Edutrip ke Malaypura (3/10)

Aku berjalan keluar mendahului Mbak Aisha ke lobby setelah mengenakan kaus kaki. Tetapi tidak ada orang yang muncul, jadi aku balik ke kamar dan mengirim pesan ke groupchat kalau tidak ada orang di lobby. Kemudian Pak Bayu membalas kalau Pak Bayu sudah menunggu di lantai dua.

Jadi, intinya, kami kemudian dibagi dua group dan Bu Dewi menyilakan kami semua untuk berpencar dan berbelanja sendiri. Aku, Bu Ghia, Mbak Aisha, Mbak Ziza, Mbak Syifa dan Kak Abyan berpisah dengan Bu Dewi dan Pak Bayu di guest house.

Tujuan pertama jelas ke Petaling Street atau Chinatown, salah satu pusat perbelanjaan di Malaysia.

Aku berjalan sambil melihat-lihat sekitar. Pencarian utamaku adalah gantungan kunci dan souvenir, juga pelembab bibir. Aku sudah lama mencari pelembab bibir tetapi tidak punya waktu untuk membelinya di Indonesia. Mumpung sekarang sedang berbekal uang di negara tetangga, mending beli disini saja hehehe.

Untung sekitar setengah jam sampai 45 menit pertama, tidak ada yg kami beli karena harganya termasuk mahal untuk backpacker super irit seperti kami berenam kkk.

Oh ya, di tengah jalan, Kak Abyan yang biasa berjalan di belakang para ladies menghilang. Karena setelah dicari-cari tidak ada, ditunggu tidak muncul dan tidak ada yang punya kartu data Malaysia untuk menghubungi Kak Abyan, jadi kami ‘terpaksa’ meninggalkan Kak Abyan.

Di tengah jalan kami memang menemukan wifi gratis dan aku sudah mengirim pesan ke groupchat menanyakan lokasi Kak Abyan, tetapi tidak mungkin juga Kak Abyan bakal menerima pesan itu kecuali kalau ia dapat jaringan wifi juga di tempatnya.

Setelah lama berputar-putar sampai kaki pegal dan berkunjung ke Central Market yang ternyata saat kami kunjungi sudah tutup jadi tidak jadi beli, kantongku sudah kosong berisi dengan segantung gantungan kunci Malaysia, pelembab bibir yang bisa untuk penghalus kulit kering bermerk visiline, dan entah apalagi aku lupa, kami balik.

Tapi sampai di penginapan, aku masih nggak puas. Aku ingin beli jus tapi nggak yakin apakah counter jusnya masih buka atau tidak. Dengan bekal dompet dan keberanian, jam sepuluh malam aku keluar penginapan untuk cari minuman.

Langit gelap dan banyak orang di jalan. Pertama kali di Malaysia, aku kaget ternyata banyak juga orang homeless yang tinggal di pinggir jalan, di trotoar. Kukira di negara seperti Malaysia tidak banyak orang homeless seperti itu. Tetapi nyatanya sangat banyak.

Counter jus yang kuincar ternyata sudah tutup, jadi aku memutuskan untuk beralih jalan ke 7Eleven, semacam Indomaret di luar negeri yang buka 24 jam dan membeli sekaleng Milo dingin. Sudah, itu saja. Lalu aku langsung balik ke penginapan.

Habis itu ya tidur. Lah terus mau ngapain lagi.

Aku sebenarnya sudah menyiapkan alarm agar bisa bangun cepat besoknya. Tetapi aku yang berencana bangun jam setengah tiga pagi kelewatan satu jam, yaitu jam setengah empat. Aku bangun saat Mbak Aisha bangun juga karena pintu diketuk dari luar oleh Bu Dewi yang membangunkan kami satu persatu.

Bu Dewi menginformasikan kalau harus siap-siap untuk berangkat ke masjid terdekat sebentar lagi. Aku tidak shalat, tapi aku ikut juga sekalian olahraga pagi dan mengambil dokumentasi masjid di negara tetangga.

Tapi tidak semua orang ikut, kkkk. Karena Bu Dewi tidak tahu dimana kamar Mbak Ziza dan Mbak Syifa berada, jadi kami meninggalkan mereka berdua dengan sukarela dan pergi dahulu ke masjid tersebut.

Sepuluh menit berjalan sambil memotret sekitar dengan kamera masing-masing, kami sampai di masjid tersebut. Masjidnya rapi, dengan pos satpam dan beberapa satpam di bagian depan, dan ramai.

