Edutrip ke MalayPura (1/10)

Bonjour.

So, hari ini, aku bakal ceritain pengalamanku traveling edutrip keluar negeri dari Sabtu lalu. Yaitu ke Malaysia dan Singapura.

Hari Sabtu jam tiga pagi, aku sudah dibangunkan dan bersegera mandi di pagi buta. Kami harus segera berangkat ke Bandara Juanda Surabaya dan sampai pada jam tujuh sesuai petunjuk yang telah diberikan oleh Bu Dewi. Kami juga berangkat pagi karena takut apabila jalanan bakalan macet jika berangkat kesiangan.

Bu Dewi adalah guide rombongan edutrip kami nanti. Beliau dan suaminya, Pak Bayu, adalah yang memiliki Griya Talenta, sebuah grup traveling yang membuat kegiatan-kegiatan edutrip keluar negeri.

Setelah semua siap, kami berangkat dengan mobil. Jalanan sangat sepi dan udara pagi segar tercium. Tetapi saat kami melewati pasar, sudah banyak orang yang berkumpul menyiapkan dagangan masing-masing. Aku salut kepada perjuangan mereka mencari nafkah dari pagi buta seperti ini. Setiap hari, lagi.

Setelah satu atau satu setengah jam menaiki mobil, akhirnya kami sampai di Bandara Juanda. Tetapi aku mendapat pesan dari Bu Dewi di grup Whatsapp kelompok edutrip kami kalau mereka masih menunggu pesawat di bandara Balikpapan. Setelah aku cek tiket pesawat di tasku, ternyata pesawat baru bakal boarding sekitar jam sepuluh-an. Aku berdecak. Ini masih jam tujuh, jadi harus menunggu sampai tiga jam lagi.

Setelah setengah jam berlalu, kami akhirnya meninggalkan mobil di tempat parkir dan masuk ke dalam bandara. Disana, kami bertemu dengan salah seorang rekan yang juga bakal mengikuti edutrip ini. Namanya Mbak Aisyah dan aku belum pernah bertemu dengannya.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Bu Dewi dan rombongan yang lain keluar. Bu Dewi adalah seorang wanita berpotongan montok yang berwajah ramah dan ceria. Dan rombongan edutrip yang lain adalah tiga orang cewek yang tampak jauh lebih tua dari aku dan seumuran dengan Mbak Aisyah. Belakangan kutahu kalau namanya adalah Mbak Syifa, Mbak Aziza, dan Bu Ghia.

Mbak Syifa orangnya itu ‘keibuan’. Soal keibuannya pikir aja sendiri, kkkk.

Mbak Ziza orangnya sok gaul dan cerewet. Kalau Bu Ghia itu photographer teacher, guru berperangkap fotografer juga.

Aku sudah tahu, sih, kalau rata-rata orang yang bakal mengikuti kegiatan ini umurnya kisaran antara 14-15 tahunan. Aku jadi dongsaeng disini, yang paling muda.

Selain Bu Dewi, Mbak Syifa, Mbak Ziza dan Bu Ghia, ada Pak Bayu dan satu-satunya remaja cowok di kegiatan edutrip ini: Kak Abyan. Orangnya ‘alim’. Soal alimnya bayangin aja sendiri, gak alim-alim juga sih dianya.

Tapi kemudian kami berpisah lagi karena harus pergi ke Terminal 2 untuk keberangkatan internasional. Aku pergi dengan keluargaku sendiri menggunakan mobil kami, Mbak Aisyah pun juga begitu.

Waktu buat checkin sudah tiba. Aku dan umi, kakakku dan adikku dengan gusar menunggu di depan pintu pemeriksaan menunggu abi muncul sehabis memarkir mobil. Aku harus pamit pada abi dulu sebelum berangkat.

Abi akhirnya datang. Setelah pamit dan berbasa-basi sebentar, aku langsung melambaikan tangan dan pergi bersama Bu Dewi dan member yang lain.

