Trip yang Dingin

Kami berangkat kurang lebih jam 9 malam, pada tanggal 21 yang lebih tepatnya hari Jum’at kemarin menuju universitas Muhammadiyah Malang, tempat pemberangkatan pertama kami nanti sebelum berangkat ke Banyuwanginya.
Semua insyaa Allah sudah siap semua malam itu. Koper, tas-tas ransel, dan kamera. Aku membawa tas selempang biruku dan koper merah keluarga kami.
Aku pergi menyeret koper yang berat tersebut ke tanah belakang tempat mobil diparkirkan menyusul kedua saudara kandungku yang sudah pergi duluan.
Dan setelah memasukkan semua barang ke mobil, memastikan tidak ada barang yang tertinggal apalagi charger handphone yang pastinya bakal diperlukan sekali disana, kami pun berangkat dengan doa dan salam sampai jumpaku ke lampu jalan, dinding rumah tetangga /plak.
Setelah memarkirkan mobil di tempat parkiran tak jauh dari BAU, kami pun bergabung dengan orang-orang keluarga besar Fakultas Agama Islam UMM yang sedang duduk-duduk dan berdiri menunggu bus-bus yang totalnya 3 buah bakalan datang. Dan juga sudah ada satu bus mendekam disana, tetapi itu bukanlah bus yang bakal kami tempati. Bus kami adalah bus 2 yang belum kelihatan batang hidungnya -eh, kelihatan moncongnya /plak lagi.
Setelah 15-20 menit menunggu di trotoar, akhirnya dua bus terakhir datang juga. Setelah dipastikan kalau bus berwarna cokelat di depan kami adalah bus 2, kami segera membawa barang-barang bawaan kami kesana.
Aku memasukkan koper ke dalam bagasi, atau lebih tepatnya umi yang memasukkan, hehe, dan membawa tas biruku masuk kedalam bus.
Kami penumpang pertama yang memasuki bus, dan itu membuat pencarian bangku kami lebih dimudahkan.
Aku sebenarnya bersebelahan dengan Arun, sedang umi bersebelahan dengan Abi, dan mas Azmi bersebelahan dengan pak Sony, salah seorang teman umi, tetapi karena Arun pengen duduk di samping umi, dan pak Sony pindah bus ke bus sebelah, pembagian bangku keluarga kami dirombak.
Awalnya, aku duduk bersama mas Azmi karena kabarnya abi bersama pak Sony, tetapi mengetahui bangku samping Abi kosong, dengan teganya dia meninggalkanku sendiri di sini. Arg.
Intinya, aku sendiri. Ya begitulah.
5-10 menit menunggu, bus akhirnya berangkat dan lampu bus dimatikan. Kami memulai perjalanan yang dingin menuju Banyuwangi dan Bali tentunya.
Kenapa kusebut perjalanan yang dingin?
Karena perjalanannya emang dingin. AC nya sangat dingin, dan jujur, sewaktu malam tiba, aku terbangun karena merasa sangat kedinginan. Dan kemudian aku menyadari kalau tanganku beku. Beku dan gak bisa digerakkan.
Akhirnya aku mencoba untuk menghangatkan diri dengan mendekatkan tangan ke selimut kecil bus yang kupakai dan mengenakan sweater sebagai tambahannya, walaupun sweater rajutku juga tidak bisa berbuat banyak karena rajutannya memang tidak tebal-tebal amat.
Kemudian aku ingat kalo bangku sebelahku kosong, dan aku akhirnya membuat semacam bantal di sampingku dan berbaring kesebelah. Rasanya cukup nyaman, dan perlahan tanganku yang beku akhirnya luluh kembali.
Subuh aku bangun lagi, dibangunkan untuk menjalankan shalat Subuh. Bus berhenti di depan sebuah masjid besar.
Aku agak bingung saat ini, mungkin karena baru bangun ya jadi agak puyeng masih belum begitu konsentrasi. Bingung kenapa? Aku bingung musala akhwat nya yang bener ada dimana, karena keanya ada dua musalanya. Akhirnya aku memakai yang ada di dalam, yang penuh ibu” mengobrol bagai arisan, dan sehabis shalat aku malah ditegur karena ruang itu sedang dipakai sebuah rombongan.
Sehabis shalat, aku kembali ke bus.
Menunggu 5-10 menit, bus berangkat. Pemandu berkata kalau kami akan sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke pulau Merah tempat kami akan berwisata nantinya.
