Ramen’s Review

PS: Foto menyusul, belum dikirim sama umi.

Semalam, aku pergi ke sebuah restoran milik teman umi untuk makan malam bersama-sama setelah menghabiskan sore yang melelahkan dengan mengajar computer dan menggambar di sebuah TPQ.

Restoran itu menjual makanan khas Jepang, terutama mie ramen. Aku langsung bersemangat begitu mendengar kata ramen. Walaupun aku belum pernah mencobanya, kupikir ini mungkin enak.

Disana, aku agak terkejut melihat tempat yang ramai. Hampir semua meja terpenuhi.

Tempatnya modern dan bernuansa ceria. Mejanya unik dan berasa di Jepang. Tempat ini cocok untuk anak remaja atau mahasiswa, dilihat dari model bagian dalam restorannya dan lagu yang diputar. Bahkan aku sempat mendengar beberapa lagu barat yang kukenal, tetapi aku lupa judul lagunya.

Aku dan keluargaku duduk di salah satu meja yang bersih. Aku terkejut juga melihat penampilan meja dan bagian yang lebih dalam dari restoran itu. Tempat itu sangat bersih, lantainya juga bersih, pemandangan yang jarang bisa kita lihat pada restoran-restoran biasanya.

Seorang pelayan menyodorkan daftar menu.

Kami memilih, tapi bingung hendak memilih apa karena daftar menu tersebut tidak ada yang paham isinya. Aku tidak mau makanan yang pedas, jadi akhirnya pelayan itu membantu menjelaskan isi menu.

Aku memesan ramen goiyoku (?), sama dengan kakak, adik dan abiku, dan umi memesan ramen shigoku (?). Mian, aku lupa nama ramen yang disajikan. Bahkan aku lupa dimana  letak restoran ramen tersebut, so just chilled guys 😂

Aku juga memesan vanilla milkshake, sementara kakakku dan adikku memilih strawberry smoothies.

Minuman kami disajikan terlebih dulu, baru mie ramen beberapa saat kemudian. Aku sempat membandingkan rasa antara minuman yang kupesan dan minuman yang dipesan kakak dan adikku.

“Vanila lebih enak,” kataku.

Mie ramen akhirnya datang, dihidangkan dengan mangkuk kayu, sumpit kayu dan sendok berbentuk unik dengan warna putih.

Aku tidak langsung mencicipinya, karena masih terasa panas. Setelah beberapa menit, aku langsung melahap mie ramen itu dengan sumpit.

Jujur, rasanya tidak seperti dugaanku. Mienya tebal dan bumbunya tidak pas di lidahku. Mungkin karena seleraku tidak seperti orang Jepang, kali ya. Aku lebih suka mie tipis dan bumbu-bumbu tradisional Indonesia.

Tetapi, surprisingly, tempat ini cukup ramai. Aku jadi bingung, apa mungkin hanya aku dan keluargaku yang punya selera berbeda?

Tapi aku sangat menyukai daging yang disediakan sebagai topping pada mie ramenku. Dagingnya empuk dan bumbunya meresap. Sayang sekali yang disediakan hanya dua lembar daging. Kalau saja ada empat lembar daging atau lebih, hehehe #edisimaruk

Dan nori. Aku memang suka nori sedari dulu. Adikku dan umi tidak begitu suka nori, jadi nori mereka jatuh ke dalam perutku.

Di TPQ sebelumnya, sebenarnya, aku sudah makan roti dan minum cukup banyak. Ditambah semangkuk besar ramen, segelas besar vanilla milkshake dan setengah gelas strawberry smoothies yang tidak dihabiskan kakakku. Rasanya perutku mau pecah. Dan sebenarnya aku berniat diet dari beberapa minggu yang lalu. Tapi mau tak mau mungkin aku harus diet dengan cara menunggu keberuntungan (?) dengan makan banyak tapi berat badan berkurang (?).

Aku ini kurus. Tapi belakangan aku merasa agak gemukan walaupun teman-temanku berkata lain. Tapi bisa jadi aku memang kurus tapi aku memang tidak gemukan (?)

Ah sudahlah.

Mie ramen adikku tidak habis, jadi umi menyimpannya di wadah makanan yang dibawa olehnya #mamagoals untuk dimakan besok. Dan hari ini, tepatnya sejam yang lalu, aku turut mencicipi mie ramen yang telah dimodifikasi oleh umiku, dimasak ulang dan ditambah air.

Sumpah, rasanya enak banget! Menurutku, ramen original yang ada di restoran ramen sebelumnya, terlalu pekat bumbunya. Makanya rasanya tidak begitu enak bagi kami. Tapi yang modifikasi umi ini enak banget, aku sebenarnya ingin tambah tapi aku nggak yakin masih ada atau tidak #mamagoals2

Sudah begitu aja. Tadi pagi, waktu bermain dengan teman-temanku, aku juga banyak ngetik. Dan sekarang umi dan abi menagihku untuk membuat postingan review tentang ramen sementara aku belum menulis sepotong katapun *let out a heavy sigh

Btw, yang khawatir apakah ramen ini halal atau tidak, ramen ini halal, kok. Pemiliknya, seperti sudah kusebut diatas adalah teman umi, dan beliau berkerudung panjang walaupun aku tidak tahu bagaimana wajahnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s