Review Buku: Tidak Ada yang Tidak Bisa

#1Day1Post #SpecialVersion

#Day15 + #Day16

Hola, gais!

Kemarin aku tidak sempat mereview karena semalam ketiduran. Tetapi aku tidak bikin 2 artikel review hari ini. Sebagai gantinya aku akan mereview sebuah buku biografi yang ditulis oleh Pak Dahlan Iskan tentang seorang yang setelah kubaca buku ini, aku sangat menghargai beliau dan sangat terinspirasi olehnya. Yakni Karmaka Surjaudaja, Chairman salah satu bank swasta terbesar dan bank tertua keempat di Indonesia, yaitu Bank OCBC NISP.

Kenapa aku tidak mereview dua buku saja? Satu, masih ada banyak deadlineku yang belum selesai. Dua, artikel ini bakal dibuat sangat panjang dan kalau digabung sudah bakalan lebih dari dua artikel.

Start!

 

Pak Karmaka ini lahir dengan nama Kwee Tjie Hoei. Pada umur 10 bulan, beliau pergi dari Tiongkok, tempat asalnya, bersama orangtuanya ke Indonesia yang dahulu masih dikuasai oleh Belanda. Di kapal, ia terkena penyakit diare dan penguasa Belanda menahannya dan ibunya di atas kapal, melarangnya memasuki pelabuhan karena tidak ingin wilayah kekuasaannya terkena penyakit seperti yang diderita oleh sang bayi. Tetapi setelah seorang tokoh Hokja yang menjamin kedatangan keluarga Kwee Tjie Kui, ayah Kwee Tjie Hoei dengan menyerahkan uang jaminan kepada penguasa Belanda senilai 500 gulden atau kalau dikonversi dengan nilai mata uang sekarang seharga 4 juta rupiah.

Akhirnya Kwee Tjie Hoei dan ibunya bisa turun dari kapal ke pelabuhan dan berangkat ke Bandung. Di Bandung, ia perlahan-lahan bisa sembuh.

Karmaka sewaktu sekolah dasar tidak langsung bersekolah. Karena kekurangan biaya, dia selama tiga tahun pertama harus belajar sendiri di sekolah diajari oleh ibunya. Setelah ayahnya diberi sebuah hadiah penghargaan berupa rumah berkat prestasi dan pengabdian Kwee Tjie Kui selama itu, Karmaka akhirnya bisa sekolah.

Karmaka adalah seorang yang berprestasi, dia hampir selalu juara 2 di segala bidang.

Tetapi sewaktu kelas 5 SD, Jepang menyerah dalam Perang Dunia tahun 1945. Indonesia hendak menyatakan kemerdekaannya, tetapi Belanda yang ingin menjajah Indonesia kembali tidak rela dan kembali menyerang Indonesia. Para pejuang terpaksa melakukan gerilya mengusir Belanda.

Karmaka terkena imbas dari peperangan tersebut.

Belanda membuka sebuah pintu air yang cukup penting di Curug Dago demi membuat sarang gerilyawan di bawahnya menjadi tenggelam. Keluarga Karmaka terkurung di rumahnya selama beberapa hari. Tiada makanan, air, dan tidak bisa menghubungi siapa-siapa sampai ibu Karmaka keluar dari rumah dan berteriak-teriak minta tolong, padahal itu adalah hal yang cukup fatal karena sebagian tentara Jepang yang masih belum menyerah masih berjaga di sekitar rumah mereka.

Untung saja yang meminta tolong adalah ibu Karmaka, karena misalnya saja kalau Pak Kwee Tjie Kui-lah yang keluar, bakal langsung ditembak mati di tempat.

Keluarga Karmaka diizinkan untuk pergi dan mereka terdampar di sebuah restoran Hongkong yang kemudian menolong mereka dan mengizinkan mereka berlindung di restorannya saja.