Kami berhenti di sebuah restoran bernama Amdani Resto, dan disana ternyata sudah disiapkan makanan-makanan yang dipesan oleh panitia penyelenggara wisata keluarga besar FAI ini.
Sehabis makan, kami melanjutkan perjalanan.
Sekarang perjalanannya cukup panjang. Semua penumpang bus tertidur nyenyak, termasuk aku. Baru waktu agak siangan aku terbangun, dan itupun sudah mau sampai.
Kami melewati lautan yang biru. Aku tersenyum melihat keindahan lautnya. Sudah lama aku tidak melihat laut berpasir putih. Baru sebulan lalu terakhir kali aku ke pantai, sewaktu mudik liburan bersama keluarga besar, tapi itu pantai berpasir hitam.
Rasanya berbeda guys, berada di pantai berpasir putih dan berpasir hitam itu. Berada di pantai berpasir putih lebih menyenangkan dan tidak banyak mengotori badan, sedang pasir hitam berlaku sebaliknya.
Aku tidak langsung ke pantai, melainkan ke kamar mandi terlebih dahulu. Tetapi ternyata kamar mandinya berbayar, jadi aku balik lagi meminta uang ke Abi karena uangku ada di bus dan aku mager naik lagi untuk mengambil dompet kalau abi dan umi juga ada dibawah dan mereka membawa uang. Ehe.
Setelah bolak-balik dan mengantre kamar mandi, aku balik ke tempat yang lain menunggu. Tapi abi sedang ke kamar mandi. Kami menunggunya sebentar, tetapi karena abi gakk muncul-muncul juga, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkannya ke pantai duluan.
Umi menyewa dua buah kursi pantai berwarna cokelat di pinggir pantai, kemudian kami langsung rebah di kursi pantai tersebut.
Aku menyiapkan kamera dan mengajak Arun untuk pergi ke pantai, main air.
Aku nggak berencana membuat sekujur badanku basah kuyup seperti bulan lalu, jadi aku berdiri saja sambil memotret sekitar dan memotret Arun juga sebagai obyek pemotretanku.
Setelah capek memotret sekitar, aku kembali ke tempat keluargaku tadi dan melihat mas Azmi sedang menyeruput sebongkah besar kelapa.
Kubilang aku juga mau, dan kata umi masih ada kembalian yang tersisa di penjual kelapa tersebut. Aku pergi kesana dan membeli sebongkah kelapa juga.
Penjual kelapanya sigap memotong bagian atas kelapa tersebut dengan sebilah golok. Kemudian Arun menyusul dan bilang ingin kelapa juga, jadi aku diberi uang sepuluh ribu untuk membeli kelapa buat Arun juga.
Sambil menunggu kelapanya selesai disiapkan, aku melihat-lihat apa saja yang ada di sekitar situ, termasuk barang-barang yang dijual di kios kelapa tersebut.
Aku melihat ada beberapa botol bir bermerk Bulan (nama telah diganti untuk menyikapi copyright) dijual disana dan mengernyitkan kening. Memangnya sekarang bir dijual ilegal, ya? Apa aku terlalu kudet untuk mengetahui hal tsb?
Yah intinya, kelapa yang kupesan sudah hampir selesai. Setelah dipotong bagian atasnya, bapak kelapa tersebut memasukkan sebongkah es dan beberapa sendok besar gula cair ke dalam kelapa. Aku membawa kelapa punyaku ke kursi pantai tadi dengan rada susah payah karena kelapa tersebut berat banget, bahkan airnya beberapa kali tertumpah baik ke badanku maupun tanah.
Sedang kelapa milik Arun dibawakan oleh mas Azmi. Masa iya dibawa dia sendiri, ntar bisa-bisa tumpah lah.
Aku meminum kelapanya sampai habis dan mengorek dagingnya dengan sendok yang tadi juga disediakan oleh bapaknya.
Setelah itu, aku sibuk main handphone, wkwk. Sementara mas Azmi dengan tenangnya tertidur pulas di kursi pantai sebelah. Dan abi serta umi pergi menghilang entah kemana, dan sebentar kemudian Arun menyusul mereka.
Lalu, pak Faridi mengumumkan kalau bus akan berangkat kembali. Sigap aku mengambil kamera dan pergi ke bus, menjadi penumpang pertama yang datang. Rajin yepan.
