Review Buku: The Railway Children

#1Day1Review #Day4

Halo!

Jadi, pagi ini aku hendak memposting sebuah review yang seharusnya kutulis kemarin, tapi karena kemarin aku ketiduran, jadi aku bakalan memposting dua buah review hari ini sebagai pengganti kemarin dan juga review untuk hari ini, tapi yang ini masih dengan hashtag Day4 karena ini adalah review yang sesungguhnya untuk hari keempat, yaitu kemarin.

Review yang bakal kutulis hari ini berjudul The Railway Children karya Edith Nesbit. Review buku ini diminta pribadi oleh umi saat aku menanyakan buku apa yang ingin umi aku membuatkan reviewnya, soalnya tadi aku kehilangan ide untuk mereview buku yang mana.

Buku The Railway Children bercerita tentang tiga orang anak bersaudara, yang bernama Roberta alias Bobby, Peter, dan Phyllis alias Phil. Mereka awalnya hidup bahagia bersama ayah, ibu, dan beberapa pembantu rumah tangga mereka di sebuah rumah besar dengan jembatan besar di bagian depan rumah mereka.

Tetapi mendadak kehidupan mereka berubah sama sekali sejak ayah mereka tiba-tiba menghilang dijemput dua orang aneh pada malam hari. Mereka terpaksa pindah ke sebuah pondok kecil di pedesaan tanpa ayah mereka yang menemani.

Mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar, tiga bersaudara tersebut mencoba mencari hiburan di stasiun kereta api yang dekat dengan pondok kecil mereka.

Pada awalnya, mereka sempat mendapat masalah dengan Kepala Stasiun karena ‘mencuri’ sesuatu yang merupakan hak kepemilikan stasiun kereta api, tetapi kemudian mereka malah berkawan dekat dengan Kepala Stasiun tersebut.

Dan tak hanya dengan beliau, mereka juga berkawan dengan portir stasiun, Pak Perks, dan seorang penumpang langganan kereta api yang ternyata merupakan direktur stasiun kereta api tersebut, yang mereka panggil Pak Tua, dan banyak orang lain di sekitar pondok mereka.

Karena tidak ada ayah yang biasa bekerja mencarikan uang untuk keluarga mereka, kini ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Beliau menulis cerita-cerita pendek dan mengirimkannya ke berbagai penerbit. Ada yang diterima, dan bila diterima, ibu akan menyuruh Peter untuk pergi ke desa dan membeli kue-kue yang sekarang langka mereka dapatkan karena kurangnya uang. Tetapi banyak juga yang dipulangkan, dan bila dipulangkan, ibu akan membakar naskah cerpen tersebut di perapian sambil menghela napas panjang.

Banyak kejadian yang mereka temui di pedesaan tempat mereka sekarang tinggal.

Pertama, ada seorang Rusia yang entah mengapa bisa ‘terdampar’ di stasiun kereta api itu, dia tidak bisa berbahasa Inggris, dan dia kehilangan istri serta anaknya, dan berkat bantuan ketiga bersaudara tersebut, mereka memberitahu ibu mereka yang bisa berbahasa Prancis, bahasa lain yang diketahui si Rusia selain bahasa tanah airnya sendiri, dan orang Rusia itu tinggal di rumah mereka sampai mereka bisa menemukan keluarganya kembali.

Kedua, ulang tahun Pak Perks. Mereka membuat sebuah kejutan ulang tahun untuk Pak Perks yang ternyata tidak pernah merayakan ulang tahunnya sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mereka ‘mengajak’ teman-teman mereka sekaligus para tetangga Pak Perks untuk ikut ‘merayakan’ ulang tahun Pak Perks dengan memberikan barang-barang yang mereka punyai kepada Pak Perks.

Tetapi terjadi sebuah masalah kecil, karena Pak Perks mengira kalau mereka mengasihani dirinya yang miskin, tetapi dengan cepat masalah itu bisa terselesaikan dan persahabatan ketiga bersaudara dengannya semakin erat jalannya.

Suatu hari, Bobbie menemukan sebuah potongan kertas koran yang ternyata menceritakan tentang kemanakah ayah mereka menghilang selama ini. Aku nggak bakalan menceritakan kenapa, karena itu bakal membuat spoiler dan bikin ga asik kalau kalian sudah tahu apa konfliknya dari awal. Dia dan ibu kemudian menyembunyikannya dari kedua adiknya, dan Bobbie mengirimkan surat pada Pak Tua sahabat mereka, untuk membantu soal ayahnya, karena kemarin Pak Tua juga sudah membantu mencarikan keluarga orang Rusia yang kehilangan jejak istri dan anaknya.

Oya, ketiga bersaudara ini punya jasa besar pada stasiun kereta api itu. Pernah terjadi longsor di rel, dan mereka mencoba segala cara, dari membuat sebuah bendera merah dari pakaian dalam Bobbie dan Phil, kemudian melambai-lambaikannya sambil berteriak sekencang mungkin untuk menahan kereta api yang akan lewat untuk berhenti, karena kalau mereka menabrak bagian yang longsor, bisa fatal akibatnya.

Karena itu, stasiun kereta api kemudian memberikan hadiah penghargaan yang juga tidak bisa kuberitahukan apa hadiah tersebut di sebuah acara khusus untuk memberikan penghargaan kepada Bobbie, Peter dan Phil.

Endingnya? Pak Tua berhasil ‘memulangkan’ ayah mereka, atau ‘membebaskan’, tetapi kalau aku sebut membebaskan, kalian bisa tahu apa yang terjadi dengan ayah Bobbie, Peter dan Phil. Ups, sudah kusebut, ya? Ah biarlah wkwk.

Ada banyak sekali kejadian seru lain yang tidak kuceritakan dalam review aka spoilerku ini, jadi mending kalian beli saja bukunya dan baca sendiri. Walau aku sama sekali tidak yakin buku ini masih tersedia di toko buku (jelas tidak), jadi kalian bisa mencari di toko-toko buku loak atau online shop yang menjual buku lama.

Nah, segitu saja review untuk menutupi ketidakhadiranku kemarin!

PS: sepertinya ini review bukuku yang paling panjang wkwkwk. A special gift for Umi, seorang yang memintanya!

 

9781474915984-the-railway-children.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s