Suatu waktu Pak Kwee Tjie Kui tidak bisa bekerja karena tulang belakangnya patah.  Menggantikan ayahnya menjadi tulang punggung keluarga, Kwee Tjie Hoei alias Karmaka yang waktu itu baru berumur 15 tahun bekerja di pabrik tempat kerja ayahnya. Pekerjaannya adalah mengontrol masuk keluarnya obat-obatan celup di pabrik tekstil. Namun kemudian pemilik pabrik yang khawatir karena dia masih kecil dan bisa kena penyakit paru-paru dari tempat itu memindahkannya ke bagian administrasi.

Di bagian itu, Karmaka kecil pun tidak bisa tenang. Manajer yang sebal karena dia yang baru masuk langsung diberi pekerjaan istimewa, menempatkannya pada bagian ketik padahal itu adalah pekerjaan yang belum begitu bisa dilakukan oleh beliau.

Manajer memperlakukannya dengan tidak bersahabat dan seringkali mengatainya, dan Karmaka untungnya masih bisa bertahan karena setelah satu tahun ayahnya sembuh dan kembali bisa bekerja di pabrik tekstil tersebut.

Karmaka sebenarnya ingin kuliah di ITB. Tetapi, dia mengalah agar adiknya, yang sama cerdasnya dibanding dirinya malah lebih cerdas dan selalu juara 1 di semua bidang, bisa kuliah di Universitas Indonesia jurusan Kedokteran.

Mencari pekerjaan lain, Karmaka bekerja di banyak tempat, ngalor ngidul. Dari bekerja sebagai guru sekolah di Sekolah Nan Hua dan juga bekerja di pabrik tekstil di bagian yang teramat penting yaitu bagian yang harus memikirkan bagaimana agar pabrik bisa berproduksi seefisien-efisiennya.

Di pabrik tersebut Karmaka menemukan sebuah kecurangan yang dilakukan oleh seorang manajer bagian solar dan sangat kaget menemukan total jumlah kerugian pabrik selama ini yang disebabkan oleh kecurangan tersebut. Dia melaporkan soal itu pada pemilik pabrik, namun imbasnya Karmaka menjadi dibenci oleh pelaku kecurangan karena pemilik pabrik dan pelaku kecurangan tersebut masih punya hubungan kerabat. Beberapa kali Karmaka diteror, tetapi beliau masih bertahan.

Saking kagumnya, pemilik pabrik memberikan penghargaan pada Karmaka sebuah mobil dan sebuah rumah, namun syaratnya dia harus bekerja selama-lamanya di pabrik tersebut dan mau dicarikan seorang jodoh anak familinya. Tetapi Karmaka yang sudah punya pujaan hati lainnya menolak secara halus dan memilih untuk mengikuti tawaran pabrik lain untuk bersekolah di Jepang.

Karmaka kemudian menikah dengan pujaan hati sekaligus cinta pertamanya, yaitu Lim Kwei Ing. Lim Kwei Ing adalah wanita berbakti dan mandiri yang berasal dari keluarga sangat kaya, ayahnya yaitu Lim Khe Tjie, merupakan pemilik sebuah bank.

Mendadak Lim Khe Tjie suatu hari memberikan sebuah pekerjaan yang sangat penting kepada Kwee Tjie Hoei alias Karmaka, yaitu menguruskan banknya yang sedang dalam masalah di Indonesia. Yap, Lim Khe Tjie, ayah Lim Kwei Ing dan istrinya sedang berada di Tiongkok. Mereka tidak bisa kembali ke Indonesia karena suatu masalah yang melarang mereka untuk kembali. Padahal, sebenarnya Lim Khe Tjie itu sangat mencintai Indonesia dan ia juga adalah salah satu pejuang kemerdekaan sewaktu merdeka.

