Review Buku: Double Act

#1Day1Post #Day24

Judul Buku: Double Act

Penulis: Jacqueline Wilson

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Halo! Sekarang aku akan mereview sebuah buku berjudul Double Act, yang ditulis oleh Jacqueline Wilson, penulis buku yang kemarin juga kureview salah satu bukunya yang berjudul Cookie. Diilustrasikan oleh Nick Sharratt dan Sue Heap, dan kalau di Indonesia diterbitkan oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, novel ini menceritakan kehidupan dua orang gadis kembar identik bernama Ruby dan Garnet.

Ruby dan Garnet adalah dua orang gadis yang teramat sangat mirip dan identik perilakunya. Mereka melakukan apa-apa bersama, contohnya mengenakan pakaian yang sama, mengganggu guru dan teman-teman mereka bersama, dan paling parah adalah ketika ibu mereka meninggal tiga tahun yang lalu. Kelakuan nakal yang mereka lakukan berdua makin menjadi-jadi.

Tapi sifat mereka sebenarnya berbeda. Cerita ini ditulis dari sudut pandang yang berbeda, dari Ruby yang bandel, nekat, percaya diri dan kadang galak, dan Garnet, yang lembut, pengalah, penolong, tapi tidak percaya diri tak seperti kembarannya.

Dan saat mereka mendengar sedang diadakan sebuah audisi akting untuk para pasangan kembar, mereka diam-diam kabur dari rumah walau tidak diizinkan untuk mengikuti audisinya. Ruby lolos dengan mudah, tetapi sayangnya Garnet yang tidak begitu percaya diri tidak lolos. Dan akhirnya mereka sama-sama tidak bisa lolos audisi tersebut.

Dan saat ada sebuah brosur beasiswa sekolah menengah, Ruby dan Garnet memaksa ayah mereka untuk membolehkan mereka ikut –atau lebih tepat Ruby yang memaksa dan Garnet mengekor saja. Awalnya ayah mereka mengacuhkan, tapi setelah beberapa gombalan dan pintaan akhirnya ayah mereka mengalah dan menyilakan mereka mengikuti audisi beasiswa sekolah menengah berasrama tersebut.

Mereka mengikuti serantaian ujian, dan Ruby sangat bersemangat dalam ujian ini. Dia menjawab semua pertanyaan dalam ujian dengan mantap dan Garnet hanya mengekor juga sebisanya. Tetapi apa daya, saat kepala sekolah mengirimkan hasilnya, ternyata Garnetlah yang diterima, bukan Ruby. Karena Garnet mungkin lebih buruk dalam ujian lisan; tapi itu karena dia selalu mengekori Ruby dan mereka harus dipisahkan. Dan Garnet luar biasa bagus dan dewasa dalam ujian tulis menulis.

Semua orang termasuk si kembar mengira kalau Rubylah yang bakalan lolos, dan sejak itu Ruby marah pada Garnet. Dia tidak ingin berkembaran identik lagi dengan Garnet. Dipotongnya rambutnya sampai hampir gundul dan dia menghindari mengenakan pakaian yang sama dengan Garnet.

Sampai-sampai Garnet terbawa emosi dan menangis terus; bercampur antara ketakutannya untuk pergi ke asrama dan karena sikap Ruby kepadanya yang membuatnya tidak ingin bersama Ruby lagi.

Sejak berubah, Ruby juga merubah sikapnya menjadi lebih tomboy, bandel, nakal, nekat, dan apa-apa lah. Saking emosinya ia tidak diterima di sekolah menengah berasrama dan kebencian bercampur sayangnya pada kembaran identiknya.

Tetapi, di akhir, Ruby mengalahkan egonya dan sambil menangis memeluk Garnet yang hendak berangkat ke sekolah asrama.

Done.

Bye.

download.png

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s