Edutrip ke Malaypura (9/10)

Tapi Alhamdulillah masih ada tempat kosong di Kiwi Kiwi, cukup untuk kami semua. Kamarnya dipisah, tentu saja, laki-laki dan perempuan. Satu kamar berisi kurang lebih sepuluh ranjang bertingkat dan sebagian sudah memiliki empunya. Aku memilih sebuah ranjang atas yang masih kosong dan langsung menghempaskan tubuhku dengan lega di kasur, lantas menge-cash handphone dan memainkan wifi yang tersedia.

Setelah itu, kami pergi mencari makan untuk mengisi perut yang sudah terlanjur lapar.

Di sekitar Kiwi Kiwi, ada banyak tempat makan dan berbagai kafe yang bisa kami pilih untuk tempat makan siang. Tapi Bu Dewi berkata kalau beliau sudah melakukan research dan kami pergi mencari sebuah nama tempat makan bernama Kampong Glam.

Tapi apa daya, ternyata tempat makan itu tidak buka dan kami berakhir makan di sebuah restoran Zam-Zam yang tempatnya kelihatan ramai. Makanan andalan mereka martabak daging, yang langsung membuat perutku berkeruyuk karena lapar.

Kami mengambil tempat duduk di lantai dua di sebuah meja besar yang cukup untuk tujuh orang. Lalu seorang pria bertubuh besar berperawakan Indian datang untuk menerima pesanan kami.

Kami bertujuh sepakat untuk membeli beberapa makanan berporsi besar untuk dibagi dan dimakan bersama, sementara uangnya diurunkan.

Pesanan kami adalah sebuah martabak isi daging ayam dan martabak isi daging kambing, mi bumbu merah dan beberapa makanan lain yang aku gak tau namanya. Aku soalnya terserah yang penting aku bisa makan martabak, yang di Singapura ini disebut ‘Murtabak’. Bhaks.

Dan Kak Abyan, yang tampaknya paling lapar, memesan sepiring nasi biryani untuk dirinya sendiri. Yawla, sumpah, nasi biryani disini porsinya gede banget. Dan nasi biryani itu dihabiskan Kak Abyan sendiri.

Untuk minum, aku memesan teh tarik. Aku benar-benar fall in love dengan teh tarik sejak mencicipi pada pandangan pertama.

*aku skip yak ke adventure berikutnya*

Kami pergi ke Merlion.

Setelah naik ini-itu dan berjalan lumayan jauh, kami sampai di Merlion.

Tempatnya foto-foto!

Aku orangnya itu gak suka difoto, jadi aku jadi pemotret doang. Sesekali aku minta foto, sih, buat kenang-kenangan di rumah, tapi nggak sering.

Merlion gile keren banget, tapi nggak kaya di internet, Merlion itu ramai jadi susah nyari tempat yang bagus buat dijadiin tempat pose foto yang bagus.

Sehabis dari Merlion, kami ke Garden By The Bay. Kami naik subway dan berjalan melewati lorong panjang yang dindingnya dilapisi kaca, sebelum sampai di sebuah tempat yang teramat sangat luas dan sangat indah.

Aku gak bisa gak percaya dengan tempat wisata di Singapura. I swear, tempatnya bagus, indah, dan tertata rapi banget. Jarang bisa dilihat sampah tersebar di sekitar tempat wisata tersebut. Termasuk Garden By The Bay ini.

Dan selain itu, tempatnya juga unik banget.

Kami berada di Garden By The Bay menjelang malam dan disana sampai langit sudah benar-benar gelap.

Di Garden By The Bay, dibuka semacam game yang belakangan sewaktu pulang aku diberi tahu umi kalau itu adalah game berbasis judi. Yaelah, kalau aku tahu jelas gabakal ikutan. Tapi udah terlanjur.

