Edutrip ke Malaypura (8/10)

Ditahan di Kantor Imigrasi Singapura

Update!

Tapi apa daya ada kegelapan menantiku. Beberapa puluh meter dari penginapan, aku baru menyadari kalau tutup kameraku yang tadi pagi masih ada sekarang sudah tidak ada. Panik, aku balik ke penginapan dan minta izin ke pemilik penginapan untuk mencari tutup kameraku. Tapi aku tidak menemukannya dimanapun. Nggak mau buat yang lain menunggu, aku segera balik. Aku memasang wajah ceria walaupun aku takut abi bakal marah kalau aku pulang dan tutup kameranya nggak ada.

Sejujurnya sampai sekarang tutup kameranya belum diganti. Abi pernah sekali ke Gudang Kamera beberapa waktu lalu, cuma karena gatau ukuran tutup kameranya, abi pulang lagi. Dan… sekarang tutup kameranya yang hilang ada dua. Tolong jangan judge aku, aku gak ceroboh kok, cuma karena aku kembarannya icing jadinya agak pelupa dikit.

Habis itu yha kami melanjutkan perjalanan.

Selanjutnya aku agak lupa, tapi pokoknya hari itu kami berangkat ke Singapura. Kami naik bus imigrasi dan menunggu di imigrasi.

Di bus aku mengobrol banyak dengan mbak Aisha yang duduk di sebelahku. Kaget euy, ternyata kami punya banyak banget kesamaan juga kesamaan sebagai cewek naïf yang somplak.

Ada kejadian seru nih di kantor imigrasi Singapura, yang kutunggu-tunggu buat kuceritain sejak 1893794738 tahun yang lalu.

So, di kantor imigrasi Singapura itu rame banget euy. Antriannya panjang dan masuknya ketat. Kami disuruh mengisi sebuah formulir yang sebagian besar aku gak ngerti harus ngisi apa. Tapi aku segera mencari antrian terlebih dulu, baru mengisi formulir. Karena nggak ngerti, yaudah aku isi sebagian yang kata Pak Bayu wajib diisi.

Oya, sebelumnya atau aku lupa kapan, di area pembelian tiket subway, aku lihat ada keluarga Korea. Aku tahu itu karena aku mengenali logat dan bahasanya, juga ada seorang cewek yang ngomong aigoooo bikin aku cekikikan sendiri.

Di kantor imigrasi ini, kebetulan aku ada di antrian petugas wanita paruh baya India yang galak setengah mati. Setelah lama mengantri dan tiba giliranku, aku perlu bolak-balik dan menyerahkan satu giliran ke orang di belakangku karena perlu mengisi formulirnya lagi. Di samping kami, petugasnya lelaki dan baik banget yawla. Mbak Aisha dan Mbak Ziza mengantri disitu, mereka mengisi formulirnya kurang lebih sama denganku tapi nggak ada masalah. Gile, petugasnya galak banget, aku deg-degan waktu keluar dari tempat itu.

Tapi ada masalah lagi menyusul. Setelah semua keluar, Pak Bayu dan Kak Abyan nggak muncul. Kata Bu Dewi, mereka ditahan sama petugas imigrasi tanpa alasan dan secara kebetulan. Soalnya, Pak Bayu dan Kak Abyan ada di barisan yang berbeda dan terletak lumayan jauh. Pak Bayu satu barisan denganku, dan Kak Abyan satu barisan dengan Bu Bu Ghia, Mbak Syifa dan kalau nggak salah Bu Dewi juga.

Kami akhirnya ngegembel di luar pintu kantor imigrasi selama satu jam lebih.

Oya, di luar pintu kantor imigrasi, ada seorang wanita India dengan putranya yang tampak sedang menunggu seseorang, mereka duduk di lantai tak jauh dari kami. Dan putranya itu lucu bangeett, imut gitu. Aku sama yang lain pada sibuk godain anaknya yang kayanya baru umur 5 atau 6 tahun itu. Pokoknya dia imut bet, karena kameraku ada di dalam tas jadi aku pinjam kameranya Mbak Aisha dan memotretnya. Dia kalau senyum manis banget awww.

Tapi kebersamaan kami gak berlangsung lama, soalnya ayahnya udah jemput mereka, terus kami dadah-dadah ngelambai ke si anak yang digendong ibunya itu.

Akhirnya Pak Bayu dan Kak Abyan keluar juga setelah 39847983 tahun menunggu. Aku gak yakin, kayaknya aku sempat ketiduran sebelumnya tapi nggak tahu juga. Bisa dibilang aku setengah tidur menggunakan ransel-ransel sebagai bantal tidurku.

Kemudian kami beranjak pergi setelah ribut menanyakan apa yang terjadi kepada Pak Bayu dan Kak Abyan. Tapi aku nggak berhasil dengar banyak hal, mereka juga nggak mau ngomong banyak-banyak, jadi intinya aku gak tau apa yang terjadi di kantor imigrasi tadi.

Habis itu kami naik bus yha kalau gak salah.

Pokoknya, kami pergi ke penginapan di Singapura. Letaknya di Arab Street, berdekatan dengan masjid besar, dan nama penginapannya Kiwi Kiwi. Buat orang Indonesia yang mau berlibur di Singapura, aku ngerekomendasikan penginapan ini. Ada lumayan banyak orang Indonesia lain yang juga menginap di Kiwi Kiwi, tempatnya nyaman, bernuansa asrama, dilengkapi wifi, computer, kafe, ruang duduk-ruang duduk empuk, dapur, dan kamar mandinya dilengkapi shower air panas. Nyaman banget gils pokoknya. Dan penginapannya juga dekat masjid yang Subhanallah, masjidnya keren banget. Detailnya aku ceritain lagi ntar yha.

Sampai di Kiwi Kiwi, kami langsung mengurus administrasi. Kata Bu Dewi, “semoga ada tempat kosong, kalau nggak ya gak tau harus gimana,” aku langsung waswas, kalau nggak ada kursi kosong masa kami harus ngegembel di Singapura?

Tapi Alhamdulillah ada tempat kosong, cukup untuk kami semua. Kamarnya dipisah, tentu saja, laki-laki dan perempuan. Satu kamar berisi kurang lebih sepuluh ranjang bertingkat dan sebagian sudah memiliki empunya. Aku memilih sebuah ranjang atas yang masih kosong dan langsung menghempaskan tubuhku dengan lega di kasur, lantas menge-cash handphone dan memainkan wifi yang tersedia.

Selanjutnya aku lupa gais. Bakal aku tanyain dulu ke yang lain. So, detailnya bakal aku jelasin lagi di part berikut ya. Stay tuned!

Btw aku lagi pengen banget beli pensil warna Prismacolor. Tapi apa daya yang paling murah 350k-an, gatau juga itu harganya masih segitu apa nggak. Nabung Zah nabung ):

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s