Edutrip ke MalayPura (4/10)

Selain bercakap-cakap dengan wanita Melayu itu, aku juga  mengobrol dengan remaja Malaysia berumur sekitar 15-17 tahunan yang mungkin adalah putra atau sekedar rekan dari wanita Melayu yang tadi mengajakku mengobrol.

Dan aku kaget, di tengah percakapan, mereka ternyata mengiraku telah berumur 17 tahun atau semacamnya, tapi aku berkata kalau umurku itu baru 12. Mana ada anak 17 tahun dengan tinggi sepertiku? Apa aku terlalu tinggi untuk anak seumuranku? Nggak juga sih. Aku bukan orang bule atau orang koriyah yang umur 8 tahun aja tingginya sudah 130 cm.

Oya, aku baru ingat kalau waktu ke masjid ini, aku tidak membawa kameraku sendiri. Aku memotret sekitar menggunakan kamera Bu Ghia.

Mendadak kulihat Mbak Ziza dan Mbak Syifa yang kami tinggal di penginapan tadi pagi memasuki area masjid. Aku yang sedari tadi nggak tau harus ngapain di tempat dudukku bersama orang-orang asing ini langsung melompat dan menghampiri mereka dengan lega. Mana yang lain juga belum muncul dari masjid, lagi.

“Ah, akhirnya kalian datang juga,” aku berkata dengan lega. Duduk di samping dua orang Melayu yang baru saja kutemui dan diajak ngobrol itu bukan hal yang gampang. Dan mereka ngomongnya cepet banget, kkk.

Aku setengah-setengah paham, aku nggak sepintar temen adikku yang gegara keseringan nonton Upin Ipin sama Boboiboy jadi fasih Bahasa Melayu dan setiap hari bicara campur antara Indonesia sama Melayu.

Karena Mbak Syifa juga tidak shalat sepertiku, kami menunggu di luar saja. Tepat pada saat itu yang lain sudah pada muncul dari dalam.

Kusingkat saja ya. So, kami disana juga ikut ambil bagian kotak makan yang sedang dibagikan tersebut kkk. Backpacker kan harus selalu hemat, ini beruntung dapat sarapan pagi gratis seperti yang kubilang di post sebelunya.

Aku juga minum es sirup dari galon besar di depan masjid. Rasanya enak, tidak terlalu manis. Orang Malaysia itu lebih suka tidak terlalu manis, tapi pekat. Contohnya, Milo yang dijual disana sangat berbeda dengan yang dijual di Indonesia.

Di Malaysia, Milo mereka tidak terlalu manis tapi cokelatnya lebih banyak dan pekat, sementara orang Indonesia menjual Milo yang manis tapi tidak begitu pekat. Makanya sebelum aku pergi ke Singapura, aku menyempatkan diri beli Milo sebungkus yang akan kuceritakan kalau sudah waktunya.

Sehabis berunding dan membuat rencana selanjutnya, kami kembali ke penginapan untuk bersiap-siap mandi dan packing. Pagi ini juga kami harus lanjut ke perjalanan berikutnya.

Aku berjalan secepat mungkin karena aku ingin mandi duluan dan mempunyai waktu cukup banyak untuk main handphone sesudahnya, kekeke.

Tapi ujug-ujugnya aku malah mendekam di kamar dan memainkan handphone. Aku baru mandi setelah Bu Ghia datang dan menyuruhku dan Mbak Aisha yang masih sibuk dengan handphone kami sendiri-sendiri untuk segera mandi karena Bu Ghia sendiri sudah mandi.

Setelah mandi, aku membuka kotak makan yang tadi dibagikan di masjid. Tapi ternyata oh ternyata, isinya adalah nasi, ayam goreng dan telur rebus. Ada juga plastik berisi beberapa roti bulat. Tapi segumpal sambal tampak terlihat di atas nasi.

To be honest, aku ini anti sambal kecuali sambal mi instan. Aku nggak bisa makan pedas. Jadi dengan berat hati aku meninggalkan sarapanku dan makan telur rebus dan roti saja. Berasa orang luar negeri//g

Mbak Ziza dan Mbak Syifa menyusul membawa makanan mereka untuk ikutan makan di kamarku dan Mbak Aisha. Sementara aku sibuk menghabiskan makananku dan merapikan barang-barang.

