Hanyalah Sebongkah Cerita Pendek

#1Day1Post #Day26-27 #SpecialVerII

Enjoy!

Arif mengunyah kerupuk ikan yang dibelinya di warung sebelah sekolahnya tadi. Matanya yang berkacamata masih asyik memelototi sebuah buku yang direkomendasikan oleh guru fisikanya kemarin siang.

Tak lama, dia sampai di depan sebuah rumah bercat hijau dan putih kusam yang dipagari hitam. Masih sambil membaca, ia membuka pagar dan berjalan menuju pintu samping. Dikeluarkannya kunci dari sakunya dan dibukanya pintu tersebut.

“Rif, dah pulang?” Bu Tri, ibu kos yang ditempatinya tersebut, muncul dari balik pintu dapur. Tangannya memegang batang pel yang digosokkannya perlahan ke lantai. “Bisa tolong bantu jemurkan baju-baju di keranjang di ruang tengah? Ibu bangun kesiangan ini, belum masak makan siang.”

Arif mengangguk dan segera melakukan apa yang diminta oleh Bu Tri tadi.

Arif yang bernama lengkap Arif Fadhil Andaian Taufiq tersebut adalah remaja berumur kurang lebih 17 tahun, dan dia duduk di kelas 2 sekolah menengah atas dan tinggal di sebuah rumah kos-kosan yang dipunyai oleh Bu Tri, seorang janda berumur setengah baya yang putra-putrinya sudah dewasa dan menyewakan kamar-kamar kosong di rumahnya kepada pelajar yang tidak punya tempat tinggal.

Arif adalah remaja kelahiran Aceh yang sewaktu SMP pindah ke Malang karena keluarganya di Aceh tak mampu membayar SPPnya disana.

Dan dia pindah ke Malang karena pamannya di Malang berjanji akan membayari sekolahnya, tetapi tidak dengan tempat tinggal. Karena itu Arif pun menyewa kamar di kos-kosan seorang teman lama ibunya, yakni Bu Tri. Dia sudah tinggal disini kurang lebih dua tahun dan Bu Tri sudah seperti ibunya sendiri.

Tak hanya Arif yang bernasib harus pindah dari kota tempat tinggalnya untuk agar bisa melanjutkan pelajaran. Ada satu sahabatnya yang juga tinggal di kos-kosan Bu Tri, Simon Pallaji, yang berasal dari Papua. Simon adalah seorang yatim piatu berumur 18 tahun dan dia pindah dari Papua karena ia sudah tak memiliki keluarga sama sekali disana.

Ia mempunyai seorang kerabat jauh di Malang, tetapi tersesat dan ‘terdampar’ di depan halaman kos-kosan Bu Tri. Bu Tri yang sejatinya baik hati menerima Simon di rumahnya dan membayarinya biaya untuk sekolah buatnya.

Arif dan Simon memiliki seorang sahabat lagi, yang bernama Raditya. Raditya sesekolah dengan mereka, dan rumahnya berada di samping rumah kos Bu Tri, sehingga mereka menjadi dekat dan bersahabat.

“Arif lihat Simon nggak?” tanya Bu Tri, yang mendadak muncul di samping Arif yang sedang sibuk menjemur pakaian-pakaian basah di keranjang di lantai atas. “Kok kayanya Simon dari pagi nggak keluar dari kamar ya?”

“Oh iya, baru aja saya mau tanya kenapa Simon nggak masuk sekolah loh Bu,” jawab Arif sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tengok sana gih, biar Ibu gantiin,” Bu Tri mengambil alih pekerjaan yang sedang dilakukan Arif.

Arif mengangkat bahu dan melangkah turun pergi ke kamar Simon dan mengetuknya keras-keras. “Halo? Mon? Kau di dalam?” tidak ada yang menjawab, jadi Arif akhirnya memilih untuk membuka gagang pintu dan melongok ke dalam.

