Dua Jam Bersama Pak Gobind

Halo!

Pagi ini aku akan bercerita tentang pengalamanku bertemu dengan seorang bernama Gobind Vashdev, di sebuah acara di Green Mommy Shop yang berlangsung selama kurang lebih 2-3 jaman.

Honestly, aku nggak pernah mendengar nama ini sebelumnya. Tetapi di acara di Green Mommy Shop kemarin, aku mengetahui kalau Gobind Vashdev yang asli Portugal dan sekarang tinggal di Bali tersebut; adalah seorang penulis sekaligus motivator yang sangat keren.

Pak Gobind adalah orang yang luar biasa berbeda dari orang-orang lainnya.

Contohnya.

Beliau tidak mengenakan alas kaki, mengapa? Karena beliau ingin merasa lebih dekat dengan alam. Bahkan disaat sedang berada di tempat yang dingin dan bersalju, ia tetap tidak mengenakan alas kaki. Banyak yang menanyakan dan mengkhawatirkan kaki beliau bakal sakit dan kapalan, tetapi Pak Gobind tampak biasa dengan kebiasaannya tidak menggunakan alas kaki.

Beliau adalah seorang vegetarian dan tidak makan daging selama berpuluh tahun terakhir. Mungkin memang ada banyak vegetarian lain di dunia ini, dan mungkin Pak Gobind adalah salah satu dari beberapa persen vegetarian yang memilih untuk tidak makan daging karena menyayangi binatang dan memiliki motivasi bukan karena penyakit yang disebabkan karena makan daging, tapi cinta. Beliau tidak ingin hanya karena untuk memuaskan lidahnya, beliau harus melakukan kekerasan, seperti misalnya memisahkan anak ayam dari induknya untuk dijadikan panganan.

Pak Gobind tinggal di Ubud, Bali, tepat di tengah sawah.

Beliau bercerita kalau ia dulu sering menggunakan sabun dan shampo seperti seluruh orang di dunia untuk mandi, tetapi beberapa lama kemudian ia sadar kalau begitu beliau mandi, sabunnya akan jatuh ke sawah dan mencemari sawahnya. Padahal, sawah begitu ditanam satu, akan menumbuhkan ribuan. Beliau merasa itu tidak benar, dan akhirnya mengganti sabunnya dengan jeruk nipis dan garam.

Kebanyakan orang-orang Indonesia selalu berkata begini pada anak mereka,

“Habis makan jangan lupa sikat gigi, nanti di dalam gigi ada uletnya.”

Dan kalau mendulangi anaknya yang susah untuk makan, harus mengejar mereka sana-sini sambil berkata membujuk, “Ayo makan, nanti diserang genderuwo loh. Atau nanti kalo ga makan, kurus ntar dikejar anjing dikira tulang belulang.”

Kata Pak Gobind, beliau diberi ‘edukasi’ seperti itu oleh orangtuanya sejak kecil, dan beliau ditertawai guru SMAnya sewaktu berkata kalau gigi rusak karena ada ulatnya. Kata gurunya, “Kok goblok benar si kamu, gitu dipercaya.”

Tapi kata Pak Gobind, dia merasa sendirinya gak begitu goblok lagi setelah mengetahui ada orang dewasa yang lebih tua darinya ternyata juga masih mempercayai kalau gigi rusak karena ada ulatnya.

Pak Gobind memiliki konsep yang bikin aku kagum.

Katanya, kita perlu belajar mengetahui dan mengerti siapa diri kita sendiri.

Sejak kecil, kita diberikan candu oleh lingkungan yaitu penerimaan, pujian, dan penghargaan. Melakukan sesuatu karena candu, bukan karena ikhlas.

Bagi Pak Gobind, manusia adalah anak kecil. Bumi ini sudah dibuat dari miliaran tahun yang lalu dengan segala isinya, pepohonan dan alam lebih tua dari kita yang baru ada di bumi ini sejak beratus ribu tahun yang lalu.

Bumi dan alam sekitar adalah guru, kakak kita, yang memberikan bumi ini kepada kita untuk dijaga dan dirawat bukannya malah dirusak dengan menggunakan barang-barang yang tidak bisa diuraikan.

Beliau mengajarkan sesuatu,

“Misalnya sedang ada di acara, dan diberikan nasi kotak sebagai makanan panganan, dan tidak habis, apa yang dilakukan?”

Kebanyakan menjawab bawa pulang nasi kotaknya, etc.

“Kalau misalnya acaranya sampai malam dan tidak bisa membawa nasi kotaknya pulang, apa yang dilakukan?”

Semua mengangkat bahu; yah kalau sudah gitu ya dibuang.

“Waktu membuang nasi kotaknya, apa perasaan kalian?”

Kebanyakan menjawab bersalah, merasakan mubazir, etc.

“Nah, kalau misalnya mendapat air mineral gelasan yang di acara-acara dan pernikahan itu, yang ukurannya cuma sekitar 200 ml, 90%nya tidak habis. Apa perasaan kalian saat membuang air mineral tersebut?”

Hening.

Pak Gobind melanjutkan,

“Kalau nasi kotak dibuang, ujung-ujungnya pasti dimakan sesuatu. Baik kucing, atau bahkan kutu dan lalat. Tapi kalau plastik, tidak ada yang bakal makan dan bumi tidak bisa menguraikan plastik.”

Pak Gobind juga memberitahukan banyak hal soal bakteri.

Katanya, tubuh kita memiliki banyak jumlah bakteri. Ada bakteri buruk dan bakteri baik.

Dan katanya, dibawah kulit manusia, terdapat pro-vitamin D yang belum seutuhnya menjadi vitamin D. Dan untuk membuatnya menjadi vitamin D, kulit harus terkena sinar matahari. Namun kata Pak Gobind, dengan adanya sabun, sabun akan menutupi kulit dan membuat sinar matahari tidak bisa masuk untuk ‘memasak’ pro-vitamin D tersebut.

Sabun itu akan hilang dalam 48 jam, namun kalau misalnya setiap hari menggunakan sabun, kulit tidak akan pernah bisa dimasuki oleh sinar matahari, sehingga tubuh bakalan kekurangan vitamin D.

Intinya, Pak Gobind ini keren banget.

Disaat semua orang di dunia melakukan itu, beliau sendiri yang melakukan ini karena alasan yang cool. Cinta.

Bahkan aku membaca sebuah artikel tentang wawancara Pak Gobind, beliau berkata tidak akan membenci teroris karena mencoba untuk memahami dan merangkul mereka.

Oya, beliau ini universal. Beliau melakukan puasa Ramadhan selama dua puluh tahun terakhir, selalu pergi misa ke gereja, dan meditasi.

Selesai.

Pendek karena sengaja dipendekin:>

 

edited: aku lupa memasukkan bagian Pak Gobind berkata begini,

“Kalian mau minum pewangi-pewangian yang biasanya ada di taksi nggak?”

Tentu saja, semua pada jawab nggak.

“Nah, kalau sudah lama dipakai, pewangi itu bakalan habis. Pewangi itu habis mengapa?”

Di pikiranku langsung terpikir. Iya juga ya. Logikanya, pewangi itu tetap masuk ke dalam tubuh kita, yaitu melalui alat pernapasan yakni hidung, dan tetap membahayakan tubuh walaupun tidak diminum.

Intinya, Pak Gobind itu keren pake banget:>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s