Setelah makan, aku menyeret barangku yang beratnya naudzubillah ke lantai bawah. Aku masih mengunyah sebutir roti bulat yang belum sempat kuhabiskan. Untung saja perjalanan bakal dilanjutkan, tapi tidak dengan ransel-ransel kami. Semua barang berat diletakkan di kamar Bu Dewi dan Pak Bayu, sementara barang-barang penting dibawa melanjutkan perjalanan.

Kali ini kami bakal pergi ke Masjid Negara.

Bu Dewi dan Pak Bayu melepas kami untuk berangkat sendiri dan bertemu kembali di Masjid Negara. Perjalanan dari penginapan ke Masjid Negara ini bikin capek banget gais, kami lost dan mutar-mutar di satu jalan yang sama sampai akhirnya menemukan jalan yang sebenarnya ke Masjid Negara.

Dan di tengah jalan, untuk yang kedua kalinya Kak Abyan hilang lagi meninggalkan para cewek pusing tujuh keliling menentukan jalan mana yang benar arahnya ke Masjid Negara. Berkali-kali tanya orang dengan bahasa Melayu pas-pasan dan tetap saja kesasar.

Walau akhirnya kami sampai juga di Masjid Negara.

Begitu sampai, aku langsung gasped. Jujur, sumpah, masjid ini keren banget gils. Dari luar memang kelihatan hanya sebagai masjid besar yang biasa saja. Tetapi, bagian dalamnya bikin aku semakin terkejut. Bayangkan, di dalam masjid ada kolam dan air mancur. Dan itu besar banget. Dan masjidnya juga luar biasa besar.

Dan yang bikin aku respect itu, jadwal visiting buat turis dibatasi (buat turis yang non-Muslim dan datang kesana untuk sekedar touring), dan pakaiannya harus tertutup. Bagi turis non-Muslim yang memakai pakaian terbuka diwajibkan harus memakai pakaian khusus yang disediakan disana. Bentuknya seperti kepompong besar berwarna kuning dan hanya kelihatan wajahnya doang, kkk. Sumpah, lucu banget bentuknya.

Di Masjid Negara, bagi yang shalat langsung shalat dan yang tidak shalat sepertiku dan Mbak Syifa sibuk exploring isi masjid yang terdekat. Aku capek exploring jauh-jauh dan kemudian duduk beristirahat setelah membeli sebotol air minum seharga satu ringgit di samping kolam.

Fyi, kios yang menjual air minum seharga satu ringgit itu tidak ada penjaganya. Jadi pembeli diharapkan jujur dan memasukkan uang ke dalam kotak sesuai dengan harga botol yang mereka beli dan tidak malah membawa kabur air minum itu tanpa membayar.

Setelah shalat, Bu Dewi dan Pak Bayu tak sengaja bertemu dengan seorang kenalan mereka dan asyik bercengkrama. Sementara yang lain asyik mengobrol dan menulis di kertas seperti “Buat yang baca, salam dari Singapura ^^”, untuk kemudian difoto dan diupload di media sosial.

Aku juga turut ikut dalam tulis menulis kertas tersebut, tapi kemudian dilanda bosan dan memilih untuk memotret kolam dan air mancurnya saja.


Mian guys, kemarin aku nggak bisa update karena aku ada touring bareng ibu-ibu PKK di RTku menggantikan umi selama 15-16 jam dari jam setengah enam sampai jam setengah sepuluh malam ke Surabaya. Aku nggak bisa janji aku bakal menulis sekitar perjalanan touringnya, ya, karena serial Edutrip Malaypura ini saja masih bakalan panjang, mungkin semingguan lagi baru tamat.

Tapi semoga aja aku bisa nulis perjalanannya, karena ada banyak di touring kemarin yang ingin aku paparin di blog ini.

Oke, sudah gitu dulu ya. Kkaebsong~ stay tuned, my lovely chogifriends;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s