Ramai banget gils, ga kayak subuhan yang biasa ada di Indonesia. Super duper ramai.

Aku nggak tahu ada acara apa, tapi mungkin ini sedang diadakan acara harian atau mingguan yang biasa membagikan makanan kepada orang-orang ditilik dari persiapan laki-laki dan perempuan muslim yang bercampur menyiapkan makanan-makanan kotak dan galon besar yang diisi butiran es raksasa dan sirup, dan dua dispenser yang mungkin berisi teh dan kopi.

Aku duduk dengan canggung di depan masjid, melihat orang lalu lalang menyiapkan makanan ke sana kemari. Subuh belum dimulai by the way.

Menghilangkan kebosanan, aku memotret sana-sini seperti orang alay tersesat. Tiba-tiba ada orang yang menyapaku, seorang wanita berbahasa Melayu yang kira-kira berumur 30-40 tahunan.

Dari percakapan awalku dengan wanita itu, aku baru sadar kalau Melayu dan Indonesia itu beda banget bahasanya. Beliau bercakap dengan sangat cepat, aku sampai melongo mendengarnya. Tapi beberapa saat kemudian beliau sadar aku tidak mengerti bahasanya, jadi beliau memelankan cara bicaranya dan bertanya banyak hal padaku.

Beliau tanya aku dari mana, sedang apa di Malaysia dan berapa hari bakal di Malaysia.

Aku yha jawab aku dari Indonesia, lagi visiting, lagi liburan gitu, dan bakal di Malaysia selama 2 hari. Terus beliau bilang sesuatu, dan kira-kira begini kalau diterjemahin ke Bahasa Indonesia, “Eh maaf kalau menyinggung, tapi biasanya kan orang Indonesia, ke Malaysia gitu buat bekerja, hehe,”

Hatiku langsung kretek-kretek gitu. Orang Malaysia tampaknya mengenal orang Indonesia sebagai orang yang sering pergi ke negara mereka untuk bekerja menjadi TKW atau TKI. Memang fakta sih, tapi sebagai warga setia yang mencintai tanah airnya tentu saja aku merasa agak sakit hati dengan fakta itu. Tapi aku hanya tersenyum dan mengiyakan perkataannya.


Shalat Subuh sudah selesai. Tetapi tidak ada rekan edutrip yang sudah muncul batang hidungnya dari dalam masjid, kecuali orang di sekitar masjid yang menjadi semakin banyak.

Ada beberapa hal yang aku respect dari orang-orang Malaysia. Ras mereka berbeda, yaitu India, Melayu dan China, tetapi aku lihat di masjid ini mereka saling bercanda tawa, mengobrol, bahkan tadi aku melihat ada seorang lelaki India, seorang perempuan berkebangsaan Melayu dan China yang tampaknya bukan orang Islam saling bercakap-cakap di luar bangunan masjid.

Biasanya, kalau di masjid dekat rumah, kalau subuh tak banyak orang yang saling menyapa bahkan bercakap-cakap satu sama lain. Tetapi disini orang-orang tampak ramah, mengobrol, dan selepas Subuh makin banyak orang yang muncul dari luar area masjid untuk mengambil kotak makanan yang dibagi-bagikan walau tak ikut shalat.

Acara harian atau mingguan atau bulanan ini jelas diadakan untuk memberi sedekah bagi orang-orang homeless di penjuru Malaysia, terutama yang dekat dengan masjid, kkk. Biarpun mereka tidak ikut shalat, tapi hati orang-orang muslim disini bagiku seperti hati malaikat karena membagikan kotak-kotak makan dan minuman bagi orang-orang yang homeless maupun non-homeless. Untung-untungan dapat sarapan gratis.


Ah sudahlah, ini story kinerjanya amburadul. Malas diedit, udah jam sembilan gini juga. Aku sengaja nulis panjang-panjang biar dapat lebih dari 1000 kata, kkkk. Mumpung sekarang sudah capai target, udahan dulu ya guys. Bhay.

Oya, by the way, bagi yang bertanya-tanya kenapa aku tidak menyertakan foto-foto sebagai dokumentasi, aku bakal membuat postingan khusus foto dokumentasi itu tersendiri. Uploadnya ke WordPress lama, bo. Dan belum semua foto aku pindahin dari kamera ke laptop, jadi be patient, sabar menunggu.

Bhay. //bhaks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s