Review Buku: Ayahku (Bukan) Pembohong

#1Day1Post #Day21

Judul Buku: Ayahku (Bukan) Pembohong

Penulis: Tere Liye

Penerbit:  PT Gramedia Pustaka Utama

 

Hola! Jadi sekarang aku akan menulis sebuah buku yang tentu saja kalian sudah tahu dari deskripsi diatas, yaitu buku Ayahku Bukan Pembohong yang ditulis oleh salah satu penulis dengan buku-buku terbanyak, terbagus dan terbest seller di Indonesia, Tere Liye.

Ceritanya adalah tentang seorang anak berumur sekitar belasan tahun bernama Dam, yang mempunyai seorang ayah yang sangat ia sayangi. Dia paling suka ketika ayahnya bercerita tentang masa lalunya, atau mendongeng tentang masa lalunya yang menurut Dam rada-rada fiksi; tetapi dia tetap menyukai kisah-kisah ‘masa lalu’ ayahnya tersebut, terutama cerita ketika ayahnya pergi menemukan apel emas di Lembah Bukhara, Suku Penguasa Angin, dan bahwa ayahnya berteman sangat dekat dengan pemain bola terhebat menurut Dam di seluruh dunia, yaitu El Capitano alias El Prince.

Tetapi beranjak dewasa, Dam merasa apa yang selama itu diceritakan dan dikisahkan oleh ayahnya hanyalah sekedar pembohongan publik belaka. Karena menurutnya tidak mungkin Lembah Bukhara dan Suku Penguasa Angin tersebut nyata. Apalagi, saat Dam ingin menuliskan surat kepada El Prince yang sering disebut Sang Kapten tersebut, ayahnya tampak sedikit gugup dan menolak keinginannya.

Tapi ayah Dam, mengejutkannya, adalah orang yang selalu dihormati setiap orang. Dari orang terkaya di kota tersebut sampai walikota. Sampai-sampai, saat Jarjit, anak di sekolah yang selalu membenci Dam, meledek bahwa keluarga Dam rendahan dan miskin, dia disemprot oleh papanya sendiri untuk tidak pernah meledek keluarga Dam miskin, karena keluarga Dam katanya lebih kaya dari setiap orang yang ada di kota itu.

Dam mendengarnya sendiri namun dia tidak dapat mencerna apa maksud papa Jarjit. Keluarganya memang benar miskin, mereka terlalu miskin untuk dapat membeli mobil dan bahkan rumah mereka bayar kredit selama dua puluh tahun.

Saat dewasa, dan Dam sudah menikah, ia semakin tak percaya dengan cerita-cerita ayahnya. Bahkan dia berani berkata terang-terangan kepada ayahnya kalau ia tidak ingin cerita-cerita bohong ayahnya itu meracuni anak-anaknya, Zas dan Qom. Kalian bisa tahu sendiri kan perasaan ayahnya dituduh pembohong oleh anaknya sendiri.

Ayahnya pernah bercerita bahwa almarhumah istrinya, alias ibu kandung Dam, dulunya adalah merupakan seorang bintang televisi yang sangat terkenal dan sedang naik daun ketika ia divonis hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Kemudian ibu Dam bertemu dengan ayah Dam, dan ayah Dam menceritakan seluruh kisah hidupnya yang kata Dam tidak nyata tersebut, dan ibu Dam langsung menangis berkata kalau seluruh cerita itu benar. Mereka menikah dan semua kebahagiaan itu membuat jangka waktu hidup ibu Dam bertambah bertahun-tahun berikutnya sampai Dam besar.

Dam yang sudah gelap mata karena tidak mempercayai seluruh cerita ayahnya, menganggap itu juga kebohongan. Ayah Dam yang sakit hati keluar dari rumah di bawah hujan, dan tepat saat itu Dam menemukan kalau cerita tentang ibu Dam yang merupakan bintang televisi adalah benar setelah mencari kata kunci nama ibunya di mesin pencari internet.

Ayahnya ditemukan pingsan di pusara ibunya. Dam menemukan kebenarannya sudah terlalu terlambat.

Beberapa hari kemudian, ayahnya meninggal menyusul istrinya. Dan yang membuat Dam menangis terisak adalah para pelayat kematian ayahnya adalah orang-orang dalam kisah ayahnya yang selama ini dia anggap tidak nyata, termasuk Suku Penguasa Angin, Si Nomor Sepuluh dan pamannya yang merupakan sahabat baik ayahnya sejak berumur delapan tahun, Sang Kapten; Sang Kapten bercerita kalau selama ini dia mencari jejak ayah Dam sejak kehilangan beliau berpuluh tahun lalu saat ayah Dam lulus dari sekolah hokum dan meninggalkannya.

Bagian ini lebih menyakitkan dan bikin terharu banget, berkali-kali aku membacanya sambil menangis terisak karena membayangkan Dam yang terlambat mempercayai dan menyayangi ayahnya sampai ayahnya sudah terlanjur meninggal.

Buku ini lebih bagus, jauh lebih bagus dari yang kureview barusan. Reviewku bahkan tidak sampai satu persen menceritakan ketotalan buku luar biasa ini. Heran, setiap buku yang ditulis Tere Liye selalu saja dapat membuatku menangis dan bukunya selalu menyentuh.

Intinya. Bye.

1163565_f6cc8759-1984-4709-923c-b7beec838f0d.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s