Kamar Simon tampak rapi seperti biasa, dan pemiliknya sedang terbaring menggigil di atas tempat tidur dibalut selimut tebal. Arif masuk merangsek dengan terkejut dan segera berseru memanggil Bu Tri. “Bu!  Simon sakit, Bu!” serunya sambil mengecek panas tubuh Simon yang lemas dengan panik. Dengan segera Bu Tri datang dari atas, tergopoh-gopoh menelepon ambulans rumah sakit terdekat.

Tubuh Simon yang legam selemas slime yang pernah Arif lihat dimainkan oleh adik Raditya.

 

“Hah?! Leukemia?!”

Arif melongo tak percaya. Sahabatnya Simon yang selama ini selalu dilihatnya sesehat dan sesegar buah apel baru dipetik terserang kanker leukemia?

Dokter mengangguk, “untuk ini dibutuhkan kemoterapi khusus dan biayanya..” ia menyebutkan beberapa angka yang membuat Arif dan Bu Tri lemas di kursi masing-masing. Darimana mereka bisa dapat uang sebanyak itu dalam jangka waktu yang cepat agar bisa mengobati leukemia Simon?

“..jadi mohon uangnya segera disetor maksimal dua minggu dari sekarang ya, agar kami bisa cepat mengobati Mas Simon.”

Mendadak pintu terbuka cepat dan muncul Radit, masih mengenakan seragam sekolahnya.

“Simon kenapa, Rif?” tanyanya dengan wajah cemas, matanya berpindah-pindah dari Arif, Bu Tri dan dokter yang duduk di belakang meja dan perlahan memperbaiki kacamatanya.

Bu Tri beranjak dan pamit pada dokter setelah mendapatkan nomor rekening tempat biaya kemoterapi tersebut harus dikirimkan. Wajah wanita paruh baya tersebut tampak lesu dan khawatir akan keadaan Simon. Mengumpulkan uang sebanyak yang disebutkan oleh dokter tadi adalah hal yang sulit, apalagi buat seorang janda seperti Bu Tri yang sehari-hari bekerja sebagai ibu kos saja.

“Leukemia, Dit,” Arif menghela napas panjang dan menyebutkan nominal biaya yang tadi disebut dokter kepada Radit. Radit ternganga.

Radit, Arif, maupun Simon satupun tidak ada yang berasal dari keluarga kaya. Radit adalah putra dari seorang tukang becak dan ibu rumah tangga, dan uang sebanyak tadi adalah hal yang luar biasa langka di keluarganya yang sehari-hari hanya makan nasi dan ikan goreng.

Arif sendiri hanyalah anak dari keluarga yang saking tidak mampunya terpaksa mengirimnya ke Jawa untuk belajar dengan dibayari oleh pamannya yang merupakan seorang pejabat.

Mereka keluar dari rumah sakit. Bu Tri pulang duluan dengan ojek sementara Arif dan Radit duduk di kursi panjang di luar rumah sakit dengan beralasan lebih suka jalan kaki daripada naik ojek.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Arif sambil memijat keningnya yang terasa pening.

“Ya apalagi selain mencari uang untuk biaya rumah sakit Simon?” Radit balik tanya.

Tepat pada saat itu, selembar kertas mendadak terbang dan menempel di wajah Arif. Arif mengambilnya dengan kesal dan sekilas tulisan di kertas tersebut dibacanya. Kertas itu bertuliskan sebuah lowongan pekerjaan menjadi kasir di sebuah restoran. Arif dan Radit saling berpandangan, dan dalam sekejap sebuah pikiran yang sama hinggap di pikiran masing-masing.

Sore itu juga, Arif sudah mulai bekerja di restoran tersebut. Sebenarnya mulai minggu depan, tapi pemilik restoran setelah mendengar kesulitannya, bersedia mempercepat waktu mulai kerja. Sementara karena lowongan pekerjaan hanya satu, Radit terpaksa mencari pekerjaan lain. Ia berjalan kaki kesana kemari mencari kalau misalnya ada lowongan pekerjaan, dan menemukan sebuah toko yang mencari orang untuk menjadi penjual konter burger keliling mereka yang baru.

