Review Buku: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

#1Day1Post #Day6

Halo!

Hari ini aku akan mereview sebuah buku karya Tere Liye lagi, yang direquest oleh abi, setelah kemarin aku telah membuatkan sebuah review buku The Railway Children atas request umi. Buku Tere Liye ini berjudul Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Buku ini belum lama aku punyai, mungkin baru sebulan kurang lebih.

Review kali ini untuk mengganti review hari Minggu kemarin. Kemarin aku terlalu banyak bermain sehingga melupakan tugas untuk menulis review, wkwk.

Ceritanya tentang seorang cowok bernama Borno, yang lahir dan tinggal di Borneo, Kalimantan, dan tumbuh besar menjadi seorang pekerja serabutan yang tinggal di sebuah gang sempit dan sehari-hari bekerja dengan diawali menaiki sepit.

Borno awalnya bekerja di pabrik karet yang baunya minta ampun, dan mengerjakan beberapa pekerjaan kecil lain seperti mengantarkan ikan segar ke tetangga-tetangganya; kemudian karena pabrik karet tersebut tutup, dia mencari pekerjaan yang lain dan berakhir menjadi penerima tiket pelampung alias kapal.

Tetapi, tetangga-tetangga sekitar yang merasa dia khianati karena bekerja di pelampung (dahulu kala, orang-orang pelampung pernah mengkhianati orang-orang sekitar kampong Borno dan membuat mereka kehilangan banyak uang, dan mereka bersumpah untuk tidak pernah bersentuh tangan dengan orang-orang pelampung lagi), memboikot Borno, memutus kontak Borno dengan setiap orang, melarang setiap orang berhubungan dan membantu Borno dalam hal apapun, intinya Borno ‘dikucilkan’ dan yang memimpin adalah Bang Togar, salah satu pengemudi sepit yang sok garang dan dictator.

Akhirnya, Borno keluar dari pelabuhan pelampung, dan itu juga karena ternyata orang-orang disana curang, mereka membebaskan tiket untuk orang-orang yang mereka kenal dan setiap akhir bulan mereka disetor separuh harga tiket untuk diri mereka sendiri. Ya begitulah intinya.

Setelah kehilangan semua pekerjaannya, Borno kalang kabut mencari pekerjaan, sampai dia ditawari untuk menjadi pengemudi sepit seperti kebanyakan orang di kampungnya bekerja. Awalnya dia sempat menolak, karena dia teringat wasiat bapaknya sebelum meninggal agar dia tidak pernah menjadi pengemudi sepit, tapi setelah beberapa waktu, dia setuju.

Pertama-pertamanya, dia tidak langsung menjadi pengemudi sepit. Bang Togar memberinya beberapa pekerjaan seperti membersihkan jamban, yang bentuknya tidak seperti jamban yang biasa ada di rumah-rumah kalian, mengecat bagian luar jamban, membersihkan sepit, dan semacamnya.

Tetapi Bang Togar orangnya sebenarnya baik. Dia meminta setiap pengemudi sepit untuk menyumbangkan uang untuk membelikan sepit untuk Borno, dan pada akhirnya Borno mendapatkan sebuah sepit baru untuk dirinya sendiri dengan ukiran nama Borneo di mesinnya.

Tanpa bantuan Bang Togar, dia akan tetap meminjam sepit milik Pak Tua dan berkongsi dengan orang yang sudah dianggap kakeknya sendiri tersebut.

Dan di saat itulah. Dia bertemu dengan seorang gadis berkulit putih dan berbaju kuning , yang beraura sendu dan misterius, yang meninggalkan sebuah angpau berwarna merah di sepitnya.

Dia mencari gadis tersebut kesana kemari untuk mengembalikan angpau itu, dan saat menemukannya kembali, hatinya potek melihat gadis tersebut sedang membagikan angpau merah berisi uang yang bentuknya sama dengannya kepada anak-anak kecil di sekitar dermaga. Ternyata angpau itu sengaja ditinggalkan di sepitnya oleh gadis tersebut.

