sekali.

Hujan mendadak turun. Mas Azmi berkata itu hanya hujan lewat, tetapi abi berkeras untuk pergi ke TQT menggunakan mobil saja daripada kehujanan jika menaiki motor. Dan untunglah, karena hujan disana derasnya bukan main.

Fyi, aku belum makan siang. Jadi sepanjang mengaji, aku harus menahan rasa laparku dan hanya mengisi perut dengan sebuah burger (ini burger yang sangat kecil, tidak bisa mengenyangkan perut tetapi cukup untuk menenangkan perutku yang kelaparan), bakso (aku membeli di saat yang telat, saat bakso itu tinggal sedikit. Untung saja aku masih kebagian sebutir).

So, hari itu sangat full dengan berbagai agendaku. Tapi akhirnya paspor sudah di tangan. Rasanya gembira sekali saat membayangkan tempat-tempat di Malaysia dan Singapura yang bakal kukunjungi nantinya.

2017-26-2-14-14-27
Ngapain juga diupload, isinya ‘sensor’ 😂
img_20170225_062924
Ini bukan jariku, bukan jarinya mimi peri, bukan jarinya dijah yellow juga.

2 thoughts on “Kantor Imigrasi Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s