Jadi, gamenya adalah dengan membayar sejumlah uang yang cukup mahal untuk tiket bermain gamenya, dan gamenya adalah dengan melempar bola ke ratusan gelas yang tertata rapi di stan game tersebut. Karena uang Singapuraku udah habis dan aku belum menukar uang-uangku, jadi aku meminjam uang dari Bu Dewi dan membeli dua buah tiket (karena setiap orang wajib membeli minimal dua buah, jadi yah..).

Sebenernya sih, permainannya itu gampang. Tapi banyak yang nggak tau cara mainnya.

Pertama, jangan dilempar kencang-kencang. Lempar bolanya sepelan mungkin. Karena bolanya bakal menggelinding keluar dari arena gelas dan yes you’ve lost. Aku sekali bermain dan memenangkan sebuat boneka dinosaurus kecil berwarna biru muda.

Mbak Ziza, Mbak Aisha dan Kak Abyan akhirnya tertarik ikutan. Mereka mengumpulkan uang mereka dan bergantian melempar bola. Tapi gak ada yang berhasil kecuali Mbak Aisha, dan dia mendapatkan sebuah boneka Donkey dari film kartun Winnie The Pooh.

Saat langit gelap, ternyata pihak Garden by The Bay telah menyiapkan kejutan untuk para wisatawan yang berkunjung ke tempat mereka.

Jadi, di Garden by The Bay ini, ada menara-menara raksasa yang berbentuk seperti jamur dan berwarna-warni. Nah, saat langit sudah gelap, tiba-tiba terdengar pengumuman dan lampu diseluruh area Garden by The Bay dimatikan sampai gelap gulita. Dan menara-menara itu kemudian menyala-nyala dengan background suara yang membuatnya semakin spektakuler.

Aku berhasil merekamnya dari detik-detik setelah lampu menyala dengan kameraku, dan untuk mendapat angle yang bagus aku terpaksa berbaring di tanah dan mengarahkan kameraku ke menara-menara raksasa tersebut. Masa bodoh dengan pendapat orang-orang, lagian kan gelap jadi gak banyak yang lihat.

Indah banget guys, aku berharap banget suatu saat nanti di Indonesia ada tempat wisata kaya begini. Garden by The Bay sewaktu itu asik banget dah, ditambah lagi dengan suara nyanyian yang turut mengiringi lampu-lampu di menara raksasa tersebut. Kaya lagi ada di negeri dongeng. Eh, jadi keinget Disney.

Kami pulang ke penginapan pada jam kurang lebih jam sembilan malam. Aku panik, soalnya aku perlu menukar uangku menjadi uang Singapura. Aku pengen lebih banyak membeli oleh-oleh.

Tapia pa daya, toko penukaran uangnya sudah tutup. Jadi aku memulai sebuah ‘adventure’ kecil di malam terakhirku bertualang keluar negeri itu.

Firstly aku ngacir kesana-kemari sendirian sambil tanya ke orang-orang manakah tempat penukaran uang yang masih buka jam segitu. Kira-kira 4 atau 5 buah toko penukaran uang sudah kukunjungi dan mereka semua tutup. Dengan ini aku mengucapkan terima kasih pada seorang bapak yang aku nggak tahu namanya, yang telah membantuku mencarikan toko penukaran uang walaupun semuanya sudah tutup. Bapaknya baik banget dah, jarang-jarang kan ada orang yang mau bantuin cari tempat penukaran uang larut malam begitu.

Dengan lesu aku pulang. Nasib, malam ini aku gak bakal bisa makan malam gegara ga ada duit.

Aku sempat tersesat soalnya jalan-jalan di sekitar situ kelihatan sama semua, tapi akhirnya aku menemukan pintu belakang masjid besar yang kemarin dan masuk lewat situ untuk menemukan jalan menuju penginapan Kiwi Kiwi. Deg degan aku yawla, kalau misalnya aku hilang di negeri orang di hari terakhirku di Singapura kan blaen. Hehe.

