Edutrip MalayPura (5/10)

Setelah shalat, Bu Dewi dan Pak Bayu tak sengaja bertemu dengan seorang kenalan mereka dan asyik bercengkrama. Sementara yang lain asyik mengobrol dan menulis di kertas seperti “Buat yang baca, salam dari Singapura ^^”, untuk kemudian difoto dan diupload di media sosial.

Aku juga turut ikut dalam tulis menulis kertas tersebut, tapi kemudian dilanda bosan dan memilih untuk memotret kolam dan air mancurnya saja.

Setelah selesai beristirahat, kami pergi ke Petrosains.

Petrosains terletak di KLCC Twin Towers. Kami pergi kesana menggunakan subway (kalau tidak salah) dan dari subway langsung masuk ke area Twin Towers, jadi aku nggak tau kalau sebenarnya kami sedang berada di Twin Towers sampai nanti keluar dari gedung.

Jujur, Petrosains ini keren banget. Bikin aku luar biasa amazed. Cuma hanya dengan bayar 40-45 RM, sudah bisa masuk ke tempat wisata sebagus Petrosains dan menikmati isinya dengan jangka waktu lebih dari dua jam. Sebenarnya kami mau main di dalamnya lebih lama, tetapi karena waktu schedule sudah mepet akhirnya hanya bisa di dalam selama kurang lebih satu setengah jam.

Dan Petrosains itu bukan hanya tempat wisata sembarangan. Semuanya related dengan sains dan pokoknya luar biasa keren kalau mengingat harga tiket masuknya hanya 45 RM. Itu termasuk murah, sekitar 80k. Museum Angkut harga tiket masuknya kalau tidak salah di atas seratus ribu, dan kalau soal pengetahuan aku tidak yakin Museum Angkut bisa dicompare dengan Petrosains.

Aku nggak bisa jelasin tentang Petrosains secara detail disini kalau tanpa foto, jadi aku bakal jelasin Petrosains di chapter khusus soal Petrosains dengan foto-fotonya. Fotonya belum aku pindahkan ke laptopku, baru di komputer kakakku, so be patient untuk special chapternya nanti.

Kami selesai bertualang di Petrosains jam dua belas lebih dan menemukan Bu Dewi menunggu di depan pintu masuk. Pak Bayu sudah pergi duluan dan Bu Dewi memutuskan untuk menunggu kami, padahal sebelumnya Bu Dewi berkata pada kami untuk pulang ke guest house sendiri, kkkk.

Tujuan kami berikutnya adalah Melaka, Melaka Heritage, tapi kami harus balik dan mengambil barang-barang ke guest house dulu. Tetapi sebelumnya Bu Dewi mengajak kami untuk berfoto-foto di depan Twin Towers dan danaunya juga.

Gila, ini pertama kalinya aku melihat Twin Towers dengan kedua bola mataku sendiri. Keren banget sumpah. Walaupun panas banget si. Aku nyesel kenapa nggak bawa topi, langit siang itu panasnya sama kaya Surabaya.

Setelah memotret-motret dan berfoto bersama dengan selfie stick (baca: tongsis), kami berangkat pulang. Kami naik subway lagi sebelum akhirnya sampai di stasiun subway dan lagi-lagi berjalan cukup jauh ke Submarine guest house.

Sampai disana, aku langsung menghempaskan badan di tangga depan pintu dan menghela napas panjang bersama yang lain. Jalan dari stasiun subway kemari itu bukan hal yang gampang, malah sangat menyusahkan apalagi di bawah langit yang sepanas planet Mars ini.

You home?” Max menyapa dari sebuah kamar. Melihat kami yang duduk di tangga kepanasan, dia melanjutkan, “Kenapa tidak dibuka jendelanya? Excuse me, biar kubukakan,”

Tapi aku dengan sigap langsung berdiri dan membuka jendela. Aku langsung menghirup udara segar banyak-banyak dengan lega dan menghembuskannya kembali.

Setelah duduk sambil mengobrol beberapa lama, aku merasa haus dan naik ke atas untuk membeli sesuatu dari Max. Ada kulkas toko yang tersedia diatas, menyediakan kaleng-kaleng dan kotak-kotak minuman dingin yang menggodaku untuk dibeli.

Aku sedang tak dalam mood untuk minum jus, jadi aku mengambil sekaleng Milo seharga kurang lebih 3 RM dan membayar dengan 5 RM kepada seorang India yang menjadi resepsionis menggantikan Max karena aku malas menghitung uang koin.

