Edutrip ke Malaypura (6/10)

Tapi sayang tak sayang, hari itu bukan hari keberuntungan kami untuk bisa menginjakkan kaki di Melaka Heritage, salah satu tempat wisata yang seharusnya diwajibkan untuk semua turis yang datang ke Malaysia. Bu Dewi bilang Melaka adalah tempat yang wajib kami kunjungi, sayangnya kami tidak beruntung waktu itu. Dan bahkan ustadzahku belakangan berkata kalau sayang sekali aku tidak bisa pergi ke Melaka karena Melaka adalah tempat yang sangat bagus dan wajib untuk dikunjungi semua orang yang datang berlibur ke Malaysia.

So, kami berencana untuk langsung ke Johor. Kami semua duduk dengan lega di lantai terminal, beristirahat sejenak sementara Kak Abyan (atau Pak Bayu?/) mengantri untuk membeli tiket bus ke Johor.

Setelah mendapat tiket bus, kami tidak langsung pergi ke Johor. Kami naik untuk membeli makanan cepat saji di 7Eleven. Setelah lama berunding dengan separuh jiwaku yang bertugas untuk menilai makanan abaikan  aku akhirnya memilih sekotak spageti. Aku membayarnya kemudian kumasak dua kali di microwave yang tersedia.

Ini yang aku sukai dari stasiun bus Malaysia itu. Di tokonya terdapat dua buah microwave untuk memanaskan makanan yang dibeli oleh pelanggan. Andaikan di stasiun bus Malang ada toko yang konsepnya seperti ini juga, aku nggak bakal kelaparan sekaligus bokek karena harga makanan-makanan fastfoodnya juga lumayan murah.

Aku nggak langsung makan. Kotak styrofoam itu masih tertutup. Aku menitipkannya di meja Mbak Syifa dan Mbak Ghia kemudian aku pergi mencari minum. Bu Ghia sekalian menitipkan kepadaku untuk dibelikan sebotol air mineral.

Aku memilih sekaleng Milo, lagi-lagi seperti waktu-waktu yang lalu. I’m already addicted to Milo. Nggak ada yang jual bubble tea sih ya, beneran aku kepengen bubble tea tapi sepanjang perjalanan ga ada yang jual itu.

Saat aku kembali ke meja, nggak ada orang. Aku langsung panik, kirain mereka sudah pada meninggalkan aku, tapi kulihat ransel-ransel yang bertumpukan di luar toko dan Mbak Syifa duduk di dekatnya sambil bersiap untuk makan fastfoodnya. Aku langsung menghembuskan napas lega.

“Yang lain mana?” tanyaku.

“Shalat,” jawab Mbak Syifa. Aku langsung mencari kotak spagetiku yang tadi kubeli, tapi tidak ada. Aku hanya melihat kotak spageti yang kutaksir sebagai kotak spageti milik Mbak Ziza karena ia tadi juga beli spageti. Dengan panik aku langsung berdiri dan masuk ke dalam toko, mencari spagetiku.

Kemudian aku keluar dan duduk dengan lemas. “Spagetiku nggak ada,” aku langsung muttering dengan suara kesal. Mbak Syifa menyodorkan kotak spageti yang tadi kutaksir sebagai milik Mbak Ziza. “Ini tadi spagetinya Bu Ghia yang bawain, berarti punya kamu,”

Rasanya kaya jatuh ke sungai susu surga 7 kali //bhaks.

Aku langsung membuka plastik penutup kotak styrofoam itu, mengangkat garpu plastik yang tersedia di dalamnya dan mulai makan dengan lahap. Jujur, rasanya enak banget. Nggak hanya enak, tapi bener-bener enak.

Kalau nggak karena sudah kenyang dan nggak ada waktu buat beli dan masak lagi, aku totally bakal beli lagi, hehehe.

Sehabis makan, kami berangkat lagi. Sekarang ke ruang tunggu kedatangan bus. Disana, kami menunggu bus datang cukup lama. Awalnya kami sudah mengantri dan ternyata kami mengantri untuk bus yang salah, boo love (put in Yoda’s voice). Kami menunggu lama sekali, mungkin lebih dari setengah jam dan aku sudah menghabiskan isi kaleng Miloku.

Tetapi finally busnya datang juga. Dari nomor kursi yang tertera di tiket, aku bersebelahan dengan Bu Dewi. Aku menghela napas panjang dan menggigil sedikit saking dinginnya AC bus.

Aku mengisi waktuku di bus dengan ngemil dan tidur. Perjalanan ke Johor itu sangat panjang dan tidak ada yang lebih bagus dari tidur //bhaks.

Intinya, kami sampai di Terminal Larkin kalau nggak salah dan kami sampai jam enam atau jam tujuh sore. Langit sudah lumayan gelap dan aku linglung gegara masih mengantuk.

Kami akan pergi ke penginapan yang sudah dibooking oleh Pak Bayu, tetapi sebelumnya tentu saja harus makan dulu. Kami mampir ke KFC terdekat dan para member (?) disuruh memilih masing-masing. Setelah lama berunding dengan separuh jiwaku yang tadi sudah kubilang mengurus part makanan dalam tubuhku //bhaks, aku akhirnya memilih chicken wings (?), kentang tumbuk dan lagi-lagi segelas Milo dengan es. Tanpa nasi fyi.

Makanannya nggak langsung kami makan disana, melainkan ditenteng sampai ke penginapan. Sebelumnya kami mengobrol sebentar dengan mbak-mbak KFC dan kemudian Bu Dewi menanyakan sebuah alamat tempat penginapan kami berada. Ternyata nggak jauh dari situ.