Aku mendekam terus di tempat tidur, memainkan handphone, walau dengan hati risih karena barang-barangku belum dipack. Tapi sabodo lah, besok juga bisa dipack hehe. Aku orangnya perfeksionis, aku gabisa sabar lama-lama menghadapi tempat individualku yang berantakan.

Tapi terus Mbak Syifa manggil aku, nyuruh aku ikutan makan. Aku menolak, soalnya gak punya uang. Miris, hehe. Punya uang sih, tapi nggak bisa dipake disini.

Tapi Mbak Syifa memaksa, jadi aku menghela napas dan turun dari tempat tidur. Welahdalah, ternyata Mbak Syifa dan Bu Ghia lagi masak mi di dapur. Yang lain ternyata nggak jadi makan di tempat makan.

Mi instan di Singapura beda banget sama indomi atau misedap di Indonesia. Porsinya lebih banyak dan semoga aja halal. Dan minya juga enak, Bu Ghia dan Mbak Syifa yang beli di 7 Eleven.

Setelah dimasak, kami bawa minya ke beranda penginapan dan duduk di meja dengan empat kursi. Di pertengahan makan, Mbak Ziza turut menyertai. Setelah makan, aku pergi ke dapur untuk mencuci panci dan piring-piringnya sebagai ganti; kan Mbak Syifa dan Bu Ghia udah capek-capek beliin dan masak, masa aku cuma makan doang.

Nah, di waktu ini aku baru tahu kalo Kiwi Kiwi juga ada penginap dari Indonesia lagi selain dua cewek mahasiswa yang tak hanya sekamar denganku, tapi juga berada di bawah ranjang dan sebelah ranjangku. Ada mahasiswa cowok yang sempat mengajakku ngobrol sebentar waktu aku mencuci piring-piring bekas makan mi. Doi kayanya juga mau masak mi instan juga.

“Itu piringnya bawa sendiri atau dari sini, Dek? Kalau bawa sendiri, boleh pinjem?” tanyanya.

“Eh, ini piring dari sini, Kak,” (tbh I forget aku panggil dia Kak atau Om, jadi aku panggil Kak aja ya disini)

Dia manggut-manggut. Dia tanya aku kelas berapa dan berasal darimana. Dia mungkin ngira aku udah SMP/SMA, jadi waktu aku jawab aku masih kelas VI, kelihatan wajahnya agak kaget. Terus dia tanya lagi  tentang cuaca Malang. Aku jawab seadanya aja, kemudian pamit setelah selesai mencuci piring.

Setelah itu aku lupa ngapain. Mungkin aku langsung tidur, tenggelam dalam kenyamanan tempat tidur.

Miss me? -by ioi

Yawla, terakhir kali aku update ini tanggal 20 April kalau nggak salah. Jadi total lebih dari sebulan aku nggak update blog. Lagi nggak mood banget. Apalagi writing contest yang hendak kuikuti yang berdeadline besok (tapi diundur menjadi 26 Mei) aja baru kutulis satu paragraf. Call me pengebut deadline.

Dan –chapter berikutnya adalah chap terakhir! Nggak kebayang, aku pergi ke Malaysia-Singapura udah berbulan-bulan yang lalu tapi ceritanya baru selesai beberapa bulan kemudian. Bakal kangen sama waktu-waktu ngetik buat ini .g

Berarti, genap 10 chapter!!!1!1!! Kebetulan banget ya gais bisa genap 10 chap, akunya juga gak ngira hehe.

Doain ya guys, aku mau belajar aransemen lagu otodidak buat alasan yang nggak bisa kuberitahu. Soalnya kalau kuberitahu alasannya dan aku gabisa, kan malu. Hehe. *shy*

Sip, kita sampai jumpa di chapter besok alias chapter terakhir!

PS: aku gatau aku bakal nuntasin janji ini apa nggak, tapi aku insya Allah bakal nulis cerita hangoutku ke mall kemarin bareng Mbak Aisha. Abis chapter terakhir dirilis, deh. Stay tunedand stay beloved!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s