Lim Khe Tjie memberitahu Karmaka soal perihal kecurangan yang dilakukan oleh sebagian pimpinan bank miliknya. Dengan melakukan berbagai cara, akhirnya Karmaka dapat mengatasi kecurangan tersebut, menyita saham mereka dan menjebloskan para pimpinan yang nakal ke penjara. Tetapi itu semua masih belum cukup, karena nasabah bank masih belum mempercayai mereka dan masih banyak yang masih menarik dana mereka dari bank. Apalagi, Karmaka yang sejatinya merupakan orang Tionghoa, masih belum resmi menjadi warga negara Indonesia. Sudah bertahun-tahun ia mengurus kenaturalisasinya menjadi WNI dan itu masih belum terselesaikan juga.

Karmaka berhasil menyelesaikan semua masalah yang mengenai NISP, termasuk mengurus pemenang lelang saham 43% Bank NISP. Dia selalu menghubungi mertuanya di Tiongkok soal semua yang terjadi di banknya, ataupun sebaliknya.

Karmaka adalah seorang yang teguh dan kuat. Beliau dua kali dibunuh, bahkan sekali diculik, namun beliau berhasil kabur dan menyelamatkan diri.

Pada September 1965, pemerintah mengadakan tindakan moneter. Uang sejumlah 1.000 rupiah mendadak berubah menjadi 1 rupiah. Para nasabah gempar dan semua mendatangi bank NISP beramai-ramai, bahkan Karmaka sempat kehilangan salah satu giginya terkena bogem seorang nasabah kolonel yang marah karena tabungan masa tuanya yang pada awalnya berjumlah 1 juta mendadak berubah menjadi 1.000 rupiah, melindungi karyawan banknya.

Padahal, itu sebenarnya bukan salah bank, melainkan sudah dari awal putusan pemerintah. Namun tidak ada yang mau tahu dan akhirnya seluruh cabang NISP di Indonesia ditutup, tak ada yang berani buka. 52 cabang NISP lumpuh dan tiga ribu lebih karyawan tidak bisa bekerja. Saking bingung dan kacaunya, Karmaka sampai menjerit-jerit putus asa.

Dari 52 cabang, hanya 2 cabang yang masih bisa buka, yaitu di Bandung dan Jakarta. Tahun-tahun itu ekonomi masih amburadulnya, dan NISP terancam harus menyiapkan modal 6 miliar rupiah sejumlah uang lama. Setengah ngawur Karmaka meminjam 6 miliar secara pribadi pada 7 orang dengan bunga 15% sebulan. Hampir 200% setahun! Dan dia terpaksa harus mem-PHK 3000 karyawannya yang sudah sangat dekat padanya di 50 cabang lain. Namun mereka menolak dan menganggap Karmaka pimpinan yang kejam pada karyawan walaupun NISP sudah menawarkan pesangon 10 kali gaji.

Sampai Karmaka stress dan berteriak sambil sesenggukan ambil saja banknya, rebut manajemennya, tapi bayarlah kewajiban sebesar 6 miliar yang dipinjamnya secara pribadi dari luar bank. Semua karyawan langsung diam dan menghiburnya, bahkan dua orang karyawati terduduk dan merangkul kakinya sambil menangis berkata kalau mereka mencintai NISP dan masih ingin terus menjadi karyawan NISP.

Saking stress dan kacaunya, Karmaka akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Ia menulis surat panjang-panjang kemudian meminum sebotol racun yang sudah disiapkannya. Tetapi usaha bunuh dirinya gagal, karena istrinya yang menemukannya pingsan di rumah dan dalam keadaan sekarat segera membawanya ke rumah sakit dan dia pun siuman, dan setelah ditampar oleh dokter yang menegurnya mengapa berbuat begitu, dia memohon agar usaha bunuh dirinya itu dirahasiakan. Karena kalau para nasabah dan karyawan NISP tahu perihal bunuh dirinya, mereka bisa menganggap NISP hancur dan memilih untuk keluar dan menarik dana mereka dari NISP, dan itu bakalan membuat NISP semakin hancur lagi.