Nggak jauh si nggak jauh, tapi bagiku itu juga lumayan jauh. Kami berjalan selama kurang lebih seperempat menit sampai kemudian sampai di sebuah area. Ditalangi Pak Bayu, kami masuk ke dalam area itu kemudian menaiki sebuah tangga terbuka dalam sebuah gedung kecil dan berhenti di depan sebuah pintu kaca tebal yang mempunyai kunci otomatis dan bel pintu juga.

Pak Bayu beberapa kali memencet bel, tetapi tidak ada yang keluar. Baru saat seorang bule kebetulan lewat di pintu, dia nge-notice kami dan membukakan pintunya.

Saat Pak Bayu dan Bu Dewi mengurusi administrasinya, kami dengan lega duduk di meja yang tersedia di ruang bersama yang cukup besar di dalam. Ada beberapa bule cowok, salah satunya sedang membaca buku, satu tidur dan satu menonton teve yang dipasang di atas dinding. Aku nggak tahu apa judul filmnya, tapi aku mengenali salah satu pemain utamanya, yaitu Tom Cruise.

Aku segera membuka kotak makan KFCku seperti yang lain dan mulai makan. Porsi ayam di Malaysia ini nggak sebanding dengan yang di Indonesia. Gede woy. Makanya aku kenyang banget dan hampir nggak bisa habisin kentang tumbuknya.

Nggak kebayang kalo misalnya aku pakai nasi. Mungkin saat itu juga berat badanku tambah setengah kilo.

Saking kenyangnya, aku nggak bisa menghabiskan Miloku saat itu juga dan memutuskan untuk membawanya ke kamar. Kamarnya bagus banget,bercat oranye dengan grafiti terpampang di dinding, cermin, meja kecil, nuansanya nyaman dan enak dipandang. Oya, aku belum bilang kalau keseluruhan rumah guest house ini menggunakan lantai kayu. Makanya enak dan terasa klasik dengan gaya anak gaul juga tercampur di dalamnya.

Aku sekamar dengan Mbak Aisha dan Mbak Ziza. Ada kasur besar tanpa ranjang dan di sampingnya ada kasur yang lebih kecil. Aku langsung menempati kasur yang lebih kecil.

Tak seperti di Submarine Guest House, disini pemiliknya kurang humoris dan nggak seberapa ramah. Bule-bulenya juga pelit bicara, tapi kan nggak ada juga yang maksa mereka buat ngomong ?/ Tapi masa bodo, yang penting tempatnya enak, nyaman, dan tentunya aku kenyang. Bhaks.

Kemudian Bu Dewi memanggil kami untuk berkumpul di kamar Pak Bayu dan Kak Abyan. Kami membicarakan sesuatu yang sekarang aku sudah lupa apa tepatnya, ohorat. Aku menghabiskan Miloku disitu dengan beberapa ‘bantuan’ dari Mbak Ziza alias minta Milonya cuma-cuma beberapa teguk. Gak masalah sih, aku juga sudah kenyang.

Setelah ngobrol lumayan panjang, kami balik ke kamar masing-masing. Aku mengecash kamera, kemudian berbaring di kasur dan menikmati Wi-Fi yang naik turun kadang-kadang lancar dan kadang-kadang mati. Aku juga sedang bergulat dengan diriku sendiri untuk mandi atau tidak. Alasan pertama untuk tidak karena sudah malam, tetapi alasan kedua juga lumayan bagus: aku kepengen mandi dan pengen merasakan mandi malam di luar negeri //ea .g

So aku mandi juga akhirnya. Nah aku mau ngomong sesuatu yang memalukan banget sebelumnya.

Jadi sebelumnya aku diajak Mbak Syifa untuk pergi mandi, tetapi aku menolak halus karena merasa belum mood untuk mandi waktu itu dan menyuruh Mbak Syifa untuk duluan karena nanti aku akan menyusul.

Nah, lima menit kemudian, aku memutuskan untuk menyusul Mbak Syifa.

Kamar mandi di lantai atas (lantai yang kami tempati) ini, ada dua macam. Sebuah kamar mandi shower untuk wanita dan sebuah kamar mandi shower untuk pria, dengan sebuah tulisan di antara pintunya yang berkata, “The Men’s is in the left and The Woman’s is in the right because Woman is always right!” kira-kira gitu deh tulisannya. Aku mendengus. Gak semua cewek itu selalu bener, boo. Buktinya aku sering salah, kok, di rumah. Yehet.

Selain itu ada 3 kamar mandi dengan WC yang unisex, jadi siapapun bisa menggunakan kamar mandi unisex itu.

Nah, aku ini ngira kalau Mbak Syifa pakai kamar mandi shower untuk wanita, karena ada suara orang lagi mandi di dalanya. Aku mengetuk-etuk pintunya dan berkata, “Mbak Syifa, cepetan dong. Kan cuma lagi sikat gigi doang,”

Nah, setelah dengan begonya mengetuk-etuk dan seru-seru manggil Mbak Syifa, tiba-tiba ada suara bule cewek ngomong ke aku untuk sabar, lima menit lagi dia bakal keluar. Kaya disambar petir, aku langsung loncat kaget terus minta maaf beribu maaf pakai bahasa Inggris dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi unisex sebelum mbaknya keluar dan ngeliat wajahku. Mati aku kalo misalnya ketemu terus dia ngenalin aku sebagai cewek kurang ajar yang ngetuk-etuk pintu kamar mandi sambil teriak-teriak waktu masih ada orang di dalamnya.

Aku segera mandi kemudian kembali ke kamar.


Heiho guys!

Hari ini chapternya lebih panjang dari biasanya, malah ini chapter dari Edutrip ke MalayPura yang paling panjang. Ga kaya biasanya dah. Tapi 900 words di chap ini aku tulis cuma setengah jam doang. Lagi mood soalnya /bhaks /ea.

Udahan ya guys, yehet~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s