Disana aku masih menunggu lagi, karena masih banyak penumpang yang belum selesai bebersih dan belanja buah naga untuk oleh-oleh, termasuk umi dan abi yang masih menghilang ntah kemana.
Lalu dari kejauhan terlihat umi dan abi membawa plastik berisi buah naga merah yang terkenal di daerah ini keikonannya. Kata pemandu tour tadi, tidak ada satupun buah naga putih disini, bahkan mereka tidak bisa tumbuh disini. Yg ada hanyalah buah naga merah saja.
Lama baru bus mulai berjalan, dan tujuan kami sekarang adalah restoran untuk makan siang dan ishoma.
Sampai di restorannya, seperti kemarin, makanan sudah dipesankan oleh panitia dan banyak meja berisi makanan. Aku turut mengantre, mengambil piring dan makanan yang berupa nasi, mi goreng, ayam, gulai daging, dan semangkuk kecil sup daging. Tak lupa sepiring kecil berisi an-potongantongan semangka.
Kemudian aku duduk di meja yang sudah ditempati oleh umi, kemudian sebelum makan aku teringat sesuatu, dan segera pergi ke bus untuk mengambilnya.
Apa?
Tentu saja, kamera.
Wkwk.
Gak afdhol katanya kalau orang Indonesia makan tidak difoto dulu sebelumnya, dan aku juga sedang ingin memotret dengan makanan sebagai pusat obyek pemotretanku.
Sejujurnya, aku lebih suka memotret makanan dan obyek daripada pemandangan wkwk.

Sehabis makan, aku pergi ke musala untuk shalat. Ada kejadian kecil sebelum aku shalat, ada anak yang jarinya kejepit pintu musala. Aku yang ngeliatnya merinding, soalnya jarinya yang kejepit kelihatan mengerikan banget. Ibu-ibu sampai panik karena gatau harus menggerakkan pintunya kearah mana untuk mengeluarkan jarinya yang terjepit.
Akhirnya jarinya berhasil dikeluarkan juga. Aku menghela napas panjang melihat anak tadi yang masih terus menangis keras. Untunglah tidak sampai terjadi apa-apa.
Sehabis shalat, kami melanjutkan perjalanan. Sekarang kami pergi ke toko oleh-oleh Dynasty Blambangan, sebagai pemberhentian kecil sebelum lanjut ke pantai Boom.
Aku main handphone separuh perjalanan dan saat kami sampai di Dynasty. Hampir semua turun, kecuali yang tidur termasuk kakakku dan beberapa anak balita.
Aku ikut turun karena hendak membelikan teman-temanku oleh-oleh, sayangnya tidak ada yang bagus, beneran dah. Gantungan kecil terlalu random, dan harganya juga selangit. Bayangkan, gantungan kecil dengan ukuran tak kurang dari tiga sentimeter berharga 15k. Gila apa yepan.
Akhirnya aku balik ke bus dan kembali memainkan handphonenya sampai baterainya habis wkwk.
Setelah itu, aku tertidur. Aku bangun saat sudah sampai di Pantai Boom, itupun bus sudah kosong dan aku bangun karena dibangunkan oleh mas Azmi yang hendak meminjam kamera. Aku awalnya kaget kenapa ko busnya sudah kosong, tetapi dengan cepat aku langsung mengerti situasi dan turun mengikuti mas Azmi keluar bus.
Pantai Boom tidak berpasir putih, melainkan berpasir hitam. Di tepi pantai ada warung makan kecil dan di dekatnya ada tebing bebatuan yang landai dan curam tetapi unik dan asyik untuk dijadikan obyek foto dan dijelajahi.
Setelah bertemu dengan keluargaku dan sebagian rombongan, aku mendahului mereka menaiki tebing bebatuan membawa kameraku.
Sehabis memotret sekitar area tebing dan memotret Arun sebagai obyek fotonya, aku mencari umi dan abi yang ternyata sedang memancing bersama mas Azmi di tepi tebing. Tapi pancingnya bukan pancing biasa, melainkan hanyalah sebuah batang bambu yang dililit dengan benang pancing yang ujungnya diberi kail, umpan dan pemberat untuk memancing. Mas Azmi sebenarnya membawa alat pancing sendiri, tetapi karena ga yakin ada banyak ikan di sekitar sini, dia memilih ga ngambil alat pancingnya dari bus.
Aku menonton sambil memotret-motret, sesekali umi juga ikut memotret sekaligus membantu memotretku.

 

,-wait for the next chap;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s