Bu Dewi mengajak kami untuk shalat Dhuha terlebih dahulu. Karena aku nggak shalat, jadi aku menunggu di ruang tunggu sambil bermain handphone. Sehabis itu kami pergi checkin. Para member edutrip yang lain sudah pada check in dan hanya aku dan Mbak Aisyah saja yang belum.

Gate Lion Air untuk keberangkatan dari Indonesia-Singapura belum dibuka. Aku langsung asyik memotret sekitar dan mengeksplorisasi lokasi ruang tunggu dekat gate dengan mataku. Aku langsung menangkap sosok dua orang petugas yang sibuk bermain handphone sambil duduk di atas kursi.

Tapi… eit! Kursi yang mereka duduki bukan sembarang kursi, melainkan priority seats.

Aku merasa agak heran kenapa kursi yang mereka duduki itu priority seats (kursi untuk orang berkebutuhan khusus seperti orang tua, orang cacat, dan orang hamil), padahal di sekitarnya masih banyak kursi biasa yang kosong.

Waktu naik pesawat tiba. Aku agak heran kenapa aku tidak merasa deg-degan atau semacamnya. Perasaan yang kurasakan sama saja sewaktu aku pergi naik pesawat ke Jakarta untuk KPCI. Biasa aja, kkk.

Di pesawat, aku duduk bersebelahan dengan Mbak Aisyah. Di sebelah kami berdua duduk seorang lelaki berwajah Mandarin yang bertampang ramah dan juga ramah senyum.

“Kalian darimana?” tanyanya memulai percakapan (dengan bahasa Inggris). Senyum tak hentinya tersungging di wajahnya.

“Indonesia,” kami turut mengulum senyum dengan awkward.

“Kalian kelas berapa?”

Awalnya aku dan Mbak Aisyah bingung karena Inggris kami dan lelaki Mandarin itu sama-sama tak seberapa bagus dan pas-pasan, tapi kemudian kami mengerti dan menyebutkan kelas masing-masing.

Lelaki itu terdiam sejenak kemudian mengetik sesuatu di handphonenya.

Beberapa menit kemudian, lelaki itu menunjukkan layar handphonenya kepada kami. Dia ternyata menggunakan sebuah aplikasi translator (entah apa namanya, tapi bukan seperti Google Translator. Semacam aplikasi operator translator otomatis (?) ).

Tulisannya adalah, “Kenapa yang satu mengenakan hitam dan yang satu memakai putih?”

Aku dan Mbak Aisyah berpandangan. Kami seratus persen tak mengerti apa maksud pertanyaan ini. Tapi kemudian kami menyadari kalau yang dimaksud oleh lelaki itu adalah kerudung kami. Aku waktu itu memakai kerudung hitam dan Mbak Aisyah memakai kerudung putih.

“Errr… kami bisa memakai kerudung yang kami mau. Misalnya aku juga bisa memakai kerudung hitam, dan dia juga bisa memakai kerudung putih,” jelas Mbak Aisyah patah-patah.

“Oooo,” lelaki itu membulatkan mulutnya, tersenyum manggut-manggut. Dia menulis dan menunjukkan handphonenya lagi. Tulisannya adalah, “Kukira kalian memakai warna yang berbeda karena umur kalian juga berbeda.”

Aku dan Mbak Aisyah tertawa. Apa budaya di China mengharuskan siswa-siswinya memakai pakaian yang berbeda sesuai umur masing-masing?

Lelaki itu banyak bertanya lagi, seperti untuk apa kami pergi ke Malaysia dan dia berkata kalau waktu liburan kami tidak sama dengan di China. Langsung kujawab, “Oh tidak, kami homeschooling jadi tidak mengikuti konsep sekolah formal,”

Tetapi sepanjang perjalanan kemudian kami diam-diaman. Lelaki itu asyik menonton film tentara Barat di tabletnya dengan earphone. Kulihat ia menontonnya dengan subtitle China. Kayak aku kalau lagi struggling ga ada subtitle English di drama koriyah kkkk.

Udah hampir 1000 kata gais, udahan dulu yak lanjut ke part 2 besok. Mungkin ini story bakal lanjut sampai 1-6an part.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s