Tetapi, mendadak Max muncul dari belakang pak resepsionis dan berkata,

No, no, no need to pay. Its okay, take your money,

Aku ya kaget. Jelas-jelas uang 5 RM sudah kuberikan tapi Max tetap menolak. Aku berdiri sambil menolak canggung di tempatku tetapi berakhir dengan aku mendapatkan kaleng Milo itu -secara gratis. “Thank you so much!” kataku sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.

No problem, no welcome -oops, you’re welcome,” kata Max. Dan kalau nggak salah dia bilang, “Tell your friends.”

Aku mengartikan kata terakhirnya sebagai aku disuruhnya untuk menyuruh teman-temanku ke atas juga biar dapat minuman gratis, tapi aku agak lupa.

Max orangnya memang seperti ini di dunyan. Asik, kocak, tapi akunya aja yang canggung kkk. Bahasa Inggrisku lumayan bagus tapi kalau sudah berhadapan dengan orang berbahasa Inggris yang asli langsung nggak tau harus ngomong apa. Kalau baca online story aku musti pakai bahasa Inggris, kok. Soalnya baca bahasa Indonesia baku itu agak cringey dan mending baca langsung pakai bahasa Inggris.

Aku langsung lari kebawah sambil nyengir bangga.

“Ehh, aku tadi beli Milo dan dikasih gratis,” kataku sambil menunjukkan kaleng Milo yang kupegang. Yang lain langsung menatapku. “Dan katanya aku disuruh panggil yang lain keatas, mungkin mau dikasih gratis juga,”

“Beneran?”

Kak Abyan adalah orang pertama setelahku yang berani keatas. Tetapi hari itu bukan hari keberuntungannya. Dia kebawah membawa sekotak jus dan berkata kalau Max bilang begini, “no, you need to pay.” Apa cowok harus bayar, ya? Kkkk.

Tapi yang cewek nggak ada yang berani mencoba experience dapat minum gratisku tadi. Namun Mbak Syifa dan Mbak Aisha keatas untuk pergi ke kamar kecil kalau nggak salah, dan mereka sempat mengobrol dengan Max.

Mbak Syifa bilang kalau Max cerita ia bakal menikah sama pacarnya di Jakarta Mei nanti (aku nggak tahu pasti, pacarnya itu orang Jakarta, atau bule yang tinggal di Jakarta, atau pacarnya itu wanita yang ada di Submarine itu juga, salah satu worker dan saat kemarin kami datang sedang bermain kartu dengan seorang pengunjung Japanese dan mereka bakal menikah di Jakarta). So, tebak aja sendiri.

Kami menyerukan beberapa seruan congratulations canggung dari bawah sambil berjalan menuruni tangga. Kami bakal pergi ke Melaka.

Tapi sayang tak sayang, hari itu bukan hari keberuntungan kami untuk bisa menginjakkan kaki di Melaka Heritage, salah satu tempat wisata yang seharusnya diwajibkan untuk semua turis yang datang ke Malaysia. Bu Dewi bilang Melaka adalah tempat yang wajib kami kunjungi, sayangnya kami tidak beruntung waktu itu. Dan bahkan ustadzahku belakangan berkata kalau sayang sekali aku tidak bisa pergi ke Melaka karena Melaka adalah tempat yang sangat bagus.

Penasaran? Stay tuned!




Mian guys bikin kalian menunggu. Aku beberapa hari ini nggak ada mood dan moodbuster buat nulis. Dan kemarin lusa (hari Selasa), itu hari no gadget jadi aku nggak main gadget sama sekali sampai Isya’. Dan yang sehabis Isya’ itu kugunakan untuk main Instagram dan browsingan, so bYe. Kkk.

Btw, aku baru aja ganti header mengingat dua hari lagi anniversary-nya EXO yang ke-5. Cuma mau ngomong aja si.

bye.

chicken is not my style //lie

2 thoughts on “Edutrip MalayPura (5/10)

  1. ghia 신애 says:

    Aslm.alaikum, Zahra…. smoga sehat d sana y. tulisannya keren bgt de’. Hem, be2rapa hari semenjak kepulangan kita dari sana, bu Dewi sering déjà vu sama Zahra. Tiap ada yg janggal beliau bilang gini “eh mana Zahra”, “eh ini punya Zahra bukan” 😅 edisi blm bs move on dari Zahra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s