Review Buku: di Bawah Langit Jakarta

#1Day1Post #Day8

Hai!

Maapkeun, kemarin adalah hari tanpa gadget di sekolah, jadi aku nggak bisa update review baruku, soalnya juga malamnya, sewaktu boleh pegang gadget, aku lebih memilih untuk main Line, ehe, daripada ngerjain tugas review. /ditabok

Yang penting, aku akan melunasi semua hutang reviewku hari ini seperti biasa kalau aku tidak mengerjakan review di satu hari.

Today, aku bakal ngereview sebuah buku biografi berjudul di Bawah Langit Jakarta, yang menovelisasikan seorang menteri BUMN pada zaman SBY dulu, yang bernama Sugiharto. Jujur, aku membaca buku ini baru kemarin dan saat membacanya, aku menangis karena terharu dan kagum dengan kisah Bapak Sugiharto, yang sekarang merupakan salah satu dari role modelku dari jejeran para menteri selain Bu Susi, Pak Anies dan beberapa menteri lainnya.

Jadi, Pak Sugiharto ini pernah kecil /emang iya yekan /ditabok lagi ; nah beliau itu dulu dipanggil dengan nickname Ugi oleh orang-orang di sekitarnya.

Ugi ini hidup di sebuah keluarga yang teramat miskin. Saking miskinnya, mereka hampir tidak pernah makan daging, selalu bubur nasi yang diberi garam atau kecap. Dulunya, sebelum pindah ke Jakarta dan masih tinggal di Medan, dan bapak Ugi masih bekerja sebagai pegawai kantoran, hidup mereka lebih lumayan dari sekarang. Tetapi sejak pindah, dan bapak Ugi mulai bekerja sebagai penjual bubur kacang hijau, kehidupan mereka jadi semakin merosot dan tubuh mereka yang dulunya sehat berisi menjadi kurus kering dan seakan tak berkulit dan hanya bertulang.

Ugi, dan kakaknya, Mas Umar, ditagih oleh guru mereka, yakni Bu Fatimah, untuk segera membayar tagihan SPP sekolah, kalau tidak mereka tidak akan bisa mengikuti ujian. Ugi dengan takut-takut mengatakan hal tersebut pada bapaknya, dan bapak akhirnya berkata kalau itu akan diurus olehnya.

Sebenarnya, Ugi heran mengapa bapak dan ibunya masih memaksanya untuk sekolah. Padahal, menurutnya dia bisa menggunakan waktunya untuk sekolah untuk bekerja membantu orangtuanya mencari uang sehari-hari, dan uang untuk membayar sekolah bisa digunakan untuk hal-hal lain seperti membeli makanan sehari-hari keluarganya. Ugi miris melihat kedua adiknya yang masih balita, setiap hari menangis karena bosan dengan bubur nasi, sementara Ibu dengan putus asa mencoba membujuk dengan berkata,

“Makan ini dulu ya, nanti kalau SPP Mas Ugi dan Mas Umar udah lunas, besok-besok Ibu belikan bakso.”

Dan untungnya mereka mau melanjutkan makan setelah dibujuk seperti itu.

Suatu hari, Ugi disuruh bapaknya untuk tinggal di sebuah rumah kerabat jauh mereka yang berkecukupan, Paman Sukir dan Bi Karminah. Mereka akan membiayai sekolah dan menghidupi Ugi sehari-hari asal Ugi mengerjakan semua pekerjaan rumah yang ada disana.

Awalnya Ugi menolak karena dia tidak ingin meninggalkan keluaganya. Baginya, tidak mengapa hidup miskin dan kelaparan disini asal masih bersama dengan seluruh keluarganya. Tetapi, Mas Umar dan sahabat baiknya sejak kecil, Pe’i, menghiburnya. Mas Umar berkata kalau itu kesempatan bagus untuk mengubah jalan hidup mereka dan melalui jalan hidup yang lebih baik.

