Review Buku: Moga Bunda Disayang Allah

#1Day1Post #Day1

Halo semua!

Malam ini aku hendak mereview sebuah buku Tere Liye berjudul Moga Bunda Disayang Allah. Buku ini kurang lebih sudah dicetak ulang sebanyak tiga puluh kali, dan aku tidak heran karena isinya bagus banget. Buku ini sudah kubaca banyak kali dan aku tidak pernah bosan membacanya.

Memang.

Buku Tere Liye mah emang adakah yang bikin bosan? Gak ada yakan.

Jadi, buku Moga Bunda Disayang Allah ini menceritakan tentang seorang anak berumur kurang lebih 6 tahun yang cacat, dia buta, tuli dan sekaligus bisu. Bayangkan, kalau kalian tidak bisa melihat, mendengar, dan berbicara. Seperti berada di dalam sebuah ruangan kecil yang gelap, kosong, tidak bisa melihat apapun, tidak bisa mendengar apapun, berbicara apapun, yang tampak hanyalah kegelapan yang tak berujung.

Anak itu bernama Melati. Dia mulai buta, tuli dan bisu sejak umurnya menginjak 3 tahun, sejak dia terkena lemparan frisbee di tepi pantai. Sejak itu dia kehilangan semuanya, dia kembali menjadi seperti seorang bayi yang tidak bisa melakukan apapun.

Karena kecacatannya itu, Melati adalah anak yang rewel. Dan itu bukan karena tidak ada apa-apa, itu karena dia tidak bisa melihat dan mendengar apapun, jadi dia tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia sering menghancurkan benda-benda, membuat ricuh seisi rumah, dan dia tidak bisa makan dengan sendok serta garpu.

Tentu saja, dia tidak bisa melihat dan mendengar, bagaimana dia tahu kalau sendok itu gunanya untuk menyuapkan makan.

Disaat keluarganya sudah hampir putus asa dengan ketidaksembuhan Melati  itu, datanglah seorang pemabuk gondrong dengan wajah penuh cambang dan kumis yang tidak rapi. Dia diminta oleh nyonya HK, ibunda Melati, untuk mengajari putrinya. Tidak menyembuhkan, karena penyakit Melati sayangnya sudah tidak bisa disembuhkan.

Cara ‘mengajari’ Karang, adalah dengan membentaki dan mengubah cara Melati dengan perlakuan yang cukup kasar. Itu harus dilakukan, mengingat Melati kalau disentuh akan langsung berteriak-teriak dan membuat ricuh.

Tuan HK, ayah Melati, tidak terima anaknya diajar oleh seorang pemabuk. Dia mengusir Karang, nama pemabuk tersebut, dari rumahnya, tetapi Karang bertahan dan diam-diam tetap tinggal karena dia bertekad untuk mengajari Melati sampai dia bisa melakukan hal-hal setidaknya seperti anak normal biasanya walau dia tidak bisa melihat dan mendengar.

Mengajari Melati adalah hal yang susah. Berminggu-minggu, ibunda Melati dan Karang sendiri sudah hampir putus asa.

Sampai suatu mukjizat menghampiri mereka.

Melati berhasil mengenali benda-benda di sekitarnya, dia berhasil makan menggunakan sendok dan dia mengenali kalau sendok itu gunanya untuk menyuapkan makanan.

Dia tidak melemparkan dan menghancurkan barang-barang disekitarnya lagi.

Pandangan Tuan HK pada Komang berubah 180 derajat, sejak Melati berhasil ‘disembuhkan’.

Review ini pendek saja wkwk, soalnya kalau panjang-panjang ntar spoiler dan gabakal seru kalau kalian udah baca bukunya. Aku gamau kasih tau mukjizat yang ngebikin Melati bisa ‘sembuh’, karena bakalan spoiler dan itu adalah salah satu konflik yang ada di bukunya.

Besok aku mau bikin review lagi oke, jadi stay tuned!

 

33375848

cr pics to owner.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s