Sejak hari itu, Borno mulai terpikat pada gadis itu. Dia melakukan segala cara agar bisa bertemu dan mengobrol sebentar walau mereka hanya bisa bertemu 15 menit dari 23 jam 45 menit total sehari, dengan melakukan segala cara agar gadis itu bisa menumpang di sepit miliknya.

Tetapi, perjalanan ‘kisah cinta’ mereka tidak berjalan lancar. Ada ‘satpam galak’ di rumah Mei, nama gadis itu, yang sepertinya tidak menyukai Borno dan menyuruh Borno untuk menjauhi putrinya. Yap, satpam galak tersebut adalah papa Mei, dan dia sekali berkata, kalau dia menyuruh Borno untuk menjauhi putrinya bukan karena dia lusuh, dan hanya bekerja sebagai pengemudi sepit, tetapi karena kalau Borno tidak menjauhi putrinya, mereka akan saling menyakiti satu sama lain.

Borno tidak terus menjadi seorang pengemudi sepit saja. Tahap demi tahap dia lakukan dan akhirnya dia berkongsi dengan bapak Andi, teman karibnya, membuat sebuah bengkel di salah satu jalan besar Pontianak walaupun sebelumnya terjadi beberapa konflik yang cukup besar dan membuat bapak Andi kehilangan semangat bekerja selama beberapa bulan.

Kehidupan Borno berjalan dengan tenang, sampai suatu waktu, Mei datang ke bengkelnya dan berkata pelan setengah menangis kalau sebaiknya dia dan Borno seharusnya tidak bertemu lagi.

Apakah berhenti sampai disana? Tidak.

Seperti seorang lelaki sejati, Borno mencoba membujuk Mei, dia menunggu berjam-jam di rumah Mei di Pontianak, menunggu Mei mau keluar dari kamarnya dan berbicara dengannya, menuliskan surat-surat yang dititipkannya melalui Bibi asisten rumah tangga di rumah Mei.

Lama hubungan mereka tergantung, Mei membalas semua surat panjang Borno dengan kalimat pendek:

Maaf, Abang. Hari ini aku pulang ke Surabaya.

Borno mengejar Mei ke bandara, rela melewatkan perlombaan sepit di dermaga.

Dia berhasil bertemu Mei setelah sebuah perjuangan, tetapi Mei tetap pergi ke Surabaya.

Suatu hari, Borno bertemu lagi dengan bibi Mei, yang dengan gugup memberitahunya kalau Mei sudah sakit selama 3 bulan di Surabaya. Dan juga dia berkata, kalau angpau yang diberikan Mei dulu bukanlah sekedar angpau biasa.

Borno segera pulang, membuka angpau tersebut, dan menemukan semua rahasia yang disembunyikan Mei selama ini, dan alasan mengapa bapak Mei menyuruhnya menjauh dari Mei.

Bagaimana endingnya? Intinya endingnya, Mei tidak lagi menjadi seorang pendiam yang selalu tampak sendu dan misterius, melainkan menjadi seorang gadis yang ceria.

Di dalam buku ini terdapat banyak kisah cinta yang tidak mellow dan tidak mengada-ada. Yang membuatku kagum adalah sebuah cuplikan cerita tentang kisah cinta sepasang suami istri bernama si Fulan dan si Fulani, yang kisah lengkapnya bisa kalian baca sendiri.

Sebelumnya maaf kalau review yang kubuat ini agak ngaco dan nggak nyambung, soalnya buku ini susah sekali dibuat reviewnya. Terlalu banyak konflik dan cerita yang tidak bisa kuput juga di review ini saking susahnya untuk mencampurkannya dan mengolahnya menjadi sebuah review yang bagus.

Sekian dariku, dan setelah ini aku akan mengupload review yang lain, so stay tuned!

 

31341459.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s