Ugi akhirnya mantap, pindah ke rumah Paman Sukir dan Bi Karminah. Awal-awal tinggal disana agak sulit, Ugi bahkan hampir menangis saat pertama mencuci baju-baju dan piring-piring kotor disana. Jangan bayangkan mencuci baju dan piring waktu itu, segampang dengan mencuci di zaman sekarang. Dahulu, kain-kain pakaian sangat tebal, apalagi salah satu baju yang dicuci Ugi adalah celana cutbrai yang harus digosok sekuat mungkin ke papan penggosok. Selain mencuci, dia juga harus menjemur, menyapu, mengepel dan membersihkan segala penjuru rumah.

Paman Sukir dan Bi Karminah mempunyai dua anak angkat, yang bernama Mas Sugeng dan Lilik, yang seumuran dengan Ugi dan bertubuh rada gempal dan menurutku, Lilik itu agak manja.

Hari pertama Ugi ada di rumah Paman Sukir, dia bertemu dengan seorang gadis sebayanya yang hendak membayar kredit pada Bi Karminah. Waktu itu pula Ugi bisa merasakan pertama kalinya jatuh cinta. Tetapi dia terpaksa menyimpan dalam-dalam rasa sukanya itu setelah mengetahui kalau Lilik juga punya perasaan yang sama pada gadis bernama Tuti tersebut.

Salah satu yang sekali pernah membuatku menangis adalah sewaktu Ugi lupa diberi uang untuk bus pulang dari sekolah oleh Bi Karminah dan dia pulang dari sekolahnya ke rumah dengan berjalan kaki. Jangan bayangkan jaraknya pendek, guys. Jaraknya jauh banget, dan dia melalui itu semua dengan menggunakan sebuah sepatu butut yang sudah bolong bagian depannya dan sudah tak layak pakai lagi. Tak hanya itu juga, matahari terik menyinari badannya yang dibalut oleh sehelai seragam kusam.

Dia beberapa kali berhenti di musala atau masjid untuk mengisi tenggorokannya yang kering dengan air, dan sampai di rumah Paman Sukir rada larut, disambut dengan khawatir oleh keluarga keduanya tersebut karena dia tak pulang-pulang. Begitu sampai, dia langsung terkapar, dan aku menangis di bagian mereka melihat sepatu Ugi yang sudah rusak, dan membuat kaki Ugi berdarah-darah dan luka disana-sini.

Bi Karminah membelikan sepatu baru untuk Ugi.

Ugi mempunyai otak yang lumayan cerdas dan kritis. Dia menemukan kesempatan untuk menjual rokok secara eceran di pangkalan becak yang selalu dilewatinya bila pulang pergi sekolah. Dengan uang yang selama ini dia kumpulkan dari pemberian uang saku dari Bi Karminah, dia membeli rokok dari toko kelontong Paman Sukir dengan harga khusus dan mulai berbisnis menjual rokok dan permen secara eceran, menggunakan box kayu yang dibuatkan khusus oleh Mas Umar untuk membantunya berjualan.

Ugi adalah orang yang pekerja keras. Demi keluarganya, dia bekerja sekaligus dengan rajin belajar. Seperti saat dia menjadi tukang parkir di bioskop Bi Karminah, Bioskop Taruna, dia menjaga parkiran sambil membaca buku pelajarannya, dan gurunya yang kebetulan lewat sampai menangis melihat perjuangan Ugi yang sedemikian keras.

Ugi mempunyai cita-cita menjadi menteri, sebuah impian bapaknya yang tak berhasil bapaknya capai. Dan akhirnya, Ugi berhasil menjadi seorang menteri BUMN pada zaman SBY atau kurang lebih, dan sekarang kita mengenal beliau dengan nama Sugiharto.

Done!

Ini adalah buku yang sangat aku rekomendasikan kepada kalian penyuka buku biografi. Buku karya Guntur Alam ini enak banget dibaca, ceritanya mengalir dan nggak membingungkan. Sehabis ini, aku mempunyai rencana untuk membaca sebuah buku biografi tentang pendiri Bank CIMB Niaga yang ditulis oleh Pak Dahlan Iskan, yang juga salah satu role modelku. Buku biografi tentang pendiri Bank CIMB Niaga ini direkomendasikan sendiri oleh abiku.

Waw, ini sepertinya review terpanjang, dah. Kurang lebih seribu kata. Mantap.

Oke, see you in the next review!

76257_f.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s