Arif dan Radit menyembunyikan semua itu dari Bu Tri, karena mereka tahu bahwa Bu Tri sudah menganggap mereka sebagai anaknya sendiri dan takut kalau misalnya beliau tidak mengizinkan. Apalagi semakin hari Bu Tri semakin sibuk, ia mulai membuka usaha menjual makanan kecil untuk mencari uang buat biaya kemoterapi Simon, dan jarang bisa santai untuk mengobrol sejenak dengan Arif dan Radit.

Radit sedang mendorong gerobak burgernya saat dia melihat ada seorang anak yang bertubuh lemas dan kuyu di pinggir jalan, tampak sangat kelaparan.

Radit yang orangnya sensitif dan baik hati tersebut dengan tulus langsung memberi anak kecil berambut pendek dan lusuh tersebut dua buah burger jumbo dan sejumlah uang yang diambil dari kantong pribadinya sendiri.

“Terimakasih Kak… Semoga Allah membalas kebaikan Kakak,” anak itu berbisik sambil menatap Radit dengan mata berkaca-kaca.

Radit tersenyum sedih melihat anak yang perlahan mengunyah burger pemberiannya tersebut; dan kemudian dia dengan berat hati meninggalkan anak itu untuk kembali menjual burgernya.

Dia tak pernah tahu siapa sebenarnya anak tersebut.

Anak itu selalu menjadi misterius baginya.

Tetapi, saat Radit pergi ke rumah sakit dan hendak menyicil biaya rumah sakit Simon, inilah yang dikatakan oleh resepsionis.

“Saya mau membayar biaya rumah sakit pasien bernama Simon Pallaji,” begitu ujarnya menyebut nama panjang Simon pada resepsionis ruang administrasi rumah sakit. “Simon Pallaji? Sebentar ya Mas,” kening resepsionis tersebut berkerut dan membolak-balik sebuah map yang kelihatan cukup tebal. “Maaf Mas, tapi biaya rumah sakit Mas Simon sudah lunas semua, dari biaya terapi sampai biaya rumah sakit. Tidak ada yang perlu dibayar lagi,”

Raditnya tercengang. Seingatnya, dia belum membayar sepeser pun biaya rumah sakit Simon. Dan tidak mungkin Bu Tri yang membayar langsung total seluruh biaya rumah sakit karena beliau pasti tidak punya uang sebanyak itu dalam jangka waktu secepat ini. “Boleh tahu siapa yang membayar?”

Tapi mbak resepsionis kemudian berkata kalau itu adalah privasi rumah sakit dan tidak bisa membocorkannya pada orang luar. Akhirnya Radit berbalik ke kamar pasien Simon dengan linglung.

Siapapun yang membayar, intinya Simon bisa mendapatkan penanganan dengan cepat dan terapi rutin mulai dilakukan. Radit tersenyum bahagia melihat sahabatnya itu sudah bisa seceria biasanya dan mulai ribut bertanya pelajaran apa saja yang ia tertinggal padanya dan Arif.

Radit dan Arif sering berkunjung ke kamar pasien Simon dan belajar bersama. Mereka adalah trio yang akur dan kompak, juga saling mengingatkan. Walaupun Simon berbeda agama dengan kedua sahabatnya, dia sering menegur Radit dan Arif untuk berangkat shalat atau menyiapkan diri untuk shalat Jum’at bila waktunya telah tiba.

“Rid, Dit, kalian berdua gak siap-siap? Bentar lagi waktunya shalat Jum’at,” Simon mendongak dari buku pelajarannya,

“Eh iya. Ayo Dit, bersiap-siap!” Arif beranjak dari kursi di samping ranjang Simon dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan, sementara Radit ngacir mencari kamar mandi lain yang bisa dipakai untuk mandi, bersiap-siap sebelum shalat Jum’at dimulai.

Simon tersenyum kecil melihat kedua sahabat dekatnya tersebut.

 

Halo! Postingan hari ini aku buat spesial lagi seperti beberapa minggu yang lalu, karena kata-kata yang ada di postingan ini pas untuk dua postingan dan aku memutuskan buat menggabungkannya aja wkwk.

Sorry kalau agak ganjen ya, aku juga rada bingung cerpen apa yang aku tulis ini /ditampol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s