Untungnya, Karmaka sudah berhasil mendapatkan izin warga negara Indonesianya dan dia mengganti namanya dari Kwee Tjie Hoei menjadi Karmaka Surjaudaja.

NISP kembali maju. Karmaka mengendarai vespa mencari nasabah baru kemana-mana, dibantu oleh para kelasinya, dan dalam waktu singkat ia berhasil mendapatkan banyak sekali nasabah dan banknya bekerja keras lembur mengatasi para nasabah baru. Setiap hari ada saja kabar bank terkena krismon, namun untungnya Bank NISP terus berkibar dan uang terus mengalir masuk. Belum pernah Karmaka mendapatkan uang sebanyak itu.

Suatu waktu, Bank NISP menjadi partner sebuah bank besar dari Jepang bernama Bank Daiwa, yang awalnya berasal dari pimpinan NISP yang kagum atas kegentleman dan sportif seperti Karmaka dan menawarinya agar ikut melamar, siapa tahu terpilih. Dan Bank NISP, yang sejatinya merupakan bank lokal yang berukuran kecil, mengejutkannya terpilih menjadi partner tunggal Bank Daiwa.

Bank NISP terus tumbuh menjadi bank yang maju.

Tetapi semua kebahagiaan itu kemudian patah karena Karmaka terkena vonis sebuah penyakit yang waktu itu belum ada obatnya dan diramalkan hanya bisa hidup sampai 5 tahun lagi. Tetapi kemudian ternyata dokter salah vonis dan Karmaka masih bisa sembuh dengan transplantasi liver dan ginjal setelah waktu yang cukup lama.

Dan kesembuhan Karmaka mencuat setelah dia mendapati bank NISP masih terus tumbuh dan uang mengalir deras setiap harinya, padahal dia mengira antrean deras nasabah di depan bank NISP adalah nasabah yang hendak menarik uang mereka dari bank, namun ternyata itu sebaliknya! Mereka malah hendak menyetor uang dan rela mengantre berjam-jam saking terpercayanya bank NISP sebagai sebuah bank yang jujur dan konservatif. Dan sewaktu bank-bank yang lain tumbang karena tidak kuat dengan krismon dan ekonomi yang masih hancur dan amburadul dan sewaktu itu memang juga terjadi krisis kepercayaan pada sejumlah bank, Karmaka masih bisa memajukan NISP lebih kuat lagi dengan bantuan para insan karyawannya.

Karmaka adalah contoh seorang pengusaha yang sangat kuat dan patut dicontoh.

Beliau berhasil menumbuhkan sebuah bank kecil menjadi bank swasta salah satu yang terbesar di Indonesia, dan untuk menjadikannya bank itu butuh perjuangan yang teramat keras. Yakni menjadi buruh di pabrik tekstil selama lebih dari 12 tahun, pontang-panting membanting tulang sampai diberi kepercayaan membangun sebuah bank, itupun masih belum selesai. Diteror, percobaan pembunuhan, diculik, percobaan bunuh diri yang gagal, krisis moneter, dan masih banyak lagi.

Dan itu semuanya.

Sebenarnya belum lengkap, masih ada banyaaaak lagi kejadian menarik yang sebenarnya ingin aku masukkan dalam artikel review ini, tetapi tanggung, sudah ending, jadi mending kalian baca aja sendiri bukunya wkwkwk. Seriusan, buku ini menarik banget, dan seperti biasa tulisan Pak Dahlan Iskan selalu mengalir dan enak dibaca, seperti koran yang beliau pimpin, yaitu Jawa Pos. Aku suka jenis artikel yang ditulis oleh Jawa Pos, bahasanya gampang dipahami dan mengalir.

Waw. Sudah halaman keempat. Bentar lagi bakalan genap 2000 kata, tapi aku gamau genapin. Udah tanggung segini aja. Yaudaiya, mau lanjut nulis buat Climate Tracker lagi dulu. Bye!

Tidak_Ada_Yang_Tidak_Bisa_-_Dahlan_Iskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s